Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menuju Ilmu Hukum Tata Negara Berbasiskan Moralitas Dan Relegius

Menuju Ilmu Hukum Tata Negara Berbasiskan Moralitas Dan Relegius

Ratings: (0)|Views: 20 |Likes:
Published by Kabogoh Jauh

More info:

Published by: Kabogoh Jauh on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2012

pdf

text

original

 
Menuju Ilmu Hukum Tata NegaraBerbasiskan Moralitas dan Relegius
Menuju Ilmu Hukum Tata Negara Berbasiskan Moralitas dan RelegiusOleh Turiman Fachturahman Nur
Mengapa penegakan hukum di Indonesia tercerabut dari akar moralitas,sebenarnya salah satu faktor sumbangan terbesar adalah karena kita menyamakanhukum sama dengan teks peraturan perundang-undangan, sedangkan jika kitaeksplorasi lebih dalam materi muatan peraturan perundang-undangan yang dirancangoleh negara melalui lembaga yang diberikan kewenangan tidaklah bebas darikepentingan-kepentingan politik dalam berbagai dimensinya, sehingga publik tidak bisa berharap banyak kepada peraturan perundang-undangan atau hukum tertulis,sebagai satu-satu pintu masuk pemahaman ilmu hukum tata negara, khususnya diIndonesia.Mengapa demikian ? jika kita membaca secara konstitusional dalam UUD1945 pasal 20 menyatakan: (1) Dewan PerwakilanRakyat memegang kekuasaanmembentuk undang-undang (2) setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DewanPerwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. (3) Jikarancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama rancanganundang-undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan RakyatMasa itu (4 ) Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujuibersama untuk menjadi undang-undang.Mengacu pada landasan konstitusional di atas, jelas terjadi sebuah pergeserankewenangan membentuk undang-undang itu dan meninggalkan teori dalam ilmuhukum tata negara distribution ofpower menjadi pemisahan kekuasaan, tetapiakibatnya kita melihat bersama, bahwa DPR sebagai pemegang kekuasaan pembentuk undang justru mengabaikan sebuah lembaga negara yang sebenarnya setara denganDPR yang merupakan representasi daerah, yaitu Dewan Perwakilan Daerah yangsecara konstitusional hanya diberikan kewenangan mengajukan rancangan undang-undang dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang serta ikutmembahas tetapi tidak memberikan persetujuan terhadap undang-undang (pasal 22 D)
oleh karena itu DPR dengan hegemoninya bisa “menobrak abrik” rancangan undang
-undang baik yang datang dari Presiden (eksekutif) maupun yang datang dari DPD.Ini adalah sebuah ketidak adilan, karena DPD yang mewakili suara daerahnyaris dapat diabaikan, sedangkan sejatinya DPD yang diwakili oleh 4 orang setiapprovinsi dipilih langsung oleh rakyat di daerah tidak diberikan kekuasaan untuk setuju
 
atau tidak setuju terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitandengan daerah dan otonomi daerah, seharus diberikan sebuah kewenangan untuk memberikan persetujuan atau menolak sebuah materi peraturan perundang-undanganyangmerugikan kepentingan daerah.Efek lain dari Pasal 20 UUD 1945 adalah presiden terpilih melalui pilpres
“tidak cukup pede”, karena
Partai yang mewakilinya di DPR tidak mungkinmenguasai seluruh kursi DPR yang jumlahnya 500 kursi dan pada tataran praktek melebihi 250 kursi sehingga untuk mengimbangi, akhirnya berkoalisi dan tentu ada
partai yang tidak berkoalisi kemudian diketagorikan sebagai “oposisi” sistem seperti
ini cukup signifikan jika sistem pemerintahan adalah parlementer.Dengan demikian keberadaan DPD sebagai perwakilan daerah yang jumlahnya sedikit itu tidak mampu mengimbangi DPR dan dari sisi kewenanganterbatas, seharusnya jika memang ada oposisi, maka secara psikologi politik seharusnya mendukung DPD untuk melakukan stresing kepada partai-partai koalisi,tetapi karena tidak ada kewenangan dalam membentuk undang-undang tetapterabaikan.Pada sisi tataran praktek moralitas anggota-anggota DPR dalam kondisi sepertisekarang ini dan menguatnya paham-paham yang menganggap hukum sama denganundang-undang, maka positivisasi adalah salah satu jalan untuk menitipkankepentingan ke dalam materi muatan perturan perundang-undangan.Kemudian bagaimana pemahaman ilmu hukum tata negaraoleh para penstudihukum di Indonesia, pada tataran ini secara akademis mempertanyakan apasebenarnya hakekat ilmu hukum tata negaraitu ?Hakekatnya, ilmu hukumtata negaradalam keotentikannya merupakan ilmuyang sarat dengan moral dan moralitas. Ilmu hukumtata negaramerupakan realitaskodrati yang eksis dan tertanamkan di setiap hati nurani manusia dan
a priori
terhadapsegala bentuk perilaku manusia. Dalam posisinya sebagai norma kehidupan sepertiitu, maka ilmu hukumtata negaramerupakan ilmu amaliah. Artinya, tidak ada ilmuhukum tanpa diamalkan, dan tidak ada sesuatu amalan digolongkan bermoral kecualiatas dasar ilmu hukumtata negara.Akan tetapi dalam perjalanan sejarah yang panjang, moral dan moralitas itusedikit demi sedikit tereduksi, sehingga dewasa ini kandungan moral dan moralitasdalam ilmu hukumtata negarasangat menipis. Perkembangan ilmu hukumtatanegaramenjadi semakin memprihatinkan, ketika moral dan moralitas yang masihtersisa dalam batas minimal tersebut cenderung diputar-balikkan melalui rekayasaatau permainan, sehingga garis batas antara adil/dzalim, benar/salah, baik/buruk,
 
