Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bulletin78 21 - Juni 2007

Bulletin78 21 - Juni 2007

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 558 |Likes:
Published by syaiful.azram3997

More info:

Published by: syaiful.azram3997 on Dec 09, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2014

pdf

text

original

 
Bulletin Paguyuban Paskibraka Nasional 1978Edisi Juni 2007
Mengenang Husein Mutahar
H
ari Rabu sore, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB,Paskibraka harus kehilangan orang yang pa-ling mereka cintai, Husein Mutahar. Sebenar-nya, bukan saja Paskibraka yang merasa kehilangan,tapi juga kalangan Pandu, Pramuka dan bahkan seluruhbangsa Indonesia. Itu semua, karena pria yang humorisdan rendah hati ini terlalu besar jasanya untuk Ibu Indonesia.Kini, tiga tahun sudah ”Maestro Pandu” Indonesia ini me-ninggalkan kita. Tak banyak tulisan yang pernah kita bacatentang dirinya, karena ia memang tak suka publikasi. Takbanyak gambar atau fotonya yang dapat kita lihat karena ia”ogah” dipotret dan selalu memalingkan muka atau pura-purabicara dengan seseorang bila kamera diarahkan padanya.Di masa tuanya ia lebih memilih menyepi dan bertafakur.Sesekali ia menerima kedatangan kolega-koleganya semasabertugas di Depertemen Luar Negeri dan Depertemen Pendi-dikan & Kebudayaan. Atau teman-teman, adik-adik dan anak-
Bulletin ini diterbitkan oleh
”Paguyuban Paskibraka 1978”
dan dikelola oleh para Purna Paskibraka1978 yang ada di Jadebotabek dengan tujuan untuk menggalang kembali rasa persaudaraan (
brother- hood 
) sesama teman seangkatan.Sebagian atau seluruh isi buletin ini dapat dikutip/diperbanyak atau dibagikan kepada Purna Paskibrakaangkatan lain bila dianggap perlu. Harapan kami, buletin sederhana ini juga dapat menjadi media komunikasialternatif antar Purna Paskibraka, meski ruang gerak dan edarnya sangat terbatas.Surat-surat/tulisan dapat dialamatkan ke:
SYAIFUL AZRAM, Pondok Tirta Mandala E4 No. 1 Depok 16415 
,
atau
BUDIHARJO WINARNO, Gema Pesona AM-7, Jl. Tole Iskandar 45, Depok 16412 
,
atauSMS ke
0818866130 
 
dan
08161834318 
atau e-mail ke:
muztbhe_depok@yahoo.com.
anak Pandunya, serta Paskibraka. Ia menjalani kehi-dupannya tanpa pendamping dengan ikhlas sampai ajalmenjemputnya.Buletin Paskibraka ’78 edisi ini memang khusus diper-sembahkan untuk Kak Mut. Isinya merupakan rekamanmemori sejumlah orang yang pernah mengenalnya da-lam berbagai macam cara dan kesempatan. Termasuk, bebe-rapa foto yang pernah terekam dari kamera kita sewaktu KakMut begitu antusiasnya menyambut Reuni Paskibraka ’78tahun 1994, serta pelantikan Pengurus Purna PaskibrakaIndonesia (PPI) tahun 1995.Hanya ini yang dapat kita berikan. Semoga Kak Mut diterimadi sisi Al-Khalik dan beristirahat dengan tenang...
n
Gambar Sampul: 
Kak Mut selalu bersemangat ketika bicara tentang Al- Khalik, Tuhan Pencipta semesta alam dan kekuasaan-Nya dan kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. ( 
Foto: Syaiful Azram 
 ) 
1995
 
