Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Liberal is Me Dan me

Liberal is Me Dan me

Ratings: (0)|Views: 221|Likes:
Published by solekahdesna

More info:

Published by: solekahdesna on Apr 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/10/2012

pdf

text

original

 
Februari 13, 2012 in Review | Tinggalkan Komentar 
BAB I
 
PENDAHULUAN
 
A. Pengantar
 
Paper ini sesungguhnya adalah sebuah chapter report (III) dari buku William F. O‟Neil yang berjudul: „Ideologi
-
Ideologi Pendidikan‟ (2008). Dalam buku ini terdapat empat
bagian.Bagian pertama berbicara tentang filosofi, ideologi dan pendidikan, bagian kedua tentangideologi-ideologi pendidikan konservatif, yang terdiri dari (a) fundamentalisme pendidikan;(b) intelektual pendidikan; dan (c) konservatisme pendidikan, bagian ketiga tentang ideologi-ideologi pendidikan liberal, dan terakhir keempat ideologi-ideologi pendidikan: sebuahrangkuman.Karena keterbatasan kemampuan kami dalam melaporkan buku ini secara komprehensif dansistematis, serta demi pertimbangan kedalaman (fokus) dalam pembahasan, maka pada paperini dibatasi hanya meliputi liberalisme pendidikan dan liberasionisme pendidikan.Agar pemahaman kita tentang ideologi-ideologi pendidikan dalam buku ini dapat terpahamilebih baik maka dalam pengantar ini akan disajikan secara ringkas tentang fundamentalismependidikan, intelektualisme pendidikan dan konservatisme pendidikan. Sedangkanpembahasan tentang anarkhisme pendidikan juga akan diuraikan secara ringkas dalam babpenutup sebagai pelengkap pemahaman kita tentang pendidikan liberal.
1. Fundamentalisme Pendidikan
 Pandangan aliran ini bahwa pendidikan sebagai proses regenerasi moral sehingga menilaipengetahuan dan kurikulum sebagai alat untuk membangun kembali masyarakat dalam polakesempurnaan moral, seperti yang ada di masa silam.Bagi aliran fundamentalisme, kesamaan di antara anak didik lebih penting ketimbangperbedaan yang ada, sehingga metode pembelajaran yang diterapkan pun cenderungtradisional. Misalnya, penyampaian materi dengan melulu metode ceramah, hafalan, danpengawasan ketat. Semua itu dikendalikan oleh guru (teacher centered), karena siswadianggap tak cukup mampu untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri.
Freire (2008) memberikan istilah pembelajaran semacam ini dengan “banking
concept of 
education”, yang bersifat indoktrinasi dan menindas. Indoktrinasi sendiri adalah anti
pendidikan dan pembunuhan sikap kritis manusia sehingga bertentangan dengan hakekat
 pendidikan kritis (Fakih, 2008, dalam pengantar buku “Ideologi
-Ideologi Pendidikan).
Jika Freire menelorkan konsep “banking concept of education” dan “oppressed” maka Nemiroff (1992: 37) menyebutnya dengan istilah “kelas tradisional” dan “lingkunganrepresif” (menindas) untuk menjelaskan keadaan guru yang mendominasi pembelajara
ndalam kelas.Ada dua macam cabang dari aliran fundamentalisme. (a) Fundamentalisme Religius.Dijumpai dalam metode pendidikan di berbagai gereja Kristen yang terikat cara pandangkaku tentang realitas, sebagaimana realitas itu diwahyukan dalam al-Kitab; (b)Fundamentalisme Sekuler. Ditandai dengan komitmen yang sama kakunya denganfundamentalisme religius, terhadap akal sehat yang disepakati mayoritas orang.
2. Intelektualisme Pendidikan
 Intelektualisme pendidikan berpendapat bahwa setiap manusia adalah makhluk rasional. Olehkarena itu, sekolah menjadi sarana penting untuk mengajarkan cara menalar dan menyalurkan
 
kebijaksanaan yang tahan lama dari masa silam.Dengan begitu, wewenang intelektual tertinggi di sekolah terletak pada kecerdasanintelektual, bahwa kebenaran bisa dipahami melalui proses penalaran. Sayangnya,pembelajaran ditekankan hanya pada aspek kognitif, bukan pada aspek afektif dan sosial.Paham intelektualisme pendidikan masa lalu tersirat dari karya Plato dan Aristoteles.
3. Konservatisme Pendidikan
 Bagi kaum konservatisme pendidikan, tujuan atau sasaran pendidikan adalah sebagaipelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi. Berciri ke orientasike masa kini, menghormati masa silam, namun ia terutama memusatkan perhatiannya padakegunaan dan penerapan pola belajar mengajar di dalam konteks sosial yang ada sekarang.Orientasi kurikulum (khususnya mata pelajaran) pada konservatisme pendidikan yaknimengarah kepada hal-hal yang bersifat praktis dan lebih baru, seperti: sejarah, biologi, fisika,dan lain-lain yang dianggap sebagai bidang-bidang yang secara langsung relevan denganberbagai problem masyarakat kontemporer yang paling mendesak dan harus segeradiselesaikan.
B. Batasan Permasalahan
 Dalam pembahasan paper ini, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka hal utama yangmenjadi pokok pembahasan yakni bagaimana ideologi pendidikan liberalisme danliberasionisme serta apa saja yang mencirikannya kedua aliran tersebut. Biografi Paulo Freirepenting diuraikan, mengingat ide-idenya tentang pendidikan yang humanistik dalampembahasan liberasionisme pendidikan.
BAB II
 
