Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konstitusi Dan Ideologi Negara RI

Konstitusi Dan Ideologi Negara RI

Ratings: (0)|Views: 333 |Likes:
Published by Dodik Ariyanto

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Dodik Ariyanto on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

 
MENGENAL LEBIH DEKAT PROSES LAHIRNYA KONSTITUSI DAN IDEOLOGI NEGARAREPUBLIK INDONESIA
Oleh: Dodik Ariyanto, Ph.D.
1
 Melalui artikel yang berjudul “
What is Indonesia?
”, Donald K. Emmerson mencoba memberikanpemahaman mengenai Indonesia
2
sekaligus menawarkan sebuah “definisi” terhadap entitasNegara yang dikenal sebagai ‘Republik Indonesia’. Dalam artikelnya, Emerson mengabadikanIndonesia sebagai sebuah ‘potret’ yang merefleksikan 4 aspek, yaitu:
i)
Indonesia secara fisik,sosial, dan politis;
ii)
Indonesia sebagai entitas yang sangat heterogen;
iii)
Indonesia
 
yangkeberadaannya sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel pra-kolonialisme, era penjajahan,dan periode
nation-building 
, dan;
iv)
Indonesia secara personal yang dibayangkan dan dialamioleh tokoh-tokoh pendiri Negara ini (Emmerson, 2005, pp. 7-73).Melihat integritas, kepakaran dan dedikasi intelektual Emerson, artikel tersebut tentu sajamerupakan referensi berharga bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap ‘Indonesia’,terlebih karena Emerson membantu menguak ‘misteri’ keberadaan Negara yang dulunyabernama
East Indische
ini. Namun demikian, layak untuk diasumsikan bahwa pembaca yangkurang memiliki latar belakang keilmuan tentang Indonesia mungkin akan terjebak dalamkebingungan, karena argumentasi Emmerson sangat meyakinkan, namun pada saat yangsama membenarkan stigma bahwa memahami ‘Indonesia’ tidak sekedar memerlukan ‘rasio’,melainkan juga ‘kearifan’. Analisis ini memiliki tujuan yang sama dengan Emmerson, yaitu mencoba memberikanpemahanan seobyektif mungkin tentang ‘Indonesia’. Perbedaannya hanyalah menyangkupcakupan analisis, karena artikel ini hanya memfokuskan perhatian pada proses adopsiKonstitusi dan Ideologi Negara Indonesia.
Nasionalisme
versus
“Bhineka Tunggal Ika”
Para ilmuwan sosial yang melakukan studi mengenai Nasionalisme sepakat bahwaNasionalisme Indonesia TIDAK memiliki akar yang kuat pada periode pra-Abad ke-20. Benedict Anderson sebagai misal, meragukan bahwa Nasionalisme Indonesia pernah ada di masa lalu.Menurut Anderson, Nasionalisme semestinya tidak dikaitkan dengan keberadaan NegaraIndonesia. Ia berargumen bahwa Negara Indonesia telah ada jauh sebelum konsepNasionalisme dikenal di wilayah
East Indische
pada awal abad ke-20, yaitu sekitar tahun 1928.
Geneologi Negara Indonesia sudah dimulai sejak awal abad ke-17 Batavia—dankontinuitasnya sangat jelas meskipun cakupan wilayahnya berubah dari waktu ke waktu...’ 
(Anderson, 1999, p.2).Pendapat Anderson di-aminkan oleh ilmuwan-ilmuwan lain, termasuk Emmerson. Emmersonbahkan secara lebih tegas menolak proposisi mengenai eksistensi Nasionalisme Indonesiapada masa sebelum Negara ini merdeka. Emerson mengatakan
Bangsa Indonesia dibentuk oleh sebuah Negara yang sebelumnya telah ada
” (Emmerson, 2005, p.8-9).Sementara itu, sebuah fenomena sejarah kiranya sangat menarik diamati terkait dengan teka-teki keberadaan Nasionalisme dan Negara di Indonesia. Pada bulan Agustus 1945, beberapahari setelah Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu, Sukarno dan beberapa tokohNasionalis menyampaikan pernyataan singkat yang dikenal sebagai
Naskah Proklamasi 1945 
3
:
1
Dodik Ariyanto, SIP,DEA, Ph.D. adalah staf pada Deputi Dukungan Kebijakan,Kementerian Sekretariat Negara RI
2
Dengan rendah hati Emerson mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untukmemberikan ‘pemahaman’ mengenai Indonesia walaupun kenyataannya mengatakansebaliknya. Kata Emerson, “
In selecting certain ways of seeing Indonesia for a brief treatment here, I did not try for comprehensiveness
.” Lihat: EMMERSON, D. K. (2005) Whatis Indonesia ? IN BRESNAN, J. (Ed.)
Indonesia: The Great Transition.
Oxford, Rowman andLittlefield Publishers, Inc., p.8
 
