Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pandangan Islam Terhadap Demokrasi

Pandangan Islam Terhadap Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 135 |Likes:
Published by Hendy Setyoputro

More info:

Published by: Hendy Setyoputro on Jun 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

 
PANDANGAN ISLAM TERHADAP DEMOKRASIPerdebatan Islam dan Demokrasi
Hubungan antara Islam dan demokrasi atau dengan kata lain, potensi demokrasiIslam sebagai sebuah agama, budaya dan peradaban masih menjadi isu yang sangatkontroversial. Salah satu sisi perdebatan adalah adanya pembedaan yang seringkali dibuatmenyangkut nilai-nilai disatu sisi dan teknik pada lain sisi. Teknik-teknik dinyatakan bersifat netral dari sudut pandang agama dan moral yang berarti pula bisa di ambil dandiadopsi dari masyarakat Barat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam yang utuhdan tidak diselewengkan. Kenyataan yang melahirkan sikap moderasi, suatu sikap yangdilahirkan dari asumsi bahwa tidak semua ajaran dalam demokrasi bertentangan secaradiametral melainkan ada kesejalanan dengan Islam dalam pelaksanaan yang bersifat teknis.Selain persoalan tersebut, yang tak kalah kontroversialnya adalah persoalan perlunya suatu otoritas politik untuk menerapkan seperangkat hukum agama (Islam), suatuyang sangat ditentang dalam demokrasi. Alasannya tidak boleh ada dominasi politik tertentu dalam demokrasi, melainkan dalam demokrasi tersebut haruslah mencerminkankepentingan seluruh komunitas. Sesuatu yang senyatanya mencerminkan paradoksial- paradoksial. Oleh karenanya dapat dilihat bahwa teori dan praktek selalu tak pernahsejalan. Salah satu contohnya adalah asumsi suara mayoritas dalam pengambilankeputusan.
 Kenyataan bahwa tidak semua pandangan mayoritas dijadikan keputusan danhampir semua pandangan mayoritas tertolak dalam pengambilan keputusan.
Seluruh pandangan kontroversial tersebut setidaknya telah memformulasikan profil publik ke dalam tiga medan dikotomis antara yang pro (Progresif realistis), setengah menolak – setengah menerima (progresif moderat), Dan kontra (Progresif radikal). Kelompok yang pro terwakili oleh kelompok yang menganggap demokrasi adalah sebuah idealitas dan pilihan terbaik dibandingkan sistem politik otoriter. Kelompok kedua berasumsi didalamdemokrasi terdapat prinsip-prinsip yang boleh diambil dus dijalankan. Sedangkankelompok yang ketiga menganggap, sebagaimana dalam demokrasi yang berisi nilai-nilaidan teknik, maka didalam Islam pun terdapat nilai-nilai dan teknik yang antitesis terhadapdemokrasi. Lebih lanjut, lebih lanjut kebutuhan institusi politik dalam rangka penerapansupremasi hukum menjadi kebutuhan pokok dan mendesak. Telaahan kedalam akar 
 
