Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tafsir Al-Qur'an Versus Hermeneutika

Tafsir Al-Qur'an Versus Hermeneutika

Ratings: (0)|Views: 712|Likes:
Published by ibnusholahcentre

More info:

Published by: ibnusholahcentre on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/15/2013

pdf

text

original

 
1
TAFSIR DAN TA’WIL
AL-QUR'AN VERSUS HERMENEUTIKAOleh: Devi Muharrom Sholahuddin, Lc.(Mahasiswa Pascasarjana ISID Gontor)Pendahuluan
Belakangan ini, diskursus seputar Al-
Qur‟an ramai diperbincangkan. Teori
penafsiran yang telah mapan selama berabad-abad diragukan dandipermasalahkan oleh sebagian kalangan pemikir muslim kontemporer.
1
TafsirAL-
Qur‟an yang sudah mapan, berurat dan berakar didalam Islam dianggap sudah
tidak relevan lagi dengan zaman dan kebutuhan umat Islam saat ini.
2
Makadibutuhkan sebuah metode penafsiran baru yang sesuai dengan zaman.
3
Teoritersebut adalah hermeneutika.
4
 Hermeneutika dibangun atas faham relatifisme. Hermeneutika itu sendirimenggiring kepada gagasan bahwa segala penafsiran al-
Qur‟an itu relatif, padahal
1
Diantara pemikir muslim kontemporer itu adalah: Hassan Hanafi, Fazlurrahman,Mohamed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid, Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, FaridEsack dll. (Lihat, Adnin Armas MA,
Tafsir Al-Qur'an atau "Hermeneutika Al-Qur'an"
dalam
 Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA
, Thn. I No. 1/Muharram 1425.
 
Hal. 38)
2
Sebagai contoh, Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta menulis kata pengantar untuk sebuah buku Hermeneutika Al-
Qur'an, sebagai berikut: ”
 Metode penafsiran Al-Qur'an selama inisenantiasa hanya memperhatikan hubungan penafsir dan teks Al-Qur'an tanpa pernahmengeksplisitkan kepentingan audiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufassir klasik lebih menganggap tafsir Al-Qur'an sebagai hasil kerja-kerja kesalehan yangdengan demikianharus bersih dari kepentingan mufassirnya. Atau barangkali juga karena traumamereka pada penafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yangmaha dashat pada masa-masa awal Islam. Terlepas dari alasan-alasan tersebut,
 tafsir-tafsir klasik Al-Qur'an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam."
(Lihat,
 
Ilham B. Saenong,
 Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-
Qur’an
menurut Hassan Hanafi
(Jakarta: Teraju, 2002)
 
3
Para pemikir muslim kontemporer beranggapan, bahwasannya saat ini ada sebuahmetodologi penafsiran yang bisa dijadikan alternatif untuk menafsirkan Al-Qur'an agar bisa sesuaidengan realita yang terjadi pada zaman sekarang ini. Sebuah metodologi penafsiran yang telahdilakukan oleh pemikir Barat pada Bible. Metode itu adalah Hermeneutika.
4
 
Istilah “hermeneutics” berasal dari bahasa Yunani kuno (Greek) “
τα
 
έπμενεςτικα
 
(dibaca: ta hermeneutika), yaitu bentuk jamak dari perkataan:
τα
 
έπμενεςτικον
(to hermene
utikon)”yang bermakna: „perkara
-perkara yang berkenaan dengan pemahaman atau penerjemahan suatupesan. Diambil dari infinitif:
έπμενεύειν
,
Kedua kata ini merupakan derivat dari kata “Hermes”
(
‘Eπμερ 
). Mulai abad ke-
17 istilah „hermeneutics‟ dipakai untuk 
menunjuk suatu ilmu, metode danteknik memahami suatu pesan, karya atau teks. Sejak itu, istilah
‘hermeneutics’ 
dikontraskandengan
‘exegesis’ 
(
εξεγησιρ 
), sebagaimana „ilmu tafsir‟ dibedakan dengan „tafsir‟. Lebih tepatnya,
hermeneutika adalah ilmu menafsirkan Bibel.
 
2
fakta sejarah membuktikan, bahwa para
mufassir 
terkemuka sepanjang masamemiliki kesepakatan-kesepakatan dalam proses penafsiran al-
Qur‟an. Jika
metode hermeneutika tetap dipaksakan ke dalam al-
Qur‟an maka akan berinflikasi
bahwa segala problematika yang terjadi didalam Bible, terjadi juga di dalam al-
Qur‟an.
5
Tulisan ini akan mengungkap bahwasannya metode hermeneutika tidak layak untuk disandingkan dengan tafsir al-
Qur‟an.
 
