Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tanggung Jawab, Bekal Mereguk Potensi Fitrah

Tanggung Jawab, Bekal Mereguk Potensi Fitrah

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 521 |Likes:
Published by Abu Bakar Fahmi
Tulisan ini hendak mengetengahkan tanggung jawab sebagai sikap yang penting untuk diperhatikan dan dimiliki oleh siapa pun. Tangguung jawab adalah sikap yang khas manusia, tidak dimiliki dan dituntut untuk dimiliki oleh makhluk manapun selain manusia.
Tulisan ini hendak mengetengahkan tanggung jawab sebagai sikap yang penting untuk diperhatikan dan dimiliki oleh siapa pun. Tangguung jawab adalah sikap yang khas manusia, tidak dimiliki dan dituntut untuk dimiliki oleh makhluk manapun selain manusia.

More info:

Published by: Abu Bakar Fahmi on Dec 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2010

pdf

text

original

 
Tanggung jawab: Bekal mereguk Potensi Fitrah
oleh: Abu Bakar Fahmi Perjalanan hidup manusia adalah jalan panjang pemenuhan tanggung jawab. Sepanjangrentang kehidupan, mulai dari kanak-kanak, remaja, muda, dewasa dan tua, adalah rentang panjang seseorang dalam memenuhi tanggung jawabnya. Namun, tidak semua orangmampu menampilkan aksen sebagai pribadi yang bisa memberi jawaban atas apa yangmenjadi tanggung jawabnya itu. Dengan ungkapan lain, tidak semua orang mampu menjadi orang yang bertanggung jawab.
Tiap rentang masa (waktu) dan bidang tempat (ruang) tertentu dimana seseorangmenjalani hidup, tuntutan tanggung jawab yang bersangkutan berbeda-beda. Semakintinggi usia seseorang, tanggung jawab yang diemban semakin besar. Dalam hal ini,perkembangan pribadi seseorang baik dari segi fisik maupun psikhis yang makin tinggifungsionalitasnya menuntut tanggung jawab yang tinggi pula. Seorang anak mungkin hanyabertangggung jawab atas perannya sebagai seorang anak: belajar di sekolah, belajar dirumah, bermain dengan anak sebaya, dan membantu orang tua di rumah. Seorang anakmemiliki area tanggung jawab dalam lingkup sosial yang lebih kecil. Berbeda dengan anak,orang dewasa memiliki area tanggung jawab yang lebih besar: menafkahi anggotakeluarga, menjalani peran profesi, menjadi anggota masyarakat setempat, jadi panutanbagi yang lebih muda, membantu orang tua (jika masih membuthkan bantuan) danmelakukan aktivitas sosial lainnya. Dengan demikian tanggung jawab jadi kata sifat yangsenantiasa melekat pada seseorang di ruang dan waktu manapun.Peran seeorang yang lebih besar menuntut tanggung jawab yang lebih besar pula. Seorangketua kelas memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada siswa yang lainnya. seorangkepala sekolah memiliki tanggung jawab lebih besar daripada perangkat sekolah lainnya.seorang presiden punya tanggung jawab yang paling besar dibandingkan dengan warganegara lainnya. namun, tidak semua peran memiliki korelasi positif dengan sikap tanggng jawab yang dimiliki oleh pemegang peran itu. Fenomenanya bahkan makin ironis: seoranganggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijerat hukum akibat tindakan korupsi.Seorang jaksa yang harusnya menuntut atas pelaku pelanggaran hukum justru malahdituntut karena terbukti melanggar hukum. Guru yang diharap bisa digugu dan ditirukarena tindak tanduk susilanya yang luhur justru malah bertindak asusila. Anggotalegeslatif yang semestinya menjadi wakil bagi aspirasi dan kepentingan rakyat malahmanyunat hak-hak rakyat. Jadi pengurus partai politik bukannya mengurus kepentinganpublik tapi mengurus dirinya sendiri. Adakah tanggung jawab jadi kata sifat yang terlalulangka melekat di pundak setiap orang saat ini? ataukah tanggung jawab jadi frase yangtidak terlalu penting lagi keberadaannya?Tulisan ini hendak mengetengahkan tanggung jawab sebagai sikap yang penting untukdiperhatikan dan dimiliki oleh siapa pun. Tangguung jawab adalah sikap yang khasmanusia, tidak dimiliki dan dituntut untuk dimiliki oleh makhluk manapun selain manusia.Driyarkara dalam bukunya,
Percikan Filsafat 
(1978) menerangkan bahwa 'tanggung jawabialah kewajiban menanggung bahwa perbuatan yang dilakukan oleh seseorang adalahsesuai tuntutan kodrat manusia'. Ia menambah pula bahwa 'berani bertanggung jawabberarti bahwa seseorang berani menentukan, berani memastikan, bahwa perbuatan inisesuai dengan kodrat manusia dan bahwa hanya karena itulah perbuatan tadi dilakukan'(hlm. 30). Lantas, seperti apakah kodrat manusia itu? Yang dikehendaki dari manusiaadalah menunjukkan kemanusiaannya. Ia ada sebagai sosok manusia, yakni sosok mahkukyang paling sempurna dan yang paling baik yang diciptakan oleh Allah swt (QS. At-Tin ayat4). Dari sinilah diharapkan manusia mampu menunjukkan tabiat kesempurnaan dan
 
