Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Iman Dan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat

Iman Dan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat

Ratings: (0)|Views: 214|Likes:
Published by Dedi Mukhlas

More info:

Published by: Dedi Mukhlas on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/23/2012

pdf

text

original

 
IMAN DAN TAQWADALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
Oleh: Prof. DR. K. H. Achmad Mudlor, SH.
1.Pengantar
Karangan ilmiah ini berjudul “ImanDan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat”.Untuk menganalisis judul ini perludijelaskan terlebih dahulu bahwa ImandanTaqwa adalah dua unsur agamis yangesensiil dari suatu agama dan tidak mungkin terlepas dari pembahasan filsafat,khususnya filsafat agama yaitu membahasmasalah agama dari segi filsafat.Filsafat agama dalam pandangan berbagai filosof bukanlah pembahasanfilsafat secara bebas, tetapi ia membahasagama dari segi aspek filsafat dengan titik tolak yang tertentu. Karena agama itu bermacam-macam pedoman danlandasannya, maka sudah barang tentulandasan yang dipergunakan sebagai tititolak pembahasan tulisan ini adalah ajaranIslam.Landasan berfilsafat adalah akal bukan wahyu, oleh karena itu dalamsejarah filsafat terdapat filosof yang beriman dan ada pula filosof yang kufur yang hanya percaya pada pengetahuanindra yang didukung oelh akal, terutamafolisof yang beraliran meterialistisme.Sebenarnya antara berfikir filosofisdan berfikir religius mempunyai titik mulaiyang sama, keduanya mulai dengan percaya. Dalam filsafat dimulai dengan percaya pada kemampuan akal, sedangkandalam agama dimulai dengan percaya padaketetapan wahyu. Menurut agama Islam,Iman diartikan secara sederhana adalahkepercayaan, sedangkan dalam filsafatagama Iman tersebut dipahami secararadikal.Dalam menghadapi kepercayaankepada kebaradaan Tuhan, setiap manusiaatau setiap agama mempunyai konsep yang berlain-lainan tentang apa yang dinamakanTuhan. Misalnya Plato sering menyebutTuhan dengan kata (The Good), yaituTuhan yangb baik, tetapi dia tidak pernahmenyebut Tuhan yang hidup (Yhe Live).Bagi Aristoteles, bahwa kepercayaanterhadap adanya Tuhan adalah kepecayaankepada adanya zat yang memberi artikepada alam, tetapi Tuhan yang tidak dapatkita hubungi, artinya bukan Tuhan yangdapat kita sembah dan kita mintai. Tuhanmenurut Aristoteles merupakan
it 
bukan
he
.Tuhan menurut kepercayaan agama greek adalah Tuhan yan dianggab mempunyaihubungan dengan masalah kerohanian atausuatu kekuatan dalam dunia spiritual. Kitasedikit agak setuju Tuhan seperti yangdikemukakan Pascal, yaitu Tuhannya NabiIbrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya`qub, sebabTuhan ditambah predikat Nabi-Nabi yangdiakui oleh agama Islam, sekalipun sifat-sifat Tuhan tidak disebutkan. Tuhan yangdibahas dalam tulisan ini adalah Tuhanyang diberi predikat 99 asmaa`ul chusna.Iman dan taqwa dalam judul diatas bukan merupakan kesatuan yang utuh, akantetapi antara keduanya merupakan dua pengetahuan yang mempunyai hubunganyang erat sekali. Tinggi rendahnya nilaikeimanan berpengaruh besar terhadaptinggi rendahnya nilai ketaqwaan.Sedangkan tinggi rendahnya nilaiketaqwaan sebagai bukti nilai kebenarannilai Iman yang dimiliki. Oleh karena itumakalah ini perlu sekali terlebih dahulumemnbahas pengertian iman dan taqwaserta hubungan antara keduanya.Setiap lubuk hati manusia tida boleh kosong dari potensi kepercayaan.Dalam filsafat ilmu ini ia sebagai alat tahu.Tidak percaya terhadap adanya sesuatu
 
