emosi rakyat dan penguasa telah terpisah jauh baikan jurang yang dalam, ketika penguasagagal membuka lapangan pekerjaan, mengendalikan harga kebutuhan pokok,mengendalikan naiknya harga BBM, dan melindungi TKI di luar negeri terhadap hukumanpancung.
Jurang pemisah antara rakyat dan penguasa telah terpisah jauh, ketika penguasamenjadikan pasukan penjaga dan dinding istana sebagai pembatas di antara mereka. Hati
rakyat tak lagi dalam benak penguasa. Demikian pula ‘kasih sayang’ penguasa tak lagi
menjadi pelindung rakyat. Hari demi hari kehidupan rakyat hanya disisi dengan tontonanpenggusuran, penangkapan, pembunuhan, pengusiran, intimidasi, dan korporatokrasi.
Sadar tidak sadar. Penguasa telah mendahului kita dalam memanfaatkan teknik ini(yaitu membanjiri masyarakat terhadap data-data dan angka-angka). Mereka memperkuatopini dengan data-data dan statistika untuk meyakinkan masyarakat. Meski secara tidaklangsung justru menunjukkan lemahnya ikatan dan emosional dengan rakyat. Secara tidaklangsung pula bagai menyimpan bom waktu, yang siap meledak dan terbongkar sewaktuwaktu. Bila rakyat tersadarkan bahwa data-data dan hanya akan menjadi warna danaksesoris dalam gambar kehidupan sehari-hari. Tanpa mampu menampilkan wajahsebenarnya.
Jadi, apakah sebenanrya yang menjadi landasan pergolakan yang mampu ditunjangoleh data-data dan angka. Seringkali kita melupakah langkah kita berpikir, mengkaji(menganalisa), dan mencari solusi dari setiap permasalahan kita. Paling tidak kitamembutuhkan kerangka berpikir, cara berpikir, dan gaya berpikir. Karena dengan hal itulahsemua pergolakan, dan bahkan amal perbuatan manusia muncul. Dengan cara berpikiritulah arah, tujuan, sasaran, dan solusi akan didapatkan. Dan dengan gaya berpikir itulahmanusia mampu memilih bagaimana tujuan dan cara-cara ditetapkan . Itulah kehidupan.Bagi kami, itulah pergolakan!
Faktor kedua adalah latar belakang ideology, pemahaman, filsafat hidup, terhadapsebuah masalah. Sebuah data dan angka akan dinilai berbeda bila sudut pandang ideologyberbeda. Data dan angka akan menjadi sangat tidak berarti bila ditampilkan tidak disertaidengan latar belakang ideology. Data dan angka hanya akan menjadi kalimat berita dansekedar informasi bila pemapar dan penilai tidak memiliki corak ideology tertentu. Namunketika data dan angka disertai kerangka berpikir, cara berpikir, gaya berpikir, dan corakideology tertentu. Maka data dan angka dapat menjadi bahan bakar bagi pergolakan.
Saya seringkali berpikir. Data dan angka yang bagaimanakah yang berpotensimenjadi bahan bakar pergolakan? Saya ceritakan singkatnya hari-hari terakhir menjelangkerusuhan Solo tahun 1998. Hampir 3 bulan penuh secara aktif gerakan mahasiswa dipenuhiagitasi aktif. Hari-hari dipenuhi dengan diskusi, debat, adu konsep, propaganda,
pengumpulan masa, dan demonstrasi. Tercatat dalam benak saya, hamper tiap jum’at di
awal awal pergolakan dilakukan dengan aksi demonstrasi. Dan semakin intensif pada hari-
hari terakhir menjelang reformasi. Jum’at terakhir
sebelum kerusuhan meletus, gerakanmahasiswa di Solo mengadakan demonstrasi yang berujung kepada bentrokan berdarah.Massa mahasiswa mundur dari boulevard UNS dan terus dikejar oleh aparat (ABRI pada