Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
11Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ANALISIS KEWILAYAHAN KAWASAN AGROPOLITAN DI KABUPATEN BONDOWOSO

ANALISIS KEWILAYAHAN KAWASAN AGROPOLITAN DI KABUPATEN BONDOWOSO

Ratings: (0)|Views: 1,398|Likes:

More info:

Published by: Edwin Octavian Mahendra on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/27/2013

pdf

text

original

 
 Jurnal Perencanaan Wilayah dan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009
1
ANALISIS KEWILAYAHAN KAWASAN AGROPOLITANDI KABUPATEN BONDOWOSO
Eko Prionggo
Alumni Pascasarjana Universitas Jember Program Studi Ilmu Ekonomi
 Ringkasan
Tujuan penelitian ini adalah untuk : (a) menentukan komoditasunggulan yang ada di Kabupaten Bondowoso yang akan dijadikan komoditasunggulan pengembangan kawasan agropolitan; dan (b) mengetahui kawasan pusat pengembangan agropolitan berbasisis kawasan kluster komoditas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (a) perekonomian Kabupaten Bondowoso secara umum menunjukkan bahwa peranan sektor pertaniantanaman pangan merupakan sektor yang dominan baik dilihat darisumbangannya terhadap PDRB maupun jumlah tenaga kerja pada sektor tersebut. Berdasarkan kondisi demikian komdoitas yang dipandang ungguluntuk dikembangkan dalam konsep agropolitan adalah komoditas ketela pohon dengan integrasi vertikal dan horisontalnya; dan (b) berdasarkananalisis wilayah unggulan yang biosa dijadikan kawasan pusat  pengembangan agropolitan adalah kecamatan Sumberwringin danlingkungan wilayah sekitarnya seperti kecamatan Pujer. Hal ini pentingkarena lokasi kecamatan tersebut bisa dijadikan kawasan unggulan untuk  pengembangan berbagai pusat pelayanan terpadu sehingga upaya integrasivertikal dan horisontal bisa dilakukan.
 Kata kunci
: Keterkaitan kedepan dan Keterkaitan kebelakang, agropolitan, produk unggulan dan wilayah unggulan
 
 Eko Prionggo, Analisis Kewilayahan Kawasan Agropolitan Di Kabupaten Bondowoso
 
2
 Abstract AREA REGION ANALYSIS AGROPOLITAN IN SUB-PROVINCE
Purpose of this research is for : (a) determines the pre-eminent commodity in Kabupaten Bondowoso which will be made pre-eminent commodity of expansion of area agropolitan;and (b) knows area center expansion of hackneyed agropolitan of area kluster commodity. Result of this research indicates that: (a) economics of Kabupaten Bondowoso in generalindicates that role of field crop agricultural sector is dominant sector either seen from itscontribution to PDRB and also number of labours at the sector. Based on condition of said komdoity regarded as exeeding to be developed in conceptioning agropolitan is tapiocacommodity with his(its horizontal and vertical integration; and (b) based on pre-eminent region analysis which biose is made area center expansion of agropolitan is district of Sumberwringin and vinicity region area like district Pujer. This thing is important becauselocation of the district can be made pre-eminent area for expansion various center inwrought services causing horizontal and vertical integration effort can be done.
 Key word 
: Interrelationship to the fore and rearward Keterkaitan, agropolitan, pre-eminent  product and pre-eminent region
I.
 
PENDAHULUAN
Pengembangan kawasan agropolitan adalah bertujuan meningkatkan pendapatan dankesejahteraan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah dan peningkatanketerkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnisyang berdaya saing. Sasaran pengembangan kawasan agropolitan adalah untuk mengembangkan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan, melalui :1)
 
Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan produksi,produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan pertanian, yangdilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang efisiensi;2)
 
Penguatan kelembagaan petani;3)
 
Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia
agroinput 
, pengelolaan hasil,pemasaran dan penyedia jasa);4)
 
Pengembangan kelembagaan penyuluhan pembangunan terpadu;5)
 
Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi;Konsep agropolitan mencoba untuk mengakomodasi dua hal utama, yaitu menetapkansektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi utama dan diberlakukannyaketentuan-ketentuan mengenai otonomi daerah. Secara garis besar, konsep agropolitanmencakup beberapa dimensi yang meliputi: (a). Pengembangan kota-kota berukuran kecilsampai sedang dengan jumlah penduduk maksimum 600.000 jiwa dan luas maksimum 30.000hektar (setara dengan kota kabupaten); (b). Daerah belakang (pedesaan) dikembangkanberdasarkan konsep perwilayahan komoditas yang menghasilkan satu komoditas/ bahanmentah utama dan beberapa komoditas penunjang sesuai dengan kebutuhan; (c). Pada derah
 
