Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Irshad Manji-Beriman Tanpa Rasa Takut

Irshad Manji-Beriman Tanpa Rasa Takut

Ratings: (0)|Views: 15 |Likes:
Published by Tonny

More info:

Published by: Tonny on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2012

pdf

text

original

 
 
BERIMAN TANPA RASA TAKUT
 Oleh/By: IRSHAD MANJI
 
TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA (Bahasa Indonesia Translation)
 
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh: Herlina Permata Sari 
 
Translated from the English Language by Herlina Permata Sari 
 
Kata Pengantar oleh Profesor KhaleelMohammed
KATA PENGANTAR
 
Oleh Profesor Khaleel MohammedImam dan Profesor San Diego State University
 SEBUAH FAKTA yang sederhana: Saya sepatutnya membenci Irshad Manji. Jika kaummuslim mendengar kata-katanya, mereka akan berhenti mendengar orang-orang sepertisaya, seorang imam yang melewatkan waktu bertahun-tahun di universitas Islam.Dia mengancam otoritas lelaki saya dan berkata banyak hal tentang Islam yang saya haraptidak benar. Dia bermulut besar dan menjalin fakta di atas fakta untuk membenarkananalisisnya. Dia tidak takut mati; dia hanya takut jika pikiran seseorang mati. Dia seoranglesbian, dan pendidikan madrasah saya telah merasuk ke dalam diri saya, hampir tertanamke dalam DNA saya, di mana Allah membenci kaum gay dan lesbian. Saya seharusnyamembenci perempuan ini.Tetapi kemudian saya melihat ke dalam hati saya dan menggunakan nalar saya, dan sayasampai pada sebuah kesimpulan yang tidak mengenakkan: Irshad berkata benar. DanTuhan saya memerintah saya untuk menegakkan kebenaran—yang berarti bahwa sayaharus berdampingan dengannya.Bagaimanapun, ini bukanlah alasan kenapa saya menulis pengantar ini. Saya menulis katapengantar ini karena saya perlu bertobat untuk tidak lagi berlaku seperti seorang munafik.Saya sering menghargai keberanian saya dalam menentang para ekstremis Islam danterorisme. Saya tidak mampu mengecilkan arti penghargaan-penghargaan tersebut karenahal itu menuntut keberanian yang tinggi. Dan, sebab tidaklah memerlukan pengorbanantestosteron besar-besaran untuk membela Irshad jika ia membutuhkan pembelaan.Akan tetapi baru-baru ini, saya mendapatkan kesempatan itu, dan saya gagalmelakukannya. Saya baru saja pulang dari sebuah konferensi di mana saya menimbulkankehebohan dengan mendorong kaum muslim untuk melampaui sentimen anti-Semitisme.Beberapa muslim memutuskan untuk melakukan hal yang tepat: Mereka menemui sayauntuk mengetahui secara tepat apa yang telah saya katakan. Di tengah-tengah diskusi,seseorang dari mereka mengatakan nama Irshad. Mereka mencemooh dia sebagai lesbiankecil tukang bikin onar. Dan di sanalah saya duduk, seperti seekor ayam yang lumpuh,bungkam dan diam, tidak ingin berlanjut pada masalah lainnya. Saya, seorang lelaki,
 
 “penegak dan pelindung” kaum perempuan, dianggap demikian oleh amanat ilahi dalamnaskah abad ke-7 di mana para guru madrasah mencekokiku sepanjang waktu. Aku puntak kuasa berkata sepatah kata pun.Itulah sebuah momen ketika saya menyadari bahwa semua omong kosong ini harusdiakhiri. Apakah saya seorang muslim atau tidak? Apakah saya peduli pada kebenaran atautidak? Itulah sebabnya sekarang saya menyatakan, tidak hanya untuk orang Islam yangmenemui saya, tetapi untuk semua muslim: Saya mendukung perjuangan Irshad Manji.Dia ingin kita melakukan apa yang diperintahkan oleh Kitab Suci pada kita: Akhirilah sikap-sikap kesukuan, bukalah mata Anda, dan lawanlah penindasan, bahkan jika penindasan itudirasionalisasi oleh imam-imam terhormat kita, syekh-syekh kita, mullah-mullah kita,profesor-profesor kita, dan oleh dogma apa saja yang dikemas dengan rapi oleh orangIslam.Sangat jarang seorang muslim menyatakan secara terbuka apa yang banyak kita ketahuitapi tidak berani mengonfirmasinya. Irshad sedikit bersemangat saat memaparkanserangan orang Yahudi, sebagaimana saat berbicara tentang dorongan untuk melemparkantanggung jawab atas semua penyakit Islam pada kolonisasi Barat; ia mengabaikan sejarahIslam sendiri tentang imperialisme dan pelanggaran hak asasi manusia yang terusberlanjut atas nama Allah. Sepanjang bukunya, Irshad tetap patuh pada Perintah Ilahi: “
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu-bapak dan kerabatmu.
” (An-Nisa: 135).Dengan hanya patuh kepada Allah, Irshad menyerang para mullah dengan segalapermainan mereka. Salah satu prasyarat berat dari
ijtihad 
, tradisi Islam dalam berpikirindependen, adalah seseorang harus akrab dengan semua ulama salaf Islam. Pada poin ini,Irshad berbeda dengan banyak ulama Islam. Dalam faktanya, bukunya ini dapat menjadipengantar atas pandangan-pandangan intelektual muslim modern. Di mana lagi kita dapatmenemukan analisis yang tajam tentang Saad Eddin Ibrahim, Mahmoud Taha, Khaled AbouEl Fadl, Nasr Hamed Abu-Zeid, dan beberapa yang lainnya?Irshad membuka diri pada kritik dengan memilih bentuk ekspresi demokratis yang bersifatmenantang—ia menulis buku ini dalam bentuk surat terbuka. Pendekatannya ini akanmenantang ego para elite, karena dia menolak untuk menulis secara ketat buat kita dankonstituen kita yang eksklusif. Karya Irshad tidak jatuh ke dalam tipologi teori-teoriakademis yang ditulis nyaris dalam jargon menara-gading yang sukar dipahami. Karyanya

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->