Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
FILSAFAT ILMU

FILSAFAT ILMU

Ratings: (0)|Views: 945|Likes:
Published by Art Yasir
FILSAFAT ILMU NEO-POSITIVISME “Neo-Positivisme” adalah penganut suatu aliran dalam filsafat yang menanamkan juga d iri mereka sebagai kaum “empiris logika”. Dapat juga disebut kaum “fisikalis”. Bahkan be berapa dari mereka menanamkan sebagai penganut “Logistik” (logika formalis atau logi ka simbolis). Pada umumnya disebut juga mazhab “wina” atau “kring wina”. Kaum neo-positivisme semenjak semula telah membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kes
FILSAFAT ILMU NEO-POSITIVISME “Neo-Positivisme” adalah penganut suatu aliran dalam filsafat yang menanamkan juga d iri mereka sebagai kaum “empiris logika”. Dapat juga disebut kaum “fisikalis”. Bahkan be berapa dari mereka menanamkan sebagai penganut “Logistik” (logika formalis atau logi ka simbolis). Pada umumnya disebut juga mazhab “wina” atau “kring wina”. Kaum neo-positivisme semenjak semula telah membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kes

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Art Yasir on Mar 12, 2012
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/02/2013

pdf

text

original

 
FILSAFAT ILMU NEO-POSITIVISME“Neo-Positivisme” adalah penganut suatu aliran dalam filsafat yang menanamkan juga diri mereka sebagai kaum “empiris logika”. Dapat juga disebut kaum “fisikalis”. Bahkan beberapa dari mereka menanamkan sebagai penganut “Logistik” (logika formalis atau logika simbolis). Pada umumnya disebut juga mazhab “wina” atau “kring wina”.Kaum neo-positivisme semenjak semula telah membentuk suatu mazhab, malah pernahdikatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah galibnya, terdapat pada sekte-sekte. Kaum neo positivis mempunyai keyakinanbahwa filsafat sebagai ilmu hanya “aman” dalam tangan mereka sendiri dan bahwa tiaporang memepelajari filsafat menurut cara lain mungkin ada mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan luhur, tetapi bahkan mengerjakan sesuatu secara ilmu.Nama “neo-positivisme” telah menyatakan bahwa kita di sini seperti halnya “neo-kantianisme” berhadapan dengan suatu pergerakan yang merupakan suatu lanjutan dari aliran-aliran yang lama. Yang diteruskannya. Menurut E.Von Aster; “neo-positivisme mempunyai dua akar utama, yang satu adalah reaksi terhadap aliran metafisika, yang kedua adalah neo positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alammodern.Neo-positivisme cenderung untuk menumbuhkan pengetahuan dengan bahan ilmu alam dan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna saja untuk dianalisis oleh filsafat. Hal-hal yang merupakan fakta-fakta dikatakan temasuk bidang ilmu. Hanyaanalisis tentang bahasa dan pertanyaan-pertanyaan mengenai makna dan verifikasiyang mengiringinya, yang tetap diakui termasuk lingkungan filsafat. Pendekatan yang radikal semacam ni membatasi jumlah masalah filsafat yang banyak itu menjadihanya meliputi lapangan-lapangan tertentu dari epistemologi disamping logika. Sebagai konsekuensinya penganut neo positivisme sepaham untuk menolak gagasan bahwa filsafat dapat mempersoalkan tentang kenyataan sebagai keseluruhan atau bahkan menolak usaha filsafat.Untuk memberikan gambaran yang sistematis tentang kenyataan penolakan ini dilakukan dengan dua cara yakni:1. Dengan berusaha mengembalikan semua persoalan menjadi masalah pengalaman inderawi.2. Dengan menganalisa bahasa, dan berusaha menunjukan betapa kita dapat terpedaya oleh struktur bahasa.Hal ini didasarkan atas apa yang dinamakan “verifiability theory of meaning” yang mengatakan bahwa sebuah kalimat betul-betul mengandung makna bagi seseorang tertentu, jika dan hanya jika, ia mengetahui bagaimana caranya melakukan verifikasi terhadap proposisi yang hendak dinyatakan oleh kalimat itu, artinya jika ia mengetahui pengamatan apakah yang menyebabkan ia dengan syarat-syarat tertentu menerima proposisi tersebut sebagai proposisi yang benar atau menolaknya sebagai proposisi yang sesat.Penganut neo-positivisme mengatakan, satu-satunya corak pengamatan yang relevanialah pengematan inderawi.. bilamana “ukuran dapat diverifikasi” tidak dapat diterapkan, maka tidak mungkin ada makna, dan pernyataan yang dipertimbangkan dikatakan“ tiada bermakna”. Banyak diantara penganut neo positivisme menegaskan tentang pentingnya kalimat-kalimat emotif, meskipun kalimat-kalimat tersebut tidak berisi makna.Comte seorang filosof dari neo-positivisme megatakan bahwa alam fikiran manusiadan sejarah manusia telah mengalami 3 fase, dan masing-masing fase yang kemudianlebih tinggi tingkatannya daripada yang mendahuluinya. Fase pertama ialah faseteologi, dimana perasaan dan kepercayaan berkuasa dan dimana manusia menerima bimbingan myte. Ini digantikan oleh fase metafisika yang dikuasai oleh pengertian-pengertian umum yang abstrak, dan oleh berbagai sistem dan cita.Umat manusia sekarang menurut pertimbangan Comte memasuki stadium positif, dimana keterangan-keterangan keilmuan menggantikan tempat teologi Kristen dan teologimetafisika. Keterangan-keterangan keilmuan adalah lukisan-lukisan dari peristiwa-peristiwa dan pertalian-pertalian. Roh manusia tidak boleh berspekulasi, melainkan harus mengorganisasi, bukan hanya dirinya sendiri saja, melainkan juga masyarakatnya, ini sesuai dengan revolusi industri yang dialami oleh masyarakat itu.
 
