P. 1
ELSDA Institute Annual Position Paper - Tracing Evil in Forestry Sector

ELSDA Institute Annual Position Paper - Tracing Evil in Forestry Sector

Ratings:

4.33

(3)
|Views: 1,182 |Likes:
Published by Grahat Nagara
Hutan yang dieksploitasi oleh industri kehutanan ini tidak
dikelola secara lestari dan gagal mengatasi kemiskinan diwilayah yang kaya dengan hutan. Menurut Bank Dunia, Indonesia telah kehilangan hutan rata‐rata sebesar 2 juta hektar per tahun. Hutan yang rusak telah mencapai 59,2 juta hektar dari total 120 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Status
Lahan Hutan Indonesia 2006). Selain menghadapi bencana karena kerusakan hutan, rakyat Indonesia juga tidak menikmati keuntungan ekonomi yang diperoleh oleh para perusahaan dibidang kehutanan. Banyak perusahaan kehutanan yang selalu menyatakan rugi sehingga tidak pernah membayar pajak dan bahkan pada saat krisis keuangan karena jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap nilai dollar Amerika Serikat, perusahaan‐perusahaan kayu yang seharusnya menerima windfall profit dari tingginya nilai dollar secara beramai‐ramai menyatakan rugi dan tidak mampu membayar hutangnya. Disamping tidak menerima keuntungan dari kegiatan kehutanan diwilayahnya serta harus menghadapi bencana, penduduk yang berada disekitar hutan juga sering menjadi korban penegakan hukum yang tidak adil. Para penegak hukum Indonesia masih terpaku kepada memburu orang‐orang yang dapat dibuktikan di pengadilan melakukan proses perusakan hutan. Sehingga penyidikan yang mereka lakukan difokuskan lebih kepada adanya bukti kayu yang ditebang secara ilegal dan orang yang menebang serta membawa kayu ilegal tersebut. Orang yang memerintahkan (umumnya secara lisan) baik untuk melakukan penebangan,
pengangkutan, dan menadah kayu ilegal tersebut tidak pernah disentuh. Mereka yang menikmati keuntungan ekonomi dari bisnis menggunakan kayu ilegal tidak pernah terjerat hukum.
Hutan yang dieksploitasi oleh industri kehutanan ini tidak
dikelola secara lestari dan gagal mengatasi kemiskinan diwilayah yang kaya dengan hutan. Menurut Bank Dunia, Indonesia telah kehilangan hutan rata‐rata sebesar 2 juta hektar per tahun. Hutan yang rusak telah mencapai 59,2 juta hektar dari total 120 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Status
Lahan Hutan Indonesia 2006). Selain menghadapi bencana karena kerusakan hutan, rakyat Indonesia juga tidak menikmati keuntungan ekonomi yang diperoleh oleh para perusahaan dibidang kehutanan. Banyak perusahaan kehutanan yang selalu menyatakan rugi sehingga tidak pernah membayar pajak dan bahkan pada saat krisis keuangan karena jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap nilai dollar Amerika Serikat, perusahaan‐perusahaan kayu yang seharusnya menerima windfall profit dari tingginya nilai dollar secara beramai‐ramai menyatakan rugi dan tidak mampu membayar hutangnya. Disamping tidak menerima keuntungan dari kegiatan kehutanan diwilayahnya serta harus menghadapi bencana, penduduk yang berada disekitar hutan juga sering menjadi korban penegakan hukum yang tidak adil. Para penegak hukum Indonesia masih terpaku kepada memburu orang‐orang yang dapat dibuktikan di pengadilan melakukan proses perusakan hutan. Sehingga penyidikan yang mereka lakukan difokuskan lebih kepada adanya bukti kayu yang ditebang secara ilegal dan orang yang menebang serta membawa kayu ilegal tersebut. Orang yang memerintahkan (umumnya secara lisan) baik untuk melakukan penebangan,
pengangkutan, dan menadah kayu ilegal tersebut tidak pernah disentuh. Mereka yang menikmati keuntungan ekonomi dari bisnis menggunakan kayu ilegal tidak pernah terjerat hukum.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Grahat Nagara on Dec 12, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

 
ELSDAInstitute
02
 
 
 
ELSDAInstitute
02
CATATAN
 
AWAL
 
TAHUN
 
2008
 
Menelusuri
 
Kejahatan
 
Bisnis
 
Kehutanan
 
ELSDA
 
Institute,
 
Jakarta
 
Penulis
 
1.
 
Triana
 
Ramdhani,
 
S.E.,
 
Financial 
 
 Analyst 
 
2.
 
Albert
 
Hasudungan,
 
S.E.,
 
Financial 
 
 Analyst 
 
3.
 
Zainal
 
Arifin,
 
S.H.,
 
Legal 
 
 Analyst 
 
4.
 
Grahat
 
Nagara,
 
S.H.,
 
Legal 
 
 Analyst 
 

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
radhi_hirzi liked this
tachta liked this
Aryant Echo liked this
Maz Erha liked this
spartaboy liked this
wahyulianabpp liked this
vivin3106 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->