 Jurnal Perencanaan Wilayah dan Pembangunan , Volume 1 Nomor 1, Nopember 2009
3
pusat pertumbuhan (kota) dibangun agroindustri terkait, yaitu terdiri atas beberapa perusahaansehingga terdapat kompetisi yang sehat; (d). Wilayah pedesaan didorong untuk membentuk satuan-satuan usaha yang optimal dan selanjutnya diorganisasikan dalam wadah koperasi,perusahaan kecil dan menengah, dan (e). Lokasi dan sistem transportasi agroindustri danpusat pelayanan harus memungkinkan para petani untuk bekerja sebagai pekerja paruh waktu(
 partime workers
).Terdapat syarat kunci konsep agropolitan yakni: (1). Produksi dengan bobot sektorpertanian; (2). Prinsip ketergantungan dengan aktivitas pertanian sehingga neuro-systemnya;(3) Prinsip pengaturan kelembagaan; dan (4). Prinsip seimbang dinamis. Keempat syaratkunci tersebut bersifat mutlak dan harus dikembangkan secara simultan dalam aplikasipengembangan agropolitan. Kurang berhasilnya program SPAKU (Sentra PengembanganAgribisnis Komoditas Unggulan), Program Inkubasi Bisnis, Program Pengembangan WilayahTerpadu (khusus bobot pertanian) dan program sejenis lainnya, disebabkan oleh sifatnya yangpersial dan tidak mengakomodasi secara utuh dan simultan keempat syarat utamapengembangan agropolitan tersebut.Dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah pedesaan, maka pemahaman konsepagropolitan dalam pengembangan wilayah merupakan yang penting, karena hal ini akanmemberikan arah dasar perencanaan pembangunan perdesaan dan aktivitasnya dalam prosespengembangan wilayah selanjutnya.Konsep agropolitan sebetulnya merupakan konsep yang ditawarkan oleh Friedman danDouglas atas pengalaman kegagalan pengembangan sektor industri di beberapa negaraberkembang (di Asia) yang mengakibatkan terjadinya berbagai kecenderungan, antara lain(a). Terjadinya hyperurbanization, sebagai akibat terpusatnya penduduk di kota-kota yang
 padat; (b). Pembangunan
modern
” hanya terjadi di beberapa kota saja, sementara daerah
pinggiran relatif tertinggal; (c). Tingkat pengangguran dan setengah pengangguran yangrelatif tinggi; (d). Pembagian penadapatan yang tidak merata (kemiskinan); (e). Kekuranganbahan pangan, akibat perhatian pembangunan terlalu tercurah pada percepatan pertumbuhansektor industri (rapid industrialization); (f). Penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat desa(patani) dan (g). Terjadinya ketergantungan pada dunia luar.Konsep agropolitan berdasarkan Friedman, yaitu terdiri dari distrik-distrik agropolitansebagai kawasan pertanian pedesaan yang memiliki kepadatan penduduk 200 jiwa per km2dan di dalamnya terdapat kota-kota tani dengan jumlah penduduk 10.000
 – 
25.000 jiwa.Sementara luas wilayah distrik adalah cummuting berada pada radius 5
 – 
10 km, sehinggaakan menghasilkan jumlah penduduk total antara 50.000
 – 
150.000 penduduk yang mayoritasbekerja di sektor pertanian (tidak dibedakan antara pertanian modern dan pertaniankonvensional) dan tiap-tiap distrik dianggap sebagai satuan tunggal yang terintegrasi.Penerapan konsep agropolitan di lapangan haruslah: (1) melibatkan sejumlah besarpetani pedesaan (ratusan s/d jutaan) bersama-sama pengembangan kota-kota pusat pertanianuntuk pembangunan pertanian secara integreted; (2) keterlibatan setiap instansi sektoral dipedesaan untuk mengembangkan pola agribisnis dan agroidustri harus berjalan secarasimultan; (3) tercapainya keserasian, kesesuaian dan keseimbangan antara pengembangankomoditas unggulan dengan struktur dan skala ruang yang dibutuhkan; (4) adanyakesinambungan antara pengembangan dan pembinaan sarana dan prasarana wilayah, sepertiirigasi dan transportasi antara daerah produksi pertanian dan simpul-simpul jasa perdagangandalam program perencanaan jangka panjang; (5) realisasi dari pengembangan otonomi daerahuntuk mengelola kawasan pertanian secara mandiri, termasuk kewenangan untuk 

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Muhammad Isa liked this
Fatimah Samsi liked this
Rizal Said liked this
Fatimah Samsi liked this
grahawillyudha liked this
Icha Izaac liked this
Dyah Susilowati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->