 Pengaruh yang lebih langsung atas neo positivisme adalah dari “empiriocritisme”. Richard Avenarius sebagai pelopor dari kaum neo-positivisme, dia memberikan kepadafilsafat derajat kepastian yang sama dengan ilmu pasti, yaitu dengan mempergunakan metode metafisika dan dengan pertolongan alat-alat pernyataan metafisika. Selanjutnya ia juga menjauhkan segala suasana perasaan dan emosi dari filsafat. Filsafat harusnya yang beraturan keras, yakni ilmu yang berdasar pengalaman murni,dimana peristiwa-peristiwa bertalian di dalamnya. Pertalian ini paling dekat kepada kebenaran, jika dia karena kesederhanaannya menghendaki kegiatan yang palingsedikit dari pikiran. Inilah yang disebut asas ekonomi fikiran.Hal ini juga dikemukakan oleh Mach, seorang empiris sejati. Ia mengesampingkan bagian apriori dalam penyusunan pengetahuan dan dibiarkannya seluruh ilmu itu terjadi dari pengalaman.Tidaklah muda untuk mengatakan apa sebenarnya yang dikehendaki oleh kaum noe-positivisme. Ditinjau dari satu sudut mereka merupakan golongan yang tertutup rapat, dan dari sudut lain terlihat di dalamnya perbedaan-perbedaan pendapat, sedangpendiri-pendiri yang dipegang semula kemudian ditinjau kembali oleh beberapa diantara mereka, sehingga adanya sayap “kanan” dan sayap “kiri”. Tetapi yang pasti ialah bahwa satu-satunya yang dianggap penting oleh mereka ialah interpretasi keilmuan tentang kenyataan, juga sudah pasti bahwa menurut mereka metafisika tidak dapat dipersatukan dengan interpretasi keilmuan semacam itu, dengan kata lain; metafisika tidak bersifat keilmuan. Mereka tidak mau tahu tentang filsafat yang pada dasarnya berlainan hakikatnya dari ilmu eksak.Bochenski berkata: filsafat bagi kaum neo-positivisme tidaklah lain daripada analisis dari bahasa ilmu kealaman.Felix Kaumann; satu-satunya tugas dari filsafat yang agak berarti ialah memperjelas aturan-aturan dari prosedur keilmuan; sassen pergerakan neo-positivisme adalah berarti suatu reaksi dari empirisme dan positivisme terhadap idealisme dan metafisika dalam filsafat. Lagi pula dia menentang penghargaan yang berlebih-lebihan terhadap kata dalam filsafat dan dia juga hendak mencari alat-alat pernyataanyang sama dapat dipercayai seperti halnya dengan alat-alat pernyataan pada ilmu-ilmu eksak.Jadi neo-positivisme itu adalah suatu pergerakan dengan “anti” dan “pro”. Dia “anti” terhap hampir segala soal-soal utama yang dipersoalkan oleh fikiran filsafat sampai waktu itu dan dia mencoba membuktikan bahwa soal-soal itu sama sekali tidak mempunyai arti apa-apa. Dia “pro” filsafat sebagai metode keilmuan yang diteliti, yang menghasilkan pengetahuan. Satu-satunya metode yang sanggup melakukan hal itu ialahmetode ilmu kealaman yang logis metanatis. Sikap kaum neo-positivis adalah tenang dan sangat anti spekulasi.Dalam filsafat tradisional selalu timbul pertanyaan tentang “dunia sebenarnya” bagikaum neo positivisme sama sekali tidak peduli apakah orang percaya bahwa kita mencapai dunia “sebenarnya” karena pengalaman-pengalaman kita, atau apakah orang menganggap bahwa dunia orang seenarnya itu bersembunyi “di balik” pengalaman. Pernyataan-pernyataan semacam itu tidak benar dan juga tidak salah. Sebab tidak ada menceritakan sama sekali tentang peristiwa-peristiwa yang dapat diketahui. Kebanyakan kaum neo-positivisme pada suatu pihak mempergunakan alat-alat pernyataan formil dengan leluasa yang disajikan oleh logika modern. Sebaliknya pula, mereka adalahkaum empiris tulen. Sesuatu itu barulah benar bila dapat dibuktikan dengan pengalaman sebagai suatu yang benar. Tiap filsafat yang menerima kemungkinan pengetahuan harus membuktikan apa yang menjadi dasar pengetahuan.Kesimpulan1. Neo-positivisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang aktual dan positif.2. Kaum neo-positivisme memiliki kesamaan dengan kaum empiris.3. Menurut Comte bahwa perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 fase yaitu:a. Fase Ideologi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->