Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kerusakan Lingkungan Hidup Indonesia

Kerusakan Lingkungan Hidup Indonesia

Ratings: (0)|Views: 637|Likes:
Published by M Arfan Handrah

More info:

Published by: M Arfan Handrah on Apr 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/19/2012

pdf

text

original

 
 
KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
 
Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahanlangsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsilagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998). Kerusakan lingkungan hidupterjadi di darat, udara, maupun di air. Kerusakan lingkungan hidup yang akan dibahas dalam Babini adalah meluasnya lahan kritis, erosi dan sedimentasi, serta kerusakan lingkungan pesisir danlaut.
 
A. LAHAN KRITIS
 
Salah satu masalah kerusakan lingkungan adalah degradasi lahan yang besar, yang apabila tidakditanggulangi secara cepat dan tepat akan menjadi lahan kritis sampai akhirnya menjadi gurun.Lahan kritis umumnya banyak terjadi di dalam daerah aliran sungai (DAS) di seluruh Indonesia.
 
Data Departemen Kehutanan menunjukkan lahan kritis di luar kawasan hutan mencapai 15,11 jutahektar dan di dalam kawasan hutan 8,14 juta hektar. Hutan rusak dalam areal Hak PengusahaanHutan (HPH) sudah mencapai 11,66 juta hektar dan lahan bekas HPH yang diserahkan ke PT.Inhutani 2,59 juta hektar. Mangrove yang rusak dalam kawasan hutan telah mencapai luasan 1,71 juta hektar dan di luar kawasan hutan sebesar 4,19 juta hektar.
 
Total hutan yang rusak sudah mendekati angka 57 juta hektar. Ironisnya, kapasitas lembaga yangbertanggung jawab merehabilitasi hutan dan lahan dengan inisiatif pemerintah tak cukup kuatmenangani kerusakan yang terjadi. Realisasi lahan kritis yang dilakukan oleh DepartemenKehutanan dari tahun 1999 sampai tahun 2001 mencapai 1.271.571 hektar yang terdiri dari127.396 hektar di dalam kawasan hutan dan 1.144.175 hektar di luar kawasan hutan. Sumberdana untuk merehabilitasi pun amat terbatas padahal tiap hektar lahan yang rusak butuh danaminimal Rp 5 juta. Untuk merehabilitasi lahan kritis 57 juta hektar maka negara perlu menyediakandana hingga Rp 285 trilyun. Kerugian bukan hanya karena negara harus menyediakan dana untukrehabilitasi lahan kritis tetapi juga kerugian akibat penebangan ilegal (
illegal logging 
). MenteriKehutanan Prakosa (2002) mengatakan tiap tahun diperkirakan negara rugi hingga Rp 31 trilyunakibat
illegal logging 
(pencurian, penebangan, peredaran, serta perdagangan kayu secara ilegal).
 
Luas areal hutan yang perlu direboisasi di seluruh Indonesia mencapai 43,111 juta hektar, meliputiPulau Jawa 111 ribu hektar dan di luar Pulau Jawa seluas 43 juta hektar. Idealnya Pulau Jawamempunyai hutan minimal 30 persen dari luas daratan. Namun sampai saat ini baru 23% dikurangilahan kritis yang mencapai antara 250 ribu ha sampai 300 ribu ha
Dr.Ir. Prakoso, MSc, Menteri
Kehutanan, pada acara “Pencanangan Reboisasi PT Perhutani bersama masyarakat Bojonegoro,”
Kompas 
5 Januari 2003)
.
 
Penyebab utama meluasnya lahan kritis adalah adanya :
 
1. tekanan dan pertambahan penduduk,2. luas areal pertanian yang tidak sesuai, perladangan berpindah,3. pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan illegal,4. pembakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali,5. ekploitasi bahan tambang.Meluasnya lahan kritis membuat penduduk yang tinggal di daerah tersebut relatif miskin, tingkatpopulasi sangat padat, luasan lahan yang dimiliki bertambah sempit, kesempatan kerja sangatterbatas, dan lingkungan hidup mengalami kerusakan/degradasi. Kondisi ini diperparah denganterjadinya krisis ekonomi sejak tahun 1997 yang telah memperburuk kondisi perekonomian petanigurem. Akibatnya penebangan hutan oleh rakyat semakin merebak serta lahan yang terancammenjadi kritis semakin meluas.
 
1. Tekanan dan pertambahan penduduk
 
Menurut Statistik Indonesia 2001, pertambahan penduduk dari tahun 1980 sampai tahun 2000 meningkatcepat. Pada tahun 1980 penduduk berjumlah 146,935 juta jiwa bertambah sebesar 1,97 persen menjadi178,500 juta jiwa pada tahun 1990. Pada tahun 2000 jumlah penduduk menjadi 205,845 juta jiwa ataunaik 1,49 persen dengan kepadatan mencapai 109 jiwa per km
2
. Bertambahnya penduduk meningkatkankebutuhan pangan dan lapangan kerja serta meningkatkan
 
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002
 
VI - 1
 
 
 
eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang akhirnya mengakibatkan terjadikankerusakan lingkungan.
 
     P     E     N     D     U     D     U     K     j    u     t    a     )
 
     (     d    a     l    a    m
 
     J     U     M     L     A     H
 
250
 
200
 
150
 
100
 
50
 
0
 
GAMBAR 6.1
 
JUMLAH PENDUDUK
 
205.843
 
178.5
 
146.935
 
1980
 
1990
 
2000
 
TAHUN
 
Sumber: BPS, 2001
 
2. Luas areal pertanian yang tidak sesuai dan perladangan berpindah
 
Untuk meningkatkan produksi pangan, sekaligus membuka lapangan kerja, khususnya di daerahpedesaan, maka dilakukan perluasan areal pertanian yang sampai tahun 2001 mencapai 11,5 jutahektar. Namun perluasan areal pertanian di daerah banyak yang secara geografis tidak layakuntuk tanaman pertanian, misalnya terdapat pada lereng dengan kemiringan yang tajam, bahkandengan merusak areal hutan, seperti diilustrasikan Gambar 6.2.
 
