Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
18Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemangku Dan Sesana Kepemangkuan

Pemangku Dan Sesana Kepemangkuan

Ratings: (0)|Views: 5,635|Likes:
Published by Miswanto
Makalah tentang Sesana Pemangku dan Kepemangkuan
Makalah tentang Sesana Pemangku dan Kepemangkuan

More info:

categoriesTypes, Speeches
Published by: Miswanto on Apr 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/01/2013

pdf

text

original

 
 pemangku dan sesananing pemangku
 Sebuah Catatan Kecil
*
 
Oleh : Miswanto, S.Ag.
**
 
p Gau  å-b[ø-Gauå-ivZ<au"-Gauå-devae-Maheìr )Gauå-Saa+aTPar&-b[ø-TaSMaE-é[ q-Gaurve-NaMa" ))
Oý SvastyastuOý A no badraá krattavo yantu viúvàtaá
Purwaka
Dalam struktur sosial keagamaan Hindu, pemangku merupakan salah satu tingkatan stuktur sosial yang dimuliakan. Pemangku diidentikkan dengan para ulama dalam Islam atau para pendeta dalam Kristen. Namun demikian belum begitu banyak umat Hindu dan kalangan pemangku sendiri yang memahami betul tentang seluk beluk kepemangkuan, sesanakepemangkuan dan sebagainya. Sehingga di kalangan umat Hindu sendiri sering tidak menempatkan pemangku sebagaimana mestinya. Tidak sedikit pemangku yang menerima perlakuan sebagaimana bukan seorang pemangku. Ironis memang, tetapi itulah kenyataannya.Sementara itu kalangan pemangku sendiri juga banyak yang tidak bisa menempatkan dirimereka sebagai pemangku, baik dari cara bicara, berpakaian, berkata dan bertindak dimasyarakat. Selain itu, masih terjadi kerancuan antara tugas dan kewenangan pemangku di pura.Untuk itu, pada kesempatan ini perkenankan saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan inimenyampaikan beberapa pokok pikiran tentang pemangku dan sesana kepemangkuan
Orang Suci
Semua agama di dunia memiliki orang suci. Hindu sebagai agama tertua juga memmpunyaiorang suci. Pada umumnya orang suci dikenal dari tugas, pengabdian, kepemimpinan di bidangagama serta sifatnya. Dalam ajaran Hindu, yang dimaksudkan sebagai orang suci adalah orangyang karena sifat dan kemampuannya ia dipercaya oleh umat untuk menjalani prosesi pensucianguna mengemban tugas dan kewajiban untuk kepentingan agama dan umat.Menurut Ketetapan Mahasabha PHDP No. 5 tahun 1968 (PHDI Pusat, 2005 : 47) orangsuci menurut Hindu dikelompokkan menjadi dua, yakni kelompok ekajàti dan kelompok dwijàti.Kelompok ekajàti adalah kelompok orang suci yang disucikan dengan upacara
mewinten
,sedangkan kelompok dwijàti adalah kelompok orang suci yang disucikan dengan upacara
*
 
Disampaikan pada “Paruman Pemangku dan Sarati” se Kecamatan Genteng, Glenmore, Kalibaru dan Sempu,
tanggal 24 Desember 2006 bertempat di SDN 4 Jambewangi, Sempu, Kabupaten Banyuwangi.
**
Penulis adalah Dosen Luar Biasa di UNTAG Banyuwangi, Dosen STHD Klaten POKJAR di Banyuwangi, Gurudi SMPN 2 Purwoharjo dan SMP Kosgoro Pesanggaran serta Penulis
 Freelance
di Beberapa Majalah Hindu di Bali.
 
 2
medikûa
. Kelompok ekajàti biasa disebut dengan istilah pinandita, sementara kelompok dwijàti biasa disebut dengan istilah paóðita.Adapun yang termasuk kelompok pinandita adalah : pemangku, wasi, mangku balian/dukun, mangku dalang, pengemban, dharma acarya, dan sebagainya. Sebutan ini biasanyamengacu pada deúa dresta pada masing-masing wilayah. Selanjutnya, kelompok paóðita ataudwijàti meliputi: peðaóða, bhujàòga, åûi, bhagawàn, sri mpu, sire empu, dukuh dan sebagainya.Sebutan ini juga mengacu pada deúa dresta.Perihal orang suci ini dalam ajaran Hindu di Indonesia diatur dalam sastra atau susastraVeda dan lontar-lontar di Indonesia seperti : Úivasasana, Våttisasana, Úilakrama, WiddhiPapiñcatan, Kramaning Dadi Wiku, Úilakramaning Aguruan-guruan, Agastyaparwa dan lain-lain.Orang suci yang banyak dikenal oleh umat Hindu biasanya dari golongan pinandita.Golongan ini pula yang secara langsung melayani kebutuhan ritual dan spiritual umat sehari-harinya. Makalah ini juga akan banyak membahas tentang seluk beluk kepemamngkuan.
Pemangku
Sebagaimana telah diulas dimuka bahwa pemangku adalah termasuk orang suci menurutHindu. Pemangku sendiri merupakan rohaniwan Hindu yang telah disucikan menurut aturan-aturan dalam Agama Hindu. Dari proses pensuciannya, pemangku digolongkan dalam kelompok ekajàti atau kelompok pinandita. Seorang pemangku dapat meningkatkan kesuciannya menjadiseorang paóðita dengan menjalani proses pensucian tingkatan kedua (dwijàti) sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan Baik kelompok ekajàti maupun dwijàti merupakan orang yang
dianggap “suci” (orang suci) menurut ajaran Agama Hindu.
 Di Bali, pemangku bisa dikatakan sebagai orang yang mengepalai sebuah pura. Tugasseorang pemangku adalah menyelesaikan suatu ritual di pura. Kesehariannya, beliaulah yang bertanggung jawab dalam menghaturkan sesajen dipura tersebut, melayani umat yang bersembahyang di pura itu, serta memelihara kebersihan dan prasarana yang ada di pura.Singkatnya, tugas pemangku adalah pelayanan sosial kepada umat dan pelayanan kepada Tuhan.Bagi umat Hindu keberadaan orang suci baik itu dari kelompok paóðita atau pinaóðitakhususnya pemangku amatlah penting, karena kepada merekalah umat Hindu akan memohon bimbingan secara spiritual. Dalam Agastyaparwa 391 disebutkan :
 Ikang kadìkûà (n) mwang upadeúa sang yogìúwara ya rakwa wênang lumêpasakên ikang mànusa
Terjemahan:Orang yang telah diinisiasi (didikûa) dan diarahkan oleh seorang Yogìúwara, konon dapatmelepaskan (belenggu) umat manusia.Lebih jauh tentang fungsi paóðita atau pinaóðita bagi umat Hindu dinyatakan dalamKekawin Bhomàntaka III.26 sebagai berikut:
 Dharma-dharmaning ri sang pinaóðita mahàrddhika pinaka patìrthaning saràt 
Terjemahan:Dalam hal dharma atau kewajiban seorang pinaóðita (paóðita) yang sempurna merupakan tempatmemohon air kehidupan, sebagai penyucian guna mendapatkan kebahagiaan umat manusia.
 
