2
orang lain, ada orang yang khawatir kalau-kalau dijatuhkan. Kalau obsesi duniawi ini dominan, bisa-bisa kita akankehilangan kehidupan ukhrowi kita. Ketika kita memasuki bilan Ramadhan, maka kita akan ditarbiyah oleh Allahagar obsesi kit aadalah obsesi ukhrowi. Namun ini bukan berarti kehidupan duniawi dilarang. Akan tetapi duniawiitu bukan yang dominan dalam kehi
dupan kita. Makanya kita diajarkan untuk berdo‟a
“Walaa taj‟al mushiibatana fii diinina, walaa taj‟aliddun
-yaa akbaro hammina
(jangan jadikan dunia sebagai obsesi terbesar dalam kehidupan kami),
walaa mablagho „ilmina, walaa ilannaari mashiirona
. Do‟a ini
sering dibaca, akan tetapi dalam perbuatannya warnanyalain. Yang
ketiga
, dari lembaga shiyam ini akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benanr mempunyai
al- hasasiyyah al-
ijtima‟iyyah
(mempunyai kepekaan sosial yang tinggi). Dari mana bisa kita ketahui? Ketika kita berpuasasunnah, baik Senin-Kamis atau puasa
ayyamul bidh
, kita merasakan berpuasa sendirian. Dibandingkan dengan puasadi bulan Ramadhan, puasa sunnah ini perasaan kita lebih berat, karena dilaksanakan sendirian. Ini yang harus kitaperhatikan, sekarang ini bangsa kita (sebagian besar) sudah kehilangan kepekaan sosial. Kalau ada tindak kejahatandi tempat keramaian, sangat langka kita temukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu?Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi? Bahkan perbuatan seperti ini kadangkaladiberikan pembenaran dengan dalih
„mubadzir‟
kalau tidak dilihat. Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan(
hasasiyah imaniyah
). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga danorang diam saja ketika melihatnya. Padahal di masa Rasulullah SAW, orang tidak akan tinggal diam ketika melihtasuatu kemungkaran. Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di jaman
tabi‟in
maupun
tabi‟it tabi‟in
,tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi. Misalnya, di jamandahulu kalau kita shalat
jama‟ah di masjid, kemudian kita melihat ada tetangga atau saudara kita tidak datang, makasetelah selesai shalat, semua jama‟ah langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama‟ah tadi untuk
menziarahinya, seolah-
olah orang yang tidak shalat jama‟ah it
u adalh orang yang mati sehingga perlu di
ta‟ziyahi
.
Kalau seandainya kita tidak shalat jama‟ah dan kemudia kita di
ta‟ziyahi
, maka kita akan termotivasi untuk selalu
shalat jama‟ah. Dan shalat jama‟ah adalah ibadah yang sangat terkait dengan sensitifitas so
sial. Ironisnya di negara iniketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja, dan bisikan yang ada dalam dirinya adalah
„yang penting saya selamat‟
. Orang seperti ini adalah orang yang mati dalam kehidupannya, karena bahasa
masing-masing
itu bahasa akhirat, bahasa ketika kiamat tiba, sehingga orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dariistri dan anaknya, anak lari dari orang tuanya. Allah berfirman:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang ke
dua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya
” (QS „Abasa
: 33-37). Jadi kehidupan masing-masing itu adalah kehidupan akherat. Akan tetapi sekarang ini sudah ada di dunia.,Berarti seolah-olah sebagian masyarakat sudah merindukan kematian, padahal masih hidup. Makanya banyak kebajikan yang tidak jalan, keadilan tidak tegak. Dalam kondisi demikian, puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat.Pada masa Rasulullah Saw., ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena merekabukan malaikat. Sekalipunsebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Saw., akan tetapi ada saja yang berbuatmaksiat. Ada yang pernah mencuri, ada yang pernah berbuat zina dan yang lainnya. Akan tetapi kriminalitas itumasih sangat kecil sekali, sehingga jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ironisnya, sekarang maksiat itu dilakukan ramai-ramai dan secara terang-terangan tanpa malu-malu.Sehingga yang benar itu tertutup, keamanan tidak nampak. Yang nampak adalah sesuatu yang menakutkan. Bahkankadang-kadang sampai di tempat yang suci seperti masjid, kadang-
kadang orang tidak bisa khusyu‟ shalatnya karenatakut sepatu atau sandalnya hilang. Kalau di masjid saja orang masih tidak khusyu‟ beribadah karena khawatir
menjadi korban kejahatan, bagaimana di tempat yang lain? Ini semua karena bayak orang yang telah kehilangankepedulian sosialnya. Inilah bedanya antara jaman kita dengan jaman Rasulullah Saw. Bahkan di masa RasulullahSaw., ketika ada seorang berbuat zina dan kemudian dia hamil, dia sendiri kemudian bertaubat dan malah diasendirilah yang melakukan perbuatannya itu kepada Rasulullah Saw., karena ketika dia berzina, itu terjadi karenakelemahamn iamnnya. Dalam hadits dijelaskan
“Laa yadri azzani ila yazni wahuwa mu‟min
(tidaklah seseorang berani
berbuat zina ketika zina, sementara dia dalam keadaan beriman)”. Ketika seorang perempuan tadi berzina, dan
setelah itu ia sadar bahwa ia telah berbuat dosa, langsung dia datang kepada Rasulullah Saw. minta agar dia dihukumsesuai dengan ajaran Islam. mari kita merenung. Memang benar bahwa pada masa Raulullah pun ada orang yang berbuat salah. Akan tetapi ketika ada diantara mereka yang berbuat salah, dia langsung mengaku dan mintadihukum, padahal oranmg lain tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisinya? Jadi kalau kita bersalah, hendaklah kitadatang untuk minta dihukum. Kenapa? Karena seorang mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar yakin