Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perbedaan Bank Konvensional Dan Bank Syariah

Perbedaan Bank Konvensional Dan Bank Syariah

Ratings: (0)|Views: 182 |Likes:
Published by Didib Ulun Nuhatama
BANK KONVENTIONAL VS BANK SYARIAH
BANK KONVENTIONAL VS BANK SYARIAH

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Didib Ulun Nuhatama on Apr 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2013

pdf

text

original

 
PERBEDAAN BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARI‟AH
 DISUSUN OLEH :NAMA : BAYU SETONIM : 10312332FAKULTAS EKONOMIUNIVERSITAS ISLAM INDONESIAYOGYAKARTA2011
 
Di Indonesia sudah banyak berkembang bank Syari„ah, yaitu bank yang dalam
operasionalnya menggunakan perangkat atau produk yang sesuai dengan prinsip-
 prinsip Syari„at Islam. Dalam
pengembangan di berbagai peringkat, bank jenis initahan banting alias tidak goyah berhadapan dengan krismon dan juga petakaekonomi dunia sekarang ini. Meskipun nam
a bank syari„ah, namun
nasabahnonmuslim boleh-boleh saja ber-muamalah dengannya. Tidak ada halangan samasekali. Yang penting di sini, adalah prinsip dan operasionalnya harus sesuai
dengan ketentuan syari„ah.
Berbeda sekali dengan prinsip dan operasional bank biasa atau disebut bank konvensional. Prinsip-
 prinsip Dasar Bank Syari„ah, antara
lain :
Pertama
, prinsip titipan atau simpanan Al-
wadi„ah,
dapat diartikan sebagaititipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badanhukum. Harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya.Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanandapat memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal denganproduk giro. Sebagai konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari danatitipan tersebut menjadi milik bank (demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan,si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain. Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif ataubonus dapat diberikan dan hal ini menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Halini dilakukan untuk merangsang semangat masyarakat dalam menabung sekaligussebagai indikator kesehatan bank. Pemberian bonus tidak dilarang asal tidak disyaratkan sebelumnya, dan jumlahnya tidak ditetapkan dalam nominal ataupersentasi secara advance, tetapi betul-betul merupakan kebijakan bank.
Kedua
, prinsip bagi hasil (profit-sharing), Al-Mudharabah. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak,di mana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lain menjadipengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatanyang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik 
 
modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainyakerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalian si pengelola, makapengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.Pola transaksi mudharabah, biasanya diterapkan pada produk produk pembiayaandan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, al Mudharabah diterapkan padatabungan dan deposito. Sedangkan pada sisi pembiayaan, diterapkan untuk pembiayaan modal kerja. Dengan menempatkan dana dalam prinsip alMudharabah, pemilik dana tidak mendapatkan bunga seperti halnya di Bank Konvensional, melainkan nisbah bagian keuntungan. Sedangkan dalam sisipembiayaan, bila seorang pedagang membutuhkan modal untuk berdagang makadapat mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil seperti alMudharabah. Caranya dengan menghitung terlebih dahulu perkiraan pendapatanyang akan diperoleh oleh nasabah dari proyek tersebut. Misalkan, dari modal Rp30 juta diperoleh pendapatan Rp 5 juta/bulan. Dari pendapatan tersebut harusdisisihkan terlebih dahulu untuk tabungan pengembalian modal, sebut saja Rp 2 juta. selebihnya dibagi antara bank dengan nasabah dengan kesepakatan di muka,misalnya 60 persen untuk nasabah dan 40 persen untuk bank.
Ketiga
, Al-Musyarakah. Sistem ini terjadi kerjasama antara dua pihak atau lebihuntuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerjasama memberikan kontribusimodal. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuaidengan kesepakatan. Dalam sistem ini, terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana pembiayaan. Secara konkret, bila Anda memilikiusaha dan ingin mendapatkan tambahan modal, Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, bank syariah dan Anda secarabersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk menjalankan usaha. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaandengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Dalam bank konvensional, pembiayaan seperti ini mirip dengan kredit modal kerja.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->