Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum

Hukum

Ratings: (0)|Views: 63 |Likes:
Published by stheep_05

More info:

Published by: stheep_05 on May 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2012

pdf

text

original

 
Hukum
Monday, October 31, 2005
KEPAILITAN (ASYIK BACANYAEY.........)http://www.hukumonline.com/klinik_detail.asp?id=1746
BAGIAN YANG INI SAYA PERSEMBAHKAN BUAT DOSEN FAVORIT SAYA YANGMENGASUH MATA KULIAH HUKUM KEPAILITAN YTS. BAPAK FIRDAUS,SH.MH(THANK YOU SIR, WITHOUT YOU I AM NOTHING)
 
Pertanyaan :- Apakah BUMN dapat dipailitkan? - Aspek-aspek hukum apa saja yangperlu di perhatikan atau terkait pada peristiwa kepailitan BUMN?Jawaban :Pada dasarnya UU Kepailitan tidak membedakan kepailitan berdasarkan kepemilikian.UU Kepailitan hanya mendeskripsikan debitur yang dapat dipailitkan menjadi dua, yaituorang perorangan (pribadi), dan badan hukum. Artinya, baik orang perorangan, maupunbadan hukum dapat dinyatakan pailit.
Hal ini terlihat dari ps. 2 ayat (5) UU Kepailitan yang menyebutkan bahwa “Dalam hal
debitur merupakan badan hukum, maka kedudukan hukumnya adalah sebagaimana
dimaksud dalam Anggaran Dasarnya” .
 Selain itu, dalam ps. 3
ayat (1) UU Kepailitan disebutkan bahwa “Dalam hal permohonan
pernyataan pailit diajukan oleh debitur yang menikah, permohonan hanya dapat diajukan
atas persetujuan suami atau istrinya”
 Kedua pasal tersebut dijadikan dasar, siapa saja (debitur) yang dapat dipailitkan.Namun tidak dengan sendirinya semua jenis pihak dapat dipailitkan, harus diperhatikankualifikasi dan kapasitas pihak tersebut. Secara logis kepailitan membutuhkan pihak yangcakap melakukan tindakan keperdataan, seperti kapasitas untuk memiliki aset, membuatperjanjian dengan pihak ketiga; sehingga dapat dikatakan bahwa yang dapat dipailitkanhanyalah pihak yang memenuhi syarat sebagai subyek hukum.Hal ini karena melihat sifat kepailitan yang merupakan sita umum terhadap hartakekayaaan debitur, maka sifat tersebut menuntut adanya kepemilikan mutlak atas hartayang sedianya akan dijadikan budel pailit. Tidak ada artinya memailitkan suatu entitasyang tidak memiliki hak milik atau kapasitas dalam lalu lintas keperdataan, karena tidakada apapun yang dapat disita sebagai sita umum.Sehingga untuk kepailitan suatu persekutuan perdata seperti firma, CV, Joint operation,maka kepailitan tidak diarahkan kepada firma, CV, Joint operation yang bersangkutan,namun diarahkan kepada persero-persero yang memiliki kapasitas dalam persekutuanperdata tersebut. Tentunya tidak mungkin dilakukan sita umum terhadap suatu badanhukum yang tidak memiliki kapasitas atas harta bendanya, alias barang tersebut milikorang lain.
 
 Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dibutuhkan untuk dapat dinyatakan pailit adalahkapasitas dan kecakapan suatu subyek hukum untuk melakukan tindakan-tindakankeperdataan, dan bukan hal lainnya.Membicarakan konsep kepailitan bagi BUMN, maka tidak boleh dibedakan antarakepailitan terhadap badan hukum privat dan badan hukum publik seperti BUMN. BaikBUMN yang berbentuk Persero, maupun Perum dapat dipailitkan sebagaimana layaknyabadan hukum privat dapat dipailitkan. Pertama karena UU Kepailitan tidak membedakanantara kapasitas badan hukum publik BUMN dengan badan hukum privat, kedua, karenadalam pengaturan mengenai BUMN sendiri, dimungkinkan terjadinya kepailitan bagiBUMN baik Persero (lihat Penjelasan ps. 7 Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1998),maupun Perum (lihat ps. 25 Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1998).Dari kacamata itu, maka tidak ada masalah dalam mempailitkan suatu BUMN yangberbentuk badan hukum persero, karena memang UU Kepailitan juga tidak memberikanprivilege terhadap BUMN pada umumnya (perhatikan privilege yang berlaku bagi Bank,dan Perusahaan efek, yang dengan sendirinya berlaku mutatis mutandis bagi BUMN yangmerupakan Bank dan perusahaan efek), dan oleh karenanya kepailitan BUMN harusdipandang sebagaimana kepailitan suatu Badan Hukum biasa.Praktis tidak ada hal spesifik yang perlu diperhatikan dalam mengajukan kepailitan bagiBUMN, namun untuk memberi contoh pendapat pengadilan mengenai kepailitan BUMN,maka agak sulit, karena sampai saat ini belum ada satupun BUMN di Indonesiadinyatakan pailit. Meskipun beberapa kali permohonan pailit diajukan antara lainterhadap PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), PT Hutama Karya (Persero), danPT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), namun tidak ada hal penting yang dapat dicatatdari pendirian hakim mengenai kepailitan BUMN tersebut, karena kesemua permohonantersebut tidak didasarkan atas kapasitas termohon sebagai BUMN, namun karena alasan-alasan lain yang bersifat prosedural.http://www.hukumonline.com/klinik_detail.asp?id=537
 PERSONAL GUARANTORPertanyaan :Apakah sudah ada yurisprudensi yang menetapkan bahwa personal guarantor (penjamin hutangperorangan) dapat dipailitkan? kalau sudah ada, dalam putusan apa?Jawaban :Pada dasarnya penjaminan pribadi merupakan bagian dari skema perjanjian penanggungan yangdiatur pada KUH Perdata (Bab XVII KUH Perdata). Inti dari perjanjian penanggungan adalahadanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang, apabila pada waktunya si berutang sendiri tidak berhasilmemenuhi kewajibannya (Pasal 1820 KUH Perdata). Berbeda dengan skema jaminan lainnya,yaitu jaminan kebendaan yang memberikan hak penuh kepada kreditur atas suatu hak kebendaanspesifik apabila terjadi kegagalan pemenuhan prestasi (misal: gadai, fidusia), maka perjanjianpenanggungan hanya memberikan kreditur hak umum untuk menagih kepada pihak-pihak yangtelah mengikatkan diri sebagai penanggung dalam hal kegagalan pembayaran, sehinggakedudukan kreditur yang dijamin oleh penanggung masih berada di bawah kreditur yang dijamin
 
