3
Di dalam Al-
Qur’an
, beberapa ayat yang menyinggung tentang pelarangan riba, diantaranya QS Ar-Rum [30]:39, QS. Al-Baqarah [2]:275, QS. Al-Baqarah [4]:130, QS. An-Nisa[4]: 146, QS. Al-Baqarah [2]:276, dan QS. Al-Baqarah [2]:278.Selanjutnya, banyak hadits yang terkait dengan pelarangan riba. Salah satunya yaitu:
“Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, orang yang member makan riba,
penulis dan saksi riba. Kemudian mereka bersabda: mereka semua adalah sama
(HR.Muslim)Untuk pengamalan prinsip-prinsip syariah, hal ini merupakan kewajiban bagi kitauntuk menuangkannya ke semua aspek kehidupan, termasuk di dalam perbankan.ketentuanini mengacu pada kaidah fiqih, yang artinya
„apabila hukum syara‟ dilaksanakan, maka
pastilah akan tercipta kemaslahatan.
2
Bank syariah berdiri pertama kali di Indonesia sekitar tahun 1992 didasarkan padaUndang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagai landasan hukum bank dan PeraturanPemerintah Nomor 72 Tahun 1992 tentang Bank Umum berdasarkan prinsip bagi hasilsebagai landasan hokum Bank Umum Syariah dan Peraturan Pemerintah Nomor 73 tentangBank Perkreditan Rakyat berdasarkan prinsip bagi hasil sebagai landasan hokum Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Sesuai dengan perkembangan perbankan maka Undang-undangNomor 7 tahun 1992 tentang perbankan disempurnakan dengan Undang-undang Nomor 10tahun 1998 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 tahun1992 tentang perbankan dan juga tercakup hal-hal yang berkaitan dengan perbankan syariah.
3
Masih banyak pasal lain yang mengatur tentang perbankan syariah oleh karena dalamundang-undang nomor 10 tahun 1998 telah dibahas bank syariah, pemerintah mencabut duaperaturan pemerintah tersebut diatas dengan peraturan pemerintah nomor 30 tahun 1998.Sebagai peraturan pelaksanaannya Bank Indanesia mulai tahun 1999 banyak mengeluarkanPeraturan Bank Indonesia yang mengatur bank syariah. Ketentuan-ketentuan ini yangmerupakan landasan hukum berdirinya Bank Perkreditan Rakyat Syariah dan Bank UmumSyariah seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah dan beberapa cabang syariah daribank konvensional, seperti BRI Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah, Bank Jabar Syariah dsb.Pada tahun-tahun berikutnya, Bank Indonesia (BI) merevisi aturan Bank PerkreditanRakyat Syariah (BPRS). Ketentuan baru ini dibuat untuk memberikan landasan hukum yanglebih jelas mengenai syarat dan tata cara pendirian BPRS. Aturan baru ini tertuang dalam
2
Burhanuddin Susanto,
Hukum Perbankan Syariah di Indonesia
, UII Press, Yogyakarta, hal.31
3
Lihat di http://grhoback.blogspot.com/2010/05/landasan-hukum-bank-syariah.html