 berarti percaya bahwa sesuatu itu tidak ada.Usaha filosof untuk menjelaskan seluruhkenyataan secara tuntas ternyata masih adasesuatu sisa yang tidak dapat dijelaskanyang berperan besar terhadap kehidupanmanusia. Sisa ini oleh Herbert Spencer diberi istilah
The great of imknowable
yangharus diterima dengan sikap percaya atautidak percaya. Bahkan dalam kehidupanmanusia sering dihadapkan dengan sesuatumisteri yang tersembunyi dibalik gejala-gejala, bahwa dibalik segala sesuatu yangterpaksa harus dipercaya. Hal inimendorong untuk dibahas secara radikaloleh berbagai filosof yang tekun denganfilsafatnya. Oleh karena itu dari sisi ini perlu dibahas tentang peran iman dalammeningkatkan amal ketaqwaan.Dalam agama Islam imanmempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap penghidupan manusia dialamsemesta ini, baik dalam segi hubungannyadengan Tuhan dan dan sesama manusiamaupun hubungannay dengan alam fisikadan metafisika. Wilian James seorangfilosof kelahiran New York dengan teoridogmatisnya telah membahas masalah-masalah agama, khususnya tentang imankepada Allah. James tidak mempersoalkantentang kebenaran kepercayaan-kepercayaan dalam agama, tetapi yangdipersoalkan adalah hasil menjadikanagama sebagai pedoman hidup. Baginyakalau kepercayaan atau ide-ide agama itumemperkaya hidup maka itu adalah benar.Kalau ada anggapan yang dapat menjadidasar suatu hidup yang baik, makasebaiknya percaya terhadap anggapan itu.Kalau harus memilih antara anggapan yang berbeda maka harus berfikir dari titik akhir.Perspektif tentang manusia dan duniadengan Allah menggambarakan masadepan yang lebih baik dan sesuai dengankeinginan kita dari pada perspektif tanpaAllah. Perspektif pertama lebih berguna,maka lebih benar. Dari sisi ini maka perludibahas pengaruh iman terhadap kahidupanmanusia.Jadi makalah yang berjudul “Imandan Taqwa dalam Perspektif Filsafatdibatasi pembahasan sebagai berikut.
Iman dan taqwa serta hubungananatara keduanya
Peranan iman dalammembentuk ketaqwaan
Pengaruh kekuaatan imanterhadap kehidupan individu danmasyarakat.Tiga rumusan tersebut akan dibahasdalam tulisan yang singkat dan kesempatanyang terabatas. Namun semoga memenuhihajat bagi para pembaca dan dapatdijadikan pandangan untuk membahasyang lebih luas.
2.
Iman dan taqwa serta hubunganantara
 
keduanya
Iman dan taqwa adalah dua unsu pokok bagi pemeluk agama. Keduanyamerupakan elemen yang penting dalamkehidupan makhluq manusia dan sangaterat hubungannya dalam menentukan nasibhidupnya serta memiliki fungsi yang urgen.Menurut ahli hukum, iman itu hanyasekedar pengakuan suatu makna yangterkandung dalam lubuk hati, menurut parateolog, iman itu adalah kepercayaan yangtertanam dalam lubuk hati dengankeyakinan yang kuat tanpa tercampuri olehkeraguan dan berperan terhadap pendanganhidup atau amal perbuatan sehari-hari.Sedangkan menurut berbagai filosof, imandiartikan lebih jauh dari lafidz dan maknaserta tidak terikat dengan dalil-dalilapologis. Misalnya Karl Teodor Yoepeseorang filosof Jerman mengetengahkanistilah iman falsafi yang universil yang berlaku untuk semua zaman dankebudayaan. Isi iman falsafi baginya, bahwa Allah itu ada, manusia harus mampumemilih memilih yang baik secara ta bersarat, dunia tidak merupakan kenyataanterakhir dan bahwa cinta kasih manusiamerupakan suatu bukti adanya Allah.Semua pengertian-pengertian yang
 
