Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
66Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho (motivator reformasi Islam)

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho (motivator reformasi Islam)

Ratings:

4.5

(14)
|Views: 10,134 |Likes:
Published by Andri Hardiansyah

More info:

Published by: Andri Hardiansyah on Nov 26, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

 
PERJALANAN REFORMASI ISLAM MUHAMMAD ABDUHDAN RASYID RIDHO
OLEH : ANDRI HARDIANSYAH(MAHASISWA KPI FIDKOM UIN SGD BANDUNG)www.andrihardiansyah.blogspot.comI.SEJARAH DAN PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH (1849-1905)Father of Islamic modern (Bapak Pembaharuan Islam)A.Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan
Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah atau Muhammad ‘Abduh. lahir didesa Mahallat Nashr Kota Al-Buhairah, Mesir pada tahun 1849 M dan wafat padatahun 1905 M. Beliau merupakan putra dari seorang petani berkebangsaan Turki yaituAbduh bin Hasan Khairullah, sedangkan ibunya masih mempunyai silsilah keturunandengan tokoh besar Islam, Umar bin Khattab.Pendidikan pertama yang ditekuni Muhammmad Abduh adalah belajar Al Qur'an,karena kemampuan yang dimilikinya memiliki otak yang cerdas maka hanya dalamkurun waktu dua tahun, beliau telah hafal kitab suci dalam usia 12 tahun. Pendidikanformalnya dimulai saat ia dikirim oleh ayahnya ke perguruan agama di masjidAhmadi yang terletak di desa Thantha. Namun karena sistim pembelajarannya yangdirasa sangat membosankan, akhirnya ia memilih untuk menimba ilmu dari pamannya, Syekh Darwisy Khidr di desa Syibral Khit yang merupakan seseorang berpengetahuan luas dan penganut paham tasawuf. Selanjutnya, Muhammad Abduhmelanjutkan studinya ke Universitas Al Azhar, di Kairo dan berhasil menyelesaikankuliahnya pada tahun 1877.Ketika menjadi mahasiswa di Al Azhar, pada tahun 1869 Abduh bertemudengan seorang ulama' besar yang disebvut-sebut sebagai pembaharu dalam Islam,yaitu Jamaluddin Al Afghany, dirinya bertemu dengan Al-Afghani dalam sebuahdiskusi. Sejak itulah Abduh tertarik kepada Jamaluddin Al Afghany dan banyak  belajar darinya. Al Afghany adalah seorang pemikir modern yang memiliki semangattinggi untuk membuat paradigma baru yaitu memutuskan rantai pemikiran umat islamyang ortodok dan cara berfikir yang fanatik. Nuansa baru yang ditiupkan oleh Al Afghany, berkembang pesat di Mesir terutama di kalangan mahasiswa Al Azhar yang langsung dipelopori oleh MuhammadAbduh. Karena cara berpikir Abduh yang lebih maju dan sering bersentuhan dengan jalan pikiran kaum rasionalis Islam atau Mu'tazilah, maka banyak yang menuduhdirinya telah meninggalkan madzhab Asy'ariyah. Terhadap tuduhan itu ia menjawab:"Jika saya dengan jelas meninggalkan
taklid 
kepada Asy'ary, maka mengapa sayaharus ber 
taklid 
kepada Mu'tazilah? Saya akan meninggalkan
taklid 
kepada siapapundan hanya berpegang kepada dalil yang ada".
 
B.Sejarah Perjuangan dan Kehidupan Politik 
Setelah Abduh menyelesaikan studinya di al Azhar pada tahun 1877, atas usahaPerdana Menteri Mesir, Riadl Pasya, ia di angkat menjadi dosen pada UniversitasDarul Ulum dan Universitas al Azhar. Dalam memangku jabatannya itu, beliau terusmengadakan perubahan-perubahan yang radikal. Dia merubah model lama dalam bidang pengajaran dan dalam memahami dasar-dasar keagamaan seperti yangdialaminya sewaktu belajar di masjid al-Ahmadi dan di al Azhar. Dia menghendakiadanya sistim pendidikan yang mendorong tumbuhnya kebebasan berpikir, menyerapilmu-ilmu modern dan membuang cara-cara lama yang kolot dan fanatik Sebagaimurid Jamaluddin al-Afghani, maka pemikiran politiknya pun sangat dekat denganAl Afghany yaitu berpikir secara revolusioner dengan serius memandang penting bangkitnya bangsa-bangsa timur (usyruqiyyah) guna melawan dominasi Barat.Pada tahun 1879, pemerintahan Mesir berganti seiring dengan turunnya ChediveIsmail dan digantikan puteranya, Taufiq Pasya. Pemerintahan yang baru ini sangatkolot dan monoton, sehingga memicu Abduh untuk mengkritisi pemerintahan, hal initentu saja berdampak kepada Abduh hingga ia dipecat dari jabatannya dan pengusiran terhadap al Afghany dari Mesir. Tetapi pada tahun berikutnya Abduhkembali mendapatkan tugas dari pemerintah untuk memimpin penerbitan majalah "alWakai' al Mishriyah". Kesempatan ini dimanfaatkan Abduh untuk menuangkan isihatinya dalam bentuk artikel-artikel untuk mengkritisi pemerintah tentang nasibrakyat, pendidikan dan pengajaran di Mesir.Pada tahun 1882, Abduh dibuang ke Syiria (Beirut) karena dianggap ikut andildalam pemberontakan yang terjadi di Mesir pada saat itu. Disini ia mendapatkesempatan untuk mengajar di Universitas Sulthaniyah selama kurang lebih satutahun.Pada awal tahun 1884, Abduh pergi ke Paris atas panggilan al Afghany yang saatitu telah berada disana. Bersama al Afghany, disusunlah sebuah gerakan untuk memberikan kesadaran kepada seluruh umat Islam yang bernama "al 'UrwatulWutsqa". Untuk mencapai cita-cita gerakan tersebut, diterbitkanlah pula sebuahmajalah yang juga diberi nama "al 'Urwatul Wutsqa". Suara kebebasan berpendapatyang digulirkan al Afghany dan Abduh melalui majalah ini menyebar ke seluruhdunia dan memberikan ruh yang cukup kuat terhadap kebangkitan umat Islam.Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, kaum imperialis merasa khawatir atasgerakan ini, akhirnya pemerintah Inggris melarang majalah tersebut masuk kewilayah Mesir dan India.Akhir tahun 1884, setelah majalah tersebut terbit pada edisi ke-18, pemerintahPerancis melarang diterbitkannya kembali majalah
'Urwatul Wutsqa
. KemudianAbduh diperbolehkan kembali ke Mesir dan al Afghany melanjutkan pengembaraannya ke Eropa.Setelah kembali ke Mesir, Abduh kembali diberi jabatan penting oleh pemerintah Mesir. Ia juga membuat beberapa perbaikan di Universitas al Azhar.Puncaknya, pada tanggal 3 Juni 1899, Abduh mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Mesir untuk menduduki jabatan sebagai Mufti Mesir. Kesempatan ini
 
