Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hutan jati

Hutan jati

Ratings: (0)|Views: 32 |Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on May 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2012

pdf

text

original

 
Hutan jati
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasLangsung ke: navigasi, cari  Hutan jati di Bojonegoro, Jawa Timur
Hutan jati
adalah sejenis hutan yang dominan ditumbuhi oleh pohon   jati (
Tectona grandis
). Di Indonesia, hutan jati terutama didapati diJawa.Akan tetapi kini juga telah menyebar ke berbagai daerah sepertidi pulau-pulau Muna, Sumbawa, Flores dan lain-lain. Hutan jati merupakan hutan yang tertua pengelolaannya di Jawa dan juga di Indonesia,dan salah satu jenis hutan yang terbaik  pengelolaannya.Jati jawa, asli atau introduksi? Para ahli (altona, 1922; Charles, 1960)menduga bahwa jati di Jawa dibawa oleh orang-orang Hindu dariIndia pada akhir zaman hindu (awal abad X1V, hingga awal abadXVI). Akan tetapi beberapa ahli yang lain menyangkal, danmenyatakan bahwa tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa jati bukan tumbuhan asli Jawa (Whitten dkk.,1999). Hipotesa introduksi jati dari india ke jawa sudah barang tentusulit dihindari, mengingat sifat kayunya yang sejak ratusan tahunsangat dikenal, sehingga sudah barang tentu manusia sangatberperanan penting terutama dalam penyebarannya yang terbaru.Padahal menurut Peluso (1991), ketika pedagang belanda mendarat di jawa pada pertengahan abad XVII, mereka mendapati tegakan jaticampuran atau bahkan tegakan jati hampir murni yang terbentangberatus-ratus kilometer di bagian tengah pulau jawa. Bila hipotesaintroduksi jati dari india dibenarkan, maka introduksi tersebut telahberlangsung pada zaman yang lebih kuno, paling tidak sekitar abad
 
VI, yakni ketika pertukaran kebudayaan antara India dan Indonesiaberlangsung sangat kuat. Namun tidak ada catatan sejarah yangmenguatkan dugaan itu. Dipihak lain hipotesa introduksi jati dariIndia ke Jawa juga menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawabterutama tentang diketemukannya populasi jati alam di beberapapulau terpencil di Indonesia seperti di Madura, Muna, danketidakhadirannya di pulau pulau lain selain di jawa padahal pulau -pulau tersebut (Sumatera misalnya) juga berperan penting dalam jalurmigrasi manusia antara India, Thailand, Kambodia, China, Jepang.Berdasar itu Gartner (1956) meragukan hipotesa Altona, demikianpula Troup (1921) yang cenderung mengganggap bahwa keberadaan jati di Jawa dan beberapa pulau di indonesia adalah alami.PenelitianKertadikara (1992) yang mempelajari keragaman genetika beberapapopulasi jati India, Jawa dan Thailand dengan menggunakanisoenzym serta data morfologi, menunjukkan bahwa populasi jati dariIndia memiliki struktur genetika sangat khas yang jauh berbedadengan populasi jati Jawa dan Thailand. Sementara struktur genetikapopulasi jati Thailand lebih dekat dengan struktur genetika populasi jati Jawa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pertamapopulasi jati India telah sejak lama terisolasi secara geografi daripopulasi-populasijati lainnya. Kedua, bila hipotesa introduksi jati dariindia ke Jawa dibenarkan, seharusnya akan terlihat kedekatan strukturgenetika antara populasi Jawa dan India. Berdasar itu Kertadikara(1992)cenderung pada hipotesa migrasi alami jati dari pusatpenyebaran alaminya di daratan asia tenggara (yang kemungkinanbesar terletak di Myanmar), menggunakan pulau ke pulau yangmenghubungkan daratan asia dengan kepulauan indonesia padazaman pleistocene. Hubungan antra daratan asia dan kepulauanindonesia tersebut dimungkinkan akibat penurunan permukaan air lautsekitar 100 hingga 120 m lebih rendah dibanding permukaannnyasekarang. Sementara keberhasilan instalasi jati di jawa dan beberapapulau lainnya tergantung sepenuhnya pada kebutuhan klimatik danedafik, yang menyebabkan penyebaran alami jati bersifat terputus-putus.
 
Sejarah Pengelolaan
Sejauh ini, sejarah mencatat bahwa pada masa lalu, sebelum VOC  datang ke Jawa, para bupati telah memberikan upeti kepada raja-rajadalam bentuk 
glondhong pengareng-areng
. Demikian pula, ketika itutelah ada semacam jabatan yang disebut
 juru wana
atau
 juru pengalasan
(
wana, alas
bahasa Jawa berarti hutan). Pada abad ke-16diketahui telah ada hutan jati yang dikelola baik di sekitarBojonegoro, Jawa Timur, untuk kepentingan pembuatan bangunan-bangunan, benteng dan kapal-kapal.Sampai dengan awal abad ke-19, VOC terus memperluaspenguasaannya atas hutan-hutan jati di bagian utara Jawa Tengah dan Jawa Timur.Meskipun telah menguasai hutan jati selama tiga abad,boleh dikatakan belum ada pengelolaan hutan jati yang baik pada saatitu. VOC lebih banyak mengatur penebangan dan pengamanannya,untuk kepentingan pembuatan kapal-kapal dagang dan bangunanlainnya.
Cikal bakal pengelolaan hutan di Indonesia
 Ketika bangkrut karena korupsi pada paruh akhir abad ke-18, VOCtelah mengeksploitasi habis jati di Jawa dan meninggalkan lahanhutan yang rusak parah. Ini bukanlah kerusakan secara meluas yangterakhir dalam sejarah hutan jati di Pulau Jawa.Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengambil alih tanggung jawabVOC dan
 — 
terdorong oleh kebutuhan kayu jati sebagai bahan bakuindustri kapal di Belanda saat itu
 — 
berniat mengembalikan hutan jatiJawa seperti semula.Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811) lantas mendirikanorganisasi pertama untuk pengurusan hutan jati Jawa; tetap denganmemanfaatkan blandong. Pada 1847, pemerintah meminta duarimbawan Jerman, Mollier dan Nemich, untuk merancang sistembudidaya hutan untuk Jawa. Pemerintah Kolonial Belanda kemudianmemilih sistem monokultur (penanaman satu jenis pohon dominan)usulan Mollier. Mereka menolak sistem multikultur (penanaman

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->