Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Latar Belakang Masalah

Latar Belakang Masalah

Ratings: (0)|Views: 177 |Likes:
Published by Iendy Eldieny

More info:

Published by: Iendy Eldieny on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2012

pdf

text

original

 
Latar Belakang Masalah
Perjuangan serikat buruh dalam menolak outsourching sudah dimulai jauh sebelum pengesahan Undang- Undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan atau yang disebutUUK. Selama pertengahan tahun 2000 hingga akhir tahun 2002 ketika UUK(Undang-UndangKetenagakerjaan) tersebut masih dalam bentuk draft naskah pembahasan DPR, berbagai serikat buruh bergabung dengan kelompok-kelompok pemerhati perburuhan mnyatakan penolakanya.Aksi- aksi tersebut dilakukan dalam berbagai cara, mulai dengan menggalang aksi bersamasampai dengan melakukan lobi politik ke lembaga pemerintah DPR RI. Penolakan utamanyaditujukan pada isu-isu yan berkaitan dengan longgarnya aturan PHK, pengetatan hak mogok,dan aturan legilasi sistem kerja kontrak outsourching.Penolakan serikat buruh mencapai puncaknya pada aksi demonstrasi nasional pada 23september 2002 yang menolak pengesahan UUK( kompas, 24 september 2002). Serikat buruh berhasil bersatu melakuka koordinasi diberbgaai daerah secara nasiona serentak menolak draftUUK( bernas, 25 september 2002; kompas 26 september 2002). Sayangnya, pemerintahmenabaikan aksi-asksi penolakan tersebut dan berkeras untuk mensahkan UUK pada bulanMaret 2003.Walau UU sudah disahkan, banyak serikat buruh tetap menyatakan penolakanterhadap aturan yang berkaitan dengan sistem kerja outsourching. Melalui pengajuan gugatanhak uji materiil(
 judicial review
) ke mahkamah konstitui RI, 33 federasi serikat buruh nasionalmendalilkan pemberlakuan sistem kerja outsourcing sebagai legislasi negara terhdap praktek ‘perbudakan modern’. Para pemohon dalam judicial review ini menyodorkan pasal 64-66Undang –Undang Ketenagakerjaan sebagai bentuk pelanggran atas hak konstitusional buruhsebagai warga negara Indonesia atas kepastian kerja yang dijamin dalam UUD 1945. Sayangsekali putusan Mahkamah Konstitusi RI No.012/PPU-I/2003, tanggal 28 oktober 2004,menolak dalil tersebut diatas dan menyatakan pemberlakuan siste kerja outsourcing tidaklahmelanggar hak konstitusi warga negara. Empat tahun pasca pengesahan UUK, hampir semua perushaan beroperasi diIndonesia saat ini memperkerjakan bahkan lebih memilih untuk buruhkontrak dan buruh outsourcing.
 
