Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
7Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Ratings: (0)|Views: 1,005|Likes:
Published by tuginobnyms
Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model Pembelajaran Berbasis Masalah

More info:

Published by: tuginobnyms on May 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/15/2014

pdf

text

original

 
Model Pembelajaran Berbasis Masalah
 a.
Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Ada berbagai cara untuk mengaitkan konten dengan konteks, salah satunya adalah melaluipembelajaran berbasis masalah (
Problem Based Learning 
). Model ini juga dikenal dengan namalain seperti
project based teaching, experienced based education 
, dan
anchored 
 
instruction 
(Ibrahim dan Nur, 2004). Pembelajaran ini membantu pebelajar belajar isi akademik danketerampilan memecahkan masalah dengan melibatkan mereka pada sistuasi masalahkehidupan nyata.Pembelajaran berbasis masalah diturunkan dari teori bahwa belajar adalah proses dimanapembelajar secara aktif mengkontruksi pengetahuan (Gijselaers, 1996). Psikologi kognitifmodern menyatakan bahwa belajar terjadi dari aksi pembelajar, dan pengajaran hanya berperandalam memfasilitasi terjadinya aktivitas kontruksi pengetahuan oleh pembelajar. Pembelajarharus memusatkan perhatiannya untuk membantu pembelajar mencapai keterampilan
self directed learning 
.
Problem based learning 
sebagai suatu pendekatan yang dipandang dapat memenuhi keperluanini
(Schmidt, dalam Gijselaers, 1996).
Masalah-masalah disiapkan sebagai stimuluspembelajaran. Pembelajar dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, dan pembelajarhanya berperan memfasilitasi terjadinya proses belajar dan memonitor proses pemecahanmasalah.Dalam masyar
kat pendidikan sains tampaknya ada semacam kesepakatan bahwapeman sains perlu ditingkatkan pada fungsi efektifnya dalam masyarakat demokratis untukmemecahkan masalah-masalah seperti, keseimbangan industri dan lingkungan, penggunaanenergi nuklir, kesehatan dan lain-lain (Gallaher, et al, 1995). Oleh karena itu pendidikansains tidak hanya ditujukan untuk peman konten dan proses sains, tetapi juga memi dampaksains pada masyarakat. Menghadapkan pembelajar pada masalah-masalah nyata sehari-harimerupakan salah satu cara mencapai tujuan ini. Allen, Duch, dan Groh (1996)mengemukakan pertimbangan penerapan PBL dalam pendidikan sain seperti berikut :
Kontekstual 
.
Dalam pembelajaran berbasis masalah pebelajar memperolehpengetahuan ilmiah dalam konteks dimana pengetahuan itu digunakan. Pebelajar akanmempertahankan pengetahuannya dan menerapknanya dengan tepat bila konsep-konsepyang mereka pelajari berkaitan dengan penerapannya. Dengan demikian pembelajar akanmenyadari makna dari pengetahuan yang mereka pelajari.
Belajar untuk belajar (learningf to learn 
)
. Pengetahuan ilmiah, berkembang secaraeksponential, dan pebelajar perlu belajar bagaimana belajar dan dalam waktu yang samamempraktekkan kerja ilmiah melalui karier mereka. Pembelajaran berbasis masalahmembantu pembelajar mengidentifikasi informasi apa yang diperlukan, bagaimana menataSetelah mempelajari materi ini, pebelajar akan dapat:a. Menjelaskan pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalahb. Mengidentifikasi karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah.c. Mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalahd. Menjelaskan tujuan dan hasil belajar Model Pembelajaran Berbasis Masalahe. Menjelaskan landasan teoretik Model Pembelajaran Berbasis Masalahf. Menunjukkan sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalahg. Memilih jenis asesmen Model Pembelajaran Berbasis Masalahh. Menyusun rencana pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Masalah203
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
 
Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 
informasi itu kedalam kerangka konseptual yang bermakna, dan bagaimanamengkomunikasikan informasi yang sudah tertata itu kepada orang lain.
Doing Science 
.
Pembelajaran berbasis masalah menyediakan cara yang efektif untukmengubah pembelajaran sains abstrak ke konkrit. Dengan memperkenalkan masalahmasalahyang relevan pada awal pembelajaran, pembelajar dapat menarik perhatian danminat pembelajar dan memberikan kesempatan pada mereka untuk belajar melaluipengalaman.
Bersifat interdisiplin 
. Penggunaan masalah untuk memperkenalkan konsep jugamenyediakan mekanisme alamiah untuk menunjukkan hubungan timbal balik antar matapelajaran. Pendekatan ini menekankan integrasi prinsip-prinsip ilmiah.b.
Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Para pengembang pembelajaran berbasis masalah
(Ibrahim dan Nur,2004)
telahmendeskripsikan karaketeristik model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut.
Pengajuan pertanyaan atau masalah
. Pembelajaran berbasis masalah dimulaidengan pengajuan pertanyaan atau masalah, bukannya mengorganisasikan disekitarprinsip-prinsip atau keterampilan-keterampilan tertentu. Pembelajaran berbasis masalahmengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan atau masalah yang kedua-duanyasecara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi pebelajar. Mereka mengajukansituasi kehidupan nyata autentik untuk menghindari jawaban sederhana, danmemungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk sitausi itu.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
Meskipun PBL mungkin berpusat padamata pelajaran tertentu. Masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya,pebelajar meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan autentik
. Model pembelajaran berbasis masalah menghendakipebelajar untuk melakukan pennyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyataterhadap masalah nyata. Mereka harus menganalsis dan mendefinisikan masalahmengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalsisinformasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskankesimpulan
Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
. PBL menuntut pebelajar untukmenghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yangmenjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Bentuktersebut dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Karya nyataitu kemudian didemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang telahmereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional ataumakalah.
Kerjasama.
Model pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh pebelajar yangbekerjasama satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.Bekerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugaskompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untukmengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.c.
Prinsip-Prinsip dalam Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah secara khusus melibatkan pebelajar bekerja padamasalah dalam kelompok kecil yang terdiri dari lima orang dengan bantuan asisten sebagaitutor. Masalah disiapkan sebagai konteks pembelajaran baru. Analisis dan penyelesaian
 
terhadap masalah itu menghasilkan perolehan pengetahuan dan keterampilan pemecahanmasalah. Permasalahan dihadapkan sebelum semua pengetahuan relevan diperoleh dantidak hanya setelah membaca teks atau mendengar ceramah tentang materi subjek yang204
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 
melatarbelakangi masalah tersebut. Hal inilah yang membedakan antara PBL dan metodeyang berorientasi masalah lainnya.Tutor berfungsi sebagai pelatih kelompok yang menyediakan bantuan agar interaksipebelajar menjadi produktif dan membantu pebelajar mengidentifikasi pengetahuan yangdibutuhkan untuk memecahkan masalah. Hasil dari proses pemecahan masalah itu adalah,pebelajar membangun pertanyaan-pertanyaan (isu pembelajaran) tentang jenis pengatahuanapa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah? Setelah itu, pebelajar melakukanpenelitian pada isu-isu pembelajaran yang telah diidentifikasi dengan menggunakanberbagai sumber. Untuk ini pebelajar disediakan waktu yang cukup untuk belajar mandiri.Proses PBL akan menjadi lengkap bila pebelajar melaporkan hasil penelitiannnya (apa yangdipelajari) pada pertemuan berikutnya. Tujuan pertama dari paparan ini adalah untukmenunjukkan hubungan antara pengetahuan baru yang diperoleh dengan masalah yang adaditangan pebelajar. Fokus yang kedua adalah untuk bergerak pada level pemahaman yanglebih umum, membuat kemungkinan transfers pengetahuan baru. Setelah melengkapi sikluspemecahan masalah ini, pebelajar akan memulai menganalisis masalah baru, kemudiandiikuti lagi oleh prosedur:
analisis- penelitian- laporan.
d.
Tujuan dan Hasil Belajar Model Pembelajaran Berbasis Masalah
1) Keterampilan Berpikir dan Keterampilan Memecahkan MasalahPembelajaran berbasis masalah ditujukan untuk mengembangkan keterampilanberpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak sama denganketerampilan yang berhubungan dengan pola-pola tingkah laku rutin.
Larson (1990)
dan Lauren
Resnick (Ibrahim dan Nur, 2004)
menguraikan cirri-ciri berpikir tingkattinggi seperti berikut :

tidak bersifat algoritmik (
noalgoritmic)
, yakni alur tindakan tidak sepenuhnyadapat ditetapkan sebelumnya,

cenderung kompleks, keseluruihan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudutpandang,

seringkali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan dankerugian, dari pada yang tunggal,

melibatkan pertimbangan dan interpretasi,

melibatkan banyak kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain,

seringkali melibatkan ketidakpastian. Tidak selalu segala sesuatu yangberhubungan dengan tugas diketahui,

melibatkan pengaturan diri (self regulated) tentang proses berpikir,

melibatkan pencarian makna menemukan struktur pada keadaan yangtampaknya tidak teratur,

berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar,besaran saat melakukan elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan.Keterampilan-keterampilan berpikir tingkat tinggi ini dapat diajarkan
(Costa, 1985).
Kebanyakan program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini amat mendasarkan

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Sofyan Sulaiman liked this
Widya Lestari liked this
Chmelo PheZz liked this
Chmelo PheZz liked this
Mei Sigit liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->