Bulletin Paskibraka ’78
2
Edisi Juni 2007
S
aya sedang berada di depan kom-puter untuk menyelesaikan bagianakhir buku ”Derap Langkah Paski-braka”, ketika tiba-tiba
handphone 
sayabergetar. Tak biasanya ada orang yangmenghubungi lewat HP, karena telepon dirumah juga tak terlalu kerap berdering.Lumayan kaget, di layar terlihat namaseseorang yang tidak asing, namun sudahlama juga tidak bertemu:
Idik Sulaeman.
Biasanya saya yang menghubungi beliauterutama bila ada perlu, tapi kali ini seba-liknya. Ada apa gerangan?”Opul, apa kabar? Kamu bener, saya jugalagi nyari-nyari siapa ya yang bisa jadi o-rang ketiga,” ujar Kak Idik dengan logatSunda yang khas.Mula-mula saya tidak terlalu
ngeh 
dengankomentar Kak Idik. Tapi, setelah agak lamadan beliau mengatakan bahwa buletinnyasudah diterima, saya baru mengerti. Ter-nyata beliau telah membaca tulisan saya
”Jangan Lupa Saya Diajak...
tentang siapa yang akan dan mau menjadipenerus Kak Husein Mutahar dan Idik Sula-eman dalam membina Paskibraka.Di usianya yang kini hampir 74 tahun (lahirdi Kuningan, 20 Juli 1933), suara Kak Idikterdengar tetap lembut dan empuk walau-pun agak terbata-bata. Kepada beliau lalusaya ceritakan tentang Paskibraka 1978yang masih tetap mengadakan pertemuanwalaupun tak sesering dulu. Lalu soal ren-cana menerbitkan buku untuk menyem-purnakan ”Buku Kenangan 25 Tahun Pas-kibraka”.”Mau dicetak berapa banyak?” Kak Idikbertanya antusias. Saya tidak bisa menja-wab pasti, tapi cuma bilang sekitar seribuatau dua ribu barangkali. ”Yah, memangmasih banyak yang harus ditulis tentangPaskibraka. Sayang, saya sudah tidak bisabanyak membantu,” katanya merendah.Ketika saya singgung soal pertemuanPurna Paskibraka di Halim —yang difasilitasiKak Trisno/Merry— untuk membicarakanapa yang terbaik buat Paskibraka, Kak Idikmenyatakan rasa syukur dan berharapPurna Paskibraka tetap mau memikirkankepentingan sesamanya. ”Memang itu tugaskalian sebagai kakak yang lebh tua. Kalaubukan kalian, siapa lagi?” ujarnya bertanya.Memang, dalam beberapa pertemuanterakhir Paskibraka 1978, ada niat untukmengajak Kak Idik seperti sebelumnya. Saya juga ingin menyampaikan kalau bulan Juniini akan ziarah ke makam Kak Mut, untukmemperingati tiga tahun wafatnya beliau.Namun, belum niat itu saya sampaikan, beliautelah lebih dulu bilang, ”Kalau kumpul-kumpullagi, jangan lupa saya diajak ya....”Ucapan halus itu ibarat palu godam me-nimpa kepala saya. Kadang, kita memangterlalu asyik dengan diri kita sendiri, se-hingga lupa mengajak ”orangtua” yang ma-sih peduli dan sayang kepada kita untukikut urun rembuk.
n
Syaiful Azram 
”Mutahar Itu Kakak Saya...”
H
ARI
 
