Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aspek Keamanan Pangan

Aspek Keamanan Pangan

Ratings: (0)|Views: 335 |Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Mar 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2013

pdf

text

original

 
 Beberapa aspek keamanan pangan asal ternak ...
225
 
 Pengembangan Inovasi Pertanian 1(3), 2008: 225-242
PENDAHULUAN
Produk ternak merupakan sumber giziutama untuk pertumbuhan dan kehidupanmanusia. Namun, produk ternak akanmenjadi tidak berguna dan membahayakankesehatan apabila tidak aman. Oleh karenaitu, keamanan pangan asal ternak bagimanusia merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Ke- panikan masyarakat akibat kasus penyakitsapi gila (
mad cow
) di Inggris dan bebe-rapa negara Eropa lainnya pada akhir tahun1990-an, cemaran dioksin pada produk ternak di Belgia dan Belanda pada tahun1999, dan kasus penyakit antraks padadomba dan kambing di Bogor pada tahun2001, menggambarkan betapa pentingnyamasalah keamanan pangan asal ternak karena tidak hanya berdampak terhadapkesehatan manusia, tetapi juga pada perdagangan domestik dan global serta perekonomian negara yang terlibat dalam perdagangan tersebut (Darminto dan Bahri1996; Putro 1999; Sitepu 2000; Noor 
et al 
.2001).Pada akhir tahun 1960-an, perhatianmasyarakat dunia terhadap berbagai residusenyawa asing (
 xenobiotics
) pada bahan pangan asal ternak masih sangat sedikit.Pada saat itu perhatian masyarakat masihterpusat pada masalah residu pestisida pada buah dan sayuran. Baru setelah ter-ungkapnya senyawa pestisida DDT,dieldrin, tetrasiklin, hormon, dan obat-obatan lain pada produk ternak, upayauntuk mengawasi pangan asal ternak mulaimendapat perhatian khusus (Bahri 1994).Di Indonesia, data keberadaan ber- bagai residu obat hewan, terutama golong-an antibiotik, sulfa, pestisida, mikotoksin,dan hormon pada susu, daging, dan telur telah banyak dilaporkan (Sudarwanto1990; Bahri
et al 
. 1992a, 1992b, 1994a;Sudarwanto
et al 
. 1992; Maryam
et al 
. 1995;Darsono 1996; Biyatmoko 1997; Dewi
et al 
. 1997; Widiastuti 2000). Demikian pulacemaran kuman
Salmonella
 pada berbagaikomoditas ternak di Indonesia (Sri-Poernomo dan Bahri 1998).Untuk mendapatkan produk ternak yang aman perlu melalui proses yang panjang, dimulai dari
 farm
(proses pra- produksi) sampai dengan pascaproduksi.Dalam hal ini, faktor-faktor penting yang berkaitan dengan keamanan pangan asalternak terdapat pada setiap mata rantai proses tersebut. Pada makalah ini akandiulas berbagai aspek keamanan panganasal ternak di Indonesia.
BEBERAPA ASPEK KEAMANAN PANGAN ASALTERNAK DI INDONESIA
1)
Sjamsul Bahri
 Balai Besar Penelitian Veteriner  Jalan R.E. Martadinata No. 30, Kotak Pos 151, Bogor 16114
1)Naskah disarikan dari bahan Orasi Ahli Pe-neliti Utama yang disampaikan pada tanggal2 Oktober 2003 di Bogor.
 
226
Sjamsul Bahri
TUNTUTAN KEAMANAN PANGANASAL TERNAK DI ERAGLOBALISASI
Perundingan putaran Uruguai mengenaiGATT yang diikuti oleh 125 negara padatahun 1994 memiliki dampak yang sangatluas, antara lain mencakup kesepakatanmengenai aplikasi tindakan
 sanitary and  phytosanitary
(SPS). Kesepakatan inimengatur tindakan perlindungan terhadapkeamanan pangan dalam bidang kesehatanhewan dan tumbuhan yang perlu dijalan-kan oleh negara-negara anggota WTO.Tujuannya adalah untuk melindungi ma-nusia dari risiko yang ditimbulkan oleh ba-han makanan tambahan (aditif) dalam pangan, cemaran (kontaminan), racun(toksin) atau organisme penyebab pe-nyakit dalam makanan atau dari penyakitzoonosis. Oleh karena itu, dalam perjanjiantersebut ditegaskan bahwa setiap negaraharus melakukan upaya untuk menjaminkeamanan pangan bagi konsumen danmencegah penyebaran hama dan penyakit pada hewan dan tumbuhan.Dengan diberlakukannya persetujuanGATT dan berdirinya WTO serta ter- bentuknya perdagangan bebas ASEAN(AFTA) pada 2003 dan juga APEC (AsiaPacific) pada 2020 serta ASEM (Asia danEropa), maka persaingan untuk memasar-kan produk dari dan ke dalam negerimaupun luar negeri akan makin ketat. Olehkarena itu, pangan termasuk yang berasaldari ternak, selain merupakan kebutuhandasar kehidupan manusia juga sebagaikomoditas dagang yang dituntut keaman-annya agar mempunyai daya saing yangtinggi, yang pada gilirannya dapat mem- berikan sumbangan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.Pangan asal ternak mempunyai keter-kaitan yang erat dengan upaya peningkat-an kualitas sumber daya manusia, yaitudaya intelektualnya melalui perbaikan gizi.Apabila pangan asal ternak tidak memenu-hi persyaratan mutu dan keamanan maka pangan tersebut tidak hanya menyebabkangangguan kesehatan atau kematian, tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan fisik daninteligensia masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan peternakan tidak hanyadituntut untuk meningkatkan kuantitas pangan, tetapi juga menyediakan bahan pangan asal ternak yang berkualitas danaman bagi konsumen. Keadaan ini semakinmendesak dengan diberlakukannya Un-dang-undang No. 8 tahun 1998 tentangPerlindungan Konsumen.
BAHAYA DAN DAMPAK NEGATIFPANGAN ASAL TERNAK YANGTERCEMAR
Bahaya atau
hazard 
yang berkaitan de-ngan keamanan pangan asal ternak dapatterjadi pada setiap mata rantai, mulai dari praproduksi di produsen, pascaproduksisampai produk tersebut didistribusikandan disajikan kepada konsumen. Bahayatersebut meliputi: (1) penyakit ternak; (2) penyakit yang ditularkan melalui panganatau yang disebut
 food borne diseases
;serta (3) cemaran atau kontaminan bahankimia dan bahan toksik lainnya.Kelompok pertama berupa penyakitternak menular dan biasanya terjadi pada proses praproduksi, yaitu penyakit yangmenyerang ternak pada proses pemeliha-raan. Penyakit ini selain mempengaruhikesehatan ternak juga menentukan mutudan keamanan produknya. Beberapa pe-nyakit ternak utama yang perlu mendapat perhatian adalah antraks, BSE, virus nipah(
 Encephalitis
), tuberkulosis, radang paha,dan
cysticercosis
 pada sapi.
 
