Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Prosiding SemNas LitKaBi 2007_Produksi&Pemasaran Ubi Kayu

Prosiding SemNas LitKaBi 2007_Produksi&Pemasaran Ubi Kayu

Ratings: (0)|Views: 1,525|Likes:
Published by Putri Suci Asriani
There are integrate weakness of understanding, among partnership the agriculture
farming system of cassava potencies as food, feed, and industrial resources in agribusiness
system. There is, among other, due to assymetric information system for economic
potential of cassava marketing system (export and domestic market) in Indonesia, as well
as, the information of production and potencies of cassava market in Indonesia, export and
domestic market.
There are integrate weakness of understanding, among partnership the agriculture
farming system of cassava potencies as food, feed, and industrial resources in agribusiness
system. There is, among other, due to assymetric information system for economic
potential of cassava marketing system (export and domestic market) in Indonesia, as well
as, the information of production and potencies of cassava market in Indonesia, export and
domestic market.

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Putri Suci Asriani on Apr 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

 
PRODUKSI DAN POTENSI PEMASARANUBI KAYU INDONESIA
Putri Suci Asriani
ABSTRAK 
 Terdapat kelemahan integrasi pemahaman antar pelaku sistem usaha pertanian terhadap potensi ubi kayu sebagai sumberdaya pangan, pakan, dan industri dalam satu sistem usaha pertanian, salah satunya disebabkan oleh sistem informasi yang tidak mampu memberikangambaran secara ekonomi potensi pemasaran ekspor dan domestik ubi kayu di Indonesia.Informasi tersebut antara lain adalah produksi dan potensi pemasaran ubi kayu Indonesia, baik untuk pasaran ekspor maupun domestik.Secara strategi ekonomi upaya pengembangan ubi kayu adalah layak dilakukan untuk  pemenuhan kebutuhan ekspor dan domestik. Apabila produksi dan sistem pemasaranekspor dan domestik ubi kayu diketahui, maka alokasi sumberdaya ubi kayu akan dapatdijadikan landasan penetapan strategi dasar pengembangan produk sebagai penunjangketahanan pangan.Kata kunci: Ubi kayu; Produksi; Potensi; Pemasaran ekspor dan domestik 
 ABSTRACT 
There are integrate weakness of understanding, among partnership the agriculture farming system of cassava potencies as food, feed, and industrial resources in agribusiness system. There is, among other, due to assymetric information system for economic potential of cassava marketing system (export and domestic market) in Indonesia, as well as, the information of production and potencies of cassava market in Indonesia, export and domestic market. Economic strategic to develop strive the cassava productivity is feasible for theaccompleshment of export and domestic requirement. Information in production allocationand marketing system for export and domestic consumption of cassava will be useful for the strategic of decision making for the product development to support food security. Keywords: Cassava; Production; Potencies; Export and domestic marketing system.
PENDAHULUAN
Ubi kayu (
 Manihot esculenta
Crantz) komoditas dari subsektor tanaman pangan danmemiliki potensi untuk dikembangkan. Lebih dari itu, ubi kayu merupakan salah satukomoditas ekspor yang sangat potensial. Kepentingan pengembangannya tidak hanya bertitik-tolak dari perkembangan permintaan dalam negeri, tetapi juga pada potensi ekspor yang cukup besar. Dalam lima tahun terakhir produksi ubi kayu Indonesia terus meningkat.Pada tahun 2002 produksinya sebesar 16,91 juta ton, sedangkan pada tahun 2003 menjadi
*)Disampaikan pada Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian,Balitkabi Malang, Tanggal 7-8 September 2006.**)Staf Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP Universitas Bengkulu, sekarang sedang mengikutiProgram Karya Siswa di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
1
 
18,52 juta ton atau meningkat sebesar 9,52 persen dan target pada tahun 2004 sebesar 19,25 juta ton atau meningkat 3,92 persen dibandingkan tahun 2003 (Faostat, 2006).Ubi kayu di Indonesia mempunyai dua peranan utama. Pertama, sebagai tanaman pangan, ubi kayu merupakan sumber karbohidrat di samping beras dan jagung. Namun, ubikayu akan menjadi komoditas
inferior 
dengan meningkatnya pendapatan (Baharsjah,Azahari, dan Suryana, 1980 dalam Suryana, 1981). Kedua, sebagai tanaman perdagangan,ubi kayu merupakan tanaman penghasil uang (
cash crop
). Pati
 , gaplek 
, tepung ubi kayu,etanol, glukosa cair, dan
 pellets
merupakan komoditas ekspor. Negara tujuan ekspor utama ubi kayu Indonesia adalah Cina, pada periode tahun 2001 sampai dengan September 2003 rata-rata ekspor sebesar 83,14 persen (BPS RI, 2005).Secara kultur teknis tanaman ubi kayu dapat ditanam pada tanah yang kurang subur,tahan terhadap kekeringan dan mempunyai waktu panen sepanjang tahun. Namun upaya perluasan areal panen komoditas belum mendapatkan respon yang positif, bahkan rata-ratanegatif 0,29 persen per tahun (Deptan RI, 2005), salah satu penyebabnya adalah
image
negatif yang sudah terlanjur melekat (Darwanto dan Muharto, 1998). Hal tersebut didukungdengan adanya paradigma yang salah terhadap agribisnis ubi kayu yang dianggap sebagaiusaha pertanian kelas dua (
 secondary crops
) setelah beras (Saragih, 2003).Fenomena di atas menggambarkan secara jelas bahwa ubi kayu memiliki potensi besar dengan berbagai fungsi kegunaannya, namun pemahaman tersebut belum dimiliki secaraterintegrasi oleh semua pelaku sistem usaha pertanian. Sehingga potensi yang ada tidak dapat diberdayakan secara optimal, baik di pasaran ekspor maupun domestik.
 