Tafsir dan Ta’wil
 
Tafsir secara etimologi berasal dari kata
 fasara
(
 Fi’il madhī 
-kata kerjalampau) dengan
wazan Taf'īl 
yang berarti penyingkap atau penjelas. Didalam
lisān al 
-
’arab
: kata
al-Fasru
berarti penyingkap sedangkan kata
at-
Tafsīr 
berartipenyingkap atau penjelas dari kata-kata yang sulit
6
. Sedangkan tafsir secaraterminology para
mufassirīn
berbeda-beda dalam mendefinisikan pengertiantafsir, menurut istilah sebagian ulama adalah suatu ilmu yang dapat memberikanpengertian yang tepat dan akurat dalam memahami teks-teks al-
Qur‟an menurut
kadar kemampuan manusia. Sedangkan menurut Imam Az-Zarkasy dalamkitabnya
 Al-
burhān fī ’Ulūmi al 
-
Qur'ān
mendefinisikan bahwasannya Tafsiradalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan melalui nabinyaMuhammad SAW. Penjelasan mengenai makna-makna Kitab Allah dan penarikanhukum-hukum serta hikmah yang tekandung didalamnya
7
 Adapun Ta'wil secara etimologi adalah kata benda infinitif dari kata kerjatransitif,
awwala
, yang berarti kembali,
8
membuat sesuatu itu kembali ataumengurangi sesuatu, yang berarti "menemukan, mendeteksi, mengungkapkan,mengembangkan, membuka, menjelaskan, menggambarkan, menterjemahkantentang sesuatu atau mungkin menguranginya. Sedangkan Ta'wil secaraterminology,
mufassirīn
berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, diantara
5
Adnin Armas, MA.
Tafsir al-
Qur’an Atau ”Hermeneutika al 
-
Qur’an”
dalam
ISLAMIA,THN 1 NO. 1/Muharram 1425
Hal. 38
 
6
Ibnu Mandzur,
 
 Lisanul 'arab,
Jilid 7 Darul Hadits Kairo 2003 Hal. 101.
7
 
Az-Zarkasy,
 Al-Burhan fi aal-Ulum al-Qur'an,
Jilid 1, Al-Maktabah Al-AshriyyahBeirut 2004 Hal.27
8
 
Ibnu Mandzur,
 
 Lisanul 'arab,
Jilid 1 Darul Hadits Kairo 2003 Hal. 273
 
3
mereka berpandangan bahwa ta'wil merupakan sinonim daripada tafsir, sebagianyang lain mengatakan bahwa tafsir berbeda dengan ta'wil dalam artian tafsir lebihcondong kepada arti yang lebih umum sedangkan ta'wil lebih menekankan kepadaarti yang spesifik, sebagian ulama yang lain berpandangan bahwa tafsirmerupakan penjelas daripada ta'wil.
9
 
Keutamaan Dan Kebutuhan Manusia Terhadap Ilmu Tafsir
Allah SWT menurunkan al-Qur'an kepada manusia melalui Rasul-NyaMuhammad SAW. Untuk di baca, dipahami dan diamalkan apa-apa yangterkandung didalamnya, al-Qur'an telah diturunkan dengan berbahasa arab. Isiyang terkandung didalam al-Qur'an tidak akan mendapatkan sasaran yang benardan tidak akan bisa diamalakan tanpa melalui proses pemahaman yang benar,proses pemahaman inilah yang disebut dengan Ilmu Tafsir.Al-Quran diturunkan sebagai pedoman hidup manusia, maka dari itumemahami dan menghayati isi yang terkandung didalam al-Quran merupanamalan yang paling mulia, karena hal itu merupan jalan menuju kebahagiaan yanghakiki, yang tidak akan didapatkan kecuali dengan mengikuti pedoman itu sendiri.Al-Isbahany menuturkan keutamaan tafsir dilihat dari tiga aspek:
pertama,
aspek pembahasan, pembahasan tafsir adalah Kalam ilahi yang penuh dengan hikmahdan keutamaan , didalamnya terdapat berita masa lalu dan masa yang akan datang.
Kedua,
aspek tujuan, tujuan daripada tafsir adalah pencapaian terhadapkebahagiaan yang hakiki
ketiga,
aspek kebutuhan yang sangat terhadap tafsir,dikarenakan kelengkapan hidup dalam beragama maupun dalam kehidupanduniawi sangat membutuhkan terhadap ilmu syariat dan pengetahuan keagaamanyang tidak akan didapatkan kecuali dengan memahami ilmu yang terkadungdidalam al-Qur'an.
10
 
9
 
Muhammad Abdul Adzīm Az
-
Zarqāny,
 Manāhilu al 
-
’Irfān Fī ’Ulūm al 
-
Qur'ān
, Dārul
-
Hadīts, Kairo 2001, Hal. 8
 
10
 
Dr. Jalāluddīn Al
- Al
lūsy,
 Dirāsah Fī at 
-
Tafsīr Wa ’Ulūmihi
, Mu'assasah Ibn Asyūr Lī 
At-Tauzi' Tunisia 2006,Hal. 22.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->