Kami, Bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, d.l.l. diselenggarakan dengan caraseksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.Jakarta, 17-8-1945 
 Atas nama bangsa Indonesia
Sukarno-Hatta
(Ricklefs, 1981, p.198).Secara harfiah, teks ini mengandung 2 (dua) poin penting, yaitu:
Pertama
, bahwa Negara yangbernama ‘Indonesia’ dideklarasikan oleh sebuah bangsa yang bernama “Bangsa Indonesia”;
Kedua,
bahwa Sukarno, Hatta, dan siapapun yang terlibat dalam peristiwa sejarah tersebut,bertindak atas nama ‘Bangsa Indonesia’. Oleh karena itu, bagi Sukarno dan kawan-kawan,Nasionalisme Indonesia mendahului keberadaan Negara Indonesia, dan BUKANSEBALIKNYA.Kontroversi mengenai apakah ‘Bangsa Indonesia’ ada sebelum ataukah sesudah Agustus 1945memaksa kita untuk melihat lebih jauh pada debat teoritis mengenai ‘
Nation
/Bangsa’ dan
Nationalism
/Kebangsaan’ (baru kemudian mengenai ‘Negara’), dan dalam kerangka ini,Ernest Gellner kiranya paling dapat membantu analisis kita. Menurut Gellner, perbedaan antara
Nation
dan
Nationalism
terletak pada definisinya. Istilah ‘
Nation/ 
Bangsa’ merujuk padasekelompok individu/orang-orang yang hidup dalam wilayah tertentu (yang tidak harus berupa‘Negara’), sedangkan istilah ‘
Nationalism
/Kebangsaan' merujuk pada sentiment/perasaan yangberkembang diantara orang-orang tersebut (Gellner, 1983, p. 1-7). Terkait dengan dengan‘Negara’, argumen Gellner berikutnya terdengar seirama dengan posisi Sukarno. Diamengatakan “…..
Nasionalisme tidak akan muncul dari masyarakat tanpa negara. Jika tidak adaNegara, tentu tidak bisa dikatakan bahwa batas-batas sebuah wilayah bertepatan denganbatas-batas bangsa. Jika tidak ada penguasa, tidak akan ada Negara, dan orangpun tidak bisabertanya apakah mereka memerintah sebuah bangsa
”. Melihat kenyataan bahwa ‘NegaraIndonesia’ belum (secara resmi) ada sebelum bulan Agustus 1945, perdebatan semacam initentu akan sia-sia kecuali perhatian kita fokuskan pada ‘sentimen’ dan bukan pada ‘orang-orangnya’. Agar lebih jelas, argumen ini akan kita kaitkan dengan fenomena ‘Kartini’ yangsering disebut-sebut sebagai salah satu bukti eksistensi Nasionalisme Indonesia sebelum abad20.Raden Ayu Kartini (1879-1904), adalah anggota terkemuka keluarga Jawa sekaligus seorangwanita yang didudukkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena jasanyamemperjuangkan hak-hak perempuan di kalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad 19.Sebagai seorang
Ningra
4
, Kartini memiliki kesempatan untuk belajar di Sekolah Eropasehingga pada saat itu ia belajar hal-hal yang tidak mungkin dipelajari masyarakat pribumi padaumumnya, seperti misalnya Bahasa dan Kebudayaan Belanda
5
. Dari sinilah Kartini menyadariadanya diskriminasi antara orang Barat dan Kelompok Ningrat dengan masyarakat pribumi.Kartini kemudian membuat sejumlah manuskrip dan surat-menyurat yang membuat iadianggap sebagai salah satu ‘pioneer’ Nasionalisme Indonesia. Namun demikian, banyakilmuwan lebih melihat Kartini sebagai figur lokal (Jawa) daripada figur Nasional (Indonesia)
6
. Sebagai misal Watson yang berkomentar soal Kartini:Kisah Kartini seakan-akan memberikan bukti kuat bahwa dalam sejarah, interpretasiselalu lebih dominan daripada fakta. Dalam kasus Kartini terdapat fakta sangat jelas
3
Naskah ini disusun secara kolektif oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo.Beberapa tokoh lain seperti Sayuti Melik. BM Diah, Sukarni, dan Sudiro hadir pada saatpenyusunan naskah tersebut, namun mereka tidak ikut serta menyusun naskah Proklamasi1945. Lihat: HATTA, M. (1969)
Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945,
 Jakarta, Tintamas.
4
Anggota Kelompok Aristokrat dari etnis Jawa
5
Referensi yang bagus tentang Kartini dapat ditemukan misalnya pada: FAN, K.-S.(1982)
Women in Southeast Asia: a bibliography,
Boston, G.K. Hall.
6
Kurang lebih dalam konteks yang sama bahwa Pattimura di Ambon (1783-1817),Pangeran Diponegoro di Jawa (1785-1855), Teungku Cik Di Tiro di Aceh (1836-1891),Pangeran Antasari di Kalimantan (1797-1862), dan lain-lain, juga dilihat sebagai “theProgenitor” Nasionalisme Indonesia.
2
 
