Bulletin Paskibraka ’78
2
Edisi Juni 2007
S
aya sedang berada di depan kom-puter untuk menyelesaikan bagianakhir buku ”Derap Langkah Paski-braka”, ketika tiba-tiba
handphone
sayabergetar. Tak biasanya ada orang yangmenghubungi lewat HP, karena telepon dirumah juga tak terlalu kerap berdering.Lumayan kaget, di layar terlihat namaseseorang yang tidak asing, namun sudahlama juga tidak bertemu:
Idik Sulaeman.
Biasanya saya yang menghubungi beliauterutama bila ada perlu, tapi kali ini seba-liknya. Ada apa gerangan?”Opul, apa kabar? Kamu bener, saya jugalagi nyari-nyari siapa ya yang bisa jadi o-rang ketiga,” ujar Kak Idik dengan logatSunda yang khas.Mula-mula saya tidak terlalu
ngeh
dengankomentar Kak Idik. Tapi, setelah agak lamadan beliau mengatakan bahwa buletinnyasudah diterima, saya baru mengerti. Ter-nyata beliau telah membaca tulisan saya
”Jangan Lupa Saya Diajak...”
tentang siapa yang akan dan mau menjadipenerus Kak Husein Mutahar dan Idik Sula-eman dalam membina Paskibraka.Di usianya yang kini hampir 74 tahun (lahirdi Kuningan, 20 Juli 1933), suara Kak Idikterdengar tetap lembut dan empuk walau-pun agak terbata-bata. Kepada beliau lalusaya ceritakan tentang Paskibraka 1978yang masih tetap mengadakan pertemuanwalaupun tak sesering dulu. Lalu soal ren-cana menerbitkan buku untuk menyem-purnakan ”Buku Kenangan 25 Tahun Pas-kibraka”.”Mau dicetak berapa banyak?” Kak Idikbertanya antusias. Saya tidak bisa menja-wab pasti, tapi cuma bilang sekitar seribuatau dua ribu barangkali. ”Yah, memangmasih banyak yang harus ditulis tentangPaskibraka. Sayang, saya sudah tidak bisabanyak membantu,” katanya merendah.Ketika saya singgung soal pertemuanPurna Paskibraka di Halim —yang difasilitasiKak Trisno/Merry— untuk membicarakanapa yang terbaik buat Paskibraka, Kak Idikmenyatakan rasa syukur dan berharapPurna Paskibraka tetap mau memikirkankepentingan sesamanya. ”Memang itu tugaskalian sebagai kakak yang lebh tua. Kalaubukan kalian, siapa lagi?” ujarnya bertanya.Memang, dalam beberapa pertemuanterakhir Paskibraka 1978, ada niat untukmengajak Kak Idik seperti sebelumnya. Saya juga ingin menyampaikan kalau bulan Juniini akan ziarah ke makam Kak Mut, untukmemperingati tiga tahun wafatnya beliau.Namun, belum niat itu saya sampaikan, beliautelah lebih dulu bilang, ”Kalau kumpul-kumpullagi, jangan lupa saya diajak ya....”Ucapan halus itu ibarat palu godam me-nimpa kepala saya. Kadang, kita memangterlalu asyik dengan diri kita sendiri, se-hingga lupa mengajak ”orangtua” yang ma-sih peduli dan sayang kepada kita untukikut urun rembuk.
n
Syaiful Azram
”Mutahar Itu Kakak Saya...”
H
ARI
Rabu sore, 9 Juni 2004 pukul17.00, telepon di rumah sayaberdering. Ternyata dari Niniek,sahabat anak saya, yang juga putrinyaPak Dibyo (alm). Niniek memberi tahubahwa Oom Mut meninggal dunia sete-ngah jam yang lalu.Setengah jam kemudian, anak angkatKak Mut, Sunyoto, juga meneleponmengabarkan hal yang sama. ”
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
,” saya mengucap. Takada yang dapat saya lakukan kecualimemberitahu tetangga dan kawan-kawan lain yang sekantor dengan KakMut —ketika menjadi Dirjen Udaka dulu.Ketika sampai di rumah duka, di jalanDamai No.20 Cipete, telah berkumpulPramuka Trisakti dan Paskibraka '78.Ada mantan Kakwarnas Mashudi danmantan Sekjen Kwarnas Syaukat. Masihbanyak lagi orang yang berkumpul disana dan saya tidak bisa mengenalisemuanya. Sementara, alrnarhumterbujur di atas tempat tidur di terasdepanKeesokan harinya, tanggal 10 Juni2004, kami bertiga —dengan PakMaryono dan Pak Juli— hadir di TamanPemakaman Umum Jeruk Purut, JakartaSelatan untuk menyaksikan pemakananKak Mut. Sejak pukul 11.00 - 13.00 WIB,terdengar raungan mobil dan sepedamotor silih berganti. Begitu banyak orangyang ingin ikut menyaksikan tubuh rentaitu dimasukkan ke liang lahat.Tak lama ambulans datang. Dengansigap, Paskibraka dan Pramuka meng-gotong jenazah dari ambulans menujupekuburan. Langsung dimasukkan keliang lahat dan diuruk tanah. Tak lamakemudian, yang terlihat hanyalah gun-dukan tanah dengan nisan terpancangbertuliskan nama Husein Mutahar.Bagi saya, kepergian Kak Mut adalahsebuah ”kehilangan” yang sangat besar.Mutahar adalah kakak saya. Dalampembinaan Paskibraka, pada tahun1969-1973 saya pernah menjadi pe-nerus —ketika beliau ditunjuk menjadiDuta Besar Luar Biasa dan berkuasapenuh di Tahta Suci Vatikan. Tapi, eksis-tensi seorang Mutahar di mata Pas-kibraka tak pernah bisa digantikan olehsiapa pun. Beliau adalah Bapak Pas-kibraka.Sebagai adiknya, saya merasa ber-kewajiban untuk meneruskan perjuang-an Kak Mut dalam membina para pe-muda Paskibraka. Bahkan sampai saatini, sekalipun saya tidak bisa lagi terlibatlangsung.Di mata saya, Kak Mut adalah pribadiyang unik. Ia seorang humoris yangmampu membuat kita tertawa pada saatkita belum sadar ada sesuatu yang lucu.Ia sering memberikan kejutan pada saatkita belum siap.Sekali waktu, pernah ada peristiwamenggelikan. Saat ia ulang tahun di TahtaSuci Vatikan, saya menulis surat ulangtahun ukuran setengah halaman, surat-nya 4 halaman. Surat tersebut dibalasoleh beliau dengan tulisan di atas gu-lungan kertas selebar 1 cm dengan limawarna (merah, putih, biru, jingga, dankuning). Kelima gelondong kertas yangdimasukkan ke dalam amplop itu panjangseluruhnya 45 meter.Terlalu banyak kenangan manis yangditinggalkan Kak Mut. Rasanya tidakcukup dirangkai dalam tulisan sepan- jang apapun. Berusaha untuk selalu jujur,sabar, bijaksana, ikhlas dan bertang-gungjawab adalah nilai-nilai yangdiberikan kepada kami sebagai bekal.Kini semuanya tinggal kenangan. Se-moga beliau tenang di tempat peristira-hatannya dan kita bisa mewarisi sema-ngat beliau dalam membina Paskibraka.*
H. Idik Sulaeman
Add a Comment