Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ulumul hadits 2

ulumul hadits 2

Ratings: (0)|Views: 153 |Likes:
Published by abror_qw

More info:

Published by: abror_qw on May 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

 
SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADITS DAN FIQH
SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADITS DAN fIQHA. Pengertian Ulumul Hadits
Ulumul Hadits adalah istilah ilmu hadits didalam tradisi hadits. ( „ulum al
-
hadits) „ulum
al-hadits
terdiri atas dua kata yaitu „ulum dan al
-hadits.
Kata „ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari „ilm yang berarti “ilmu”, sedangkanhadits berarti: “segala sesuatu yang taqrir atau sifat”. Dengan demikian gabungan antara „ulum
dan al-hadi
ts mengandung pengertian “Ilmu yang membahas atau yang berkaitan dengan hadits Nabi Saw”.
 
Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadis di dalam tradisi ulama hadits. (Arabnya: „ulumul al
-
hadist). „ulum al
-
hadist terdiri dari atas 2 kata, yaitu „ulum dan Al
-hadis
t. Kata „ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari „ilm, jadi berarti “ilmu
-
ilmu”; sedangkan al
-hadist di
kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” (Mahmud al
-thahhan, Tatsir Mushthalah al-hadist(Beirut: Dar Al-
qur‟an al
-
karim, 1979), h.14) dengan demikian, gabungan kata „ulumul
-hadist
mengandung pengertian “ilmu
-
ilmu yang membahas atau berkaitan Hadis nabi SAW”.
 B. Sejarah Perkembangan Pemikiran Ululmul Hadits Pada Priode Klasik, Pertengahan danModern1. Priode RisalahPriode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad Saw sampai wafatnya Nabi Saw (11 H/ 632 M).Pada priode ini kekuasaan penentuan hukum sepenuhnya berada di tangan nabi Muhammad Saw.Sumber hukum pada saat itu adalah al-
qur‟an dan sunnah Nabi. Pengertian fiqh pada saat itu
identik dengan syarat, karena penentuan hukum terhadap satu masalah seluruhnya terpulangkepada Rasulullah Saw.Priode awal ini juga dapat dibagi jadi dua yakni priode Makkah dan Priode madinah. Pada priodeMakkah risalah Nabi Saw lebih banyak tertuju pada masalah aqidah. Ayat hukum yang turunpada priode ini tidak banyak jumlahnya itupun masih dalam rangkaian mewujudkan revolusiaqidah untuk mengubah sistem kepercayaan masyarakat jahiliyah menuju penghambaan kepadaAllah semata.Pada priode Madinah ayat-ayat tentang hukum turun secara bertahap. Pada masa ini seluruhpersoalan hukum diturunkan Allah SWT, baik yang menyangkut ibadah maupun muamalah.Oleh karenanya priode Madinah ini disebut juga oleh ulama fiqh sebagai priode revolusi sosialdan politik.2. Priode Khulafaur Rasyidin
Priode ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad Saw sampai Mu‟awwiyah bin Abu Sufyan
memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun 41H/661 M. Sumber hukum pada masa inidisamping al-
qur‟an dan Sunnah Nabi juga ditandai dengan munculnya berbagai ijtihad para
sahabat. Ijtihad ini dilakukan ketika persoalan yang akan ditentukan hukumnya tidak dijumpaidalam nash. Pada masa ini, khusunya setelah Umar bin Khattab menjadi Khalifah (13 H/634 M),ijtihad sudah merupakan suatu usaha yang luas dalam memecahkan berbagai persoalan hukumyang muncul di tengah masyarakat. Persoalan hukum dimasa ini sudah semakin kompleksdengan semakin banyaknya pemeluk Islam dari berbagai etnis dengan budaya masing-masing.Pada priode ini, untuk pertama kali para fuqaha dari kalangan sahabat bebenturan dengan
 
