Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
3Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filsafat Ibnu Khaldun

Filsafat Ibnu Khaldun

Ratings: (0)|Views: 50 |Likes:
Published by eforjoint

More info:

Published by: eforjoint on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

 
Filsafat Ibnu Khaldun
 
Filsafat Ibnu Khaldun
PENGANTAR
Ketika menyampaikan hasil penelitian ini dalam sebuah seminar pada tahun 1972 di hadapansejumlah pemikir dan pemerhati filsafat Ibn Khaldun yang berasal dari berbagai negara, sepertiSuria, Mesir, Irak, Libanon, Maroko, dan Prancis, saya kemukakan kepada mereka bahwa kajiansaya tentang pemikiran Ibn Khaldun
 — 
yang ditulis sesuai dengan standar akademis ini
 — 
tidak hanya dimaksudkan untuk meraih gelar doktor, untuk kemudian disimpan di antara kumpulanarsip-arsip universitas. Bagi saya, dengan penelitian ini ada tujuan lebih luas yang ingin sayacapai yaitu memperkenalkan secara lebih luas pemikiran Ibn Khaldun kepada masyarakat dangenerasi terpelajar saat ini. Karena itu saya berharap kepada para peserta seminar agar tidak melulu membahas aspek teknis dari kajian saya ini yang mungkin jauh dari kesan akademis-ilmiah.Mungkin karena pengantar yang saya kemukakan itu, seluruh peserta seminar
 — 
kecualidua orang
 — 
lebih banyak memusatkan perhatian mereka pada tataran teknis-akademis kajiansaya (dan itu hak mereka), serta mengabaikan bagian terpenting dari kajian ini yaitupengungkapan pemikiran-pemikiran baru tentang Ibn Khaldun yang meliputi tiga tema penting:kedudukan struktur kehidupan sosial bangsa Arab di tengah perkembangan budaya; kedudukanaspek politik bangsa Arab di tengah struktur kebangsaan; dan kedudukan masyarakat Arab ditengah gempita perkembangan keilmuan, spiritual, dan kehidupan budaya.Bagi saya, fenomena itu sangatlah menyakitkan karena berbagai bidang yang selama inimenjadi objek pemikiran Ibn Khaldun tentang kehidupan bangsa Arab meliputi sejumlah aspek sederhana, masih jauh dari sentuhan pemikiran para ulama dan peneliti kita. Padahal berbagaiaspek pemikiran Ibn Khaldun itu sangat penting untuk membangun dan mengembangkanstruktur sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.Tampaknya, kedudukan kajian saya
 — 
di hadapan para pemikir dan peneliti
 — 
identik dengan kedudukan bangsa arab di hadapan mahkamah sejarah dalam hubungannya denganketiga bidang pemikiran yang telah menciptakan peradaban besar. Dan saya khawatir bahwa saatini kita lebih senang melontarkan tuduhan, sebagaimana yang banyak dikemukakan oleh parapemikir kita saat ini bahwa Ibn Khaldun merupakan seorang pemikir yang terlampau mencintai
 
bangsanya (Arab), bahkan cenderung bersikap chauvinis. Atau paling tidak, kita juga berpikiransama dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan itu. Dalam forum seminar itu saya telahmenyiapkan diri seandainya tuduhan yang dulu dilontarkan kepada Ibn Khaldun, juga ditujukankepada saya karena berusaha untuk membawa pemikiran-pemikiran Ibn Khaldun ke tengahgelanggang kehidupan bangsa Arab yang beranjak untuk bangkit.Saya semakin kesal karena bebagai masalah dan kemungkinan persoalan yang telah sayapersiapkan sama sekali tidak dibahas oleh para peserta seminar; mereka menyentuh berbagai halyang sama sekali di luar bayangan saya. Mereka mendiskusikan masalah-masalah yang sangatteknis seperti penempatan tanda baca: titik, koma, dan lain-lain, juga tentang rujukan danreferensi yang tidak saya sertakan. Tetapi satu kritik paling pedas yang saya rasakan adalahungkapan yang mengatakan bahwa bahasa yang saya gunakan bukanlah bahasa ilmiah, tetapibahasa jurnalistik-populer. Dengan kata lain, bahasa yang saya gunakan bukan bahasa yang bisadibaca secara serius oleh pembaca
 — 
yang untuk memahaminya pun membutuhkan kerja keras
 — 
 Bahasa saya, menurut mereka, adalah bahasa yang terlampau populer sehngga bisa diakses olehsiapa pun, tidak hanya oleh kalangan akademis-ilmiah, tetapi juga oleh semua lapisanmasyarakat secara umum. Dengan demikian, karya saya itu telah jatuh dari tingkatan ilmiahmenjadi karya pop yang kacangan, dan saya dianggap telah merusak otoritas bahasa akademisatau bahasa ilmiah.Sungguh ironis, masalah semacam ini muncul ketika bangsa-bangsa yang maju sedangberusaha untuk menyederhanakan kajian ilmiah mereka sebagaimana yang dulu dilakukan olehpara ilmuwan kita pada masa kejayaan peradaban Arab. Fenomena semacam itu muncul ketikabangsa Arab saat ini memiliki kekayaan alam yang luarbiasa serta warisan peradaban yangagung tetapi tidak bisa didayagunakan karena manusia yang hidup di dalamnya tidak memilikiwawasan kultural yang memadai, kecuali beberapa orang jurnalis dan ahli sejarah. Sehingga parailmuwan kita saat ini terus melaju penuh rasa percaya diri dengan bahasanya yang hebat yangtelah memusnahkan kehidupan itu sendiri, serta dengan kebudayaan mereka yang tidak pernahmenyatu dengan realitas yang dihadapi. Sedangkan para ilmuwan besar, para profesor diberbagai perguruan tinggi saat ini lebih banyak berdiam diri di singgasana mereka dan engganmencampuri berbagai urusan masyakat atau urusan politik; mereka berdiam diri tanpa memilikikesadaran untuk melestarikan warisan budaya ini dengan bahasa mereka yang istimewa dantradisi peradaban mereka yang selama ini telah mengangkat derajat mereka melampaui orang-

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->