bahwa ia lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1904, dan bahwa adalah seorang wanita,tetapi fakta-fakta itu sebenarnya tidak memberi makna apapun; Fakta-fakta itu harusdikontekstualisakan, misalnya: Di mana dia lahir? Siapakah orang tuanya? Apa yang iacapai dalam hidup? Dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana ini para pembuatbiographi serta merta menemui kesulitan sehingga menawarkan interpretasi yangbermacam-macam. Ambil contoh misalnya Negara tempat Kartini lahir. Apakah kitamenyebutnya Jawa, Indonesia, ataukah Hindia Belanda?……………dan orang tuanya?Seseorang menggambarkan Kartini berdarah biru. Padahal dalam surat yang ia tulis,yang berjudul ‘
Letter from Javanese Princess’ 
dari judulnya saja sudah mengandung mis-konsepsi mengenai stratifikasi masyarakat Jawa, dan istilah “princess” jelas kurang pas.Dia adalah anggota keluarga ningrat di masyarakat aristokrat Jawa, dan ayahnya adalahseorang pegawai senior pemerintah kolonial Belanda. Yang pasti Kartini memiliki statusterhormat di kalangan masyarakat pribumi.…..Salah satu pembuat biographinya,Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu, ragu-ragu menyebut asal mula Kartini. Judulbuku yang ia tulis,
Panggil aku Kartini Sadja,
dia ambil dari surat yang ditulis Kartini untukseorang kawan Balanda, menunjukkan bahwa pretensi aristokrasi layak diperdebatkan.Seorang kawan Kartini bertanya bagaimana dia harus menyapa Kartini, karena ia berpikir bahwa Kartini adalah seorang aristokrat, dan Kartini menjawab “Panggil aku Kartini”.Bagi Pramoedya, jawaban ini mencerminkan keinginan Kartini untuk mengidentifikasikandirinya dengan orang kebanyakan. Dan sesungguhnya identifikasi dirinya dengan orangkebanyakan inilah yang menjadi tema sentral biographi tentang Kartini, menekankanbahwa Kartini adalah seorang nasionalis
avant la lettre
yang anti feodalisme dan struktur hirarkhis masyarakat Jawa, yang secara terus-menerus dia tentang (Watson, 2000, p.18-19).Kembali pada definisi Gellner dan menyimak kisah tentang Kartini, sentimen yangdipersyaratkan oleh ‘Nasionalisme’ boleh jadi telah ada di Indonesia SEBELUM Negara inilahir. Terlepas dari perdebatan argumen yang dikemukakan baik oleh Anderson maupunEmmerson di atas, cukup disimpulkan bahwa awal mula munculnya Nasionalisme Indonesiatidak terlalu jelas, terfragmentasi, subyektif, tetapi sangat berguna untuk menjelaskankonstruksi Negara dan masyarakat Indonesia.Persektif semacam ini bertemu dengan kontroversi yang terjadi pada saat Negara Indonesiadidirikan. Sejak Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada bulan Agustus 1945, munculslogan yang bergaung dari Sabang hingga Merauke, yaitu: Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda, tetapi tetap bersatu), yang mewakili kenyataan paling mendasar yang ada di Indonesia.Motto ini menyiratkan keinginan kuat untuk bersatu di tengah kenyataan dan karakter sosialyang teramat sangat heterogen. Keinginan bersama ini kemudian menggiring masyarakatIndonesia untuk menerima adanya ‘Karakter Bersama’ yang mengatasi perbedaan-perbedaanyang ada.Kenyataan paling luar biasa mengenai Negara ini adalah fakta bahwa Indonesia sangatterfragmentasi baik secara geograpis maupun secara etnis. Terdiri tidak kurang dari 13.667pulau besar dan kecil, dihuni maupun tidak dihuni (Simatupang, 1977, p311-322), Indonesiasudah pasti merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Meskipun luas wilayah daratanhanya sekitar 735.000 mil2, wilayah Indonesia termasuk lautannya mencapai 4 juta mil2– atausatu juta mil2 lebih besar dari Amerika kontinental (Pelzer, 1963, p. 1-2). Pulau-pulauIndonesia tersebar dalam bentangan jarak lebih dari 3.000 mil, atau setara dengan jarak antaraSan Fransisco dengan Kepulauan Bermuda; dan lebar sekitar 1.000 mil, atau setara dengan jarak antara dari Pulau Buffalo, New York hingga Key West, Florida (Pelzer, 1963, p.1, Vlekke,1943, p.x). Meliputi setengah dari keseluruhan luas area Asia Tenggara, dari sudut luaswilayah, Indonesia hanya tersaingi oleh India and China (Peacock, 1973, p.1). Luas wilayahIndonesia didominasi oleh 5 (lima) pulau utama, yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,dan Papua.Secara etnis dan kultur, Indonesia juga merupakan Negara paling heterogen di dunia (Geertz,1963, p.24). Mayoritas penduduknya berasal dari ras Melayu– produk dari migrasi massal, tapikurang bisa diverifikasi, dari mainland Asia
7
 pada masa diantara tahun 2.500 SM hingga tahun
7
Mohammad Ali mengatakan bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah rasMelayu yang bermigrasi dari lembah sungai Mekong, Irawady dan Saluen di Indo-China
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->