Pemberlakuan sistem kerja outsourcing dalam UUK yang disahkan tahun 2003,meneruskan kebijakan yang sudah ada, dengan mengeliminir beberapa batasan-batasan yang pernah dibuat. Pasal 65 UUK mengadopsi aturn Keputusan Mentri Perdagangan RI No. 135/KP/VI/1993 tentang pemasukan dan pengeluaran barang ke dan kawasan berikat. Pasal 65UUK mengatur penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepda perusahaan lain wajibdibuat dalam perjanjian tertulis dan dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. Bedanyaadalah pasal 26 UUK tidak memuat detail batasan-batasan sebagaimana yang disebutkan dalamkeputusan mentri perdagangan RI yang berupa: a). Perusahaan pemberi kerja tidak mestimengalami kesulitan pengerjaan dalam mencapai target produksi b). Terbetasa pada industrisektor tertentu c.) batasan waktu pengerjaan d.)hanya boleh dilakukan oleh perusahaan yang beroprasi didalam kawasan berikat terbatas dan e). Produknya tidak dipasarkan didalam negridan ditujukan untuk pasar ekspor. Dengan demikian, pasal 65 UUK ini memang jauh lebihlonggar dan melepas semua batasan-batasan yang pernah dimuat dalam keputusan mentri perdagangan RI tahun 1993 itu.Undang-Undang Ketenagakerjaan ini mewajibkan dibentuknya perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. Ini berarti, pembuat UUK mengamini dialihkanya tanggung jawab atas bruhoutsourcing menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia tenaga kerja, dan bukan pada perusahaan pemberi kerja tempat dimana si buruh bekerja sehari-hari. Bedanya dengankeputusan mentri perdagangan tahun 1993 adalah, pasal 66 UUK memperluas kewenangandari hanya sebagai perusahaan pelaksana pekerjaan menjadi perushaan penyedia jasa/buruh.Dengan demikian dapat disimpulkan terjadi perluasan pemaknaan dari sistem kerja outsourcingyang berlaku di Indonesia saat ini bukan hanya pelaksanaan pekerjaan saja yang dapatdialihkan pada perushaan lain, tetapi juga dimungkinkan terjadinya pengalihan tenaga kerja.Apa yang sebelunya hanya berlaku terbatas bagi perusahaan garment didalamlingkungan kawasan berikat saja, kini oleh UUK diperluas menjadi praktek umum yang dapat berlaku bagi perusahaan jenis apapun, diseluruh wilayah Indonesia-tidak harus terbatas dalamlingkungan kawasan barikat. Juga, apa yang sebelumnya dimengerti hanya sebagai bagianupaya sesaat untuk manajemen untuk menyiasati kesulitan produksi, kini menjadi sebuahsistem kerja yang sah dan legal berlaku di Indonesia.
 
Mungkin jua perlu dicatat bahwa, akibat lemahnya mekanisme pengawasan oleh pemerintah, sesungguhnya praktek outsourcing sudah berlangsung jauh sebelum terbitnyaUUK di tahun 2003. Seperti contoh Okamoto(2006) mencatat bahwa sudah sejak 1999, perusahaan jasa keamanan milik pemodal asing dari jepang, bekerjasam dengan Yasmar, telahmenjalankan praktek bisnis outsourcing jasa keamanan(satpam profesional) didaerah jakarta.Juga banyak perusahaan metal model jepang telah mempratekan outsourcing dalam banyak  bagian usahanya. Itu sebabnya, dapatlah disimpulkan, UUK sebenanya bukan hanyamemperluas permberlakuan outsourcing, tetapi juga melegalisasikan praktek penyimpanganhukum tentang sistem kerja outsourcing yang berlangsung.
Tabel Perbandingan Aturan Soal OutsourcingKeputusan Mentri Dalam NegriNo. 135/KP/VI/1993Undang – Undang KetenagakerjaanNo 13/2003
Hanya dapat dilakukan apabila perusahaan pengelolahan tidak mengerjakan sebagian proses pengolahan sesuai pesanan/ order yang diterima: atau kapasitas produkasi perusahaan pengolahan tidak dapatmemenuhi volume dan jadwal penyelesaian pekerjaanTidak ada persyaratan pelaksanaanHanya untuk perusaan garmenTidak ada batasan, berlaku untuk semuaindistriHanya untuk perusahaan pemotong(cutting), penjahit(sewing), dan pemasanganlabel(labeling)Dilakukan secara terpisah dari kegiatanutama dan. Tidak boleh untuk keiatan pokok atau kegitan yang berhubungan langsungdengan proses produkasi*(Tidak ada penjelasan apa yang dimaksud kegiatanutama)Hanya untuk perusahaan di dala kawasan berikatTidak ada batasanJangka waktu pengerjaan 60 hariTidak ada batasanBarang hasil produkasi adalah untuk tujuanekspor Tidak ada batasanKonsep yang diperkenalkan adalah“pengerjaan sebagian proses pengolahan ataumemborongkan pelaksanaan pekerjaankepada pemborongApa yang diatur meiputi “penyerahansebagaian pelaksanaan pekerjaan kepda perusahaan lain dan juga penyediaan jasa perkerja/buruh

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->