Rabu sore, 9 Juni 2004 pukul17.00, telepon di rumah sayaberdering. Ternyata dari Niniek,sahabat anak saya, yang juga putrinyaPak Dibyo (alm). Niniek memberi tahubahwa Oom Mut meninggal dunia sete-ngah jam yang lalu.Setengah jam kemudian, anak angkatKak Mut, Sunyoto, juga meneleponmengabarkan hal yang sama.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun 
,” saya mengucap. Takada yang dapat saya lakukan kecualimemberitahu tetangga dan kawan-kawan lain yang sekantor dengan KakMut —ketika menjadi Dirjen Udaka dulu.Ketika sampai di rumah duka, di jalanDamai No.20 Cipete, telah berkumpulPramuka Trisakti dan Paskibraka '78.Ada mantan Kakwarnas Mashudi danmantan Sekjen Kwarnas Syaukat. Masihbanyak lagi orang yang berkumpul disana dan saya tidak bisa mengenalisemuanya. Sementara, alrnarhumterbujur di atas tempat tidur di terasdepanKeesokan harinya, tanggal 10 Juni2004, kami bertiga —dengan PakMaryono dan Pak Juli— hadir di TamanPemakaman Umum Jeruk Purut, JakartaSelatan untuk menyaksikan pemakananKak Mut. Sejak pukul 11.00 - 13.00 WIB,terdengar raungan mobil dan sepedamotor silih berganti. Begitu banyak orangyang ingin ikut menyaksikan tubuh rentaitu dimasukkan ke liang lahat.Tak lama ambulans datang. Dengansigap, Paskibraka dan Pramuka meng-gotong jenazah dari ambulans menujupekuburan. Langsung dimasukkan keliang lahat dan diuruk tanah. Tak lamakemudian, yang terlihat hanyalah gun-dukan tanah dengan nisan terpancangbertuliskan nama Husein Mutahar.Bagi saya, kepergian Kak Mut adalahsebuah ”kehilangan” yang sangat besar.Mutahar adalah kakak saya. Dalampembinaan Paskibraka, pada tahun1969-1973 saya pernah menjadi pe-nerus —ketika beliau ditunjuk menjadiDuta Besar Luar Biasa dan berkuasapenuh di Tahta Suci Vatikan. Tapi, eksis-tensi seorang Mutahar di mata Pas-kibraka tak pernah bisa digantikan olehsiapa pun. Beliau adalah Bapak Pas-kibraka.Sebagai adiknya, saya merasa ber-kewajiban untuk meneruskan perjuang-an Kak Mut dalam membina para pe-muda Paskibraka. Bahkan sampai saatini, sekalipun saya tidak bisa lagi terlibatlangsung.Di mata saya, Kak Mut adalah pribadiyang unik. Ia seorang humoris yangmampu membuat kita tertawa pada saatkita belum sadar ada sesuatu yang lucu.Ia sering memberikan kejutan pada saatkita belum siap.Sekali waktu, pernah ada peristiwamenggelikan. Saat ia ulang tahun di TahtaSuci Vatikan, saya menulis surat ulangtahun ukuran setengah halaman, surat-nya 4 halaman. Surat tersebut dibalasoleh beliau dengan tulisan di atas gu-lungan kertas selebar 1 cm dengan limawarna (merah, putih, biru, jingga, dankuning). Kelima gelondong kertas yangdimasukkan ke dalam amplop itu panjangseluruhnya 45 meter.Terlalu banyak kenangan manis yangditinggalkan Kak Mut. Rasanya tidakcukup dirangkai dalam tulisan sepan- jang apapun. Berusaha untuk selalu jujur,sabar, bijaksana, ikhlas dan bertang-gungjawab adalah nilai-nilai yangdiberikan kepada kami sebagai bekal.Kini semuanya tinggal kenangan. Se-moga beliau tenang di tempat peristira-hatannya dan kita bisa mewarisi sema-ngat beliau dalam membina Paskibraka.*
H. Idik Sulaeman
 
