Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filsafat Pembebasan

Filsafat Pembebasan

Ratings: (0)|Views: 33 |Likes:
Published by emka27
Salah satu "Karya" terbaik dari balik "Penjara"
Salah satu "Karya" terbaik dari balik "Penjara"

More info:

Published by: emka27 on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2012

pdf

text

original

 
Filsafat Pembebasan
 
Judul Aseli : Al Inqilabiy, al falsafat an Nahdhoh wa al Inqilabiyyah
 
BAB I
 
AINUL YAQIN
 
“Cukuplah dikatakan pendusta, jika engkau mengatakan apa yang kau dengar” (HR Muslim
Imam Muslim dalam Muqaddimah Shohihnya, lihat Al Minhaj 1/27)
 
Dahulu, kami senantiasa berkutat dengan ide-ide, konsep, data untuk melakukansebuah gerakan massa. Dahulu, hal itulah yang bisa dibilang tujuan dari setiap gerakan dananalisa yang kami lakukan. Gerakan Massa! Demonstrasi! Bahkan kudeta !! Kami berbanggabila telah berhasil menghimpun data-data dan berhasil menembus batas-batas informasiuntuk mendapatkan data tersebut. Kami merasa hebat ketika mengadakan aksi, agitasi dandiskusi bila telah dilengkapi dengan sebuah-sebuah data. Kami mereka pe-de bila data-datatersebut telah mampu kami beberkan dihadapan seorang penguasa.
 
Ada beberapa hal yang menarik bila gerakan hanya disandarkan kepada data-datakedzaliman penguasa. Ini kami rasakan ketika stag dalam setiap pergerakan massa. Apakahada yang salah dengan data-data yang kami peroleh. Kami masih belum puas dengan data-data yang telah kami peroleh. Dan tak mencari penyebab sebenarnya terhadap kemandekanlaju pergerakan. Solusi yang kami sodorkan sekedar menambah data dan melengkapinya.Dan hasilnya dapat anda bayangkan. Pergolakan tetap berhenti!
 
Sempat kami merasa jenuh terhadap iklim kemandegan dan deradikalisasi penguasa.Entah lewat jalan mana lagi operasi agitasi dan propaganda akan kami gelorakan kembali.Memprovokasi emosi massa tanpa disertai data-data yang matang dan akurat tak akanmembangkitkan dan menyadarkan masyarakat. Justru masyarakat sekedar akan berpikirpragmatis terhadap perubahan yang dikehendaki. Perubahan hanya akan berlangsungsecara parsial tanpa menyentuh akar pemasalahan. Dan perubahan tidak akanmendapatkan hasil yang maksimal. Perubahan hanya akan berputar seiring periode waktuyang berputar diantar roda
 –
roda kehidupan.
 
Bagaikan sebuah fatamorgana. Data-data tersebut hanya akan terasa indah biladipandang. Namun akan
sirna, hilang tak bersisa ketika kita hampiri dan coba kita ‘sentuh’.
Alangkah sayangnya bila perubahan tersebut yang sekedar didasarkan kepada data-data,menjadi tidak menarik, tidak membekas, dan tidak menggerakan rakyat untuk melakukanperubahan. Data-data akan menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya
 –
dan menjadigegap gempita di awal pergolakan-, namun tak berbekas sama sekali. Pun pada akhirnya kitaterlambat untuk menyadari.
 
Bagai seorang penguasa yang senantiasa berbangga ketika telah mampu menekanangka inflasi dengan data-data statistika. Namun, menjadi pepesan kosong tak berarti ketikadaya beli masyarakat semakin lemah, kriminalitas semakin tinggi, angka hiv/aids semakinbesar, dan kerusakan semakin meraja lela. Itulah yang sebenarnya selama ini terjadi. Rakyatdijejali dengan data, statistika, rasio, dan angka-angka yang begitu menyilaukan. Sementara
 
emosi rakyat dan penguasa telah terpisah jauh baikan jurang yang dalam, ketika penguasagagal membuka lapangan pekerjaan, mengendalikan harga kebutuhan pokok,mengendalikan naiknya harga BBM, dan melindungi TKI di luar negeri terhadap hukumanpancung.
 
