Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Nagasasra Sabuk Inten (Full Episode)

Nagasasra Sabuk Inten (Full Episode)

Ratings:

4.56

(18)
|Views: 5,139 |Likes:
Published by yahyapandega
Nagasasra Sabuk Inten (Full Episode)
Nagasasra Sabuk Inten (Full Episode)

More info:

Published by: yahyapandega on Dec 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

 
 
Re-Written by : Dani Yulianto
 
Jakarta, 27 September 2006NAGASASRA SABUK INTEN
 
Oleh SH Mintarja
001
AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan olehbanjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu,dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.
 
Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.
 
Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki AgengPengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan olehNyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.
 
Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yangmemindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.
 
Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yangbernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampunghalaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.
 
Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapikarena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, iaterpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.
 
Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenaipelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
 
Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang.Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapunyang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhanhatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut.
 
Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudianmenjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahtakerajaan.
 
Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, makaseringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru merekamasing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalahcucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orangpercaya bahwa ia mampu menangkap petir.
 
Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampumembelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.
 
 
Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakakseperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudianmembelok ke arah matahari terbenam.
 
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekaskerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan namaPegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yangsering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seoranggadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadisitu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadiscantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.
 
Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinyasetelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yangkemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.
 
Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar.Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat initidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.
 
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia ituhati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarikuntuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh daritempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempatpemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.
 
Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia.Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidaktampak adanya tanda-tanda penganiayaan.
 
Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini.Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu.
 
Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenarmenjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidakmemperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktutanah-tanah itu tidak lagi digarap.
 
Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenarmelanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehinggasampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.
 
Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utaratampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumikarya yang telah menghasilkan candi-candi itu.
 
Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satumalam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akandapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa.Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.