 jujur/bohong dan sebagainya menjadi kabur, simpang-siur, kacau danmembingungkan. Bahkan pada tataran teoretis maupun praktis, seakantidak ada lagigaris batas, garis pemisah, garis demarkasi dalam moral dan moralitas tersebut,sehingga siapapun yang terlibat dalam masalah-masalah hukum, menjadi bingung danterjebak ke dalam ketidak-berdayaan, ketidak-pastian, ketidak-teraturan, karenamemang tidak ada pedoman, tidak ada referensi ataupun kategori-kategori yang pastimengenai moral dan moralitas itu. Ironisnya, tidak adanya garis pembatas danpemisah antara moral dan moralitas dengan ilmu hukumtata negaratersebut dalambanyak hal justru disengaja oleh pihak-pihak yang berposisi sebagai pengendali,pelaksana maupun pengontrol pengamalan ilmu hukumtata negaradi dalamkehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Garis batas moral dan moralitas yang dalamkeotentikannya jelas dan pasti, justrudengan sengaja dibongkar, didekonstruksi,diambangkan, dijungkir-balikan sehingga manakah ilmu hukum yang bermoral danmana pula ilmu hukumtata negarayang amoral menjadi nisbi, relatif bahkan nihil.Berhadapan dengan kecenderungan adanya pemisahan antara moral danmoralitas dengan ilmu hukumtata negara, menjadi relevan untuk dikaji, diungkap dandiangkat kembali urgensi reintegrasi moral ke dalam ilmu hukumtata negara.Bagaimanapun kita berkepentingan agar perkembangan ilmu hukumtata negaradapatberjalan secara wajar, sehat dan mampu menjadi pendorong terwujudnya kehidupanyang lebih adil, bahagia dan sejahtera. Dalam konteks pemikiran demikian, makakeutuhan moral dengan ilmu hukumtata negaraharus tetap dijaga, baik pada tataranteoretismaupun praktis.Dalam segala keterbatasan yang ada, di sini perkenankanlahmengungkap danmengangkat moral dan moralitas religius, sebagai fondasi utama untuk meresponketerpurukan perkembangan ilmu hukumtata negara. Hal ini saya pandang penting,karena pada tataran paradigmatis, filosofis maupun empiris, sejarah kehidupanmanusia di belahan bumi manapun telah terbukti bahwa agama mampu menjadi pilar-pilar yang kokoh bagi terwujudnya perikehidupan dan penegakan hukum yang benar-benar adil.Apa yang dimaksud dengan moral di sini tidak lain adalah akhlak. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab
akhlaq
, bentuk jamak dari kata
khuluq
.
Khuluq
berarti tabiat,watak, perangai dan budi pekerti yang bersumber atau berinduk pada
al-Khaliq
(Tuhan Yang Maha Esa). Al-Ghazali (1993) mendefinisikan akhlak (
khuluq
)sebagai hal yang melekat dalam jiwa, yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatanyang dengan mudah untuk dilakukan tanpa dipikir dan diteliti. Jika hal-ihwal jiwa itumelahirkan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan
syara
’, maka hal
-

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->