/  6
 
Maafkan Emak, Sri..
Karya: Shei
Sri melenggang lemas menuju ruang guru tempatnya memenuhi panggilan BuAstuti, wali kelasnya untuk diminta meluasi SPP yang sudah menunggak 6 bulan lebih."'Sri, kalau sampai bulan depan SPPnya belum kamu lunasi, dengan sangat berathati, Ibu tidak mengizinkanmu mengikuti Ulangan Umum." Ibu Astuti jugamenampakkan raut muka penyesalan.Sri hanya tertunduk. “Uang beasiswa, Bu..” Ia teringat akan beasiswanya.“Sudah habis, Sri..untuk membayar seragam sekolah dan buku-buku” Bu Astutimenjelaskan, Sri kembali terduduk lemas.Bisa apa lagi dia, selain belajar giat untuk mendapat beasiswa prestasi yang sudahtentu supaya biaya sekolahnya lebih ringan.Tapi semua juga ada batasnya, dan inilah akhir dari beasiswa tahunan Sri, ia harusberprestasi kembali supaya bisa meraih beasiswa berikutnya.Selain dari uang tersebut, ia tentu tidak akan tahu dengan apalagi harus membayarkebutuhannya, terutama sekolah. Ibunya hanya janda miskin dengan 3 anak yang masihbersekolah. Beruntung, adiknya yang paling kecil, Asih masih balita, jadi tidak perlupusing memikirkan biaya pendidikan. Untuk saat ini tentunya, tapi, pada akhirnya, Asih juga akan bersekolah.“Eh, Sri..mau pulang? Bareng yuk!” Ani melambai pada Sri dari dalam HondaJazznya. Sri yang merasa minder dan malu untuk menunjukkan gubuk reotnya padateman-temannya menolak ajakan Ani.“Enggak, mau mampir ke Bulek dulu..” ia berbohong. Padahal, ia harus berjualankoran sore yang didapat dari tetangganya, seorang agen majalah.Begitulah keseharian gadis SMA itu.“Oh, kalo gitu duluan ya!” pamit Ani sopan, meski dari kalangan berada, ia tidak sesombong kembarannya, Tasya, yang selalu memamerkan harta kepada siapapun supayaterlihat keren.***Tentu saja, ritual harian Sri kembali dimulai, berjualan Koran untuk memenuhikebutuhan lainnya, makan!“Koran, Mas?” ia menawarkan Koran pada seorang mahasiswa gondrong yangtampaknya sedang menunggu bus kota.“Berapa?”“Seribu rupiah…” sahut Sri semangat.“Nih..”Akhirnya, Koran Sri laku juga. Sungguh sulit mendapatkan penghasilan maksimaldengan 100 eksemplar Koran yang dijual di sore hari. Paling bayak, hanya laku 40eksemplar saja. Tapi lumayan, setidaknya, bisa untuk makan keluarganya hari ini.***“Assalamualaikum, Mak..”Setelah berjualan Koran, ia baru pulang kerumah.“Waaalaikumsalam..kok malam Sri?” Emaknya melirik jam dinding tua yangmenempel di sudut tembok.“Iya, tadi Koran Sri laku banyak, Mak..” Ia menjelaskan.
 
