Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peran Isteri Dalam Rumah Tangga Gabungan (Joint Family System)

Peran Isteri Dalam Rumah Tangga Gabungan (Joint Family System)

Ratings: (0)|Views: 621|Likes:
Published by faradibs
Essay mengenai keterkaitan antara sistem religi dengan peran perempuan dalam suatu keluarga gabungan (joint family System)
Essay mengenai keterkaitan antara sistem religi dengan peran perempuan dalam suatu keluarga gabungan (joint family System)

More info:

Published by: faradibs on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

 
 
PERAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA GABUNGANKeterkaitan antara Sistem Religi dengan Peran Perempuandalam Rumah Tangga Gabungan (Joint Family System)PROGRAM DOKTOR ILMU SOSIOLOGINindita Farah SasmayaNIM : 117120100111002
 
2
 
BAB IPENDAHULUAN1.
 
Latar Belakang
Perkawinan adalah suatu kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang berlainan jenis,yakni laki-laki dan perempuan. Dalam prakteknya, maka perkawinan lebih pada suatu prosesperjalanan kehidupan yang menyangkut banyak aspek, misalnya aspek emosi, aspek ekonomi,aspek sosial, aspek budaya, serta aspek legalitas yang menuntut pengakuan secara resmi olehmasyarakat sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku.
1
 Predikat untuk menjadi seorang isteri, tidak langsung dilahirkan atau melekat begitusaja pada seorang perempuan. Menjadi isteri merupakan seorang perempuan yang dijadikansebagai isteri, di mana menjadi isteri ini mendatangkan sejumlah hal-hal yang harus dimainkandalam kehidupannya sebagai isteri, atau menjadi kewajiban di mana dengan bertindak sesuaikewajiban ini, maka ia dapat dikatakan sebagai isteri sesuai dengan tuntutan masyarakat.
2
 Kewajiban atau aturan yang bersifat tidak tertulis yang harus seorang perempuan laksanakanini dinamakan peran. Dengan demikian, maka peran menjadi isteri sangat diperlukan untuk mewujudkan suatu tatanan keluarga yang utuh.Dalam konsep masyarakat muslim maka peran seorang isteri lebih ditekankan padafungsi reproduksi dan fungsi pengasuhan, yakni tempat menanam benih suami, mengandunganak-anak, melahirkan anak-anak, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak-anak. Sedangkan
fungsi seksualitasnya diatur dalam aturan khusus dalam Qur’an yang menjelaskan mengenai
tata cara berpenampilan, etika, serta tata pergaulan hidup yang harus dijalankan oleh seorangperempuan yang memeluk agama Islam. Adapun fungsi produksi perempuan tidak terlaluditekankan, atau diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu serta bersifat longgar, dalamartian seorang perempuan boleh melakukan pencarian nafkah namun hal ini bukanlah suatu halyang bersifat keharusan. Pencarian nafkah utama merupakan kewajiban seorang suami (
malebreadwinner 
). Dengan kata lain perempuan yang mencari nafkah bukanlah seorang pencarinafkah utama dan ia tak mempunyai kewajiban untuk mencukupi kebutuhan keluarganyadengan nafkah yang ia dapatkan tersebut.Keberhasilan suatu keluarga dalam membentuk suatu rumah tangga yang sejahtera tidak lepas dari peran seorang perempuan. Konsep pekerjaan perempuan dalam suatu rumah tanggainti mempunyai batasan pekerjaan yang tak pernah terbatas. Perempuan dalam suatu rumahtangga inti (
nuclear family 
) pada umumnya mempunyai tugas-tugas yang berkaitan denganfungsi reproduktif mereka, antara lain mengasuh anak-anak, mendidik anak-anak,mendampingi suami, memasak makanan untuk keluarga, dan lainnya. Pada masyarakat yanglebih kompleks, maka peran perempuan bertambah, yakni mereka bertindak sebagai pembantupencari nafkah (
second breadwinner 
). Meskipun dalam prakteknya kondisi seperti ini seringterjadi, namun selalu ada peran dikotomis dalam budaya masyarakat patriarkis, di mana
1
Soekanto, Soerjono.
Sosiologi Keluarga: tentang Ikhwal Keluarga, Remaja, dan Anak 
. Jakarta: RinekaCipta. 1992. Halaman 22-23.
2
Simone Beauvoire menjelaskan bahwa menjadi seorang perempuan bukanlah suatu bawaan biologis,namun menjadi perempuan adalah suatu hal yang dikonstruksikan secara sosial oleh masyarakat. Penulismengadopsi pemikiran Simone Beauvoire dengan menyatakan bahwa menjadi isteri bukanlah suatubawaan biologis yang secara otomatis melekat pada perempuan, akan tetapi menjadi isteri merupakansuatu peran yang harus disandang oleh perempuan yang sudah menjalani perkawinan, di mana menjadiisteri ini mempunyai peran yang secara sosial dikonstruksikan juga oleh masyarakat.Simone Beauvoire (1972) dalam The Second Sex.Dikutip oleh Waters, Malcolm
. Modern Sociological Theory Chapter 8: Gender and Feminism
. New York:Sage Publication. 2000.
 
