Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Otonomi Desa

Otonomi Desa

Ratings: (0)|Views: 135 |Likes:

More info:

Published by: Akuan Cecep Rammdani on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

 
Otonomi Desa :Antara Harapandan Kenyataan
1
Oleh : Moh. Rusli Jamik 
Dalam suatu kesempatan, salah satu Bapak Proklamator Indonesia Bung Hatta pernahmengatakan tentang bagaimana menunbuhkan demokratisasi di Indonersia. Beliau berpesan bahwa seharusnya kita bercermin atau belajar dari praktek-praktek demokrasi yang tumbuh didesa. Karena dari desalah timbul demokrasi yang murni. Dalam pengertian ini semangatkedermawanan, sensitivitas dan kepedulian saling membantu dan saling berembuk sertatumbuhnya prakarsa lokal merupakan modal sosial bagi tumbuhnya sikap hidup demokratis,khsususnya dalam soal kepemimpinan, misalnya dalam pemilihan kepala desa, yang sudahsejak lama tumbuh berakar di masyarakat desa. Tradisi ini secara tidak langsung memberikancerminan yang cukup kuat tumbuhnya demokrasi di pedesaan.Selengkapnya klik disiniMengenang kembali apa yang diucapkan Bung Hatta, teringat beberapa waktu yang lalu disebagian besar desa di kabupaten di Madura, dimana telah diadakan pesta demokrasi yaitu perhelatan pemilihan kepala desa. Dinamika masyarakat desa seakan hidup kembali penuhantusiasme dalam rangka menentukan pemimpin mereka. Namun patut juga diakui, meskipundisana sini realitanya terjadi kekurangan dalam pelaksanaannya tetapi pada dasarnya pestatersebut merupakan cerminan pelaksanaan demokratisasi di masyarakat desa.Memang tidak bisa dipungkiri adanya kelemahan dalam pelaksanaanya, seperti praktek  permainan uang (money politik), adanya hegemoni para “broker atau petualang”, perjudianyang bermain didalam kancah arena pemilihan kepala desa tersebut. Itulah warna dari sebuah pesta demokrasi. Dan kita harus dan wajib mendukung memelihara dan melaksanakan apa yangtelah dilakukan masyarakat desa, berkenaan dengan pesta demokrasi tersebut, sambil lalumemperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi.Satu hal perlu mendapatkan perhatian bersama, bahwa praktek pemilihan pemimpin secaralangsung merupakan modal dasar sebuah demokratisasi. Modal dasar dalam bentuk pemilihankepala desa secara langsung inilah merupakan saham berharga dalam rangka menumbuhkansuasana demokratisasi di desa. Namun satu hal yang perlu kita perhatian bersama bahwa dalamrangka untuk mewujudkan desa yang mandiri, desa yang bisa melaksanakan semua kegiatan berdasar prakarsa lokal, sebagaimana disebutkan Bung Hatta, modal dasar demokrasi, yang berbentuk pemilihan kepala desa secara langsung bukan satu-satunya yang bisa membawamasyarakat desa menuju kesejahteraan bersama. Mengapa ? karena demokratisasi tanpa adanyaotonomi yang luas bagi desa, maka demokrasi tersebut bagaikan orang berjalan dengan satukaki. Mereka akan timpang didalam melaksakan apa yang diharapkan. Untuk itu, selaindemokrasi, pemberian otonomi desa merupakan hal yang sangat mendasar, dan satu hal yangtidak bisa dipungkiri, pemberian otonomi bukan tuntutan sepihak sebab pemerintah pusat punya otonomi, propensi diberi otonomi, kabupaten juga demikian, kecamatan apa lagi.Persoalannya mengapa pemerintah desa tidak diberi kesempatan untuk juga melakukan sesuaidengan kemampuan, kapasitas, keinginan masyarakat tersebut. Ini sebenarnya tidak 
 