budaya, moral, etika dan nilai-nilai kemanusian dalam suatu masyarakat majemuk. Hal ini terjadikarena daerah-daerah yang ditaklukkan Islam sudah sangat luas dan masing-masing memilikibudaya, tradisi, situasi dan kondisi yang menantang para fuqaha dari kalangan sahabat untuk dalam memberikan hukum dalam persoalalan-persoalan baru itu, para sahabat pertama kalimerujuk pada al-
Qur‟an, jika huku
m yang dicari tidak dijumpai dalam al-
Qur‟an mereka mencari
 jawabannya dalam sunnah Nabi Saw. Namun jika dalam Sunnahpun tidak ditemukan makamereka melakukan ijtihad.3. Priode Awal Pertumbuhan FiqhMasa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai pada awal abad ke-2 H. Priode ketiga inimerupakan titik awal pertumbuhan fiqh sebagai salah satu disiplin ilmu dalam Islam. Denganbertebarannya para sahabat ke berbagai daerah semenjak masa Khulafaur Rasyidin (terutamasemenjak Usman bin affan menduduki menduduki jabatan Khalifah, 33 H/644 M) munculnyaberbagai fatwa dan ijtihad hukum yang berbeda antara daerah satu dengan daerah lain sesuaidengan situasi dan kondisi daerah tersebut.
Di Iraq muncul Ibnu Mas‟ud sebagai fuqaha yang menjawab berbagai persoalan
hukum yangdihadapinya disana. Dalam hal ini sistem sosial masyarakat Iraq jatuh berbeda denganmasyarakat Hedzjaz atau Hijaz (Mekkah dan Madinah). Saat itu di Iraq telah terjadi pembauranetnik Arab dengan etnik Persia, sementara masyarakat di Hijaz lebih bersifat homogen. Dalam
menghadapi berbagai masalah hukum, Ibnu Mas‟ud mengikuti pola yang telah ditempuh Umar 
bin Khattab yaitu lebih berorientasi pada kepentingan dan kemaslahatan umat tanpa terlaluterikat dengan makna harfiah teks-teks suci.Sikap ini
diambil oleh Umar bin Khattab dan Ibnu Mas‟ud karena situasi dan kondisi masyarakat
pada saat itu tidak sama dengan saat teks suci diturunkan. Atas dasar ini penggunaan nalar(analisis) dalam berijtihad lebih dominan. Dari perkembangan ini muncul madrasah atau aliran
ra‟yu (akal) (ahlulhadits dan ahlurra‟yi). Sementara itu, di Madinah yang masyarakatnya lebih
homogen, Zaid bin Tsabid dan Abdullah bin Umar bin Khattab bertindak menjawab berebagaipersoalan hukum yang muncul di daerah itu. Sedangkan di Makkah, yang bertindak sebagaipenjawab persoalan yang muncul adalah Abdullah bin Abbas dan sahabat lainnya. Pola dalammenjawab persoalan hukum oleh para fuqaha Madinah dan Makkah sama, yaitu berpegang padaal-
Qur‟an dan Sunnah Nabi. Hal ini dimungkinkan karen
a kedua kota inilah wahyu dan SunnahRasulullah di turunkan, sehingga para sahabat yang tinggal di kota ini memiliki banyak hadits.Oleh karenanya pola fuqaha Makkah dan Madinah dalam mengenai berbagai persoalan hukum jauh berbeda dengan pola yang digunakan fuqaha di Iraq. Cara-cara yang digunakan para fuqaha
di Makkah dan Madinah menjadi cikal bakal bagi munculnya aliran Ahlulhadits. Ibnu Mas‟ud
mempunyai murid-murid di Iraq sebagai pengembang pola dan sistem penyelesaian masalahhukum yang dihadapi di daerah itu.Murid-
murid para sahabat tersebut yang disebut sebagai generasi thbi‟in bertindak sebagai
rujukan dalam menangani berbagai persoalan hukum di daerah masing-masing, akibatnyaterbentuk madzhab-madzhab fiqh mengikuti nama-
nama para thabi‟in tersebu
t diantaranya fiqhal-
Auza‟i, fiqh An
-
 Nakha‟i, fiqh Alqamah bin Qais, dan fiqh Sufyan as
-Sauri.4. Priode KeemasanPriode ini dimulai pada awal abad ke 2 sampai pada pertengahan abad ke 4 H. Dalam priodesejaraha peradaban Islam priode ini termasuk dalam priode Kemajuan Islam Pertama (700-1000).Seperti priode sebelumnya ciri khas yang menonjol pada priode ini semangat ijtihad yang tinggidi kalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan berkembang,perkembangan ini tidak saja dalam bidang ilmu agama tetapi juga dalam bidang ilmu
 