Sungguh ironis, program ekstensifikasi lahan pertanian, khususnya di luar Pulau Jawa, disebabkanlahan pertanian yang subur dan sesuai secara geografis di Jawa beralih fungsi menjadi kawasanindustri dan pemukiman. Alih lahan ini pada tahun 2000 mencapai 250.000 hektar (SitusDepartemen Pertanian, 2002). Selain itu terjadi juga alih lahan konservasi menjadi areal pertanian.
 
GAMBAR 6.2
 
CONTOH PENEBANGAN POHON DI HUTAN SECARA LIAR UNTUK DIJADIKAN AREAL PERTANIAN
 
TERMASUK DI LERENG YANG DILARANG UNTUK TANAMAN SAYURAN
 
Sumber: Kompas, 2002 
 
Kegiatan lain yang memperluas lahan kritis adalah peladang berpindah yang menurut data dariDepartemen Kehutanan sampai tahun 2000 ada 14.618 KK (Kepala Keluarga) peladang berpindahyang mengolah lahan 24.264 hektar.
 
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002
 
VI - 2
 
 
 
BOKS 6.1
 
LANGKAH PEMERINTAH DALAM MENGATASI ALIH FUNGSI LAHAN
 
Pemberlakukan Intruksi Presiden No. 3 Tahun 1990 tentang Larangan Alih Fungsi Lahan Sawah untukPenggunaan Selain Pertanian;
Pembentukan Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) di bawah koordinasi BAPPENAS,tahun 1993;
Pemberlakuan UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang;
Pemberlakuan UU No. 69 Tahun 1996 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan TataRuang;
Pemberlakuan PP No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
4. Pengelolaan hutan yang tidak baik dan penebangan ilegal
Pengelolaan hutan Indonesia perlu dilakukan secara profesional dan terencana sehingga hutandapat dimanfaatkan secara optimal, tanpa mengurangi kemampuan hutannya memberikanmanfaat berkelanjutan bagi masyarakat lokal, nasional, regional, dan internasional. Sistempengusahaan hutan yang ada telah menimbulkan berbagai masalah di beberapa daerah yangberdampak pada degradasi hutan. Selama lima tahun terakhir, laju deforestasi diperkirakan 1,6 juta hektar per tahun. Berdasarkan citra satelit 1995-1999 hutan produksi yang rusak di Indonesiapada 432 HPH mencapai 14,2 juta hektar, sedangkan kerusakan pada hutan lindung dan hutankonservasi mencapai 5,9 juta hektar.
 
Dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia yang diterbitkan akhir tahun 2001 oleh
Forest Watch 
 Indonesia diungkapkan laju kerusakan hutan pada era tahun 1980-an di Indonesia adalah sekitarsatu juta hektar/tahun, kemudian pada awal tahun 1990-an tingkat kerusakan mencapai 1,7 jutahektar/tahun. Lalu, sejak tahun 1996 meningkat lagi menjadi rata-rata dua juta hektar/tahun. Hutanyang sudah terdegradasi dan gundul di Indonesia ada di Sumatera (terdegradasi 5,8 juta hektardan gundul 3,2 juta hektar); di Kalimantan (degradasi 20,5 juta hektar dan gundul 4,3 juta hektar);di Sulawesi (degradasi dua juta hektar dan gundul 203.000 hektar); di Nusa Tenggara (degradasi74.100 hektar dan gundul 685 hektar); di Papua (degradasi 10,3 juta hektar dan gundul 1,1 jutahektar); dan di Maluku (degradasi 2,7 juta hektar dan gundul 101.200 hektar).
 
Kerusakan itu disebabkan oleh pemilik HPH melanggar prosedur, penebangan ilegal, perambahanhutan, pembukaan hutan skala besar, kebakaran hutan, serta banyaknya lokasi tambang di daerahhutan lindung dan daerah konservasi meskipun dilarang berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999.Kondisi ini diperburuk oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu.
 
Konflik konsesi pertambangan dengan kawasan lindung menjadi pelik karena ada kontrak-kontrakpertambangan berada di dalam kawasan konservasi. Data Departemen Energi dan Sumber dayaMineral menunjukan saat ini ada 150 perusahaan pertambangan yang kawasan konsesinya (terdiridari 116 tahap eksplorasi dan 34 sudah dalam tahap ekploitasi) berada di daerah konservasi,dengan jumlah nilai rencana investasi 1-5 tahun sejak 2000 sebesar US$ 3,2 milyar.
 
GAMBAR 6.3
 
PENEBANGAN KAYU ILEGAL(
ILLEGAL LOGGING 
) DI HUTANDI KALIMANTAN TIMUR TELAHMEMPERLUAS TERJADINYALAHAN KRITIS DAN RAWANLONGSOR
 
Sumber: Bapedalda Kota
 
Balikpapan, Kaltim, 2002
 
Penebangan ilegal juga semakin merajalela karena kebutuhan kayu untuk industri tidak bisadipenuhi dari penebangan legal. Kapasitas industri kayu saat ini adalah 60 juta m
3
, sedangkanproduksi kayu legal dari hutan alam, hutan rakyat, dan perkebunan hanya 22 juta m
3
. Kekurangantersebut dipenuhi dari penebangan kayu ilegal atau penebangan berlebih yang dilakukan olehpemilik HPH.
 
Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2002
 
VI - 3
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->