dimanfaatkan Abduh untuk kembali berjuang meniupkan ruh perubahan dankebangkitan kepada umat Islam.
C.Manhaj Pemikiran keagamaannya
Islam adalah agama yang terdiri dari beberapa aspek yang saling berhubungan,satu dengan yang lainnya. Yaitu Aqidah (Teologi), Syariah (Hukum Islam), danAkhlak (tasawuf) bahkan untuk bertatanegara sekalipun hal ini kita kenal denganShiyasah atrau politik. Namun dalam kesempatan ini, penulis memilih hanyamembahas beberapa manhaj pemikiran Muhammad Abduh secara singkat tentang keempat hal tersebutmudah-mudahan dapat menjadi suatu rujukan kita dalammengemukakan pendapat dan bertindak.
1. Bidang Hukum Islam
Dalam salah satu tulisannya, Abduh membagi syariat menjadi dua bagian, yaitu;hukum pasti
(al Ahkam al Qath’iyah)
dan hukum yang tidak ditetapkan secara pastimaka harus melakukan ijtihad dengan merujuk kepada nash dan ijma. Hukum yang pasti, bagi setiap muslim wajib mengetahui dan mengamalkannya. Hukum yangseperti ini terdapat dalam al-Qur’an dan rinciannya telah dijelaskan Nabi melaluiHadits dan riwayatnya, serta hukum tersebut sampai kepada muslimin secaramutawatir dengan amalan yang telah dicontohkan oleh para ulama pendahulu kita.Hukum ini merupakan hukum dasar yang telah disepakati
(mujma’ ‘alaîhi)
keabsahannya. Hal ini bukan merupakan lapangan ijtihad dan dalam hukum yangtelah pasti serupa ini, seseorang boleh ber 
taklid 
. Sedangkan yang tidak kedua adalahhukum yang tidak ditetapkan dengan tegas oleh
nash
yang pasti dan juga tidak terdapat kesepakatan ulama di dalamnya. Hukum inilah yang merupakan objek dariijtihad, seperti masalah
muamalah
, maka kewajiban semua orang untuk mencari danmenguraikannya sampai jelas.Disinilah peranan para
mujtahid 
, dan dari masalah ini pula lahir beberapamadzhab
 fiqh
yang merupakan cerminan dari keragaman pendapat dalam memahami
nash-nash
yang tidak pasti tersebut.Muhammad Abduh sangat menghargai para
mujtahid 
dari madzhab apapun.Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang telah mengorbangkan kemampuannyayang maksimal untuk mendapatkan kebenaran dengan niat yang
ikhlas
serta
ketaqwaan
yang tinggi kepada Allah. Menurut Abduh perbedaan pendapat adalah halyang biasa, dan tidak selamanya merupakan ancaman bagi kesatuan umat. Namunyang dapat menimbulkan bencana adalah pendapat yang berbeda-beda tersebutdijadikan sebagai harga mati rujukan suatu hukum, karena menurutnya suatu khalyang mustahil pada pemikiran seseorang untuk tunduk kepada pendapat tertentu saja,tanpa berani melakukan kritik atau mengajukan pendapat lain. Karena setiap orangmempunyai keseragaman berfikir yang tidak dapat dipatahkan.

Activity (66)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ruslan Arief Bm liked this
Indah Wulandari liked this
Adam's Alvareez liked this
Ndarie Asmak liked this
Ade Ceria liked this
Djawara Achmad liked this
Miranda Progrezz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->