Jurang pemisah antara rakyat dan penguasa telah terpisah jauh, ketika penguasamenjadikan pasukan penjaga dan dinding istana sebagai pembatas di antara mereka. Hati
rakyat tak lagi dalam benak penguasa. Demikian pula ‘kasih sayang’ penguasa tak lagi
menjadi pelindung rakyat. Hari demi hari kehidupan rakyat hanya disisi dengan tontonanpenggusuran, penangkapan, pembunuhan, pengusiran, intimidasi, dan korporatokrasi.
 
Sadar tidak sadar. Penguasa telah mendahului kita dalam memanfaatkan teknik ini(yaitu membanjiri masyarakat terhadap data-data dan angka-angka). Mereka memperkuatopini dengan data-data dan statistika untuk meyakinkan masyarakat. Meski secara tidaklangsung justru menunjukkan lemahnya ikatan dan emosional dengan rakyat. Secara tidaklangsung pula bagai menyimpan bom waktu, yang siap meledak dan terbongkar sewaktuwaktu. Bila rakyat tersadarkan bahwa data-data dan hanya akan menjadi warna danaksesoris dalam gambar kehidupan sehari-hari. Tanpa mampu menampilkan wajahsebenarnya.
 
Jadi, apakah sebenanrya yang menjadi landasan pergolakan yang mampu ditunjangoleh data-data dan angka. Seringkali kita melupakah langkah kita berpikir, mengkaji(menganalisa), dan mencari solusi dari setiap permasalahan kita. Paling tidak kitamembutuhkan kerangka berpikir, cara berpikir, dan gaya berpikir. Karena dengan hal itulahsemua pergolakan, dan bahkan amal perbuatan manusia muncul. Dengan cara berpikiritulah arah, tujuan, sasaran, dan solusi akan didapatkan. Dan dengan gaya berpikir itulahmanusia mampu memilih bagaimana tujuan dan cara-cara ditetapkan . Itulah kehidupan.Bagi kami, itulah pergolakan!
 
Faktor kedua adalah latar belakang ideology, pemahaman, filsafat hidup, terhadapsebuah masalah. Sebuah data dan angka akan dinilai berbeda bila sudut pandang ideologyberbeda. Data dan angka akan menjadi sangat tidak berarti bila ditampilkan tidak disertaidengan latar belakang ideology. Data dan angka hanya akan menjadi kalimat berita dansekedar informasi bila pemapar dan penilai tidak memiliki corak ideology tertentu. Namunketika data dan angka disertai kerangka berpikir, cara berpikir, gaya berpikir, dan corakideology tertentu. Maka data dan angka dapat menjadi bahan bakar bagi pergolakan.
 
Saya seringkali berpikir. Data dan angka yang bagaimanakah yang berpotensimenjadi bahan bakar pergolakan? Saya ceritakan singkatnya hari-hari terakhir menjelangkerusuhan Solo tahun 1998. Hampir 3 bulan penuh secara aktif gerakan mahasiswa dipenuhiagitasi aktif. Hari-hari dipenuhi dengan diskusi, debat, adu konsep, propaganda,
pengumpulan masa, dan demonstrasi. Tercatat dalam benak saya, hamper tiap jum’at di
awal awal pergolakan dilakukan dengan aksi demonstrasi. Dan semakin intensif pada hari-
hari terakhir menjelang reformasi. Jum’at terakhir
sebelum kerusuhan meletus, gerakanmahasiswa di Solo mengadakan demonstrasi yang berujung kepada bentrokan berdarah.Massa mahasiswa mundur dari boulevard UNS dan terus dikejar oleh aparat (ABRI pada
 