 3
Memang pada umumnya pinandita atau paóðita di Indonesia bertugas sebagai sangsangaskara atau orang yang bertugas untuk melaksanakan upacara penyucian. Adapun beberapa jenis pemangku menurut sebab-musababnya dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
 
 Pemangku karena keturunan
;Anak dari seorang pemangku atau paóðita dapat meneruskan kewajiban ayahnya untuk menjadi pemangku atau paóðita. Hal ini umum terjadi pada masyarakat.
 
 Pemangku karena pilihan uma
.Seorang pemangku dapat dipilih oleh umat dengan melihat dedikasi pemangku tersebutdalam kesehariannya. Di Jawa pada umumnya pemangku dipilih oleh umatnya.
 
 Pemangku karena kehendak niskala
Pemangku yang seperti ini biasanya dipilih secara niskala oleh Ida Bhatara Kawitan atau IdaSang Hyang Widdhi Wasa.Selanjutnya, untuk menjadi pemangku (paóðita) seseorang harus memenuhi beberapasyarat yang telah ditetapkan dalam sumber hukum Hindu. Aturan tentang syarat-syarat tersebut bersumber pada Lontar Úiwa Úasanà yang merupakan prototype dari sumber ajaran tentangkependetaan di Indonesia. Kemudian aturan tersebut diulas kembali dalam Lontar-lontar sesudahnya seperti : Våttiúasanà, Úìlakrama, Sesananing Kawikon, Úìlakramaning Aguron-guron,Kramaning Dadi Wiku dan lain-lain.Dalam Lontar Úiwa Úasanà no.8a disebutkan sebagai berikut:
 Nihan lwiraning wwang pilihën gawayana úiûya, wwang suddha janma, mahà pawitrakawanganya, wwang satya wacana tan mraûodita, wwang sujanma tuhu mahàrddhika, wwang  prajñà wruh mangajì, wwang satwika saddhu mahàrddhika, wwang suúìlàpagëh ring winaya,wwang sthira sthiti ring abhipraya, wwang dherya dharaka angelakën sukha duáka, wwang  satya bhakti matuhan, ngùniweh ring wwang atuha, wwang mahyun ring kagawayaning dharmakàrya, wwang mapagëh magawe tapa, nàhan lwir ning wwang gawayën úiûya, yogya dikûan.
Terjemahan:Demikian macam orang yang patut dipilih menjadi sisya. Keturuan suddha janma, orang yangsetia terhadap ucapannya, tidak berbohong, orang bijaksana, pandai dalam ilmu, orang yang benar-benar berjiwa besar, orang mulia, suci, berjiwa besar, orang yang susila, tegas dalam halsiasat, orang yang kuat terhadap atasan, apalagi terhadap orang tua, orang yang gemar melaksanakan ajaran dharma, orang yang teguh melaksanakan tapa, demikianlah macam orangyang dijadikan sisya yang patut didiksa / diwinten (Pudja, dkk., 1982 : 82).Kemudian orang yang tidak patut didiksa menurut Lontar Úiwa Úasanà no. 8b adalah:
 
Orang yang kapatita, artinya orang yang jatuh sebagai walaka;
 
Kuci angga atau Cedangga, artinya orang yang cacat tubuh;
 
Cuntaka janma, artinya orang yang melakukan pekerjaan hina seperti mencuri, orang yangsedang dipidana, dan lain-lain;
 
Maha Duáka, artinya orang yang menderita karena sengsara;
 
Orang yang sudah kåtta dikûita, artinya yang sudah pernah didiksa oleh nabe lain (Pudja,dkk., 1982 : 82-83).Aturan tersebut kemudian dibakukan mealui Tap PHDP No.5 tahun 1968 Bagian A yangmengatur tentang Pendeta. Adapun syarat-syarat untuk menjadi pinandita atau pendeta yangtelah dibakukan tersebut adalah (PHDI Pusat, 2005 : 45-48) :

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
Agus Krisna added this note|
pemangku dan sesan kepemangkuan
1 thousand reads
1 hundred reads
Komang Rauh liked this
SuryaOne Zambru liked this
Nadhom Ap liked this
Ogek Putri liked this
Heriawan Doank'z liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->