“Alhamdulilah..ya sudah, sekarang makan dulu ya..”Emaknya menyiapkan sebakul nasi lengkap dengan ikan teri dan sambelan dicobek retak yang dihidangkan di meja makan.“Wah, Emak dapat uang banyak ya? Makannya ikan!” Sri mencoba menebak.Emaknya tersenyum“Ikan apa? Ini kan teri!”“Tapi tetap ikan, Mak…bergizi, kalsiumnya tertinggi kedua setelah susu skimloh!” kilahnya, Emaknya tertawa kecil tapi juga menyimpan kesedihan mendalam untuk putri sulungnya itu.Meski tidak menampakkan kegundahannya, Emak Sri tahu bahwa ada yangdisembunyikan buah hatinya itu. Tapi, ia tidak berani menanyakannya, karena pastihanya akan membuat sakit hati. Apalagi kalau tidak berhubungan dengan uang.“Tadi nyuci dimana saja, Mak?”“Bu Kaji Romlah, sama Pak Arfat,” jawab Mak sembari menyuapi,Asih yang jugaada dipangkuannya.Emak Sri bekerja sebagai buruh cuci, tapi kali ini merangkap jadi pembatu rumahtangga di rumah Bu kaji Romlah karena kebutuhan yang harus dipenuhi juga melonjak.“Loh, Sita mana?” Sri menanyakan adiknya yang masih duduk di bagku SD. Iatidak melihat Sita sama sekali semenjak kepulangannya tadi.“Sita? Masih dirumah Bu Giono, ada les gratis disana,” kali ini, Emaknyamembereskan meja makan lapuk itu dan membawa piring-piring kotor ke dapur.“Saya cuciin, Mak..”“Ndak usah, kamu belajar saja..”Sri menurutinya dan segera beranjak ke kamarnya, sebuah kamar kecil denganlampu tempel yang tergantung agak jauh dari kasurnya, menghindari kebakaran.Mungkin penerangannya tidak memadai, karena Emaknya tidak bisa membayar rekeninglistrik sejak beberapa tahun yang lalu, maka ia harus menggunakan lampu tempel sebagaipenerangan.“Uhuk..Uhuk….” Emaknya batuk-batuk, Sri yang mendengarnya terkejut.“Mak sakit?” Tanya Sri khawatir.“Sakit? Tidak, batuk biasa..” Emaknya mengelak.“Sri saja yang nyuci ya, Mak?”“Sudah selesai kok, nduk…”Mengetahui tidak ada yang perlu dikerjakan lagi, Sri pun kembali ke kamar.***Tok..Tok..Terdengar pintu diketuk.Sita dan Sri sudah berangkat ke sekolah, maka Emaklah yang membukakan pintu.“Permisi..”“Iya? Nyari siapa, mas?”“Ibu Temi ya? Ini saya menyampaikan SP dari
 Dens Real Estate
yang akanmengosongkan bangunan diatas tanah ini, karena tanah ini diklaim milik keluarga Pak Ropik,” Pria berbaju coklat itu menjelaskan secara singkat isi dari Surat Peringatantersebut.“Iya, saya Temi, anaknya Pak Ropik,” sahut Emak heran, Bapaknya memangmenikah lagi dengan wanita lain setelah ibu kandungnya meninggal. Dan ternyata, ibu
 
tirinya itu memanipulasi warisan yang seharusnya atas nama Emak menjadi beralihpadanya setelah kematian orang tua terakhirnya itu“Tapi,ini memang hak saya, Mas..Bapak mewariskan tanah ini kepada saya!”Mata Wanita paruh baya itu berkaca-kaca.Kurir yang tampak tak tahu menahu mengenai harta warissan itupun bingung.“Saya tidak tahu, Bu..saya cuma menyampaikan..” kemudian ia pamit darihadapan Emak.“Ya Allah, cobaan apalagi ini? Kami harus tinggal dimana, Gusthi….” Emak terisak, Asih yang tidak tahu apa-apajga ikut menangis menyerap kesedihan Emaknya.***Emak kini harus megerjakan pekerjaan yang menumpuk dirumah Bu KajiRomlah, masih dengan perasaan tidak enak, berpikir keras bagaimana supaya ia tidak tergusur dari gubuknya. Meski kecil dan tua, tapi gubuk itu menyimpan kenanganmendalam, sejak awal pernikahannya dengan almarhum suaminya, Emak sudahmenempati gubuk tersebut.“Bu, kok melamun? Gosong nanti masakannya!” hardik Bu Kaji Romlah. Emak tersadar dan meminta maaf akan kelalaiannya.“Oya, Bu, tolong buatkan teh! ada tamu,”
 Nggih
, Bu..”Dengan segera,Teh yang diminta telah tersedia. Emak pun mengantarkan ke ruangtamu.Secara tidak sengaja, |Emak medengarkan pembicaraan Bu Romlah dengan tamuyang merupakan dokter pribadinya itu.“Apa, Dok? Cangkok ginjal?! Ginjal siapa?” Bu Romlah tak habis pikir.Dokter juga mengernyitkan alis.“Kita cari donor ginjal, Bu..”“Siapa yang mau hidup tanpa ginjal?” Bu Romlah menyangsikan solusi doktertadi.“Impor dari Cina, Bu..tapi..”“Tapi apa |Dok? Bagaimana nasib saya?”“Ginjalnya sedang habis stoknya, kita harus menunggu,” jelas sang dokter.“Menunggu? Menunggu sampai saya mati?”“Ibu pasang poster di internet saja, mencari pendonor, beri hadiah, Bu!”“Hadiah?”“Iya, katakanlah 200 juta!”Emak tersentak mendengar kata-kata yang terakhir tadi.Uang!Itu yang sedang ia butuhkan.Untuk biaya hidup anaknya!Untuk membeli kembali tanahnya!“Ya sudah, saya berani bayar berapapun asal ada yang mau donor, pasang saja500 juta! Pokoknya sesegera mungkin!” perintah Bu Romlah, dokter pribadinya itumanggut-manggut setuju.“Bu, permisi, ini tehnya,” Emak menyodorkan dua cangkir teh manis ke hadapanmereka.“Oh, makasih,”

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

Shei Latiefahleft a comment

Wah, maksih kak Phie...Sering2 baca cerita Shei y! Pisss

Phieleft a comment

Wah, ceritamu bagus sekali Shei... salut.