Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Upaya Penegakan Hukum

Upaya Penegakan Hukum

Ratings: (0)|Views: 374 |Likes:
Published by Wahid Abdulrahman

More info:

Published by: Wahid Abdulrahman on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

 
Upaya Penegakan Hukum : Pembentukan Budaya Hukum Atas Dasar KeadilanDikirim oleh : Doni Kandiawan, SH, 09-06-2008PENDAHULUANBerbicara mengenai upaya penegakan hukum, sama artinya dengan sebuah upaya untuk memahami hukum. Kendati untuk memahami hukum secara benar, kita harus mempelajariseluruh peraturan perundang-undangan yang ada maupun bagaiman upaya penegakan hukumitu sendiri di masyarakat. Seringkali kita memahami hukum dengan hanya melihat bagaimanaupaya penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dan dengan hanyamelihat kondisi hukum yang terjadi saat ini. Sehingga selalu saja yang disalahkan adalahhukum i
tu sendiri atau aparat penegak hukumnya yang ”tidak becus” menegakkan hukum.
Pandangan ini muncul karena kita melihat dan memahami hukum hanya dari dua sisitersebut, dan hal ini seringkali menjadikan kita cenderung apatis dan pesimis dengan hukumyang berlaku sekarang. Namun bagaimana dengan masyarakatnya sendiri, apakah budayahukumnya juga sudah tinggi?Padahal salah satu unsur yang cukup penting dalam penegakan hukum adalah unsurmanusianya sendiri, yaitu aspek kesadaran hukum. Karena ketika kita berbicara unsurmanusia dari aspek kesadaran hukum masyarakatnya, maka kita mencoba memahami danmenyoroti segi manusia individunya yang membentuk budaya hukumnya. Di sinilah kitaharus bicara soal mental, akhlak, moral, etika, sebab semua itulah substansi dari seorang
individu manusia, ”the moral of the man”. Budaya hukum masyarakat yang tinggi, adalah
masyarakat yang tidak cenderung melanggar hukum walaupun tidak ada aparat hukum yangmelihatnya. Ataupun masyarakat yang tidak memanfaatkan hukum untuk mencapai tujuanbagi kepentingannya sendiri atau kelompoknya. Apalagi masyarakat yang cenderung untuk menghindari atau menyalahgunakan hukum dengan sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu yangpada akhirnya bersifat tidak adil bagi masyarakat lainnya. Sehingga tegaknya hukum ditengah masyarakat memerlukan tegaknya keadilan. Melukai rasa keadilan terhadap sebagianmasyarakat dapat berakibat rusaknya tatanan dan kestabilan bagi masyarakat keseluruhankarena rasa keadilan adalah unsur fitrah sejak lahir bagi seorang manusia.Disinilah faktor kesadaran hukum masyarakat itu sangat memegang peranan penting dalamupaya penegakan hukum itu sendiri, karena persfektif inilah yang perlu ditata agar supremasihukum di negeri ini dapat berjalan. Relevansi penegakan hukum dalam perspektif penegakankeadilan sebagai bagian dari kesadaran hukum masyarakat, merupakan upaya alternatif atasketidakpercayaan kita terhadap hukum positif dan aparat penegak hukumnya yang merupakanmainstream dari pandangan legalistik. Sehingga ketika kita berbicara hukum dalam persfektif keadilan, kita berada dalam wilayah etika atau moralitas dan tidak membahas masalah-masalah hukum dalam arti sempit. Bagaimana hukum positif dibuat, dan apakah hukumpositif yang dibuat telah merepresentasikan dari unsur rasa keadilan masyarakat, sertamentalitas aparatur hukum yang menegakkan hukumnya?Penegakan hukum legalistik dan rasa keadilan masyarakatPerlunya rasa keadilan masyarakat dalam penegakan hukum terlihat dari apa yangdiungkapkan oleh Zudan Arif Fakrullah, ba
hwa ”Penegakan hukum merupakan pusat dariseluruh “aktivitas kehidupan” hukum yang dimulai dari perencanaan hukum, pembentukan
hukum, penegakan hukum dan evaluasi hukum. Penegakan hukum pada hakikatnya
 
merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia yang mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah disepakati bersama. Oleh karenaitu, penegakan hukum tidak dapat semata-mata dianggap sebagai proses menerapkan hukumsebagaimana pendapat kaum legalistik. Namun proses penegakan hukum mempunyai dimensiyang lebih luas daripada pendapat tersebut, karena dalam penegakan hukum akan melibatkandimensi perilaku manusia. Dengan pemahaman tersebut maka kita dapat mengetahui bahwaproblem-problem hukum yang akan selalu menonjol adala
h problema “law in action” bukan pada “law in the books”.
 Sehingga pengadilan yang merupakan representasi utama dari wajah penegakan hukumdituntut untuk tidak hanya mampu melahirkan kepastian hukum, melainkan pula keadilan,kemanfaatan sosial dan pemberdayaan sosial melalui putusan-putusan hakimnya. Karenadengan adanya kegagalan lembaga peradilan dalam mewujudkan tujuan hukum diatas telahmendorong meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pranata hukum danlembaga-lembaga hukum.Dalam pikiran para yuris, proses peradilan sering hanya diterjemahkan sebagai suatu prosesmemeriksa dan mengadili secara penuh dengan berdasarkan hukum positif semata-mata.Pandangan yang formal legistis ini mendominasi pemikiran para penegak hukum, sehinggaapa yang menjadi bunyi undang-undang, itulah yang akan menjadi hukumnya. Kelemahanutama pandangan ini adalah terjadinya penegakan hukum yang kaku, tidak diskresi dancenderung mengabaikan rasa keadilan masyarakat karena lebih mengutamakan kepastianhukum. Proses mengadili
 – 
dalam kenyataannya
 – 
bukanlah proses yuridis semata. Prosesperadilan bukan hanya proses menerapkan pasal-pasal dan bunyi undang-undang, melainkanproses yang melibatkan perilaku-perilaku masyarakat dan berlangsung dalam struktur sosialtertentu. Penelitian yang telah dilakukan oleh Marc Galanter di Amerika Serikat dapatmenunjukkan bahwa suatu putusan hakim ibaratnya hanyalah pengesahan saja darikesepakatan yang telah dicapai oleh para pihak. Dalam perspektif sosiologis, lembagapengadilan merupak 
an lembaga yang multifungsi dan merupakan tempat untuk “recordkeeping”, “site of administrative processing”, “ceremonial changes of status”, “settlementnegotiation”, “mediations and arbitration”, dan warfare.
 Salah satu masalah yang dihadapi bangsa ini adalah tidak adanya kepastian hukum. Belumterciptanya law enforcement di negeri ini terpotret secara nyata dalam lembaga peradilan.Media masa bercerita banyak tentang hal ini, mulai dari mafia peradilan, suap ke hakim,pengacara tidak bermoral sampai hukum yang berpihak pada kalangan tertentu. Yang padaakhirnya perhatian masyarakat terhadap lembaga-lembaga hukum telah berada pada titik nadir. Hampir setiap saat kita dapat menemukan berita, informasi, laporan atau ulasan yangberhubungan dengan lembaga-lembaga hukum kita. Salah satu permasalahan yang perlumendapat perhatian kita semua adalah merosotnya rasa hormat masyarakat terhadap wibawahukum. Ungkapan-ungkapan ini merupakan reaksi dari rasa keadilan masyarakat yangterkoyak karena bekerjanya lembaga-lembaga hukum yang tidak profesional maupun putusanhakim/putusan pengadilan yang semata-mata hanya berlandaskan pada aspek yuridis.Berlakunya hukum di tengah-tengah masyarakat, mengemban tujuan untuk mewujudkankeadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan dan pemberdayaan sosial bagi masyarakatnya.Untuk menuju pada cita-cita pengadilan sebagai pengayoman masyarakat, maka pengadilanharus senantiasa mengedepankan empat tujuan hukum di atas dalam setiap putusan yang
 
