Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
21Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cerita Bersambung Rahasia-Rahasia

Cerita Bersambung Rahasia-Rahasia

Ratings:

5.0

(3)
|Views: 3,779 |Likes:
Published by le_la_ki633822

More info:

Published by: le_la_ki633822 on Dec 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
Cerita Bersambung
Rahasia-Rahasia
Penulis: Sofie Dewayani Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006 
 
www.femina-online.com
© 2007 Hak Cipta Oleh Femina Online.Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
 
 
K A T A B A
 Hanya Mengetik-ulang dan atau Mem-PDF-kan Buku
Rahasia-Rahasia
 
@
 
Sofie Dewayani
 Hak baca dilindungi undang-undang
 All right reserved  
Pem-PDF-an Pertama, September 2007
 
Penerbit KatabaJln. Wisanggeni 332 Purworejo PilangkencengMadiun Jawa Timur 63154Telp. 0351-386542Hp. 0856 4572 1133 email: allfaishall@yahoo.co.id  home page: http://emha2indonesia.multiply.com 
 
(Bagian 1)
 
Hari Kedua
Andari kehilangan sebuah dengkur. Selama delapan belas tahun dengkur itu tak hanya menjadi iramapengantar tidur, namun juga pertanda denyut hidupnya yang teratur. Delapan belas tahun Andarimengawali ritual istirahat malamnya dengan memilih gaun tidur, sikat gigi, membersihkan wajah,memakai krim malam, memasang rol kain kecil-kecil di rambut, mengatur nyala lampu temaram, lalumenggumam selamat malam seperti menukar tutur. Basa-basi seperlunya saja. Beku, seperti rangkatempat tidur cokelatnya yang berpelitur. Tak ada cium, apalagi tatap menghujam bola mata yang dulubegitu menghibur. Tak sempat bertukar kata-kata pelipur, apalagi bisik-bisik mesra yang membuatmalam lebur.Sepuluh tahun ini, hanya punggung Andari dan Bekti yang bertatapan. Tak bersinggungan, hanyabersisian semalaman. Seperti saling paham, memendam gelisah dalam diam. Tak ada sapa, tak adatanya. Buat apa bicara, bisik Andari dalam hati, kalau hanya bikin ribut.Namun, dua hari ini Andari uring-uringan. Tak ada dengkur yang mengalahkan dering alarm, ketikamatahari menembus tirai kamar. Tidurnya gelisah, karena tempat tidur terasa begitu lapang. Ini sudahketerlaluan. Bekti menghilang seperti ditelan udara berpolutan. Tak seorang pun melihat dia berkeliaran.Di rumah ini atau di luar sana, dia tak ada. Tak mungkin dia pergi menembus kegelapan seperti setan.Tanpa telepon genggam, tanpa tas, juga pakaian cadangan. Ruang kerjanya seperti tak tersentuh, rapi,tak berantakan.Andari ingat kapan terakhir kali didengarnya dengkur itu. Malam itu saat memakai pelembap, diateringat jadwalnya bermanikur. Ditandainya agenda, seperti merapikan deret kegiatannya yang teratur.Lalu, dirapikannya celana Bekti yang tergeletak sekenanya, sambil menyesali mengapa dia tak pernahbisa melepaskan diri dari pria yang sama.Di kamar mandi obat kumur-kumur selalu terbuka, dan handuk tak pernah tertata rapi di tempatnya.Tetek-bengek kecil ini menodai hidupnya yang tertata, seperti bunyi dengkur mengusik mimpi indahnya.Terkadang, dia ingin pria itu pergi diam-diam saja, seperti bulan yang beranjak, saat dia belum terjaga.Tapi, sungguh, itu hanya harapan pura-pura. Dia tak pernah membayangkan ini akan terjadi juga. Diaingin dengkur itu tetap di sana, meskipun tak ingin direngkuhnya.Pagi kemarin, Andari merasa aneh saat terjaga. Ada yang hilang. Ternyata, dengkur itu sudah menjadimusik latar kehidupannya yang tertata. “Masa, sih, kamu nggak lihat apa-apa, Min?”  “Betul, Bu. Saya kan jaga semalaman.”  “Jaga atau jaga? Bagaimana saya tahu kalau kamu jaga? Buktinya, Bapak keluar, kamu meleng juga.”  “Itulah yang saya heran. Kok, bisa, ya, Bu?”  “Kok, malah nanya saya? Katanya, kamu satpam profesional?” Andari meninggalkan Samin yang termangu. “Kamu terus terang saja sama saya, Rud!”  “Sungguh, saya nggak tahu apa-apa, Bu.”  “Saya tahu sesuatu yang kamu nggak tahu,” Andari nyaris berbisik. Diperhatikannya pemuda tanggungberambut ikal itu. Tangannya meremas-remas lap mobil yang kering dan kuyu. Andari tahu, pasti adasesuatu yang membuat mukanya sepagi ini tampak layu. “Terus-terang saja. Apa, sih, yang mau kamu sembunyikan dari saya? Toh, saya sudah tahu.”  “Maksud Ibu?”  “Kamu masih suka antar Bapak ke rumah wanita itu, ‘kan?”  “Siapa, Bu?”  “Ah, kamu masih pura-pura nggak tahu. Pasti kamu antar Bapak ke sana kemarin malam.” 

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
sblackto12 liked this
INDRA liked this
Nur Afina liked this
Dzulfadly Asruni liked this
Chiibee Thep liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->