Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum & Pembagian Dalam Ushul Fiqih (Final)

Hukum & Pembagian Dalam Ushul Fiqih (Final)

Ratings: (0)|Views: 154 |Likes:
Published by ShomadieBiomotivasi

More info:

Published by: ShomadieBiomotivasi on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

 
1
A.
 
HAKIM DAN MAHKUM
HAKIM
Hakim : yaitu orang yang menjatuhkan putusan. Di antara ulama kaum muslimin tidak ada
 perbedaan pendapat bahwa sumber hukum syara‟ bagi perbuatan mukalaf adalah Allah SWT, baik 
hukum mengenai perbuatan mukalaf itu telah di jelaskan secara langsung dalam nash yang diwahyukan kepada Rasul-Nya maupun yang di gambarkan kepada para mujtahid untuk mengeluarkan hukum dari tanda-tanda yang di tetapkannya. Oleh karena itu mereka sepakat dalam
memberikan pengertian tentang hukum syara‟ adalah : Ketetapan Alloh yang berhubu
ngan denganperbuatan mukalaf dalam bentuk tuntutan, pilihan atau ketetapan.Tidak ada perbedaan pendapat bahwa al hakim adalah Allah, tetapi perbedaan pendapat itupada cara mengetahui hukum-
hukum Allah. Dalam hal ini para ulama‟ terbagi m
enjadi 3 mazhab :1.
 
Mazhab al Asy‟ariy yaitu pengikut Abu Hasan al Asy‟ariy :Akal tidak munkin mengetahui
hukum-hukum Alloh atas perbuatan mukalaf kecuali dengan perantaraan para rasul dan kitab-kitab Alloh.2.
 
Mazhab al Mu‟tazilah pengikut Washil bin „Athaa‟.menurut mazhab i
ni, hokum-hukum Allohitu mungkin diketahui secara langsung tanpa perantaraan para rasul dan kitab-kitab Alloh.3.
 
Mazhab Maturidiyah pengikut Abu Manshur al Maturidi. Pendapat ini bersifat moderat dannetral bahwa perbuatan orang-orang mukalaf itu memiliki ciri-ciri tertentu dan memilikipengaruh pada baik atau buruknya perbuatan itu.
MAHKUM FIH
Mahkum fih : yaitu perbuatan mukalaf yang berkaitan dengan hukum.Firman Alloh SWT :
 
: {.1} 
”Hai orang
-
orang yang beriman, penuhilah akad itu.”(Qs.al
-Maidah : 1)Kewajiban yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf, yaitumemenuhi janji yang kemuian dijadikan hukum wajib.Firman Alloh Swt :
: {282}
”Hai orang
-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah ka
mu menuliskannya.”(Qs.al
-Baqarah:282)
 
Kesunahan yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf, yaitumencatat hutang piutang yang kemudian dijadikan hukum sunnah.Firman Alloh Swt :
:{.151} 
”Dan janganlah kamu membunuh jiwa.”(Qs.al
-
An‟aam:151)
 Keharaman yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf, yaitumembunuh jiwa yang kemudian dijadikan hukum haram.
 
2
Firman Alloh Swt :
:{267} 
”Dan janganlah kamu mengambil yang buruk 
-
 buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya.”(Qs.al
Baqarah:267)Kemakruhan yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf,yaitumenafkahkan harta yang jelek atau rusak yang kemudian dijadikan hukum makruh.Firman Alloh Swt :
: {18}
”Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalana
n (lalu ia berbuka ), maka wajiblahbaginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-
hari yang lain.”( Qs al Baqarah :
184)
 
Kitab ini berhubungan dengan sakit dan bepergian yang kemudian keduanya dijadikan hukummubah (boleh) berbuka.jadi, se
tiap hukum syari‟ harus berhubungan dengan perbuatan mukalaf,baik 
secara tuntutan, pilihan atau ketetapan.Dari sini dikatakan bahwa semua bentuk perintah dan larangan itu berhubungan dengan perbuatanmukalaf. Dalam perintah yang dituntut adalah melaksanakan yang di perintahkan, sedangkan dalamlarangan yang dituntut adalah menahan diri melakukan yang dilarang.
Syarat Sah Tuntutan Dengan Perbuatan
Perbuatan yang sah menurut syara‟ untuk diharuskan memiliki tiga syarat :
 1.
 
Tuntutan perbuatan itu harus diketahui mukallaf secara jelas sehingga ia mampumelaksanakannya sebagaimana yang dituntutkan.2.
 
Hendaknya diketahui bahwa tuntutan itu keluar dari orang yang punya kekuasaan menuntutdan dari orang yang hukumnya wajib diikuti mukallaf.3.
 
Perbuatan yang di bebankan kepada mukallaf harus berupa sesuatu yang mungkin,ataumampu dilakukan atau dihindari oleh mukallaf.
B.
 