kebaikannya. Menurut Driyarkara, 'yang sejati bagi manusia menurut tabiatnya yangterdalam ialah manusia sebagai pribadi-rohani'.sesungguhnya kodrat manusia bukan sebagai sebuah tuntutan seandainya Allah swt tidakmemberi potensi yang mampu mengukuhkan kodrat kemanusiaannya itu. Potensi yangdimaksud adalah fithrah. Adanya fithrah pada diri manusia inilah tuntutan atas kodratmanusia jadi perihal yang niscaya. Dalam sebuah hadist Rasulllah saw bersabda, "setiapbayi dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Kemudian kedua orang tuanya lah yangmenjadikannya seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor binatangdilahirkan dalam keadaan utuh. Apakah kalian melihat diantara mereka ada yang cacat(pada saat dilahirkan)?" (HR. Muslim).
Pengertian Fithrah
Kajian tentang fithrah lebih dalam dikupas oleh Yasien Mohamad dalam bukunya
Insan yangSuci, Konsep Fithrah dalam Islam
(1997). Menurutnya, fithrah memiliki makna yang samadengan kata thabi'un yang secara lingusitik berarti suatu kecenderungan alamiah bawaan.Sedangkan dalam pengertian religius, fithrah merupakan kemampuan yang telah Allah swtciptakan dalam diri manusia untuk mengenal Allah swt. Fithrah merupakan 'bentuk alamiyang dengannya seorang anak tercipta dalam rahim ibunya sehingga dia mampu menerimaagama yang hak', begitu menurut Yasien Mohamad. Dia mengimbuhi pula bahwa 'konsepfithrah sebagai kebaikan asal tidak semata-mata mengandung makna suatu kesiapanmenerima tindakan yang baik dan benar secara pasif, tapi juga suatu kecenderungan aktif serta kecondongan bawaan alamiah untuk mengenal Allah, untuk tunduk kepadanya anuntuk melakukan yang benar.' (hlm. 26). Ia juga menyimpulkan bahwa 'fithrah mungkinbisa didefinisikan sebagai suatu kecenderungan bawaan alamiah terhadap yang baik danketundukan kepada Tuhan Yanng Maha Esa' (hlm. 30).Namun, kecenderungan pada kebaikan dan Tuhan bukan sebagai keadaan yang taken forgranted. Kecenderungan ini tidak sepenuhnya melekat adanya setelah seseorang lahir danbertumbuh. Kecenderungan ini akan sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempatseseorang belajar. Lingkungan dimana seseorang bisa memunculkan kebaikan ataupunmenyimpan kebaikan itu, bahkan mengganti dengan bentuk sikap yang sebaliknya.
Tanggung Jawab sebagai sarana Aktualisasi Fithrah
Salah satu bentuk upaya menjagai dan mengembangkan potensi fithrah ini adalah denganmenanamkan sikap tanggung jawab. Tanggung jawab disini tidak ditamankan melaluisenarai kewajiban yang membebankan. Tanggung jawab yang hendak dimuncukan bukankarena susuatu yang diwajibkan, tapi sesuatu yang disadari. Sadar atas tanggung jawabdengan demikian adalah sadar atas potensi fithrahnya sebagai manusia. Melatih seseoranguntuk bertanggung jawab berarti memberikan kesempatan untuk mengaktualisasikanfithrahnya.Gambaran tentang tanggung jawab yang makin tinggi sekaligus sebagai 'ujian' kefithrahantampak pada pemberlakuan hukum islam. Ushul fikh Islam mengakui empat tahapperkembangan dalam kehidupan manusia. Tahapan atau jenjang perkembangan tersebutmenunjukkan tingkatan-tingkatan tanggung jawab yang berjenjang pula. Hukum Islammelekat mengikuti tahapan tanggung jawab itu. Ulasan tentang empat tahapanperkembangan manusia di bawah ini merujuk ulasan dari Mohamad (1997).Tahap pertama dimulai ketika ruh memasuki janin yang tengah tumbuh dan berakhir saatkelahiran anak. Pada tahap ini manusia belum dikenai tanggung jawab. Justru orang lain(dalam hal ini ibunya) tertanggung jawab atas kesehatan anaknya dengan memberimakanan yang baik. Tahap kedua dimulai saat kelahiran sampai usia tujuh tahun, yang olehkalangan fuqaha disebut usia tamyiz. Pada tahap ini manusia tidak bertanggung jawabkepada siapapun meskipun ia tunduk pada bimbingan orang tua dan 'bertanggung jawab'kepada mereka sebagai orang tua. Sampai usia ini manusia disebut kamil, sempuna, tetapi

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ali Mustafa liked this
Azuraini Alias liked this
Elfi Sadri liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->