waktu itu). Dan mengakibatkan kecaman luas kepada aparat yang telah melanggar garisdemarkasi apolitik kampus. Banyak mahasiswa yang tertangkap dan diangkut oleh aparat.Dan menjadi cerita terakhir bentrok berdarah menjelang reformasi. Hari selasa (kerusuhandimulai hari kamis), mahasiswa masih melakukan aksi jalanan. Meski tak sebesar aksi hari
Jum’at. Ada banyak factor, diantaranya banyak mahasiswa yang masih terluka akibatbentrokan terakhir di hari jum’at. Dan merupakan hari yang tidak ‘dipilih’ untuk melakukan
demonstrasi besar.
 
Uniknya, pada hari kamis. Ketika kawan-kawan mahasiswa UMS tiba-tibamengadakan demonstrasi pada hari itu, justru menjadi pemicu kerusuhan. Hampir tidak adaisu baru dari demontasi sebelum-sebelumnya. Dan sikap aparat cenderung terlalu represif ketika menangani demonstrasi tersebut. Kecenderungan saya adalah ketika gerakantersebut berubah menjadi pergolakan massa dengan satu tujuan. Melupakan esensi danakar masalah sebenarnya terhadap pergerakan yang terjadi. Fokus pergolakan hanyaterbatas kepada perubahan rezim.
 
Kepentingan besar bermain di perubahan rezim negeri ini. Tentu agar mereka bisamemastikan kepentingan mereka tidak terganggu oleh kondisi politik. Atau ketikakepentingan mereka terganggu oleh kebijakan rezim yang menjadi sasaran pergolakan. Sayapribadi memandang reformasi 98 tidak lebi dari sekedar liberalisasi dan kapitalisasi di segalabidang. Paling tidak karena data dan angka tidak didukung oleh kerangka berpikir dan corakideology. Kecuali warna kapitalis dan liberalis dalam kehidupan politik dan bernegara yanglebih dominan pada waktu itu.
 
Kembali ke tema! Oleh karenanya data dan angka sejatinya bukan apa-apa. Bukanpula penentu dari pergolakan politik. Apabila di awal pergolakan kita tidak menata danmembangun kerangka berpikir dan corak berpikir tertentu. Data dan angka hanya akanmenjadi kalimat berita tanpa dapat dimaknai lebih oleh pelaku pergolakan. Data dan angkahanya akan menjadi isu dan pepesan kosong tanpa perlu dikonfirmasikan dalam aplikasikehidupan kita. Gampangnya, data dan isu tidak akan berpengaruh kepada rakyatkebanyakan. Karena hanya merupakan cerita dari pejabat dan pemerintah semata. Data dan
angka hanya akan berubah ‘confirmed applicated’ bila ada factor
-faktor pendukungnya yangberupa kerangka berpikir dan corak ideology tertentu.
 
Studi sosiohistoris dapat dengan mudah menjadi jalan untuk memahami bahwa datadan angka telah pernah terbukti di masa silam. Data-data dan angka yang pernahditerapkan, pernah dirasakan secara luas oleh masyarakat. Dan itu jauh lebih baik bila datadan angka hanya menjadi keyakinan dan harapan semata. Itulah yang selama ini dibangun,bahwa data dan angka hanya semacam menjadi keyakinan dan harapan tanpa bisaditerapkan di masa sekarang ataupun yang akan datang. Waktu telah berganti, zaman telahberubah. Dan oleh karenanya prinsip-prinsip kehidupan yang didapat dari data di masaberbeda, belum tentu dapat diterapkan dimasa kini.
 
Proses inilah proses perubahan data dan angka dari Ilmu yakin menjadi Ainul Yakin.Sebuah data dan angka yang pada mulanya tak bermakna, akan berubah menjadi ilmu alyaqin ketika dibangun dengan kerangka berpikir yang matang dan dalam corak ideology

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->