Sebagai rimbawan, dalam buku ini saya mencoba menyoroti komitmen pemerintah dankehidupan masyarakat Jepang dari sudut pandang kepentingan hutan, baik sebagai komponenstabilitas lingkungan fisik dan tata ruang wilayah, maupun sebagai komponen ekonomi dan profil kebudayaan yang secara langsung, tidak dapat dipisahkan dari kontinuitas kebutuhanhidup manusia, dari generasi ke generasi.
Pernyataan tersebut di atas sarat dengan filsafat konservasi yang dipadukan dengan dinamikaantropologi budaya yang secara runut dan rinci dipaparkan dalam buku.Saya yang mengalami masa kanak-kanak dalam Penjajahan Jepang, dan pernah mengikuti trainingselama 4 bulan di Jepang (yang di dalamnya termasuk acara studi tour ke Kaki Gunung Fuji) sertakemudian kontak-kontak intensif dengan ekspert lingkungan hidup dari Jepang dalam forum
AsiaPasific Conference
, terus terang belum dapat “menangkap” sepenuhnya apa yang tersirat dalam
buku. Tetapi kesan umum saya, adalah bahwa buku
HUTAN DI KAKI FUJIYAMA
“enak dibaca danbermanfaat”.
Ulasan dibatasi pada empat bab pokok yaitu :1.
Rimba hukum di Hutan Jepang;2.
Hutan, andalan Ekonomi dan Ekologi;3.
Hutan dalam Dilema Kebudayaan;4.
Bunga Rampai Kinerja Rimbawan Jepang.Dalam buku disamping keempat bab pokok tersebut di atas, terdapat bab khusus sebagai penutupyaitu yang oleh penulis, disebutnya sebagai Epilog.Apabila disimak dengan teliti dalam bab Epilog, penulis buku mengemukakan pandangan dankesimpulannya dari sudut pandang filsafat, sejarah dan antropologi budaya. Hal ini tidakmengherankan karena penulis buku, menggunakan acuan dalam analisisnya pustaka sebagai berikut1.
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, 1986. Ungkapan-ungkapan Filsafat Barat dan Timur.2.
Drs. Hargosaputro, 1988. Dr. Soedjarwo, sebuah profil dalam dua dimensi.3.
Ir. H. Dwiatmo Siswomartono, M.Sc., 1989. Ensiklopedi Konservasi Sumber daya.4.
Annonimous, 1992. Artikel khusus dalam majalah/bulletin di Jepang dengan judul:a.
Environment takes back seat in Japan;b.
How will kids spend school-less saturday ?