Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pendidikan karakter

pendidikan karakter

Ratings: (0)|Views: 192|Likes:
Published by Sri Musalifah

More info:

Published by: Sri Musalifah on May 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/16/2013

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona,tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya punharus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masadepan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macamtantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapipada karakter, yaitu:1.
 
rasa percaya diri,2.
 
kemampuan bekerja sama,3.
 
kemampuan bergaul,4.
 
kemampuan berkonsentrasi,5.
 
rasa empati,6.
 
kemampuan berkomunikasi.Keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasanemosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yangmempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergauldan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihatsejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa.Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akanterhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran,narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Banyak orang tua yang gagal dalammendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkanaspek kognitif anak.
Karakter dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangannya
 Karakter didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pihak. kualitas karaktermeliputi sembilan pilar, yaitu(1)
 
Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;(2)
 
Tanggung jawab, Disiplin dan Mandiri;(3)
 
Jujur/amanah dan Arif;(4)
 
Hormat dan Santun;(5)
 
Dermawan, Suka menolong, dan Gotong-royong;(6)
 
Percaya diri, Kreatif dan Pekerja keras;(7)
 
Kepemimpinan dan adil;(8)
 
Baik dan rendah hati;(9)
 
Toleran, cinta damai dan kesatuan.
 
Karakter, seperti juga kualitas diri yang lainnya, tidak berkembang dengan sendirinya.Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) danfaktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusiamemiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensiyang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Sosialisasi dan pendidikan anak yangberkaitan dengan nilai-nilai kebajikan - baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yanglebih luas - sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.Jika sosialisasi dan pendidikan (faktor nurture) sangat penting dalam pendidikankarakter, maka pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Karakter merupakankualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan(fitrah - nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan
 – 
nurture). Potensi karakter yangbaik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibinamelalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.
Pembinaan Karakter Anak yang Dilakukan oleh Keluarga
 
Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan seorang anak adalah mengembangkanpemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama
seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari ”aturan main” segala aspek yang
ada di dunia ini. Sebagai contoh, anak harus belajar memahami bahwa setiap benda memilikihukum tertentu (hukum-hukum fisika), seperti : benda akan jatuh ke bawah, bukan ke atasatau ke samping (hukum gravitasi bumi); benda tidak hilang melainkan pindah tempat(hukum ketetapan obyek), dll. Selain itu, anak juga harus belajar memahami aturan maindalam hubungan kemasyarakatan, sehingga ada hukum dan sanksi yang mengatur perilakuanggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.
Memahami ”aturan main” dalam k 
ehidupan dunia dan menginternalisasikan dalam
dirinya sehingga mampu mengaplikasikan ”aturan main” tersebut dalam kehidupan sehari
-hari dengan sebaik-baiknya merupakan tugas setiap anak dalam perkembangannya.Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, antri, tidak menyeberang jalan dan parkirsembarangan, tidak merugikan atau menyakiti orang lain, mandiri (tidak memerlukansupervisi) serta perilaku-perilaku lain - yang menunjukkan adanya pemahaman yang baik terhadap aturan sosial - merupakan hasil dari perkembangan kualitas moral dan mentalseseorang yang disebut karakter.Tentu saja kebiasaan baik atau buruk pada diri seseorang - yang mengindikasikankualitas karakter ini - tidak terjadi dengan sendirinya. Telah disebutkan bahwa selain faktornature, faktor nurture juga berpengaruh. Dengan kata lain, proses sosialisasi atau pendidikanyang dilakukan oleh keluarga, sekolah, lingkungan yang lebih luas memegang perananpenting, bahkan mungkin lebih penting, dalam pembentukan karakter seseorang. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yangberkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segaraoptimal. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro,maka semua pihak - keluarga, sekolah, media massa, komunitas bisnis, dan sebagainya - turutandil dalam perkembangan karakter anak.
a. Keluarga sebagai Wahana Pertama dan Utama Pendidikan Karakter Anak
 
 
Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuansuatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekalidalam masyarakat, sehingga jika keluarga-keluarga yang merupakan fondasi masyarakatlemah, maka masyarakat pun akan lemah. Oleh karena itu, para sosiolog meyakini bahwaberbagai masalah masyarakat - seperti kejahatan seksual dan kekerasan yang merajalela, sertasegala macam kebobrokan di masyarakat - merupakan akibat dari lemahnya institusikeluarga.Bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan danperkembangannya. F
ungsi utama keluarga adalah ”sebagai wahana untuk mendidik,
mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanyaagar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan
dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga, sejahtera”.
 Dari paparan ini dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan wahana pertama dan utamabagi pendidikan karakter anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter padaanak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah)untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibatpada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harusmemiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.
b. Aspek-aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak
 Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknyakepribadian yang baik. Ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu:1)
 
maternal bondingMaternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar pentingdalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukandasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasapercaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubunganibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagikesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain,ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.2)
 
Kebutuhan akan rasa amanKebutuhan rasa aman yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman.Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yangberubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Pengasuh yangberganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak.Normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanyaibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Kekacauan emosi anak yang terjadi karenatidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli gizi berkaitan dengan masalahkesulitan makan pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal.3)
 
Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->