Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
makalah upaya hukum

makalah upaya hukum

Ratings: (0)|Views: 2,882|Likes:
Published by Wahid Abdulrahman

More info:

Published by: Wahid Abdulrahman on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

 
BAB IIPEMBAHASAN
Suatu putusan hakim tidak luput dari kekeliruan atau kekhilafan, bahkantidak mustahil bersifat memihak. Maka oleh karena itu demi kebenaran dankeadilan setiap keputusan hakim perlu dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar kekeliruan atau kekhilafan yang terjadi pada putusan dapat diperbaiki. Bagi setiap putusan hakim pada umumnya tersedia upaya hukum, yaitu upaya atau alat untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam suatu putusan (SudiknoMertokusumo, 1982:232).Dalam hukum acara perdata terhadap upaya hukum dapat di bagi menjadiupaya hukum biasa berupa perlawanan (
verzet 
), banding (
revisi
) dan kasasi(
cassatie
) dan upaya hukum luar biasa yang dapat berupa
 peninjauan kembali (PK)
dan
derden verzet (verzet door darden)
.
A.BANDING1.Landasan Hukum Banding
Sebenarnya banding dalam perkara perdata dan pidana berbeda peraturannya. Acara banding dalam perkara pidana pada awalnya diatur dalam pasal350-356 HIR yang kemudian dicabut oleh Stb. 1932 No. 460 jo 580, sehinggahanya tinggal ketentuan yang diatur dalam
 Reglement op de strafvordering voor deraden van justitie op java en het hooggerechtshof van indonesia
(pasal 282 dst.)serta Rbg pasal 660. Sekarang hal banding dalam perkara pidana diatur dalamKUHAP pasal 67, 87, 233-243 KUHAP.Sedangkan banding dalam perkara perdata diatur dalam pasal-pasal 188-194HIR. Tetapi dengan adanya pasal 3 jo 5 UU darurat no. 1 tahun 1951 pasal-pasal itusudah tidak berlaku lagi dan yang sekarang berlaku ialah undang-undang RI tahun1947 no. 20 untuk Jawa dan Madura. Sedangkan untuk daerah luar Jawa danMadura ialah Rbg pasal 199-205. Jadi dasar hukumnya adalah UU no. 4/2004tentang perubahan atas undang-undang pokok kekuasaan dan UU no.20/1947tentang peradilan ulangan.
2.Alasan Permohonan Banding
Adapun alasan-alasan seseorang dapat mengajukan permohonan bandingdiantaranya adalah:a.Apabila salah satu pihak dalam suatu perkara tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama karena merasa hak-haknya terserang olehadanya putusan itu. b.Menganggap putusan itu kurang benar atau kurang adil.Asas peradilan ini bersandarkan pada keyakinan bahwa putusan pada tingkat pertama belum tentu tepat atau benar sehingga perlu pemeriksaan ulang oleh pengadilan yang lebih tinggi. Dalam hal ini yang berwenang adalah pengadilantinggi untuk menelitti apakah pemeriksaan perkara tersebut telah dilakukan menurutcara yang ditentukan UU dengan cukup teliti, dan juga pengadilan tinggi berwenanguntuk memeriksa putusan dan mengambil sikap atas putusan-putusan tersebutseperti:
1
 
a.Dalam hal putusan dianggap telah benar, putusan pengadilan tingkat pertama akan dikuatkan. b.Dalam hal putusan dianggap salah, putusan akan dibatalkan dan pengdailantinggi akan memberi putusan lain.c.Dalam hal putusan yang kurang tepat, maka pengadilan tinggi akanmemperbaiki putusan sebelumnya.
3.
Prosedur Pengajuan Banding
Putusan yang bisa dimintakan banding hanya putusan pengadilan negerimengenai perkara yang harga gugatnya hanya lebih dari Rp.100,- saja. Hal inisesuai pasal 6 UU 1947 no. 20 bahwasannya “
dari putusan-putusan pengadilannegeri di jawa dan madura tentang perkara perdata, yang diternyata bahwabesarnya harga gugat ialah seratus rupiah atau kurang, oleh salah satu dari pihak- pihak (partizen) yang berkepentingan dapat diminta, supaya pemeriksaan pertamadiulangi oleh pengadilan tinggi yang berkuasa dalam daerah hukum masing-masing 
” (komentar HIR, 2005:170).Jadi dapat dikatakan hampir semua putusan (bukan
declaratoir 
) Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding. Maksud pihak yang berkepentinganadalah pihak yang oleh putusan pengadilan tingkat pertama dikalahkan dan juga jika ada gugat asal dan gugat balik yang di dalamnya ada pihak yang dikalahkanmaka pihak tersebut dapat mengajukan permohonan banding (Retnowulan Sutantio,Iskandar Oeripkartawinata, 2009:151).Sedang dalam perkara pidana, permintaan banding dapat diajukan ke pengadilan tinggi oleh terdakwa atau yang khusus dikuasakan untuk itu atau penunttut umum (pasal 67 KUHAP). Permintaan banding dalam perkara pidana inidapat diterima oleh panitera pengadilan negeri dalam waktu tujuh hari sesudah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir sebagaiman dimaksud dalam pasal 196 ayat 2 KUHAP.Permohonan banding dapat diterima jika diajukan dalam tenggang waktu 14hari terhitung mulai berkutnya hari pengumuman putusan kepada yang berkepentingan. Hal ini sesuai dengan pasal 7 ayat 1 UU no. 20 tahun 1947
 permintaan untuk pemeriksaan ulangan harus disampaikan dengan surat ataudengan lisan oleh peminta atau wakilnya, yang sengaja dikuasakan untumengajukan permintaan itu, kepada panitera pengadilan negeri, yang menjatuhkan putusan dalam empat belas hari, terhitung mulai hari berikutnya hari pengumuman putusan kepada yang berkepentingan
.”Untuk mengajukan permohonan banding pihak yang bersangkutan terlebihdahulu harus membayar biaya permohonan banding kepada pengadilan negeri.Besarnya biaya tersebut ditaksir oleh panitera Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Jika pemohon banding adalah orang yang tidak mampu maka harusdibuktikan dengan surat dari kepala desa. Hal ini sesuai dengan pasal 7 (3) UU no.20 tahun 1947 bahwasannya “
 jika ada permintaan akan pemeriksaan ulangan tidak dengan biaya maka tempo itu dihitung mulai hari berikutnya hari pemberitahuan putusan pengadilan tinggi atas permintaan tersebut kepada ketua pengadilannegeri.
2
 
