Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kata,makna,gestur,metafor

kata,makna,gestur,metafor

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 2,812 |Likes:
Published by aripsenjaya3574
Makna kata tidak hanya ditentukan kehadiran kata, melainkan juga teks-teks lain: huruf, metafor, dan gestur sosial
Makna kata tidak hanya ditentukan kehadiran kata, melainkan juga teks-teks lain: huruf, metafor, dan gestur sosial

More info:

Published by: aripsenjaya3574 on Dec 01, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
Makna Kata: Melihat dari Kata, Huruf,
Smiley 
,Metafor Sastra, dan Gestur Sosial
Sebuah tinjauan filsafat
Arip SenjayaSpoken words are the symbols of mental experience and written words are thesymbols of spoken words. Just as all men have not the same writing, so all menhave not the same speech sounds, but the mental experiences, which these directlysymbolize, are the same for all, as also are those things of which our experiencesare the images…. The word ‘human’ has meaning, but does not constitute aproposition, either positive or negative. It is only when other words are added thatthe whole will form an affirmation or denial. But if we separate one syllable of theword ‘human’ from the other, it has no meaning; similarly in the word ‘mouse’, thepart ‘ouse’ has no meaning in itself, but is merely a sound. In composite words,indeed, the parts contribute to the meaning of the whole; yet, as has been pointedout, they have not an independent meaning.... Every sentence has meaning, not asbeing the natural means by which a physical faculty is realized, but, as we havesaid, by convention. (Aristoteles, 2007, b. 1- 4)
1. Makna Kata.
Membicarakan “makna kata” adalah berarti membicarakanhubungan-hubungan antara
makna
dan
kata
. Selama yang dimaksud dengan
kata
adalah kata yang memiliki makna dan selama yang dimaksud dengan
makna
adalah makna yang tergantung pada kata, kita tidak dapat memisahkan salahsatunya untuk membicarakan salah satu yang lainnya. Oleh karena itu, dapatdipetik di sini simpulan dari Hospers bahwa
kata
adalah unit
terkecil
yangmenyususun
makna
1
. Namun, batasan tersebut jangan terburu-buru dijadikanpegangan; belum tentu ia tak terbantahkan. Kita harus melakukan pengujian tanpahenti, dengan cara terus memisahkan kata-makna/makna-kata dari realitas-realitaslain yang dapat mengganggunya agar dalam tataran ontologis menjadi jelas posisikeberadaanya. “
Ontologi adalah cabang penyelidikan bidang metafisika”(Flew
2
). “Ontologi membicarakan asas-asas rasional
 yang-ada…
berusahauntuk mengetahui esensi terdalam dari
 yang-ada
 
(Kattsoff 
3
).
1
 John Hospers, 1967, p. 2.
2
Antony Flew, 1984, p. 255.
3
Louis O. Kattsoff, 2004, h. 73-74.
 
Sebelum kita menguji batasan tersebut dengan kasus demi kasus khusus tertentu,kasus-kasus yang kadang dianggap sebagai pengecualian-pengecualian bahasayang karenanya dapat menangguhkan batasan di atas —padahal bisa jadi merekatak dapat dimasukkan ke dalam paradigma makna-kata, melainkan dalamparadigma makna dari fakta alam, misalnya— sebagai permulaan marilah kitameninjau kata berikut ini.kucing
4
2. Huruf, dapatkan menjadi kata-makna?
Kata “kucing” adalah kata yangsecara harfiah memiliki makna: binatang berkaki empat, berbulu, karnivora,melahirkan anak, menyusui, vertebrata, bertaring, dan seterusnya. Sedangkanhuruf-huruf yang menyusun kata tersebut — baik itu “k”, “u”, “c”, “i",”n”, atau pun“g”— sama sekali tidak memiliki makna. Dengan demikian huruf-huruf bukanmerupakan unit terkecil penyusun makna, huruf-huruf dalam kasus ini hanya dapatdidefinisikan sebagai unit terkecil penyusun kata. Makna “huruf” hanya ada ketikahuruf-huruf itu menjelma kata. Tapi mari kita lihat “a” dan “I” yang dalam bahasa Inggris tidak lagi dapat disebutdalam batasan huruf, karena masing-masing memiliki makna seakan masing-masing merupakan kata; “a”dapat berarti “seorang”, “sebuah”, “seekor”, “sebutir”,“sebiji”, “seorang”, tergantung pada kata yang ditunjuk sesudahnya; “I” berarti“saya” atau “aku”. Belajar dari kasus tersebut, kita harus membuat rumusan baruterhadap kata; kata adalah bentuk (tulis/cetak) yang disusun oleh satuatau lebihhuruf-huruf. Sebuah huruf tunggal yang memiliki makna adalah termasuk dalamkelompok kata. Batasan ini pun tidak dapat kokoh karena kita akan menyaksikanpenulisan huruf “a” dan “I” dalam bahasa yang bersangkutan yang harus dibacasebagai huruf, bukan sebagai kata, seperti sering nampak dalam paragraf-paragraf uraian: “A”, “B”, “C”…”I” dst. (“I" di dalam konteks tersebut tidak berarti “saya”atau “aku”).
3.
Smiley 
. Fenomena huruf-tunggal bermakna dewasa ini dapat kita apresiasi daridunia komunikasi
sms
(telepon genggam) atau
chating
(internet). Komunitas-komunitas-komunikasi memiliki simbol-simbol huruf-tunggal yang merupakanbentuk singkat-konvensional-selingkung. Huruf-huruf tunggal yang mereka gunakanpada mulanya adalah susunan huruf, sebuah kata, tapi karena alasan demi
4
Bisa saja saya mengambil contoh selain “kucing”. Penggunaan “kucing” di sini diambil daricotoh “cat” dalam bahasan John Hospers,
op.cit., loc. cit.
, agar kalau suatu waktu Andamembaca buku tersebut, Anda akan dapat membandingkannya dengan kupasan saya:bagaimana saya membahas “kucing” dan bagaimana Hospers membahas “cat”. Tidakhanya “kucing”, beberapa contoh lainnya juga saya satu-objek-contohkan dengan buku-buku acuan. Di dalam khazanah filsafat Anda akan menemukan pembahasan kata-kata yangsama seperti “meja” atau “segitiga” oleh bermacam filsuf –saya kira juga untuk tujuan yangsama: perbandingan cara penguraian. Cara yang demikian ini dapat menjadi jalanterciptanya ketersambungan-ketersambungan dan perkembangan-perkembangan. Beberapacontoh dari saya sendiri.
 