 bertentangan dengan aturan yang berlaku, semua hal, apalagi dalam dunia sekarang ini bahwa pemberiaan kewenangan yang luas kepada para aparatur pemerintah, tidak terkecuali di desa itumerupakan satu keniscayaan. Tetapi persoalannya, adakah otonomi di desa ? Inilah yangmenjadi masalah urgen dalam rangka untuk mendorong terwujudnya otonomi di desa. Dengandemikian untuk menciptakan desa yang mandiri, kreatif berdasarkan prakarsa lokal tidak hanyacukup dengan tumbuhnya demokratusasi dalam bentuk kepemimpinan yang dipilih langsung,tetapi juga bagaimana memberikan kewenangan yang luas kepada desa untuk mengelolakegiatan-kegiatan pembangunan sebagaimana yang diinginkan masyarakat desa. Untuk itu, perlu mendapat perhatian bersama.Berbicara otonomi daerah, sebenarnya secara konsep pada dasarnya mengandung prinsip atasasas desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Artinyadaerah diberikan kewenangan dan keleluasaan membentuk dan melaksanakan kebijakanmenurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Dalam arti otonomi daerah bukan sekedar otonomiuntuk pemerintah daerah, tetapi lebih dari itu, juga otonomi bagi masyarakat daerah. Jadidengan demikian tujuan dari otonomi daerah untuk menjadikan penyelenggaran pemerintahlebih efisien dan transparan. Daerah memiliki keleluasaan menjalankan kewenangan sesuaidengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan daerah.Dalam menerjemahkan dan merealisasikan kondisi itu tentu saja pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri, ada kewajiban untuk melibatkan masyarakat. Karena masyarakat sebagai pihak yang nanti terkena dampak dari sebuah kebijakan. Oleh karena itu masyarakatselayaknya untuk ikut menentukan sesuai kebutuhannya. Inilah inti pokok kontrol masyarakatsebagai kunci dari transparansi penyelenggaraan pemerintahan. Dengan adanya transparansi, penyimpangan dari sebuah implementasi kebijakan bisa ditekan dan dampaknya pada efisiensidan efektifitas kebijakan itu sendiri. Otonomi daerah pada dasarnya membuka kunci yangselebar-lebarnya bagi masyarakat untuk menjadikan program pembanguan lebih realistis, tepatsasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat. Artinya peluang untuk terjadinya ketidaktepatan,kesia-sian bahkan pemborosan bisa dikendalikan dengan sekecil-kecilnya.Berdasarkan konsep ideal otonomi daerah tersebut, timbul sebuah pertanyaan, lantas bagaimanadengan otonomi di desa ?Kalau kita membicarakan tentang desa, biasanya yang muncul selalu masalah dan masalahyang hampir tidak ada habis-habisnya. Meskipun desa dalam sejarah perkembangan bangsa inimerupakan wujud pemerintahan terbawah tapi pada kenyataan bahwa desa selalu ditempatkan pada posisi yang marginal. Mengapa ? karena desa yang dianggap organ negara yang paling bawah, secara tata kerja birokrasi pemerintahan selama ini dianggap sebagai kaki tangan pemerintah pusat secara khirarhis. Sebagai contoh pada zaman orde baru, desa dianggapsebagai suatu organ sosial politik yang sewaktu-waktu bisa dimobilisasi dukungan politik masyarakat untuk partai tertentu pada saat pemerintah berkuasa. Memang nasib sial selalumeninpa pada desa.Adanya reformasi sedikit melegakan bagi desa dengan ditetapkannya UU no. 22/1999 dankemudian direvisi menjadi UU no. 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Undang-undang inimemberi pengakuan bagi desa untuk melaksanakan prakarsanya berdasar hak asal usuldaerahnya. Namun, sayangnya dalam pelaksanaan lebih lanjut tentang desa, pengaturannyamasih diserahkan pada pengambil kebijakan ditingkat kabupaten/kota. Akibatnya, dinamikasocial politik di desa menjadi sangat tergantung kepada dinamika sosial politik yang terjadi di
 