Bulletin Paskibraka ’78
Edisi Juni 2007
3
Husein Mutahar : Bapak Paskibraka!
P
ERISTIWA
 
itu terjadi beberapa harimenjelang peringatan Hari UlangTahun Kemerdekaan Republik In-donesia pertama. Presiden Soekamomemanggil ajudannya, Mayor (Laut) M.Husain Mutahar dan memberi tugas agarsegera mempersiapkan upacara peri-ngatan Detik-Detik Proklamasi Kemer-dekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung AgungYogyakarta.Ketika sedang berpikir keras menyu-sun acara demi acara, seberkas ilhamberkelebat di benak Mutahar. Persatuandan kesatuan bangsa, wajib tetap diles-tarikan kepada generasi penerus yangakan menggantikan para pemimpin saatitu. "Simbol-simbol apa yang bisa diguna-kan?" pikirnya.Pilihannya lalu jatuh pada pengibaranbendera pusaka. Mutahar berpikir, pengi-baran lambang negara itu sebaiknyadilakukan oleh para pemuda Indonesia.Secepatnya, ia menunjuk lima pemudayang terdiri dari tiga putri dan dua putra.Lima orang itu, dalam pemikiran Mutahar,adalah simbol Pancasila.Salah seorang pengibar bendera pu-saka 17 Agustus 1946 itu adalah TitikDewi Atmono Suryo, pelajar SMA asalSumatera Barat yang saat itu sedang me-nuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta.Sampai peringatan HUT Kemerdekaanke-4 pada 17 Agustus 1948, pengibaranoleh lima pemuda dari berbagai daerahyang ada di Yogyakarta itu tetap dilak-sanakan.Sekembalinya ibukota Republik Indo-nesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pe-ngibaran bendera pusaka dilaksanakandi Istana Merdeka Jakarta. Regu-regupengibar dibentuk dan diatur oleh Ru-mah Tangga Kepresidenan Rl sampaitahun 1966. Para pengibar bendera itumemang para pemuda, tapi belum mewa-kili apa yang ada dalam pikiran Mutahar.Mutahar tidak lagi menangani pengi-baran bendera pusaka sejak ibukota ne-gara dipindahkan dari Yogyakarta.Upacara Peringatan Proklamasi Kemer-dekaan diadakan di Istana MerdekaJakarta sejak 1950 sampai 1966. Ia punseakan hilang bersama impiannya. Na-mun, ia mendapat "kado ulang tahun ke-49" pada tanggal 5 Agustus 1966, ketikaditunjuk menjadi Direktur Jenderal Uru-san Pemuda dan Pramuka (Dirjen Uda-ka) di Departemen Pendidikan & Kebuda-yaan (P&K). Saat itulah, ia kembali ter-ingat pada gagasannya tahun 1946.Setelah berpindah-pindah tempat ker- ja dari Stadion Utama Senayan ke eksgedung Departemen PTIP di Jalan Pe-gangsaan Barat, Ditjen Udaka akhirnyamenempati gedung eks Departemen Te-naga Kerja dan Transmigrasi (Naker-trans) Jalan Merdeka Timur 14 Jakarta.Tepatnya, di depan Stasiun Kereta ApiGambir.Dari sana, Mutahar dan jajaran Udakakemudian mewujudkan cikal bakal latih-an kepemudaan yang kemudian diberinama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Latihan itu sempat diujicobadua kali, tahun 1966 dan 1967. Kurikulumujicoba ”Pasukan Penggerek BenderaPusaka” dimasukkan dalam latihan itupada tahun 1967 dengan peserta dariPramuka Penegak dari beberapa gugusdepan yang ada di DKI Jakarta.Latihan itu mempunyai kekhasan, teru-tama pada metode pendidikan danpelatihannya yang menggunakan pen-dekatan sistem "Keluarga Bahagia" danditerapkan secara nyata dalam konsep"Desa Bahagia". Di desa itu, para pesertalatihan (warga desa) diajak berperanserta dalam menghayati kehidupansehari-hari yang menggambarkan peng-hayatan dan pengamalan Pancasila.Saat Ditjen Udaka difusikan denganDitjen Depora menjadi Ditjen Olahragadan Pemuda, lalu berubah