dalam hubungan kami. Andri bahkan mengutarakannya saat kami menanti pesta kembang api di
River Hong Bao,
yang sebelumnya kubayangkan bakal romantis sekali.Kecewa sudah pasti.
Banget,
malah. Siapa
sih
yang ingin impiannya dirusak. Dan penyebab darisemua itu tak lain dan tak bukan adalah uang. Andri merasa 'kaget', bahkan dibuat 'ngeri' dengan pengeluaranku yang menurutnya boros. Padahal, barang-barang yang kubeli itu kebanyakan titipanortu. Aku bahkan tak sempat membelikan oleh-oleh untuk teman-teman dan saudara-saudarakuyang lainnya.Dari masalah boros tersebut, dia jadi sangsi mempercayakan pengelolaan uang padaku. Dia jugatakut aku membelanjakan uang bersama untuk hal-hal yang menurutnya sekunder. Menurutnya, akuharus menyusun prioritas dalam berkeluarga. Menghabiskan 90.000 rupiah untuk
eye shadow
merek cukup ternama menurutnya hanya membuang-buang uang, sementara di pasar bisa diperoleh merek lain dengan harga jauh lebih murah.
Hello?
Aku tak menampik jika suamiku memang orang yang sederhana. Dia baru mengganti barang jikasudah rusak atau menurutnya tidak layak pakai lagi. Tapi wanita mana yang tak butuh aksesoris penunjang penampilannya? Lagipula, barang-barang bermerek yang kupakai sekarang, sebagian besar diberi ortu. Aku bukan penggila merek, hanya saja terkadang baju yang jatuhnya lebih bagusitu kebetulan bermerek.
Toh,
ada juga kaos-kaos milikku yang harganya tak lebih dari 20.000 rupiah per potong. Yang penting bagus dan nyaman dipakai. Kosmetik yang cukup mahal pun, aku beli dengan hasil keringatsendiri. Kecuali pembersih wajah, kebanyakan habis pakai lebih dari setahun. Sebagai salah seorang pembicara di perusahaan, aku rasa wajar bila penampilan perlu sedikit dipoles.Sejak zamannya masih ditunjang ortu, aku telah terbiasa mandiri untuk pos-pos pengeluaran penunjang penampilan. Aku juga penganut paham yang mengatakan bahwa dengan cinta, semua bisa teratasi. Asal ada cinta, hidup susah pun jadi senang. Ah, naif sekali rasanya sekarang.Memang logis kalau dia bilang kebutuhan menabung untuk membeli rumah, biaya pendidikan anak kelak, dan hal-hal lain menyangkut keluarga harus diprioritaskan. Tanpa disinggung olehnya pun,aku sudah tahu, mengerti, dan berniat melakukannya. Begitu dini dia memvonisku gila belanja, padahal belum sepeser pun uangnya kuhabiskan untuk berfoya-foya membeli baju, tas ataukosmetik pribadi.Aku dan Andri sangat jarang bertengkar. Jadi wajar jika tak pernah terlintas dalam pikiranku, dimasa
honeymoon
pun pertengkaran bisa terjadi. Serasa ada benda tajam yang menikam ulu hatiku.Aku merasa terusik oleh kata-katanya, ketidakpercayaannya.
Kok
tega-teganya ya, dia merusak bulan madu kami gara-gara uang. Ironisnya, kami baru saja melewati
Fountain of Wealth...
diSuntec City. Bahkan
make a wish
segala di sana.***Mungkin karena kekecewaan yang berlarut, aku jatuh sakit. Mataku bengkak dan perih karenaterlalu banyak menangis. Parahnya lagi, badanku demam tinggi. Andri yang awalnya masih bersikap dingin jadi panik saat keesokan harinya, aku tak kunjung membaik.Mataku merah sekali walaupun lensa kontak telah kulepas. Salahku juga tetap memakai lensakontak di kala tidur, dan bodohnya aku lupa membawa kacamata cadangan. Di saat aku merasasedih, sakit, dan
lonely
itulah, Andri begitu telaten mengurusku. Merasa berdosa
kali,
pikirku sinis.Dia bahkan membawaku ke rumah sakit, khawatir terjadi sesuatu pada mataku. Padahal ongkos berobat di Singapura
kan
mahal.Kami pulang lebih awal dari rencana semula. Repot, sudah pasti. Plus, uang deras mengalir sepertiair keran. Dari membiayai rumah sakit, membeli kacamata, mengganti jadwal tiket, semuanya butuhdana ekstra. Sekembalinya ke tanah air, aku benci sekali bila ada yang menanyakan
honeymoon
kami. Ada yang menyalahkan karena kami terlalu cepat berangkat, bukannya beristirahat dulusehabis hari H. Ada juga yang menyayangkan sekaligus menghibur bahwa masih ada kesempatan dihttp://cafenovel.com/3
Add a Comment
Chi Uchyleft a comment