Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bayi Tabung Dari Ranah Hukum Perdata

Bayi Tabung Dari Ranah Hukum Perdata

Ratings: (0)|Views: 103 |Likes:
Published by Kurniati Mj

More info:

Published by: Kurniati Mj on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2012

pdf

text

original

 
BAYI TABUNG DALAM RANAH HUKUM PERDATA
Latar Belakang Munculnya Inseminasi Buatan (Bayi Tabung)
Pelayanan terhadap bayi tabung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilahfertilisasi-in-vitro yang memiliki pengertian sebagai berikut : Fertilisasi-in-vitro adalahpembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan oleh petugasmedis. Inseminasi buatan pada manusia sebagai suatu teknologi reproduksi berupa teknikmenempatkan sperma di dalam vagina wanita, pertama kali berhasil dipraktekkan padatahun 1970. Awal berkembangnya inseminasi buatan bermula dari ditemukannya teknikpengawetan sperma. Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yangdibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit.Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk menolong pasangan suami istri yangtidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah disebabkan tuba falopii istrinyamengalami kerusakan yang permanen. Namun kemudian mulai ada perkembangan dimanakemudian program ini diterapkan pula pada pasutri yang memiliki penyakit atau kelainanlainnya yang menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan. Otto
Soemarwoto dalam bukunya “Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global”, dengan
tambahan dan keterangan dari Drs. Muhammad Djumhana, S.H., menyatakan bahwa bayitabung pada satu pihak merupakan hikmah. Ia dapat membantu pasangan suami istri yangsubur tetapi karena suatu gangguan pada organ reproduksi, mereka tidak dapat mempunyaianak. Saat ini program bayi tabung menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Hal initerjadi karena keinginan pasangan suami
 –
istri yang tidak bisa memiliki keturunan secaraalamiah untuk memiliki anak tanpa melakukan adopsi. Atau juga menolong pasangan suami
 –
istri yang memiliki penyakit atau kelainan yang menyebabkan kemungkinan untuk tidakmemperoleh keturunan. Metode bayi tabung diterapkan pertama kalinya pada tanggal 26Juli 1978 lewat kelahiran seorang bayi asal Inggris bernama louise Brown, di RS DistrikOldham, Manchester. Proses metode bayi tabung dilakukan oleh DR. Patrick Steptoe inidilakukan tujuh bulan sebelum Louise lahir, tepatnya bulan November 1977, dengan caramemasukan embrio ke rahim Lesley Brown.
 
Dalam kasus ini, sel telur istri dan sperma suami dipertemukan di luar tubuh dan zigot yangterjadi ditanam dalam kandungan istri. Dalam hal ini kiranya tidak ada pendapat pro dankontra terhadap bayi yang lahir karena merupakan keturunan genetik suami dan istri. Akantetapi seiring perkembangannya, mulai timbul persoalan dimana semula program ini dapat
diterima oleh semua pihak karena tujuannya yang “mulia” menjadi pertentangan. Banyak
pihak yang kontra dan pihak yang pro. Pihak yang pro dengan program ini sebagian besarberasal dari dunia kedokteran dan mereka yang kontra berasal dari kalangan alim ulama.Tulisan ini tidak akan membahas mengenai pro kontra yang ada tetapi akan membahasmengenai aspek hukum perdata yang menekankan pada status hukum dari si anak dansegala akibat yang mengikutinya.
PROSES Inseminasi Buatan (Bayi Tabung)
Dalam melakukan fertilisasi-in-virto transfer embrio dilakukan dalam tujuh tingkatan dasaryang dilakukan oleh petugas medis, yaitu :1.
 
Istri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telurmengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan barudihentikan setelah sel-sel telurnya matang.2.
 
Pematangan sel-sel telur sipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah Istri danpemeriksaan ultrasonografi.3.
 
Pengambilan sel telur dilakukan dengan penusukan jarum (pungsi) melalui vaginadengan tuntunan ultrasonografi.4.
 
Setelah dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengansel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik.5.
 
Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudiandibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudiandan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel.6.
 
Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Kemudian diimplantasikan kedalam rahim istri. Pada periode ini tinggal menunggu terjadinya kehamilan.7.
 
Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi menstruasi,dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan, dan seminggu kemudian
 
dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN :
 
Memiliki keyakinan yang kuat agar proses pembuatan bayi tabung bisa berhasil.
 
Menjaga kesehatan tubuh secara optimal sebelum penyuntikan sperma dilakukan.Hal ini bertujuan untuk mengontrol hormon tubuh agar sesuai yang diharapkan danberlangsung selama kurang lebih tiga minggu.
 
Persiapan menghadapi proses pengeluaran sel telur dari rahim serta proses seleksiuntuk mendapatkan sel telur yang terbaik.
 
Persiapan menjalani proses injeksi sel telur ke dalam rahim setelah sel telur tersebutdibuahi secara In Vitro Fertilization (IVF).
PROSES PEMBUATAN BAYI TABUNG :
 
Tahap pertama, tahap Persiapan Petik Ovum (Per-Uvu) yang meliputi fase downregulation dan terapi stimulasi. Fase down regulation merupakan suatu proses untukmenciptakan suatu keadaan seperti menopouse agar indung telur siap menerimaterapi stimulasi. Tahapan ini berlangsung antara dua minggu hingga satu bulan.
 
Tahap kedua, tahap operasi petik ovum/Ovum Pick-Up (OPU). Tahap ini bisadilakukan ketika sudah terdapat tiga folikel atau lebih yang berdiameter 18 mm padapagi hari dan pertumbuhan folikelnya seragam. Selain itu kadar E2 juga harusmencapai 200pg/ml/folikel matang.
 
Tahap ketiga, tahap post OPU. Tahap ini meliputi dua fase, yaitu transfer embrio danterapi obat penunjang kehamilan. Fase transfer embrio merupakan prosesmemasukkan dua atau maksimum tiga embrio yang sudah terseleksi ke dalam rahim.Setelah proses ini selesai lalu dilanjutkan dengan terapi obat penunjang kehamilan.Tujuan dari terapi tersebut untuk mempersiapkan rahim agar bisa menerimaimplantasi embrio sehingga embrio bisa berkembang normal.
DALIL-DALIL LANDASAN HUKUM YANG MENGHARAMKAN INSIMINASI :

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->