Biaya perkara banding untuk pengadilan tinggi harus disampaikan melalui bank pemerintah atau kantor pos, dan tanda bukti pengiriman uang harus dikirim bersamaan dengan pengiriman berkas yang bersangkutan. Dalam menentukan biaya banding harus diperhitungkan:a.Biaya pencatatan pernyataan banding, b.Besarnya biaya banding yang ditetapkan oleh ketua pengadilan tinggi,c.Biaya pengiriman uang melalui bank/kantor pos,d.ongkos kirim berkas,e.biaya pemberitahuan berupa:(1)Biaya pemberitahuan akta banding.(2)Biaya pemberitahuan memori banding.(3)Biaya pemberitahuan kontra memori banding.(4)Biaya pemberitahuan memeriksa berkas bagi pembanding danterbanding.(5)Biaya pemberitahuan bunyi putusan bagi pembanding dan terbanding.Pasal 10 uu no. 20 tahun 1947 menyatakan “(1)
 permintaan pemeriksaanulangan yang dapat diterima, dicatat oleh panitera pengadilan negeri di dalamdaftar.
(2)
 panitera memberitahukan hal itu kepada pihak lawan yang minta pemeriksaan ulangan
.” Jadi sudah jelas dalam hal ini panitera harus memberitahu pihak terbanding supaya siap-siap juga menyiapkan kontra memori bandingnya.Begitupun KUHAP mengatur tentang kewajiban panitera perkara pidan untuk memberitahukan kepada pihak-pihak terkait tentang adanya permintaan bandingyang diatur dalam pasal 233.Setelah satu pihak menyatakan naik banding dan dicatat oleh panitera, maka pihak lawan diberitahu panitera tentang permintaan banding itu selambat-lambatnya14 hari setelah permintaan banding diterima dan kedua belah pihak diberikesempatan untuk melihat surat-surat dan berkasnya di pengadilan negeri selama 14hari sesuai dengan pasal 11 ayat 1 uu no. 20 tahun 1947, 202 Rbg (SudiknoMertokusumo, 1998:235).Surat-surat termaksud adalah memori banding yang harus dipelajari oleh pihak terbanding sehingga bisa menjawabnya dengan kontra memori banding.Memori banding harus memuat alasan-alasan pembanding menganggap bahwa putusan pengadilan tersebut adalah salah. Akan tetapi hal ini tidak merupakansyarat mutlak asalkan syarat-syarat lain yang ditentukan UU terpenuhi. Kedua belah pihak boleh memasukkan surat keterangan dan bukti-bukti baru.Setelah pemeriksaan di panitera Pengadilan Negeri selesai, maka surat pemeriksaan harus dikirim ke Pengadilan Tinggi selambat-lambatnya 7 hari setelah pemeriksaan selesai (pasal 13 UU no.20 tahun 1947). Dalam perkara pidanaselambat-lambatnya dalam waktu 14 hari setelah permintaan banding diajukan, panitera mengirimkan berkas-berkas ke pengadilan tinggi. Selama 7 hari sebelum pengiriman berkas perkara ke pengadilan tinggi, pemohon banding wajib diberikesempatan untuk mempelajari berkas perkara tersebut di pengadilan negeri.Menurut pasal 15 ayat 1 uu no 20 tahun 1947 dan pasal 238 KUHAP, pengadilan tinggi dalam pemeeriksaan ulangan, memeriksa dan memutuskandengan tiga hakim, jika dipandang perlu dengan mendengar sendiri kedua belah pihak atau saksi. Ayat ini dirubah oleh pasal 2 undang-undang darurat no. 11 tahun
3

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Abrian Rahmat liked this
Putra Sandewa liked this
Semula Jadi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->