3
 
menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah, dan perempuan merupakan pekerja di sektordomestik yang hanya berkutat pada ranah privat. Dengan demikian, posisi perempuan dalamhal ini merupakan hak milik dari laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga. Asumsiperempuan menempati posisi subordinat semakin diteguhkan dengan pelabelan-pelabelankhusus terhadap perempuan yang sejalan dengan budaya tempat mereka dibesarkan. Dalambudaya Jawa misalnya, Notopuro mencatat bahwa peran perempuan Jawa yang dianggap idealdalam kultur masyarakat Jawa adalah 3M yakni
masak 
,
macak 
, dan
manak 
. Apron seperti inibisa diartikan bahwa fungsi utama perempuan selalu berkaitan dengan hal-hal yang berkaitandengan persepsi ideal masyarakat mengenai kefeminininan seorang perempuan, antara lainmelahirkan, berhias untuk menyenangkan laki-laki, dan memasak untuk keluarga mereka.
3
 Salah satu bentuk keluarga yang jamak ditemui di beberapa negara yang berafiliasidengan peradaban Indus adalah keluarga gabungan. Goode mengistilahkan hal ini dengankeluarga gabungan dengan melihat pada bentuk keluarga di India dan berbagai negara-negaramuslim di Asia Selatan, maka sistem keluarga gabungan (
 joint 
 
 family 
) merupakan sistem yangdianut oleh keluarga-keluarga yang menganut sistem
coparcenary 
, yang berarti suatu rumahtangga yang didiami oleh orang-orang yang berhak atas hasil-hasil milik keluarga.
4
Keluargagabungan ini merupakan kumpulan saudara-saudara laki-laki generasi mana pun bersamadengan anak-anak laki-laki mereka pada generasi berikutnya, ditambah dengan anak-anak laki-laki generasi ketiga, mencakup semua saudara laki-laki pada setiap generasi dalam garis lurus,dari beberapa saudara laki-laki tertentu selama unit tersebut masih lengkap. Sistem keluargamodel Hindu ini menekankan pada saudara-saudara laki-laki karena menurut adat Hindu anak laki-laki sejak lahirnya mempunyai hak atas kekayaan keluarga.Meskipun banyak dari keluarga inti yang mempunyai gagasan untuk masuk ke dalamsistem keluarga gabungan mempunyai kecenderungan untuk semakin menurun jumlahnya daritahun ke tahun, namun keluarga gabungan tidak bisa diabaikan begitu saja, dan tak bisadianggap hanya sebagai mitos belaka. Hal ini disebabkan karena pewarisan nilai kultural secaraterus menerus yang mengakibatkan sistem keluarga gabungan tetap ada dari sejak jaman purbasampai sekarang. Sebagai contoh adalah konteks keluarga gabungan yang terdapat di India.Peradaban India yang merupakan tinggalan dari peradaban zaman purba banyak mencatat bahwa keluarga gabungan merupakan suatu bentuk paling ideal dalam membentuk keluarga.Pewarisan nilai-nilai keluarga gabungan pada hakekatnya berasal dari zaman kerajaan yangdiwariskan secara turun temurun. Kitab-kitab kuno yang ditemukan sejak zaman Dinasti Chola,Raja yang besar Kaisar Asoka dan era sekuler Kaisar Akbar mengemukakan bahwa keluargayang dianggap ideal dan sejahtera adalah suatu keluarga yang terdiri dari sepasang orangtua,anak laki-laki pertama beserta isterinya (menantu), anak dari anak laki-laki pertama tersebut (cucu) dan saudara-saudara lainnya yang belum menikah. Dengan demikian, maka keluargayang dianggap ideal adalah keluarga yang terdiri atas dua generasi atau lebih yang merupakanciri utama dari keluarga gabungan.
5
 Pada bentuk keluarga inti, maka perempuan secara konstruksi gender ditugaskan untuk menduduki peran sebagai pengurus ranah domestik. Perempuan bertugas untuk menyiapkan
3
Ki Hajar Dewantara dalam Notopuro, Hardjito.
Peranan Wanita dalam masa Pembangunan di Indonesia
.Jakarta: Ghalia Indonesia. 1984. Halaman 45.
4
Goode, William J.
Sosiologi Keluarga: The Family 
. Diterjemahkan oleh Lailahanoum Hasyim. Jakarta: BinaAksara. 1983. Halaman 91.
5
Utama, Ananda.
Kebudayaan India
. Artikel Ilmiah Jumat, 15 April 2011Gunadarma University.http://www.indianchild.com/culture%20_1.htm

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
faradibs liked this
faradibs liked this
faradibs liked this
faradibs liked this
faradibs liked this
faradibs liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->