kabupaten/kota. Misalnya, kerap terjadi nasib desa terkatung-katung karena tidak ada respondari pemerintah kabupaten/kota. Sangat ironis memang, tetapi itu faktanya.Sebenarnya adanya reformasi dan otonomi daerah dapat memberi harapan baru bagi pemerintah dan masyarakat desa untuk membangun desanya sesuai dengan aspirasi dankebutuhannya. Otonomi daerah, memberi peluang bagi aparat desa untuk membuka ruang danmengembangkan kreatifitas dalam mengelola desa. Bagi masyarakat memberi kesempatanuntuk menggali potensi lokal yang ada, sehingga bisa membawa kesejateraan. Inilahsebenarnya yang memberi harapan bagi pemerintah desa untuk lebih leluasa menentukan program pembangunan mana yang diperlukan sehingga sesuai dengan kemampuanmasyarakat.Memang membicarakan desa kita harus realistis bahwa desa juga memiliki kelemahan dan persoalan yang serius didalamnya. Diantaranya
 pertama
, adanya tokoh figur yang kuat, yang biasanya diwakili oleh kepala desa, seringkali menjadi hambatan dalam tumbuhnya demokrasidesa. Kuatnya sifat paternalistik pada masyarakat desa bahwa lurah dianggap sebagai seorangyang dituakan, sebagai bapak yang harus mengayomi dan melindungi. Inilah yang menjadikendala dalam menumbuhkan relasi sosial politik di desa. Karena yang muncul dan berkembang biasanya adalah budaya ‘sungkan’. Nah budaya inilah akhirnya menjadi faktor  penghambat relasi politik di desa yang terbangun dan diinginkan secara egaliter dandemokratis. Sehingga dengan demikian hal-hal tersebut akan menumbuhkan budaya pelaksanaan pemerintahan yang jelek (bad governance).
 Kedua
, seperti yang banyak kita lihat bahwa acuan dari keberhasilan otonomi desa banyak hanya ditentukan dan dilihat semata dariukuran ekonomi. Sedikit orang yang melihat bahwa otonomi desa itu pada dasarnya adalahapakah di desa tersebut sudah tumbuh dan berkenbang tentang bagimana pengelolaan pemerintahan, bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan politik, itusebenarnya esensi dari otonomi desa. Jadi bukan semata-mata ukuran ekonomi.
 Ketiga,
darifaktor ekstern muncul adanya anggapan bahwa masyarakat dan pemerintah desa, merupakan bawahan dari pemerintah kabupaten atau bupati. Desa dianggap sebagai perpanjangan tangan bupati. Pada hal sebenarnya desa adalah unit pemrintahan yang otonom. Oleh karena itu makaanggapan yang demikian harus diubah bahwa kedudukan desa dibawah bupati sejujurnya hanyatepat jika dikaitkan dengan urusan birokrasi semata.Di era otonomi seperti sekarang, cara pandang demikian kurang tepat, karena pemerintah desamemiliki hak yang sama dalam mengelola desanya sesuai dengan kewenangan yang diberikanterhadapnya. Namun apa yang terjadi, adanya semangat desentralisasi yang belum dipahamisecara benar oleh aparat negara yang ada di daerah sehingga akibatnya desa masih tetap sajaditempatkan sebagai stuktur pemerintahan yang paling bawah. Selain itu ditambah oleh adanya prilaku aparat birokarsi kabupaten yang tidak mau membuka diri dan responsip terhadaptuntutan desa, karena menganggap di desa sumber daya manusianya masih lemah, tidak mampu mengelola dan melaksanakan pemerintahan sendiri, sehigga menganggap bahwamereka tidak bisa melakukan apa-apa. Inilah contoh bukti kesalahan-kesalahan secaramendasar aparat pemerintah kabupaten dalam memahami perubahan paradigma otonomi.Meskipun demikian, kenyataaannya bahwa adanya kelemahan sumber daya manusia di desa justru tidak pernah direspon secara baik oleh kabupaten, paling tidak bagaimana memberikan pemberdayaan, fasilitas, supervisi dalam rangka untuk meningkatkan, merubah kemamapuanaparat desa. Kalaupun mungkin dilakukan hanya pada aspek yang bersifat formal saja yang pada dasarnya tidak menyemtuh akar persoalan di desa. Banyak contoh membuktikan bahwaadanya ketidakpedulian aparat kebupaten melihat relitas kelemahan di desa

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->