tahap dua diharapkan menghasilkan buku pedoman permainan tradisional yang dapatmeningkatkan kompetensi sosial anak.Hanya saja, serangkaian penyempurnaan penelitian dihadapi ketiganya pada 6-8 November. Mereka akan mempresentasikan dalam seminar internasional yang diadakanLemlit (Lembaga Penelitian) UMM. “Kami tidak tahu, di seminar internasional nantisiapa saja yang hadir. Presentasi di seminar nasional sudah kami lakukan beberapa waktulalu. Kami mendapatkan banyak masukan,” ucap Ketua Tim Iswinarti. Harapannya, diseminar internasional nanti karyanya mendapat masukan sehingga lebihmenyempurnakan sebelum dijadikan dalam bentuk buku pedoman.Penelitian tahun pertama telah menghasilkan Buku Panduan Permainan Tradisional untuk Anak Usia Sekolah Dasar beserta analisis manfaat psikologisnya. Buku tersebut denganmengindentifikasi 18 permainan tradisional beserta nama dan variasinya. Berdasarkanhasil eksplorasi, setiap permainan tradisional mempunyai nama lebih dari satu. Misalnya,krupukan. Sebut saja di Jawa dan Bengkulu dikenal permainan ular naga, sleboran(Gresik), dor salindor (Madura), wak-wak gong (Jakarta), oray-oray (Bandung), jamuran(Sunda), tam-tam (Sumatera Selatan), lemon nipis (Irian Jaya), dan teng bukuk (SumateraSelatan). “Jadi permainan tradisional ini di setiap daerah ada, hanya namanya saja berbeda,” ungkap ibu tiga anak ini. Nama permainan tradisional lain yang berhasil diidentifikasi adalah cician, congklak lidi,cublak-cublak suweng, dam-daman, dingklik oglak-aglik, goak-goakan, isutan jarat,keng-keng, ketek karet, landar-lundur, lelade, maen kemereh, mpa’a isi mangge, penteng,tepuk nyamuk, Tokyo. Sementara variasi nama dan prosedur paling banyak ada pada permainan pada engklek. “Sebenarnya ada 34 jenis permainan. Namun, saat ini hanya 18yang berhasil diidentifikasi,” ujar Iswinarti.Iswinarti menjelaskan, permainan tradisional erat kaitannya dengan fungsi psikologis perkembangan anak. Tak sekadar memberi perasaan senang, fungsi kognitif, dan sosial.Tapi ada aspek emosional yang dikedepankan. “Karena permainan tradisional itu berkelompok, maka dapat meningkatkan afiliasi dengan teman sebaya, kontak sosial,konservasi, dan ketrampilan sosial,” tambah Suminarti.Lebih penting lagi dapat menggali aspek-aspek kompetensi sosial yang meliputi problemsolving, pengendalian diri, empati, dan kerja sama. “Permainan anak sekarang terlalu banyak dijejali permainan dari industri barat. Pengaruh negatifnya lebih banyak, karenamengarah pembentukan sifat ego-sentris karena terlalu asyik bermain sendiri dan kurang berhubungan dengan orang lain,” ucapnya.Aspek problem solving, lanjut Suminarti, anak akan belajar mengatur strategi untuk mengalahkan lawan ketika mereka bermain dalam permainan-permainan kelompok.Misalnya pada permainan betengan, sepak tekong, dan gembatan. Bersama temansekelompoknya, anak belajar bagaimana mengatur agar kelompoknya tidak curang.Mereka juga mencari pemecahan masalah ketika kelompok mereka berada pada posisiyang kalah.
Add a Comment