Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Religious Culture Di Sekolah

Religious Culture Di Sekolah

Ratings:

4.4

(5)
|Views: 3,290|Likes:
Published by Abu Bakar Fahmi
Ada apa dengan sekolah kita? Memang, sekolah hanyalah salah satu dari banyak pranata di masyarakat. Sekolah merupakan salah satu dari banyak mata rantai pendidikan. Tapi, jika dihitung dengan keterlibatan siswa yang menyedot porsi minimal seperempat hari di sekolah, keberadaannya penting dan berharap tetap jadi ikatan kuat dalam mata rantai pendidikan itu. Sekolah diharapkan tetap jadi mata rantai pendidikan yang akan terjaga kelangsungannya dan terandalkan keberlanjutaannya (sebagai bekal) setelah siswa selesai sekolah dan melanjutkan ke pranata pendidikan yang lainnya. Sekolah seyogyanya jadi pranata pendidikan yang bisa diandalkan dan terhindar dari keterkoyakan apalagi ke’bolong’an.
Ada apa dengan sekolah kita? Memang, sekolah hanyalah salah satu dari banyak pranata di masyarakat. Sekolah merupakan salah satu dari banyak mata rantai pendidikan. Tapi, jika dihitung dengan keterlibatan siswa yang menyedot porsi minimal seperempat hari di sekolah, keberadaannya penting dan berharap tetap jadi ikatan kuat dalam mata rantai pendidikan itu. Sekolah diharapkan tetap jadi mata rantai pendidikan yang akan terjaga kelangsungannya dan terandalkan keberlanjutaannya (sebagai bekal) setelah siswa selesai sekolah dan melanjutkan ke pranata pendidikan yang lainnya. Sekolah seyogyanya jadi pranata pendidikan yang bisa diandalkan dan terhindar dari keterkoyakan apalagi ke’bolong’an.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Abu Bakar Fahmi on Dec 13, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

 
Religious Culture di Sekolah: Menggugah hakekat Pendidikan Agama= o ns ="urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Oleh: Abu Bakar Fahmi 
 Alih-alih sekolah sebagai sarana/infrastruktur pendidikan, di dalamnya bertaburan perilaku yang menjauhkan penghuninya dari rasa nyaman mendapat keindahan atas pelangi kesopanan, kasih sayang, empati, penghargaan, prestasi, spiritualitas danaktualisasi diri. Hakekat pendidikan adalah proses pembudayaan. Sekolahdiselenggarakan dengan maksud melangsungkan proses pembudayaan itu.
Namun, budaya malas (lalu mencontek saat ujian), individualitas (lalu menyelimutisikap empati), tindakan permusuhan (menyelubungi kasih sayang lalu menimbulkankekerasan), pemuasan diri (lalu mengumbar nafsu diri dengan pornografi, minumminuman yang memabukkan, narkoba dan seksualitas) merebak marak dan bukan hal yang sulit ditemukan di sekolah. Guru mengajar pelajaran di tengah arus budaya yangdengan mudah menggerus apapun yang terangkai dalam anjuran positifnya. Guruagama melafadzkan dalil-dalil yang segera menguap oleh suhu panas pergaulan bebas!= st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />Adaapa dengan sekolahkita? Memang, sekolah hanyalah salah satu dari banyak pranata di masyarakat. Sekolahmerupakan salah satu dari banyak mata rantai pendidikan. Tapi, jika dihitung denganketerlibatan siswa yang menyedot porsi minimal seperempat hari di sekolah,keberadaannya penting dan berharap tetap jadi ikatan kuat dalam mata rantaipendidikan itu. Sekolah diharapkan tetap jadi mata rantai pendidikan yang akan terjagakelangsungannya dan terandalkan keberlanjutaannya (sebagai bekal) setelah siswaselesai sekolah dan melanjutkan ke pranata pendidikan yang lainnya. Sekolahseyogyanya jadi pranata pendidikan yang bisa diandalkan dan terhindar dariketerkoyakan apalagi ke’bolong’an.Di sekolah kita ada keterkoyakan budi pekerti. Di sekolah kita ada kebolongan akhlak mulia. Tapi ini mungkin argumen yang terlalu berlebihan. Yang bisa digelar hanyalah fakta-fakta yang kasat mata: di sekolah para siswi berseragam minimalis, di luar jam sekolah (baik di dalam sekolah maupun di luar) berdandan a la artis. Para siswa menunjukkan kejantanan dengan sembarang merokok di jalanan. Handphone jadi sarana penyebaran pornografi yang disepakati oleh hasratnafsu diri. Ada siswi yang menanggung beban berat akibat janin yang mengembangdalam perut yang ketat. Zat adiktif menyebar terlalu dekat dalam lingkungan pergaulansiswa, bahkan sampai di kolong meja kelas sekolah!Namun, sekolah tidak sedang dalam kekoyakan yang sempurna. Juga tidak dalam bolong yang bulat utuh. Ada realitas sekolah yang sesaat bisa menambal kekurangan itu.Sekolah banyak menggelar ritual keagamaan. Sekolah tiada lengkap tanpa musholla.Musholla padat dengan sholat dhuha. Para siswa mengorganisir diri dalam pengajian-
 