kecepatan dan karena keterbatasan ruang-tulis, ia disingkat dengan simbol huruf tertentu. Mereka yang mengenal huruf alfabet “a” sampai “z”, akan memanfaatkanhuruf-huruf tersebut. Misalnya “n” untuk mengganti “
and
” (atau bisa juga “dan”tergatung kesepakatan masing-masing komunitas pengguna), “u” untuk“you”/”kamu”, dst. Kedua contoh tersebut merupakan contoh penggantian simbolyang asosiatif atau ikonik karena huruf-penyingkat tersebut memiliki hubungankedekatan dengan kata yang disingkatnya, baik kedekatan bunyi waupun kedekatanketerwakilan huruf: “n” diucapkan sama dengan “and” dan “n” merupakan huruf yang jadi salah satu unsur penyusun “and”/”dan”. Ada pula jenis penyingkatanyang tidak berhubungan asosiatif-ikonik, seperti “x” untuk mengganti “ny”.Penggantian pada kasus terakhir pastilah disebabkan oleh alasan kecepatan,mengetik “x” tentu lebih cepat daripada “ny” (“n” + “y”).Fenomena huruf-tunggal yang menyimbolkan kata yang berkembang di eraketerhubungan sinyal gelombang elektromagnetik tersebut harus dipandangsebagai kata, sama dengan simpulan kita pada penggunaan “a” dan “I” dalambahasa Inggris, meskipun “a” dan “I” bukan merupakan perasan dari katasebelumnya yang lebih panjang dari sekedar satu huruf; —sama dalam pengertianmemiliki makna. Ada pun simbol-simbol lain yang tidak menggunakan sarana huruf,katanlah simbol gambar
template
atau
smiley 
, tidak dapat disebut kata. Merekadigunakan untuk tujuan pemiguratifan, yang terjadi karena ketiadaan stok huruf atau kata yang sesuai dengan maksud gestur pengguna. Karena huruf tidakmemiliki gambaran asosiatif dengan gestur, pengguna komunikasi-mayamenggunakan
nonstock use
.
 
Istilah
nonstock use
(dari Ryle dalam Olshewsky
5
) initidak terlalu tepat benar di sini, ia gunakan untuk menyebut proses pemiguratifandalam metafora.Oleh karena itu, batasan kita bertambah luas, bahwa kata adalah huruf ataususunan huruf-huruf yang memiliki makna. Bahwa simbol
nonstock use
memilikimakna, tentu saja, tapi ia bukan kata karena ia bukan huruf.
Nonstock use
yangmemiliki makna hanya ada dalam metafor, kata atau gabungan dua kata atau lebihyang diciptakan dengan sadar untuk menyebut pengalaman dan realitas yangbelum ada keterwakilannya dalam bahasa lazim (
stock use
). Ryle
6
menyamakan
nonstock use
dengan
nonstandard
. Sedangkan
stock use
yang dimaksud Ryleadalah
ordinary 
yang dapat berarti “
common”, “current”, “colloquial”, “vernacular”,“natural”, prosaic”, “nonnotational” 
yang berseberangan dengan “
out-of-the-way”,“esoteric”, “technical”, “poetical”, “notational” 
(
nonstock 
). Yang belum kita perhatikan di sini adalah batasan huruf itu sendiri. Apakah huruf ituharus dari kelompok alfabet? Kalau saya jawab iya, konsekuensinya tak ada huruf lain selain huruf alfabet yang dapat disebut penyusun kata. Bagaimana dengan
5
 Thomas M. Olshewsky, ed., 1969, p. 57.
6
Op. cit., loc. cit.

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ade Himamudin liked this
Ade Himamudin liked this
Gita Gurnitasari liked this
Afrizal Burhan liked this
Abdul Wahid S liked this
Claudia Angela liked this
Junita Xu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->