lagi menjadiDitjen Pendidikan Luar Sekolah, Pemudadan Olahraga (Diklusepora), salah satudirektorat di bawahnya adalah DirektoratPembinaan Generasi Muda (PGM). Di-rektorat inilah yang kemudian mene-ruskan latihan dengan lembaga penye-lenggara diberi nama ”Gladian SentraNasional”.Tahun 1967, Husain Mutahar kembalidipanggil Presiden Soeharto untuk di-mintai pendapat dan menangani masa-lah pengibaran bendera pusaka. Ajakanitu, bagi Mutahar seperti "mendapatdurian runtuh" karena berarti ia bisamelanjutkan gagasannya membentukpasukan yang terdiri dari para pemudadari seluruh Indonesia.Mutahar lalu menyusun ulang dan me-ngembangkan formasi pengibaran de-ngan membagi pasukan menjadi tiga ke-lompok, yakni Kelompok 17 (Pengiring/ Pemandu), Kelompok 8 (Pembawa/Inti)dan Kelompok 45 (Pengawal). Formasiini merupakan simbol dari tanggal Prok-lamasi Kemerdekaan Republik Indone-sia Republik Indonesia 17 Agustus 1945(17-8-45).Mutahar berpikir keras dan mencobamensimulasikan keberadaan pemudautusan daerah dalam gagasannya, kare-na dihadapkan pada kenyataan saat itubahwa belum mungkin untuk menda-tangkan mereka ke Jakarta. Akhirnya di-peroleh jalan keluar dengan melibatkanputra-putri daerah yang ada di Jakartadan menjadi anggota Pandu/Pramukauntuk melaksanakan tugas pengibaranbendera pusaka.Semula, Mutahar berencana untukmengisi personil kelompok 45 (Penga-wal) dengan para taruna Akademi Ang-katan Bersenjata Republik Indonesia(Akabri) sebagai wakil generasi mudaABRI. Tapi sayang, waktu liburan perku-liahan yang tidak tepat dan masalahtransportasi dari Magelang ke Jakartamenjadi kendala, sehingga sulitterwujud.Usul lain untuk menggunakan anggotaPasukan Khusus ABRI seperti RPKAD(sekarang Kopassus), PGT (sekarangPaskhas), Marinir dan Brimob, juga tidakmudah dalam koordinasinya. Akhirnya,diambil jalan yang paling mudah yaitudengan merekrut anggota PasukanPengawal Presiden (Paswalpres), atausekarang Paspampres, yang bisa segeradikerahkan, apalagi sehari-hari merekamemang bertugas di lingkungan Istana.Pada tanggal 17 Agustus 1968, apayang tersirat dalam benak HusainMutahar akhirnya menjadi kenyataan.Setelah tahun sebelumnya diadakanujicoba, maka pada tahun 1968 dida-tangkanlah pada pemuda utusan daerahdari seluruh Indonesia untuk mengibar-kan bendera pusaka.Selama enam tahun, 1967-1972, ben-dera pusaka dikibarkan oleh para pemu-da utusan daerah dengan sebutan “Pa-sukan Penggerek Bendera”. Pada tahun1973, Drs Idik Sulaeman yang menjabatKepala Dinas Pengembangan dan Latih-an di Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan (P&K) dan membantu HusainMutahar dalam pembinaan latihan me-lontarkan suatu gagasan baru tentangnama pasukan pengibar bendera pu-saka.Mutahar yang tak lain mantan pem-bina penegak Idik di Gerakan Pramukasetuju. Maka, kemudian meluncurlah se-buah nama antik berbentuk akronimyang agak sukar diucapkan bagi orangyang pertama kali menyebutnya: PASKI-BRAKA, yang merupakan singkatan dariPasukan Pengibar Bendera Pusaka.Memang, Idik Sulaeman yang mem-beri nama Paskibraka. Tapi pada hake-katnya penggagas Paskibraka tetaplahHusein Mutahar, sehingga ia sangat pan-tas diberi gelar ”Bapak Paskibraka”.
n
Syaiful Azram 

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
Arya Jhoe Lah liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
c_outthere liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->