pengajian. Sekolah tidak kehabisan stok siswa yang diutus dalam lomba kaligrafi ataumusabaqah tilawatil Qur’an. Sekolah masih cukup fakta untuk dikatakan memilikireligiusitas yang langgeng. Namun, yang seperti itukah? Pada satu hal, fakta-faktareligius di sekolah tersebut ada baiknya. Pada hal lain, fakta-fakta tersebut belum bisamemenuhi keunggulan religius itu sendiri. Fakta-fakta religius itu pada satu sisimembanggakan, pada sisi yang lain melenakan. Adanya perilaku negatif siswa sepertitersebut di atas menunjukkkan bahwa ada fungsi pendidikan yang perlu dilempengkan,ada peran pendidikan yang perlu segera ditambal.Sebagai kawah pendidikan bagi anak remaja, kita banyak berharap dari sekolah. Tapi,lebih dari itu, sesungguhnya sekolah banyak berharap dari kita! Lantas apa yang bisakita lakukan?
Konteks yang kompleks
Pada abad 21 ini manusia berada dalam kompleksitas hidup yang diciptakannya sendiri.Manusia makin bisa mengatasi masalah dalam hidup dan, pada saat yang bersamaan,masalah hidup itu makin semarak berkembang biak. Manusia mengagumikemampuannya dan norma moral yang menghalangi perkembangan kemampuannyahanya menghambat kemajuan. Pada sebagian lain, manusia memiliki kemampuan yangterbatas dalam mengatasi kompleksitas kemajuan. Yang tersisa hanyalah anomali,mungkin Thomas Kuhn berkata demikian. Itu pula yang menggelisahkan Fuad Hassan(2001) yang mengingatkan bahwa,“kita berada di ambang suatu masa yang akan digoncang oleh terjadinya krisis nilai danheteronomi (bahkan anomi). Memudarnya nilai-nilai peri kehidupan serta norma-norma perilaku akan makin menggelisahkan dan mencemaskan, karena menjadikanmanusia makin tercengkeram oleh relativisme. Bertubi-tubinya dampak prosesglobalisasi niscaya akan melahirkan perikehidupan yang ditandai oleh kesegeraan-serba-kesementaraan…” (hlm 16)Kalau pada negara maju globalisasi berefek pada kemampuan kompetisi, pada DuniaKetiga (
Third World 
), termasuk Indonesia, globalisasi berefek antara lain padapenyesuaian (adjustment) dan tantangan budaya (
cultural challenge
). Yang terjadiadalah kegamangan masyarakat kita dalam menanggapi globalisasi. Globalisasi jadigurita yang mencengkeramkan kaki-kakinya melalui struktur (pembagian kerja, hak,modal dan resiko), pembudayaan (identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol)dan tindakan—berupa interaksi global (Thernborn, 2000). Pada resonansi budaya yangkurang berimbang, masyarakat hanya meniru saja budaya baru yag timbul dariluar—dan dengan bangga ditonjolkan sebagai apresiasi atas globalisasi demimenghindari tuduhan anti kemajuan.Masyarakat kita mengalami kegamangan penyesuaian dalam menghadapi budayaakibat globalisasi (
cultural maladjustmen
). Contoh yang dekat dengan masyarakatadalah televisi. Kalau dahulu haya ada satu stasiun (
channel 
) televisi, sekarang ada lebihdari sepuluh
channel 
. Kalau dahulu hanya sedikit tayangan yang diproduksi dari luarnegeri, sekarang banyak tayangan yang diproduksi luar negeri yang bahkan menuntut
 