PRODUKSI UBI KAYU INDONESIA
Ubi kayu sebagai komoditas sekunder dalam sistem bahan pokok untuk konsumsimasih sering dianggap sebagai usaha sampingan sehingga pengembangannya belumdilakukan secara intensif. Namun, dari sisi jumlah produksi jika dibandingkan dengankomoditas sekunder dalam sistem bahan pokok untuk konsumsi lainnya, ubi kayumenempati posisi pertama (Tabel 1).Berdasarkan perbandingan luas panen, produktivitas, dan produksi ubi kayu Indonesia(Faostat
 ,
2006), diketahui bahwa tingginya jumlah produksi tersebut lebih disebabkan oleh peningkatan produktivitas daripada peningkatan luas panen. Pertumbuhan luas panen padalima tahun terakhir yang rata-rata adalah negatif 0,32 persen mampu memproduksi ubikayu dengan pertumbuhan 4,52 persen pada tingkat produktivitas 0,67 persen.2
 
Tabel 1. Produksi Tanaman Pangan Sekunder di Indonesia
TahunJagun(Ton) Kedelai (Ton) Kacang Tanah (Ton) Kacang  Hijau (Ton)Ubi Kayu(Ton)Ubi Jalar (Ton)
20019347192826937709770301021170546001749070200296541056730567180712880891691310417716422003108864426716007855263352241852380019914782004112252437234838374953104121926400019018022005
*)
12013707797135837633309721194594021840248
*)
 
angka estimasi
 
Sumber: Food Crops Statistics (2005), diolah.
Penyebaran tanaman ubi kayu meluas ke semua propinsi di Indonesia. Pada tahun 2003 propinsi-propinsi yang merupakan sentra produksi komoditas ubi kayu adalah Lampung,Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Tabel 2).Tanaman ubi kayu tahan dan mampu produktif pada lahan dengan kapasitas nutrisi tanahyang rendah, namun demikian sistem irigasi dan kondisi curah hujan yang tinggi serta penggunaan pupuk tetap harus diperhatikan dengan baik guna mencapai tingkat produktivitas yang tinggi (Plucknett, et.al., 1998 dalam FAO and IFAD, 2004).Ubi kayu potensial sebagai usahatani penunjang ketahanan pangan. Hasil olahan ubikayu dapat dijadikan sebagai
buffer stock 
pangan, hal tersebut sudah dilakukan oleh beberapa daerah di Indonesia yang menjadikan ubi kayu sebagai bahan pangan, yaitu dalam bentuk 
chips
(
 gaplek 
),
 gatot 
,
 growol 
, dan
thiwul 
yang tahan disimpan untuk beberapa bulan(tergantung pada baik/tidaknya proses pengolahan yang dilakukan).
Tabel 2. Luas Panen, Hasil Per Hektar, dan Produksi Ubi Kayu Indonesia diBeberapa Sentra Produksi Pada Tahun 2003
 NoPropinsiLuas Panen(Hektar) Produktivitas(Ton/Ha) Produksi (Ton)
1.Lampung298.98916,74.984.6162.Jawa Timur240.49315,73.786.8823.Jawa Tengah215.37416,13.469.7954.Jawa Barat114.85314,41.651.8795.Nusa Tenggara Timur80.33010,7861.6206.D.I. Yogyakarta59.27012,9764.4097.Sulawesi Selatan40.80814,5590.7178.Sulawesi Utara33.45212,3411.9909.Sulawesi Tenggara15.17413,9210.74210.Kalimantan Barat16.52614,1233.340Sumber: Biro Pusat Statistik RI (2005) diolah.
Perkembangan produksi ubi kayu Indonesia, berdasarkan hasil analisis
exponential  smoothing_5
, sampai dengan tahun 2010 relatif mendatar, namun cenderung ke arah positif. Diharapkan dengan semakin besar kuantitas peningkatannya, maka semakin besar 3

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rika Amelia Jas liked this
Dr supriyanto liked this
jepara21 liked this
Hery Tjahyono liked this
Rika Amelia Jas liked this
Jamiatul Laila liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->