MUTHLAQ DAN MUQAYYAD
Muthlaq dan Muqayyad dalam ilmu ushul fiqh pengertiannya bisa disamakan dengan 'ammdan khass. Lafaz atau perkataan yang bersifat Muthlaq berarti dia tidak memiliki keterkaitan atauikatan. Maksudnya, perkataan itu ditujukan pada sesuatu yang tidak memiliki syarat atau ketentuan.Layaknya lafaz 'amm atau umum, sesuatu yang bersifat umum berarti berlaku untuk semuanya tanpaada ketentuan atau syarat yang lain. Contoh :
manusia
itu harus berbuat baik dalam kehidupannya.makna dari kata manusia itu berarti laki-laki dan perempuan, bisa juga manusia yang berimankepada Allah ataupun tidak. Jadi kalimat ini termasuk muthlaq karena tidak memiliki syarat atauketentuan terntentu.Sedangkan Muqayyad, kebalikannya dari Muthlaq. Ia memiliki syarat atau ketentuan,sehingga sifatnya terikat. Muqayyad ini bisa disamakan dengan sesuatu yang bersifat khusus. contoh:
manusia yang beriman dengan sungguh-sungguh
akan merasakan nikmatnya surga.nah, kalimat ini termasuk muqayyad. Karena kata manusia tidak lagi bersifat umum. tetapi iaditujukan khusus untuk manusia yang beriman. Yang tidak beriman kepada Allah tidak termasuk dalam kalimat di atas. Jadi, pada kalimat ini, ada syarat dan ketentuan dari jenis manusia yangdimaksudkan.
 
3
Begitu kira-kira gambaran Muthlaq dan Muqayyad. Dalam ilmu ushul Fiqh, ayat-ayat ataulafadz yang bersifat Muthlaq hendaknya jangan dulu dipegang sebagai hukum. Sebaiknya, kitamencari dulu ayat lain atau keterangan dari hadits yang bersangkutan dengan ayat Muthlaq tersebut.Karena bisa saja ada ayat Muqayyadnya, sehingga hukum pada ayat Muthlaq bisa terhapus jika ayatMuqayyadnya ditemukan. Dengan catatan kedua ayat ini (muthlaq dan muqayyad) harus salingberkaitan atau dalam kasus yang sama. Akan tetapi, jika tidak ditemukan ayat yang menunjukkantaqyid atau ikatan..maka ayat muthlaq yang ada wajib hukumnya diamalkan sesuai dengankemuthlaqannya.Untuk lebih jelasnya...ada contoh lain tentang ayat yang menunjukkan Muthlaq : pada suratal-Mujadilah ayat 3 "Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istriitu bercampur"Ayat yang menunjukkan Muqayyad : pada surat an-Nisaa ayat 92 "(Hendaklah) iamemerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman"Dari kedua ayat di atas, kita lihat jenis hukuman atau kafaratnya sama yaitu memerdekakanhamba sahaya. Pada ayat yang pertama, sifatnya umum atau muthlaq, tidak ditentukan hambasahaya-nya beriman atau kafir. Sedangkan pada ayat kedua, sifatnya Muqayyad atau khusus. Hambasahaya yang dimaksud adalah hamba sahaya yang beriman. Karena ada ayat Muqayyadnya, makahukuman ayat yang pertama dikuatkan oleh hukuman pada ayat yang kedua. Ini namanya ditaqyidTu diikat. Jika kita menemukan ayat muthlaq dan muqayyad yang memiliki hukum yang sama,maka wajib ditaqyid. Pada kasus hukum yang ini, berarti hamba sahaya yang dimerdekakan adalahhamba sahaya yang beriman.Akan tetapi jika hukumnya (pada ayat Muthlaq dan Muqayyad) berbeda, maka masing-masingdiamalkan sesuai dengan hukumnya. Ada contoh lagi untuk yang satu ini :Ayat yang menunjukkan Muthlaq : pada surat Al-Maidah ayat 38 "Laki-laki yang mencuri danperempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya,"Ayat yang menunjukkan Muqayyad : padasurat Al-Maidah ayat 6 "Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku"Jelas sekali pada kedua ayat diatas, tidak sama dan tidak berkaitan hukumnya.Meskipun dua-duanya sama-sama berbicara tentang tangan. Pada ayat pertama membahastentang hukuman bagi pencuri. sedangkan yang kedua tentang hukum berwudhu, saat membasuhtangan maka harus sampai siku. Ayat pertama tidak bisa ditaqyid kepada ayat yang kedua, sehinggamasing-masing hukumnya harus dijalankan sendiri-sendiri. Maka ia dibiarkan berjalan sesuaidengan kemuthlaqannya. pada kasus pencurian, tangan dipotong sampai ke pergelangan, sedangkanpada saat berwudhu tangan dibasuh sampai ke siku.
C.
 
MANTUQ DAN MAFHUM
Mantuq adalah lafal yang hukumnya memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), dedangmafhum adalah lafal yang hukumnya terkandung dalam arti dibalik manthuq (makna tersirat)Menurut kitab
mabadiulawwaliyah
, mantuq adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadzdalam tempat pengucapan, sedangkan mafhum adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadztidak dalam tempat pengucapan.Jadi mantuq adalah pengertian yang ditunjukkan oleh lafadz di tempat pembicaraan danmafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat pembicaraan, tetapidari pemahaman terdapat ucapan tersebut. Seperti firman Allah SWT :

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->