partisipasi banyak pemirsa. Program penjaringan penyanyi berbakat yang diadopsi dari American Idol banyak menyedot kalangan remaja untuk berpartisipasi. Popularitas pun jadi obsesi. Popularitas bisa dicapai oleh siapa saja tanpa mengenal latar belakangsosial. Akibat ikutannya, anak dan remaja dilibatkan dalam program yang hanyamenguntungkan sebagian kecil pemodal saja. Anak dan remaja terobsesi olehpopularitas dan menggunakan berbagai cara untuk mencapai obsesinya itu.Untuk tidak sekedar mengandalkan, sekolah sebagai agen pendidikan berada di ruang yang jauh dari kondusif dalam melakukan proses pendidikan. Sekolah perlumemperbarui peran agar sesuai dengan tuntutan konteks kekinian. Jangan sampai,alih-alih menciptakan ruang sosial yang mendidik, yang terjadi adalah pengasingansiswa dari realitas di masyarakat.
Religiusitas sebagai budaya tanding
Tiada budaya tanding yang kuat selain menggali dari warisan purba dalam mayarakat yang akan terus dipegang teguh, yakni agama. Agama adalah senjata! Dengan agama,orang akan tergerak memberi sesuatu setulus-tulusnya sampai sepaksa-paksanyamerampas. Dengan agama orang akan menebar kasih sayang sampai menyebarkebencian. Melalui agama akan tergelar kedamaian dan juga terselimuti permusuhan.Dari agama akan muncul sebajik-bajiknya amalan dan sekaligus sekeji-kejinyaperbuatan. Dari agama kita berharap akan energi positif yang turut serta membangunperadaban.Diharapkan religiusitas jadi sumber rujukan dalam menghampiri globalisasi. Sebagaiseorang muslim, modalitas itu sudah ada. Namun, apakah modalitas itu hanya adasecara potensial atau aktual, itu tergantung kita sendiri. Religiusitas itu ada secaraesensial maupun kontekstual dalam tiga unsur globalisasi itu sendiri, yakni struktur,pembudayaan dan tindakan. Sekolah sebagai agen budaya diharapkan berperan diaspek pembudayaan (identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol) dan tindakan.Religiusitas sebagai nilai ditatap oleh Hassan (2001) sebagai“jauh dari relativisme. Maka dapatlah disimpulkan bahwa nilai-nilai religius bisa berlaku sebagai andalan bagi kemantapan orientasi manusia dalam perilakunya. Initerutama berlaku bagi perilaku manusia yang disebut ‘akhlak’, yaitu segala penjelmaanperilakunya yang dinilai pada rentangan skala ‘baik-buruk’ (‘good-evil’). Pada segalaperilakunya yang tergolong sebagai ‘akhlak’ inilah melekat ‘adab’ sebagai acuannormatif dalam interaksinya dengan manusia sesamanya maupun sikapnya terhadapkemanusiaan umumnya. Bagi seorang yaang religius mestinya agama yang dianutnyacukup memberi tuntunan untuk tampil dengan perilaku berakhlak dan beradab, sebabsebagai suatu sumber keyakinan dan keimanan, agama secara keseluruhan dankeutuhan mestinya merupakan carapandang bagi penganutnya mengenai manusia dandunianya maupun perikehidupannya (Mensch-, Welt- und Lebensanschauung).” (hlm15)Hasil akhirnya adalah religius dalam tindakan. Akhlak, inilah esensi hadirnya agama.Ini pula esensi diutusnya Rasulullah saw. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat4, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” Dalam hadits

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iwan Hariyanto liked this
arrosyad liked this
zakiahhanum liked this
Toemygeorge liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->