Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kasus Tawuran Antar Pelajar

Kasus Tawuran Antar Pelajar

Ratings: (0)|Views: 464 |Likes:
Published by Pratondo Ario S S

More info:

Published by: Pratondo Ario S S on May 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

 
 Data Komnas PA merilis jumlah tawuran pelajar tahun ini sebanyak 339 kasus dan memakankorban jiwa 82 orang. Tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar sebanyak 128 kasus. Tak berbeda jauh, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, pengaduankekerasan kepada anak sebanyak 107 kasus, dengan bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik,kekerasan psikis, pembunuhan, dan penganiayaan.Banyak sekali alasan yang bisa menjadikan tawuran antar-pelajar terjadi. Pelajar sering kalitawuran hanya karena masalah sepele, seperti saling ejek, berpapasan di bus, pentas seni, ataupertandingan sepak bola. Bahkan, yang baru terjadi awal bulan ini, tawuran dipicu saling ejek diFacebook, yang kemudian sampai menyebabkan nyawa seorang pelajar melayang. Padahal, jejaring sosial, kan, hanya untuk having fun, bukan untuk menjadi pemicu tawuran. Selainalasan-alasan yang spontan, ada juga tawuran antar-pelajar yang sudah menjadi tradisi.Dari jajak pendapat Kompas pada bulan Oktober, dengan responden di 12 kota di Indonesia,diketahui sebanyak 17,5 persen responden mengakui bahwa saat dia bersekolah SMA,sekolahnya pernah terlibat tawuran antar-pelajar. Tidak sedikit pula responden atau keluargaresponden yang mengaku pada masa bersekolah terlibat tawuran atau perkelahian massal pelajar.Jumlahnya mencapai 6,6 persen atau sekitar 29 responden.Di antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Kalautidak tawuran, tidak jantan, tidak keren, tidak mengikuti perkembangan zaman, atau banyak lagianggapan lain.
Fenomena basis
 Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama LitbangKompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selamapuluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok.Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi darisiswa senior kepada juniornya.
 
Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapisiswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi berjudul ”
Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in
Jakarta”, tahun 1996
-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yangterdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basisitu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutanmereka (Kompas, 26/11).
Menghilangkan tawuran
 Untuk menghilangkan tawuran antar-pelajar yang sudah mengakar, tentu dibutuhkan usahakeras. Banyak usulan yang dilontarkan untuk mengurangi tawuran antar-pelajar. Beberapa diantaranya memindahkan sekolah, memotong generasi di sekolah, atau memotong mata rantaitradisi tawuran.Salah satu upaya mengurangi tawuran yang juga pernah dilakukan adalah memindahkan letak sekolah karena diduga lingkungan sekolah yang terlalu ramai di tengah kota mengakibatkantekanan mental lebih berat bagi siswa. Pada periode 1980-an, SMA 7 Gambir, Jakarta, terlibatkonflik dengan STM Boedi Oetomo Pejambon. Kemudian, pada awal tahun 1990-an, SMA 7dipindahkan ke wilayah Karet Pejompongan untuk memutus tawuran dengan STM BoediOetomo.Ketua KPAI Maria Ulfah Anshor mengungkapkan, tradisi tawuran bisa diputus denganmenanamkan nilai-nilai kepada anak-
anak di rumah. ”Keluarga mempunyai peranan penting
untuk menanamkan nilai menghargai perbedaan, yang nyata dalam kehidupan dan tidak bisa
dihindari. Nah, bagaimana menghargai perbedaan itu menjadi sesuatu yang positif,” kata Maria
Ulfah.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Putra Sulung liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->