Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
27Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Budidaya Tanaman Padi Dengan Sistem Surjan Di Lahan Rawa

Budidaya Tanaman Padi Dengan Sistem Surjan Di Lahan Rawa

Ratings: (0)|Views: 1,238 |Likes:
Published by Harry
Enjoy it :)
Enjoy it :)

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Harry on May 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

text

original

 
Tugas Makalah Padi dan Jagung
BUDIDAYA TANAMAN PADI DENGANSISTEM SURJAN DI LAHAN RAWA
Nama Kelompok :
Harry Sugestiadi ( 0806132041)Adi Bambang Irawan (0806134751 )Leo Noza Aguasta (0806134563)Hary Suranto ( 0806132058) Yoyon Andriadi (0806132075)
PRODI AGRONOMIFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS RIAU2010
1
 
BUDIDAYA TANAMAN PADI DENGAN SISTEMSURJAN DI LAHAN RAWA
PENDAHULUANLatar Belakang
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petaniutamanya petani padi baik pada lahan irigasi, tadah hujan,lahan kering, lahan rawa pasang surutdan rawa lebak. Namun sampai sekarang 60 % produksi nasional masih dipasok dari lahan-lahansubur di Pulau Jawa yang notabene adalah lahan irigasi. Sedangkan lahan-lahan di luar Jawaterutama lahan rawa lebak masih dipandang sebagai lahan marjinal, sehingga perhatian masihsangat kurang yang beraikbat pada produksi maupun kontribusnya masih kurang. Kedepan,nampaknya produksi beras nasional tidak akan cukup hanya dipasok dari lahan-lahan subur saja,mengingat perkembangan penduduk yang masih besar 1,5%, sementara pertanian pada tahun 2006 baru mencapai 0,89% untuk Pulau Jawa dan 1,91% untuk Luar Jawa. Sehingga upaya peningkatan produksi sebesar dua juta ton dalam program P2BN tentu akan sulit dicapai tanpa mengikutkansertakan lahan rawa lebak yang punya potensi sangat besar, tetapi pemanfatannya belum optimal(Alihamsyah dan Ar-Riza, 2004). Hal tersebut akan mejadi semakin nampak jika dikaitkan dengan berbagai kendala/masalah yang dihadapi dalam tahun-tahun terakhir. Menurut Pasaribu, 2007sedikitya ada sembilan masalah yang dihadapi:(1)Degradasi lahan dan air, luas lahan yang rusak diperkirakan sudah mencapai luas dua jutahektar akibat dari berbagai sebab, diantaranya karena salah kelola, terlanda pencemar lingkungan baik oleh penggunaan kimia pertanian yang berlebih atau buangan limbahindustri,(2)Alih fungsi lahan, tingkat kecepatannya sangat merisaukan 150.000ha/th, sementarakemampuan mencetak sawah hanya 5000-6000 ha/th,(3)Fragmentasi lahan pertanian, sebagai akibat sistem budaya membagi waris termasuk luasansawah yang sudah sempit menjadi semakin terbagi-bagi,(4)Krisis infra struktur, infra struktur merupakan komponen sistem pertanian yang amat vitaluntuk mendukung keberhasilan sistem pertanian yang dulaksanakan, utamanya adalah jaringan irigasi yang saat kini diperkirakan sekitar 45% jaringan yang ada dilahan irigasi pada kondisi rusak dan 68-70% jaringan saluaran air yang ada di lahan pasang surut jugarusak. Sementara program pembanguan jaringan baru maupun rehabilitasi sampai kinimasih terkendala,(5)Variabilitas Iklim, pada decade terakhir ini telah terjadi perubahan iklim yang signifikanyang variabilitasnya cukup besar, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya cekamankekeringan disuatu wilayah dan justru kebanjiran di wilayah lainnya
2
 
(6)Krisis SDM pertanian, untuk menghela pembangunan pertanian seperti yang diinginkandalam program pembangunan pertanian tentu diperlukan tenaga pertanian yang handal,sementara sekitar 77% tenaga pertanian sudah pada kondisi usia tua,(7)Krisis sarana produksi, pemanfaatan teknologi masih jauh panggang dari api, adalah salahsatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan memprihatinkan.(8)Krisis pembiayaan, petani pada umumnya belum mampu menerapkan teknologi bertanimaju karena terbentur pembiayaan, sementara untuk sektor ini masih relatif kecil danupaya pengayaan modal petani masih harus dilakukan terus menerus,(9)Kualitas produksi, pada era globalisasi yang tidak akan bisa dicegah maka masalah kualitas produksi akan menjadi ukuran yang harus dipenuhi agar produk pertanian kita mampu bersaing,oleh karena itu upaya kearah peningkatan kualitas perlu diprogramkan dengan baik.Kondisi yang dipaparkan di atas, memang cukup merisaukan masa depan sistem pertaniankita. Sebenarnya petani kita, utamanya petani padi lahan rawa, telah mempunyai setumpuk  pengalaman yang diperoleh dari berbagai pengamatan dan kegiatan yang telah dikerjakan dalammasa yang lama dari generasi ke generasi, sehingga mempunyai kearifan dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan, yang sering disebut sebagai ”kearifan ekologimaupun ”kearifanlokal” (Soemarwoto,1982). Sehingga kearifan lokal tersebut sebenarnya dapat dimanfaatkansebagai sumber inspirasi untuk menciptakan inovasi teknologi baru dalam memajukan pembangunan pertanian. Fenomena munculnya padi organik sebagai salah satu upaya pemenuhankualitas produksi yang akhir-akhir ini mulai bergema, sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh petani lahan rawa dan terbukti mampu mempertahankan daya dukung lahan, sehingga tidak mengalami degradasi dan tetap lestari walaupun pada rerata hasil yang belum tinggi.Keberhasilan usaha tani padi di lahan rawa sangat ditentukan oleh kondisi cuaca setempatdan wilayah sekitarnya terutama daerah hulu, yang akan berpengaruh langsung pada kondisi air rawa. Air rawa yang menyurut secara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untumenentukan saat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibat curah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saattanam yang tepat (Ar-Riza 2000). Pemilihan lokasi dan penentuan saat tanam yang tidak tepatutamanya untuk pertanaman padi surung akan membawa resiko gagal panen akibat terkenacekaman redaman air akibat air rawa yang terus meninggi. Pada budidaya musim kemarau, kondisiair rawa yang menyurut secara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untuk menentukansaat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibatcurah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saat tanam yangtepat (Ar-Riza,2000 dan Alihamsyah dan Ar-Riza, 2004). Penentuan saat tanam yang terlambatakan membawa resiko gagal panen akibat terkena cekaman kekeringan pada saat menjelang berbunga, sedangkan saat tanam yang terlalu cepat, akan membawa resiko terendamnya bibit yang baru ditanam, akibat air rawa yang naik kembali karena curahan hujan yang masih fluktuatif. Hasil padi rintak umumnya lebih tinggi dibanding banding surung,berkisar 3-4 t/ha namun berdasa potensinya hasil tersebut masih relative rendah (Ar-Riza dan Alihamsyah, 2005).
3

Activity (27)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hany Capuchino liked this
efriyadi60 liked this
dinooaku liked this
Andya Che liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->