Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kemitraan

kemitraan

Ratings: (0)|Views: 430|Likes:
Published by Yurista Marsa

More info:

Published by: Yurista Marsa on Mar 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/11/2012

pdf

text

original

 
BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Tinjauan Umum Tentang Kemitraan Usaha.A.1. Pengaturan Mengenai Kemitraan
Dalam sejarah perkembangan manusia tidak terdapat seorangpunyang bisa hidup sendiri, terpisah dari kelompok manusia lainnya, kecualidalam keadaan terpaksa dan itupun hanyalah untuk sementara waktu.
1
 Aristoteles, seorang ahli pikir Yunani Kuno menyatakan dalam ajarannya, bahwa manusia itu adalah
zoon politikon
, artinya bahwa manusia itusebagai mahluk pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpuldengan sesama manusia lainnya, jadi mahluk yang suka bermasyarakat.Dan oleh karena sifatnya yang suka bergaul satu sama lain, maka manusiadisebut mahluk sosial.Hasrat untuk hidup bersama memang telah menjadi pembawaanmanusia,
2
merupakan suatu keharusan badaniah untuk melangsungkanhidupnya, karena tiap manusia mempunyai keperluan sendiri-sendiri danseringkali keperluan itu searah serta sepadan satu sama lain, sehinggadengan kerjasama tujuan manusia untuk memenuhi keperluan itu akanlebih mudah dan lekas tercapai. Akan tetapi seringkali kepentingan-kepentingan itu berlainan bahkan ada juga yang bertentangan, sehingga
1
C.S.T. Kansil, 1984,
Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia
, PN Balai Pustaka, hal. 29
2
Ibid.
 
dapat menimbulkan pertikaian yang mengganggu keserasian hidup bersama. Dalam hal ini orang atau golongan yang kuat menindas orangatau golongan yang lemah untuk menekankan kehendaknya.Apabila terjadi ketidakseimbangan hubungan dalam masyarakat,maka akan bisa meningkat menjadi perselisihan dan timbul perpecahandalam masyarakat. Oleh karena itu dalam masyarakat yang teratur,manusia atau anggota masyarakat itu harus memperhatikan kaidah-kaidah, norma-norma hukum ataupun peraturan-peraturan hiduptertentu yang ada dalam masyarakat di mana ia berada. Utrecht,
3
 memberikan batasan hukum sebagai berikut, bahwa hukum itu adalahhimpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena ituharus ditaati oleh masyarakat itu. Dari pengertian tersebut tersirat tugashukum yaitu menjamin kepastian hukum hubungan-hubungan yangterdapat dalam pergaulan kemasyarakatan. Di dalam tugas itu otomatistersimpul dua tugas lain, yang kadang-kadang tidak dapat disetarakanyaitu hukum harus menjamin keadilan maupun hukum harus tetap berguna.Berbicara mengenai pengaturan kemitraan, berarti membicarakanhukum yang mengatur masalah kemitraan. Hukum tersebutdimaksudkan untuk memberikan rambu-rambu terhadap pelaksanaan
3
Utrecht dalam Kansil, 1983,
Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia
, Balai Pustaka,Jakarta, hal. 37
 
kemitraan agar dapat memberikan dan menjamin keseimbangankepentingan di dalam pelaksanaan kemitraan.Di dalam melakukan inventarisasi hukum di bidang kemitraan,yang perlu kita pahami adalah terdapat tiga konsep pokok mengenaihukum, yaitu :
4
 1. Hukum identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dandiundangkan oleh lembaga atau oleh pejabat negara yang berwenang.2. Hukum dikonstruksikan sebagai pencerminan dari kehidupanmasyarakat itu sendiri (norma tidak tertulis).3. Hukum identik dengan keputusan hakim (termsuk juga) keputusan-keputusan kepala adat.Senada dengan hal tersebut di atas, Soetandyo dalam bukunyaBambang Sunggono mengkonsepsikan tiga konsepsi utama tentanghukum yaitu :
5
 1. Konsepsi kaum legis-positivis, yang menyatakan bahwa hukumidentik dengan norma-norma tertulis yang dibuat serta diundangkanoleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang.2. Konsepsi yang justru menekankan arti pentingnya norma-normahukum tak tertulis untuk disebut sebagai (norma) hukum. Meskipuntidak tertuliskan tetapi apabila norma-norma ini secara de facto diikuti
4
Ronny Hanitijo Soemitro
 ,
1988,
 Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimerti
, Ghalia, Jakarta, hal.13-14
5
Soetandyo dalam Bambang Sunggono, 2002,
 Metodologi Penelitian Hukum
, Raja GrafindoPersada, Jakarta, hal. 85

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->