oleh hak jaminan kebendaan.Perjanjian penanggungan sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu penanggungan yang dilakukanoleh pribadi dan penanggungan yang dilakukan oleh badan hukum (personal guarantee dancorporate guarantee). Pada dasarnya keduanya memiliki prinsip yang sama, karena baik hak dankewajiban yang dimiliki penanggung pada kedua jenis penanggungan tersebut identik, hanya sajasubyek pelakunya berbeda.Pengajuan permohonan pailit terhadap penanggung merupakan hal yang cukup lumrah,khususnya apabila penanggung adalah penanggung perusahaan. Pengadilan Niaga pernahmenerima dan memutus pailit berbagai permohonan pailit yang ditujukan kepada penanggungperusahaan.Namun tidak demikian halnya dengan permohonan pailit yang diajukan terhadap penjaminpribadi. Catatan kami menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali permohonan pailit yang diajukanterhadap penjamin pribadi, begitu juga kasus dipailitkannya penjamin pribadi oleh majelis hakimniaga. Tidak ada penjelasan mengenai hal itu, tapi secara umum ada kecenderungan bahwakreditur enggan berurusan dengan debitur pribadi untuk alasan praktis.Paling tidak pada perkara-perkara berikut ini penjamin pribadi dinyatakan pailit oleh pengadilanniaga, yatuBadan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) terhadap PT. Ilmu Intiswadaya (debitur utama),Linda Januarita Tani (penjamin pribadi), dan PT. Optimal Teknindo Internasional (penjaminperusahaan) (Putusan No. 79/PAILIT/2000/PN.NIAGA.JKT. PST.)Bank Credit Lyonnais Indonesia terhadap PT. Sandjaja Graha Sarana (penjamin perusahaan),Tjokro Sandjaja (penjamin pribadi), dan Patricia Sandjaja (penjamin pribadi) (PutusanNo.29/PAILIT/1999/PN.NIAGA/ JKT. PST.)Hasim Sutiono dan PT. Muji Inti Utama terhadap PT. Kutai Kartanegara Prima Coal (penjaminperusahaan) dan Ny. Iswati Sugianto (penjamin pribadi) (Putusan No. 18/PAILIT/1998/ PN.NIAGA/JKT.PST.)Namun apabila berbicara apakah perkara-perkara tersebut di atas telah merupakan suatuyurisprudensi, maka jawabannya BELUM TENTU. Karena yang dianggap sebagai yurisprudensiyang mengikat oleh Mahkamah Agung adalah putusan-putusan yang telah diterbitkan dalambuku yurisprudensi terbitan Mahkamah Agung. Tidak semua putusan Mahkamah Agung adalahotomatis menjadi yurisprudensi, karena putusan-putusan tersebut akan dikompilasi oleh SeksiPenelaahan pada Direktorat Perdata Niaga dan kemudian melalui proses tertentu di seleksikembali oleh Direktorat Hukum & Peradilan Mahkamah Agung untuk kemudian diterbitkanpada buku yurisprudensi.KEPAILITAN TERKAIT DENGAN PERSEROAN TERBATAS YANG DI LIKUIDASIPertanyaan :Apakah perseroan terbatas dalam likuidasi dapat mengajukan permohonan pailit dan terhadapnyadiajukan permohonan pailit, sehubungan dengan perubahan undang-undang yang ada? danBagaimanakah cara berjalannya proses tersebut secara bersamaan?Jawaban :Ada dua pertanyaan yang bisa dijawab disini, pertama adalah apakah PT dalam likuidasi dapatmengajukan permohonan pailit? Selanjutnya apakah PT dalam likuidasi dapat dipailitkan?

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->