IDEOLOGI PENDIDIKAN LIBERAL DAN LIBERASION
 Tujuan jangka panjang pendidikan menurut Liberalisme Pendidikan adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu ketahanan sosial yang ada sekarang dengan caramengajar setiap anak bagaimana cara mengatasi masalah-masalah kehidupannya sendirisecara efektif. Dalam arti yang lebih rinci, seorang pendidik liberalis menganggap bahwasekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang khususnya berupaya untuk : (1)Menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan siswa untuk belajar sendiri secaraefektif, (2) Mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan persoalan-persoalan praktismelalui penerapan proses-proses penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok,dengan berdasar kepada tata cara ilmiah-rasional bagi pengujian dari pembuktian gagasan.A. Sekolah dan MasyarakatPerbedaan antara berbagai idiologi liberal adalah terutama pada bagaimana menghadapiketerkaitan antara sekolah dengan masyarakat. Tafsiran tentang konsep relatifisme budayadan demokrasi sosial, ketika persoalannya sampai pada hubungan antara sekolah denganmasyarakat, kaum liberal mengambil pendekatan psikologis (personalistis), di mana individudidahulukan ketimbang tuntutan-tuntutan masyarakat. Ada dua alasan mengapa liberalispendidikan mengambil sikap seperti itu.Pertama, kaum liberal yakin bahwa yang psikologis itu tetap menjadi landasan puncak bagipembuktian kebenaran atau kekeliruan/kesalahan klaim manapun terhadap pengetahuan.Belajar adalah sesuatu yang bersifat personal dalam arti yang lebih mendasar jikadibandingkan dengan belajar sebagai kegiatan yang berpusat pada kelompok.Kedua, tidak ada budaya yang benar-benar terbuka dan kritis, dan akan menjadi model yangsahih bagi pencarian kecerdasan praktis yang terlatih, yang dipandang sebagai sebuah sasaran
 
secara kolektif. Sekolah dipandang sebagai lembaga yang lebih terbuka, lebih kritis, dan lebihbertanggungjawab dibandingkan dengan sistem politis.Bagi kaum liberal, pendidikan yang terbaik adalah yang ada untuk melatih anak agar berfikirsecara kritis dan objektif, mengikuti bentuk dasar proses ilmiah, dan melatih anak meyakinihal-hal tersebut sebagai hal-hal yang paling baik berdasarkan pengetahuan ilmiah.B. Kemenduaan Liberalisme PendidikanLiberalisme pendidikan pada intinya merupakan sebuah cabang pertumbuhan dari sudutpandang empirisme dan eksperimentalisme, yang menaati gagasan bahwa nilai tertinggi
„kebahagiaan‟, perw
ujudan diri atau apapun juga secara fundamental merupakan keluaransampingan dari kecerdasan praktis. Di sisi lain, generalisasi-generalisasi tersebut memerlukantiga batasan sebagai berikut :1. Fenomenologi dan BehaviorismeKetika sampai pada persoalan hakikat puncak pengalaman personal, kaum empiris cenderungtergelincir ke arah satu dari dua kubu yang saling bertentangan yaitu kaum fenomenologisdan behavioris.Kaum fenomenologis memegang keyakinan bahwa segala hal yang mungkin bisa diketahuiseseorang, adalah proses kesadarannya sendiri atau subjektivitasnya sendiri. Tokoh utamafenomenologi yakni Edmund Husserl.Kaum behavioris berpendapat bahwa makna yang tersimpul dalam pengalaman personalmengisyaratkan bahwa seluruh pengalaman selaras dengan keadaan-keadaan yangmendahului dan menentukan sifat-sifat hakiki serta pola pengalaman itu sendiri. Tokohpemikir kaum behavior yakni B.F Skinner.2. Eksperimentalisme dan behaviorismeEksperimentalisme pada intinya merupakan perkawinan antara behaviorisme filosofis dengapragmatisme. Behaviorisme filosofis menganggap bahwa pengalaman personal merupakankeluaran dari perilaku antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik dan lingkungansosialnya. Tokoh filosofi eksperimental adalah adalah John Dewey.Pragmatisme memiliki sikap yang menganggap bahwa sebuah gagasan adalah benar jikamenuntun ke arah konsekuensi-konsekuensi efektif bilamana diterapkan ke pemecahanmasalah nyata ( praktis).3. Eksperimentalisme dan ideologiEksperimentalisme sebagai aliran utama yang bergerak dalam apa yang biasanya dipandangsebagai liberalisme pendidikan.C. Tiga Ungkapan Dasar Pemikiran Eksperimentalis1. Eksperimentalisme Aliran Utama (Mainstream)Pemikiran eksperimentalisme aliran utama ini mengambil sikap bahwa semua komitmenterhadap penyelidikan yang terbuka dan kritis pastilah menyiratkan adanya komitmen yangselaras, terhadap sebuah masyarakat yang terbuka dan kritis.2. Eksperimentalisme EgalitarianMengisyaratkan sebuah masyarakat kritis sejati hanya bias mengakar di mana sudah adasebuah pembagian kembali sumberdaya-sumberdaya dan kekuasaan-kekuasaan efektif yang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->