dikemukakan diatas pada dasarnyamenunjukkan, bahwa iman itu berperanandan berpengaruh terhadap tindak lakumanusia dalam segala aspek kahidupanmanusia.Menurut filosof islam Imam Ghozali bahwa iman itu berkaitan dengan hal-halyang bersifat spiritual atau batin, dimanahati dapat menangkap iman dalam pengertian hakiki melalui kasyaf yangdiperoleh berkat pancaran sinar Ilahi padanya. Dalam kesempatan lain beliaumenegaskan, bahwa arti iman adalah pengakuan yang kuat tidak ada pembuat
(faa`il)
selain Allah. Makna iman yangdikemukakan ini menimbulkan problemametafisis, diantaranya membatasi sebab pembuat
(illah faa`iliyah)
hanya kepadaAllah, manafikan kebebasan berikhtiar darimanusia serta penyerahan diri
(tawakkal)
kepada-Nya. Pemikiran Imam Ghozali inidisebut dengan istilah tauhid, sebab artinyakeimanan itu tidak boleh menghubungkansebab tersebut kepada selai Allah. Dialah pembuat satu-satunya dan selain-Nyahanya sekedar washilah (perantara).Hukumnya perantara itu dalam tinjauanfilsafat juga sebab, namun sebab pokok.Bagi Imam Ghozali iman itu bukanlawan dari syirik, tetapi peng-Esaan kepadaKholiq (Pencipta). Oleh karena itu bagiorang yang meng-Esakan Allah harus bersikap tawakkal. Tawakkal bukan berartimaniadakan ikhtiar, tetapi maniadakankebebasan berikhtiar, karena dalamtawakkal manusia berkesempatan untuk kasab (berusaha). Bahkan dengan tawakkalitu dapat mengenal hakekat ikhtiar dansekaligus dapat mengetahui nilai dankualitas iman. Iman yang sebenarnya harusmembuahkan tawakkal, sehingga dapatmemperoleh ridho Allah. Dalam kitab sucidikemukakan, bahwa Nabi Hud, NabiMusa dan tang lainya telah menjadikantawakkal sebagai benteng kekuatan bertaqwa dalam menghadapi kaumnya. Inisemua menunjukkan, bahwa antara imandan taqwa saling berpengaruh dalammembentuk membentuk manusia berkepribadian luhur.Iman menurut pemikiran ImamGhozali diatas mengandung implikasi yangsangat luas. Diantaranya sekaligus sebagaigaris pemisah terhadap pandangan orangyang mengingkari wujud dibalik materi,menolak dengan tegas faham polotisme,atheisme, animisme, dan lainnya.Penafsiran sebab tauhid sebagaimana yangtelah diterangkan oleh Imam Ghozali tidak dapat disamakan dengan penafsiran sebabyang dengan dikemukakan olehAristoteles, sebab Aristoteles tida bermaksud dengan konsepnya itumenafikan sebab material. Gerak alam inidipandang olehnya sebagai gerak tujuan(illah ghoyah) yaitu Tuhan adalah tujuanyang menjadi arah gerak alam, sedangkanImam Ghozali menafsirkan Allah penggerak satu-satunya. Dialah penciptasegala sesuatu, pencipta absolutsebagaimana ditegaskan oleh wahyu-Nya.Pada umumnya pada filosof yangtidak mengenal ide-ide agama, maka dalamfilsafat ketuhanan perlu berpendirian, bahwa permulaan alam hanya sebagai pengatur dan penyusun materia in prima(materi pertama) sebagai Tuhan sendiri.Pengertian pengatur dan penyusun lebihmenunjukkan keterampilan daripada pencipta. Pendirian mereka menjadikanwujud keseluruhannya tersusun dari sebabakibat. Tuhan dan materi tunduk di bawahhukum kemestian (nesessity).Jadi kenyataan isi dari iman antarafilosof murni dengan filosof yangmengakui ide-ide agama, khususnya Islam jauh berbeda, sehingga konsekuensinyadalam pembentukan kepribadian luhur dan pola pikir dalam mengarungi kehidupanditengah-tengah masyarakat akan terjadi perbedaan juga. Disini tampak dengan jelas, bahwa sila pertama dari Pancasilasebagai asas tunggal bermasyarakat dan bernegara tidak sama dengan kepercayaan para filosof yang tidak mengenal agamadalam mempercayai keberadaan Tuhan.Tuhan dalam Pancasila adalah Tuhan YangMaha Esa, Pencipta alam semesta,Penagsih, Penyayang, dan sebagainyaseperti dijelaskan oleh ajaran agama

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->