dibuatnya. Hal ini sejalan dengan apa yang m
enjadi dasar berpijaknya hukum yaitu “hukumuntuk kesejahteraan masyarakat”. Dengan demikian, pada akhirnya tidak hanya dikatakan
sebagai Law and Order (Hukum dan Ketertiban) tetapi telah berubah menjadi Law, Order danJustice (Hukum, Ketertiban / ketentraman, dan Keadilan). Adanya dimensi keadilan danketentraman yang merupakan manifestasi bekerjanya lembaga pengadilan, akan semakinmendekatkan cita-cita pengadilan sebagai pengayom masyarakat.Hakim atau aparat penegak hukum seringkali "bermain dengan peraturan dan prosedur".Hukum bukan dijalankan demi mencapai kesejahteraan dan keadilan, melainkan demimencapai keadilan yang diinginkan oleh penegak hukum itu sendiri dan terdakwa di atasdalih hukum tertulis.Padahal hukum, mengutip pendapat Satjipto Rahardjo (2003), bukanlah proyek dokumenkertas, tetapi proyek kultural dan antropologis yang memiliki roh keadilan. Karena itu,membaca dan memahaminya sebagai kalimat-kalimat yang kering, linear, dan masial bisamembawa malapetaka. Logika keadilan tidak segera bisa ditemukan dengan membacaperaturan, tetapi dibutuhkan suatu perenungan dan pemahaman lebih dalam terhadap apayang tertulis. Sebab, di balik hitam-putihnya peraturan hukum adalah semangat - roh -, yaitukeadilan yang menjadi misi utama hukum, yang disebut sebagai nurani hukum.Di sinilah bahwasanya dalam menjalankan dan mempraktekkan hukum tidak sama denganmenerapkan huruf-huruf peraturan begitu saja, tetapi berusaha mencari dan menemukanmakna sebenarnya dari suatu peraturan tertulis. Sehingga, putusan yang diambil benar-benarmerupakan putusan yang bernurani dan obyektif. Sebagaimana kata Paul Schoten, guru besarhukum di Belanda, hukum memang ada dalam undang-undang, tetapi masih harus ditemukan.Sebab, hukum bukanlah buku telepon yang hanya memuat daftar peraturan dan pasal, tetapisesuatu yang sarat dengan makna dan nilai.Putusan-putusan hukum yang hanya bertolak dari apa yang tertera dalam peraturan tertulis,umumnya menghasilkan putusan yang kering, kurang bernurani dan tidak bernilai moral.Sehingga, hasilnya kerap mengecewakan banyak pihak.Menurut pendapat Satjipto Rahardjo, keadilan pun tidak lagi mirip orang buta yang selaluterantuk pada bebalnya sistem kekuasaan serta bobroknya mental kalangan aparatur negaradan penegak hukum. Artinya, sistem dan perangkat pendukungnya telah lapuk untuk pedulipada nurani apabila membela kepentingan rakyat. Negara dan aparaturnya pun tidak sepertiyang dikatakan oleh filsuf Nietzsche, ibarat monster yang paling dingin dari yang terdinginkarena beroperasi dengan mencuri harta kekayaan penduduk dengan bermacam alasan.Hingga kini proses penegakan hukum masih buram. Hal ini terjadi akibat proses panjangsistem politik masa lalu yang menempatkan hukum sebagai subordinasi politik. Sistemperadilan yang tidak independen dan memihak dengan dalih dan banyaknya kepentingan.Reformasi hukum yang dilakukan hingga kini belum menghasilkan keadilan bagi seluruhmasyarakat. Keadilan masih dibayangi oleh kepentingan dan unsur kolusi para aparatpenegak keadilan dinegeri yang ber-keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia ini.Sehingga intervensi terhadap hukum masih belum dapat dihindari. Hal ini mempengaruhimentalitas penegak hukum. Padahal mentalitas yang bermoral adalah kekuatan penegak hukum sebagai dasar dari profesionalismenya. Moral dan keberanian dalam menegakansupremasi hukum masih minim dimiliki oleh penegak hukum di Indonesia. Sehingga banyak kasus-kasus hukum diselesaikan tetapi tidak memuaskan pelbagai pihak atau pun merugikan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->