Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
HUBUNGAN DESA-KOTA

HUBUNGAN DESA-KOTA

Ratings: (0)|Views: 411 |Likes:
Published by Kahfi Dirga Cahya

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Kahfi Dirga Cahya on Jun 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2014

pdf

text

original

 
HUBUNGAN DESA-KOTA 
DisusunOleh Andi Andra MadusilaFariz AltyoKahfi Dirga CahyaSistem Sosial Indonesia
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia2012
 
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang
Interaksi desa-kota yang harmonis merupakan sebuah keharusan untuk setiap jengkalwilayah negara. Namun ada baiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu apa itu desa dan kota.Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004, pengertian desa adalah kesatuan masyarakat hukum yangmemiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakatsetempat; berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistempemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara definisi kota menurut PeraturanMenteri Dalam Negeri RI No.4 tahun 1980 menyebutkan bahwa kota terdiri atas dua bagian.Pertama, kota sebagai suatu wadah yang memiliki batasan administratif sebagaimana diaturdalam perundang-undangan. Kedua, kota sebagai lingkungan kehidupan perkotaan yangmempunyai ciri non-agraris, misalnya ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan, serta berfungsisebagai pusat pertumbuhan dan permukiman.Namun dalam perkembangannya, interaksi desa-kota di Indonesia sangatlah tidak harmonis. Meskipun di akui bahwa keduanya haruslah memiliki hubungan yang seimbang,karena desa-kota memiliki saling ketergantungan yang cukup kompleks, namun desa-kotatidaklah berjalan demikian. Interaksi yang dinilai gagal ini dianggap sebagai ketimpanganwilayah.Menurut Kanbur dan Venables dalam Spatial Inequality and Development (2005), gejala-gejala dari penyakit ketimpangan wilayah di antaranya adalah masih rendahnya kualitaspendidikan perdesaan, jeleknya fasilitas infrastruktur, aktivitas perbankan yang rendah,kebijakan pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam semata, sampai tidak tersedianyalapangan kerja berbasis karakter sosial ekonomi lokal yang mencukupi. Jika di sederhanakan,ketimpangan ini terdiri dari tiga bentuk, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi.Ketimpangan pembangunan antarwilayah dapat dilihat dari perbedaan tingkatkesejahteraan dan perkembangan ekonomi antarwilayah. Data BPS tahun 2004 menunjukkanbahwa angka kemiskinan di DKI Jakarta hanya sekitar 3,18 persen, sedangkan di Papua sekitar38,69 persen. Ketimpangan pelayanan sosial dasar yang tersedia, seperti pendidikan, kesehatandan air bersih juga terjadi antarwilayah, dimana penduduk di Jakarta rata-rata bersekolah selama
 
9,7 tahun, sedangkan penduduk di NTB rata-rata hanya sekolah selama 5,8 tahun. Hanya sekitar30 persen penduduk Jakarta yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan aman, tetapi diKalimantan Barat lebih dari 70 persen penduduk tidak mempunyai akses terhadap air bersih.Secara garis besar, ketimpanganan pembangunan desa-kota ini terjadi di tiga hal besar,yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ketiga hal ini dianggap menjadi hal terpentingperkembangannya saat ini. Jika dijabarkan dengan sederhana, kesehatan dapat mempengaruhikualitas pendidikan serta ekonomi di suatu daerah. Pendidikkan memberikan peran pentingdalam menyokong kemajuan ekonomi. Karena pendidikan dianggap satu tolak ukur untuk kemajuan ekonomi yang merupakan tujuan utama interaksi desa-kota.Kesemrawutan diatas berdampak urbanisasi besar-besaran yang dilakukan oleh penduduk desa ke kota. Hal semacam inilah yang malah membuat kondisi kota tidak terkontrol.Pertumbuhan penduduk yang cepat di suatu kota malah membuat satu gejala baru yang berimbaspada macetnya produktivitas kota. Selain itu desa yang ditinggalkan juga menjadi masalahtersendiri. Karena desa yang ditinggalkan harus menghidupi kembali kondisi perekonomiannyamulai dari nol.
B.
 
Permasalahan
1.
 
Bagaimana gambaran pola hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan danekonomi di Indonesia?2.
 
Bagaimana analisa sosiologis hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan danekonomi
dewasa ini dengan mengacu pada diagram “Interaksi desa
-
kota” seperti yang
digambarkan Okali, Okpana, dan Olawoye dan teori Intergrasi Sosial?3.
 
Apa yang dapat dilakukan agar hubungan desa-kota dalam bidang kesehatan, pendidikan danekonomi di Indonesia menjadi lebih baik dalam konteks Sistem Sosial Indonesia?
C.
 
Kerangka Konseptual
 
GEJALA MIGRASI MENURUT PETERSENSumbermigrasiSebab Sifat Migrasi Jenis migrasiKonservatif Inovatif 
Alam dan Dorongan Primitif Merantau Berkeliling Pelarian dari desa

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Dini Kohandi liked this
Hardina Cuakep liked this
Javier Ramdhinov liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->