demokrasi menjadi sedemikian urgen untuk menemukan realitas demokrasi yangsesungguhnya serta korelasinya dengan Islam. Apakah korelasi yang positif ataukahnegatif.
Akar Demokrasi; Sekulerisme!
Bila ada kosa kata politik yang paling banyak digunakan akhir-akhir ini itulahdemokrasi. Tidak ada satu kejadian politik pun yang terjadi dibelahan dunia manapunmelainkan digiring menuju pelaksanaan demokratisasi di segala bidang. Termasuk dalamhal wacana
civil society
yang dikembangkan oleh beberapa kalangan belakangan ini puntidak terlepas dengan konteks diatas, sebab proses demokratisasi berjalan bila melibatkan peran serta rakyat sebagai pemegang kedaulatan dan bertindak sebagai kekuatan penyeimbang negara (
counter balancing the state
) yang dirasakan bersifat eksesif danhegemonik terhadap rakyat atau dapat diistilahkan
civil society
ini bersikap opositif terhadap negara. Dengan pemberdayaan civil society ini diharapkan kultur demokrasi bisatumbuh dan berkembang dengan melibatkan peran individu / kelompok diluar lingkarankekuasaan untuk menentukan berbagai macam pola kebijakan. Oleh karenanya kajiankomprehensif mengenai demokrasi sebagai
main target 
pemberlakuan
civil society
menjadisesuatu yang urgen.Adanya korelasi antara dua gagasan ini tidaklah sulit untuk dipahami, karena banyaknya tulisan yang menunjukkan hal tersebut. Dalam pandangan Giovani Sartoni,demokrasi bukan otoritarianisme, bukan totalitarianisme, bukan absolutisme dan bukankediktatoran. Sartoni mengatakan demokrasi adalah suatu sistem dimana tidaseseorangpun dapat memilih dirinya sendiri, tidak seorangpun memberikan kepada dirinyasendiri suatu kekuasaan pemerintahan dan karenanya, tidak seorangpun merebut kekuasaanuntuk dirinya secara tidak terkontrol dan tidak terbatas.Pada titik inilah persinggungan antara demokrasi dan civil society. Intinya keduanyamemberikan ruang gerak dan aspirasi politik bagi kelompok-kelompok masyarakat agar dapat eksis dan bergerak. Tapi mungkinkah seluruh aspirasi politik itu tertampung didalamdemokrasi? Satu pertanyaan yang senantiasa dicari-cari alibinya oleh pengusung demokras.Satu hal yang harus difahami didalam mengetahui hakekat demokrasi, bahwademokrasi tidak bisa dilepaskan dari konteks latar belakang kemunculannya (
historical 
 
background 
) dan apa yang diinginkan oleh para penggagasnya, sehingga dari sanalah kitaakan memperoleh deskriptif yang obyektif bukan subyektif, sebagai prasyarat berfikir yangrasional.Demokrasi merupakan kata yang mempunyai konotasi istilah yang khas, yangsengaja di pergunakan oleh pencetusnya untuk menyebut sistem pemerintahan tertentu,yang di bangun berdasarkan asas rakyat sebagai sumber kekuasaan, yang antara lain rakyatdi beri hak membuat undang-undang dan sistem atau yang lazim dipahami dengan istilahkedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat ini eksis bilamana rakyat berkuasa –bila individumemiliki kesamaan hak berpartisipasi dalam proses politik dan bila satu-satunya tujuan pemerintah adalah menjamin kepentingan seluruh rakyat, dan bukan orang-orang darilapisan atau kelompok kepentingan tertentu.Ini merupakan posisi teoritis. Arti penting praktisnya adalah bahwa konsep inimewakili suatu tujuan di mana rezim-rezim politik yang mengaku menghargai kedaulatanrakyat harus berusaha mencapainya. Dalam pengertian praktis, kedaulatan harus dinyatakandengan tegas melalui pranata yang tidak mesti sempurna, tetapi setidak-tidaknyamemungkinkan rakyat memilih wakil-wakil dan –baik secara langsung (
direct 
) atau tidak langsung (
indirect 
)- , memilih suatu pemerintahan. Pemerintahan adalah sumber legitimasi politiknya.Symptom ideologi ini muncul sebagai counter atas dominannya penguasa Eropa –  pada abad pertengahan yang gelap
“the dark middle age”
- yang berasumsi bahwa merekaadalah wakil tuhan di bumi dan berhak memerintah rakyat berdasarkan kekuasaan tuhan.Saat itu para raja dan kaisar memanfaatkan agama (kristiani) untuk mengeksploitasi danmendzalimi rakyat. Akibatnya berkobarlah pergolakan sengit antara penguasa (pararaja)dengan filosof yang mewakili rakyat.Para filosof beranggapan, bahwa pergolakan itu pada intinya antara kelompok  pencerahan mereka sendiri dan para pembawa kegelapan gereja-gereja kristen ortodoksyang telah mapan. Mereka merasakan agama (kristen) terutama sebagaimana direfleksikandalam perjanjian lama, yang membentuk rentetan dogma dosa asal dan visi mesianis penyelamatan duniawi lainnya. Padahal, manusia menurut mereka, memiliki kapasitasalamiah untuk berbuat kebajikan, atau kebebasan untuk berbuat kesempurnaan.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->