pengetahuan yang bersifat umum.Dinasti Abbasiyah yang naik kepanggung pemerintahan menggantikan pemerintahan dinastiUmayyah memiliki tradisi kilmuan yang tinggi sehingga perhatian para penguasa Abbasiyahpada ilmu pengetahuan sangat besar. Para penguasa awal Abbasiyah sangat mendorong fuqahauntuk melakukan ijtihad dalam mencari formulasi fiqih dalam menghadapi persoalan sosial yangsemakin kompleks.Perhatian dinasti Abbasiyah terhadap fiqih misalnya dapat dilihat ketika Kahlifah Harun Al-Rasyid meminta Imam Malik untuk mengajar keuda anaknya Al-Amin dan Al-
Ma‟mun.
Disamping itu Kahlifah Harun Al-Rasyid juga meminta kepada Imam Abu Yusuf untuk menyusun buku yang mengatur masalah administrasi, keuangan, ketatanegaraan danpemerintahan. Imam Abu Yusuf memnuhi permintaan Khalifah dengan menyusun buku yangberjudul al-
Kharaj. Ketika Abu Ja‟far al
-Mansur memerintah, ia juga meminta Imam Malik untuk menulis sebuah kitab fiqh yang akan dijadikan pegangan resmi pemerintah dan lembagaperadilan. Atas dasar inilah Imam Malik menyusun bukunya yang berjudul Al-
Muwaththa‟.
 
Pada awal priode ke emasan ini pertentangan Ahlulhadits dan Ahlurra‟yi sangat tajam sehingga
menimbulkan semangat berijtihad yang tinggi bagi masing-masing aliran. Semangat para fuqahadi masa ini juga mengawali munculnya mazhab-mazhab fiqh, seperti mazhab Hanafi, Maliki,
Hanbali dan Syafi‟i. Upaya ijtihad tidak hanya dilakukan untuk keperluan praktis masa itu, tetapi
 juga membahas persoalan-persoalan yang mungkin akan terjadi yang dikenal dengan fiqh At-Taqdiri.Pertentangan kedua aliran ini beru mereda setelah murid-
murid kelompok Ahlurra‟yi berupayamembatasi, mensistematisasi, dan menyusun kaidah Ra‟yu yang dapat digunakan untuk meng
-isthinbath-kan hukum. Atas dasar upaya ini maka aliran Ahlul Hadits dapat menerima pengertian
Ra‟yu yang dimaksudkan Ahlurra‟yi sekaligus menerima ra‟yu sebagai salah satu cara untuk 
meng-isthinbath-kan hukum. Upaya pendekatan lainnya untuk meredakan ketegangan tersebut juga dilakukan oleh ulama masing-masing mazhab. Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibanimurid Imam Abu Hanifah mendatangi Imam Malik di Hijaz untuk mempelajari kitab al-Muwathta yang merupakan salahsatu kitab Ahlulhadits5. Priode Tahrir, Takhirj, dan Tarjih Dalam Mazhap FiqhPriode ini dimulai dari pertengahan abad ke 4 sampai pertengahan abad ke 7 H. Yangdimaksudkan dengan tahrir, takhrij dan tarjih adalah upaya yang dilakukan oleh ulama masing-masing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka.Priode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqhlebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab merekamasing-masing sehingga Mujtahid mustaqil (mujtahid mandiri) tidak ada lagi.Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhabyang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fimazhab.Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan berijtihad secara mandiri muncullahsikap at-
ta‟assub al
-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab)sehingga setiap ulamaberusaha mempertahankan mazhab imamnya.Mustafa Ahmad az-Zarqa mengatakan bahwa dalam priode ini untuk pertama kali munculpernyataan bahwa pinti ijtihad telah tertutup. Menurutnya paling tidak ada tiga faktor yangmendorong munculnya pernyataan tersebut yakni:- Dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di pengadilandengan merujuk pada salah satu mazhab fiqh yang disetujui khalifah saja.- Munculnya sikap at-taassup al-mazhabi yang berakibat pada sikap ke jumudan (kebekuan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->