Sebagai ladang penghasil santri, tentunya pesantren harus menghasilkansantri (
output
) yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Output
tersebut selain berimplikasi secara personal, juga berdampak positif secara sosial.Adapun hasil implikasi tersebut dapat dilihat dari intensitas keuntungan yang besar yang diproduksi pesantren terhadap lingkungan sekitar, di antaranya berupakeuntungan pragmatis bagi aspek yang berdimensi budaya, edukatif dan sosial.Dalam dimensi kultural, kehidupan seorang santri di pesantren ternyataseringkali dihiasi dengan prinsip hidup yang mencerminkan kesederhanaan dankebersamaan melalui aktivitas “mukim”. Kalau saja “abdi negara” ataupunmasyarakat modern mampu melakukan hal seperti mereka, akan munculsolidaritas sosial terhadap sesama manusia. Lalu, dari aspek edukatif pesantren juga mampu menghasilkan calon pemimpin agama (
religious leader
) yang piawaimenaungi kebutuhan praktik keagamaan masyarakat sekitar, hingga aktivitaskehidupannya mendapat berkah dari Tuhan. Sedangkan dalam aspek sosial,keberadaan pesantren seakan telah menjadi semacam “
community learning centre
” (pusat kegiatan belajar masyarakat) yang berfungsi menuntun masyarakathingga memiliki
life
style
agar hidup dalam kesejahteraan. Namun, kendati secara
output
tidak selalu sesuai dengan kebutuhan,setidak-tidaknya secara ideal pendidikan di Pesantren mampu mencetak calon-calon ahli agama yang siap diterjunkan ke masyarakat. Tidaklah heran jika pesantren sebagai “
laboratorium sosial
” banyak membidani kelahiran tokoh-tokoh yang dihormati serta ikut andil dalam pembangunan bangsa lewatsumbangsih pemikiran yang brilian.Misalnya saja, K.H.A.Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H.A.Hasan(tokoh Persatuan Islam), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.O.S Tjokroaminoto(pencetus SI), Muhammad Natsir (bekas Perdana menteri), Dien Syamsuddin,Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan yang lainnya merupakan aktor intelektual yang dididik oleh lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren.Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa: “ Hendaklah ada di antara kamusekalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepadayang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali-Imran, 3 : 104). Artinya, dengan kreasi kultural berupa pendirian pesantren dalam khazanah Islam Indonesia merupakan misi profetik untuk mengaplikasikan kebaikan-kebaikan hingga dapat bermanfaat bagitegaknya nilai-nilai kemanusiaan di tubuh dan jiwa umat, bangsa dan wargamasyarakat.
Tantangan Modernisasi
Jika mencari lembaga pendidikan yang asli Indonesia dan berakar kuatdalam masyarakat, tentu akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Namun,ironisnya lembaga yang dianggap merakyat ini ternyata masih menyisakankeberbagaian masalah dan diragukan kemampuannya dalam menjawab tantanganzaman, terutama ketika berhadapan dengan arus modernisasi. Untuk mengubah
image
yang agak miring ini tentunya memerlukan proses yang panjang dan usahatidak begitu mudah.Proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alamsemesta, tradisi, dan agama. Manusia dalam subjektivitas dengan kesadarannya
Add a Comment