 Beberapa aspek keamanan pangan asal ternak ...
227Kelompok kedua adalah penyakit bakterial yang ditularkan melalui pangan.Kejadian penyakit ini dapat timbul melaluiinfeksi bakteri atau intoksikasi dari toksinyang dihasilkan bakteri tersebut. Beberapa penyakit bakterial yang dapat ditularkanmelalui pangan adalah salmonellosis,enteritis
Clostridium perfringens
, intok-sikasi
Staphylococcus
,
campylobacterio- sis
, dan
hemorrhagic colitis
.Kelompok ketiga adalah cemaran(kontaminan) bahan kimia dan bahan toksik lainnya. Dalam hal ini, daging, susu, dantelur dapat tercemar obat-obatan, senyawakimia, dan toksin baik pada waktu proses praproduksi maupun produksi. Residuobat seperti antibiotik dapat dijumpai padadaging bila pemakaian obat-obatan hewantidak sesuai dengan petunjuk yang dibe-rikan, misalnya waktu henti obat tidak dipatuhi menjelang hewan akan dipotong.Senyawa kimia dan toksin seperti pestisida,logam berat, dan mikotoksin/aflatoksindapat mengkontaminasi pakan ternak dan pada gilirannya akan tertimbun dalam jaringan tubuh ternak.Dampak negatif terbesar dari cemaran pangan asal ternak adalah hambatan atau penolakan terhadap berbagai produk ternak oleh negara pengimpor. Hal sepertiini telah terjadi pada kasus penyakit sapigila, di mana Pemerintah Inggris mengalamikerugian jutaan pound sterling karenaratusan ribu ekor sapi harus dimusnahkanuntuk memberantas penyakit tersebut,selain kehilangan pasar luar negerinya.Kerugian seperti ini, dalam skala yang lebihringan, juga terjadi pada wabah penyakitPMK di beberapa negara di Eropa, ter-masuk Inggris, pada awal tahun 2001 serta beberapa negara Amerika Latin (Argentinadan Brasil) dan Asia (Cina, Korea Selatan,Taiwan, dan Malaysia).Kasus cemaran dioksin pada daging,telur, dan susu serta produk olahannya asalBelgia dan beberapa negara Eropa lainnya(seperti Belanda) menyebabkan Belgiamenderita kerugian yang cukup besar karena harus menarik produk yang ter-cemar serta mengganti kerugian yangdiakibatkannya. Selain itu, Belgia jugadilarang mengekspor produk peternakan-nya dalam waktu yang cukup lama (Putro1999).Pada awal tahun 1999, Malaysia meng-alami kerugian jutaan dolar Amerika akibatwabah penyakit virus nipah yang me-nyerang ternak babi dan manusia. Sekitar satu juta ekor babi harus dimusnahkanuntuk memberantas penyakit tersebut.Kerugian lain yang lebih besar adalah penutupan ekspor babi ke Singapura, dimana sebelumnya Malaysia merupakan pemasok utama (80%) kebutuhan daging babi Singapura. Kerugian lainnya berupa permasalahan sosial ekonomi sebagai efek 
multiplier 
dari wabah tersebut.Kasus penyakit antraks pada kambing/domba dan manusia di Kabupaten Bogor  pada awal tahun 2001 telah menyebabkanterganggunya pasar lokal kambing/dombadi wilayah Jabodetabek. Kelesuan pasar terutama terjadi menjelang Hari Raya Kur- ban sehingga sempat meresahkan sejum-lah pedagang kambing/domba dan sapi diwilayah tersebut.Selain dampak terhadap perdagangan,dampak terhadap kesehatan manusiamerupakan dampak negatif yang sangat penting dari pangan yang tercemar. Kasus penyakit sapi gila di Inggris dan beberapanegara Eropa telah menimbulkan kematian pada sejumlah orang. Dikhawatirkan haltersebut akan terus berlangsung karenamasa inkubasi penyakit baru akan terlihatsetelah lebih dari 5 tahun. Masalah ini telah

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Freddy Kea liked this
Putroe2 liked this
Aprimond Syuhar liked this
Nuri Fransiska liked this
Desi Khairani liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->