Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kompos organik

Kompos organik

Ratings: (0)|Views: 196 |Likes:
Published by Raditya Budiarto

More info:

Published by: Raditya Budiarto on Mar 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

 
BAB I. PENDAHULUANA. Latar Belakang
Penggunaan pupuk kimia, pestisida dan serta zat-zat lainnya dalam jumlahyang berlebihan menunjukkan dampak negatif pertanian dan akhirnya mendapatperhatian yang serius. Penggunaan pupuk kimia yang cenderung meningkat tidak terlepas dari kemampuannya meningkatkan produktifitas dalam kurun waktu relatif singkat bahkan dianggap sebagai teknik yang ampuh untuk meningkatkan produksi,namun residu pupuk mulai diketahui mencemari air tanah sebagai sumber airminuman sehingga akan membahayakan kesehatan manusia (Akrial), rendahnyabahan organik menyebabkan kesuburan tanah menjadi rendah, stabilitas agregatnyarendah dan peka terhadap erosi (Mardani, 2004).Lahan pertanian baik lahan basah seperti sawah maupun lahan kering diIndonesia saat ini umumnya mengalami kekurangan bahan organik. Bahan organik diperlukan untuk menambah kesuburan tanah, mengaktifkan tanah dan meningkatkanWater Holding Capacity. Penambahan pupuk organik bertujuan untuk meningkatkankesuburan tanah, meningkatkan kadar bahan organik tanah, menyediakan hara mikro,dan memperbaiki struktur tanah. Penggunaan bahan-bahan ini juga dapatmeningkatkan pertumbuhan mikroba dan perputaran hara dalam tanah(Bawolye, 2006).Sebaiknya penggunaan pupuk kandang organik dipadukan denganpenggunaan sumber hara anorganik sesuai keperluan. Hal ini memungkinkan petanimenggunakan bahan organik atau pupuk kandang yang tersedia di pertanian denganbiaya rendah untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan hara dan meningkatkankesuburan tanah bila diperlukan (Bawolye, 2006). Pembuatan pupuk organik tidak serumit yang dibayangkan, asal petani tetap tekun, sabar dan memiliki motivasi sertainovasi agar tidak tergantung pada pupuk kimia. Bahan-bahan untuk pembuatanpupuk gampang diperoleh. Kotoran ternak, ayam, kuda, itik, jerami, limbah jagung,kedelai, kulit buah kakao, daun-daunan dan sebagainya ada di lingkungan petani(Gusmanizar dan Rusnam, 2009).
 
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macammikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yangmemanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalahmengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebihcepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian airyang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-ratapersentase bahan organik sampahmencapai ±80%, sehingga pengomposanmerupakan alternatif penanganan yang sesuai. Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya jumlah sampah organik yang dibuangke tempat pembuangan akhir dan menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnyagas metana ke udara.DKI Jakartamenghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, dimana sekitar 65%-nya adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 tondihasilkan oleh seluruhpasaryang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampahorganik. Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihatpotensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarianlingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005).Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alamdengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposanyang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat prosespengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan.Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi.Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada prosespenguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkansedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat danefisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutamauntuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah
 
sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian danperkebunan.Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secaraaerobik maupunanaerobik,dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivatorpengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes),OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organik Decomposerdan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan cacing gunamendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulansendiri-sendiri.Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah danmurah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit.Dekomposisi bahan dilakukan olehmikroorganismedi dalam bahan itu sendiridengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkanmikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkanuntuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifatkimia, fisikadanbiologitanah,sehingga produksitanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan bahan organik dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembalitanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutupsampah di TPA, reklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman,serta mengurangi penggunaanpupuk kimia.Melihat potensi yang ada, pembuatan pupuk organik (kandang atau kompos)merupakan hal yang sangat penting, maka perlu dilakukan suatu pelatihan danpembinaan kepada kelompok tani tentang pemanfaatan limbah organik menjadipupuk organik dengan menggunakan berbagai jenis bioaktivator. pada akhirnyakelompok tani ini dapat menjadi percontohan dalam memanfaatkan limbah pertaniandan peternakan dan mengubah menjadi pupuk organik.
B. Perumusan Masalah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->