Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
 1
MATERI CERAMAH RAMADHAN
Materi 1: Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan
Oleh Dr. Ahzami Sami‟un Jazuli
, MA
“Dan sesungguhnya al 
-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kau 
mmu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” 
 (QS Az-Zukhruf: 44).
 Ketika Allah Swt.. menjadikan Islam sebagai rahmat buat alam semesta; ketika Allah Swt. menghendaki dariumat Islam menjadi umat terbaik; ketika Allah Swt. menghendaki agar umat Islam mampu memikul amanah untuk memimpin dunia ini; ketika Allah menghendaki agar umat Islam menjadi saksi bagi seluruh umat manusia, makaketika itulah Allah Swt. mempersiapkan umat Islam sedemikian rupa, agar umat Islam ini layak menjadi umat yang terbaik. Di antara sarananya adalah dengan pembentukan manusia yang bertaqwa. Pembentukan manusia yang bertaqwa inilah yang banyak dilupakan manusia, sehingga ukuran kemajuan atau ukuran kesejahteraan hidup diukurdengan paradigma materi. Lupa bahwa manusia itu bukan hanya dari unsur materi saja, tetapi manusia punya nuraniyang harus diperhatikan, yang harus dibina sehingga pantas untuk menjadi manusia yang terbaik. Oleh karena ituRamadhan hadir di tengah-tengah kita dalam rangka untuk menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang layak memimpin dunia ini.Di dalam bulan Ramadhan banyak sekali kebajikan ilahi yang harus kita dapatkan, sehingga kita keluar daribulan Ramadhan ini benar-benar menjadi manusia terbaik, manusia yang berkualitas, manusia yang berprestasi. Olehkarena itu marilah kita berupaya benar-beanr memahami puasa itu sebagaimana yang diharapkan Allah Swt.
Pertama 
, puasa membentuk manusia yang mengoptimalkan kontrol diri ( 
self control 
 ). Mengapa? Karena puasasangat terkait dengan keimanan seseorang. Seseorang bisa saja mengatakan dirinya sedang berpuasa, sekalipun
sebenarnya tidak. Oleh karena itu puasa disebut „
ibaadah sirriyyah 
(ibadah yang bersifat rahasia). Rahasia antaraseorang hamba dengan Al-Kholiq. Sampai-sampai Allah Swt. mengatakan dalam sebuah hadits Qudsi yang sering kita dengar
“Kulluu „amali ibnu aadama lahu illash 
-shiyaam. Fa innahu lii wa ana ajzii bihi 
(setiap amal manusia untuk 
dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk aku. Dan akulah yang membalasnya)”. Pertany 
aannyaadalah apakah amal selain puasa tidak dibalas Allah? Dibalas. Tetapi kenapa dalam masalah puasa Allah menegaskanbahwa Dia yang akan membalasnya sehingga seolah-olah amal yang lain itu bukan Allah yang membalasnya? Inimerupakan isyarat Rabbaniyah bahwa amal manusia yang bernama
ash-shiyam 
benar-benar insya Allah akan dijaminditerima oleh Allah Swt. Apakah yang lain tidak dijamin? Ini karena puasa itu adalah
ibadah sirriiyyah 
, dimana orang tidak mengetahui dan tidak melihat ketika dia berpuasa. karean ketika kita berpuasa, tidak ada orang lain yang tahu.Maka ibadah yang sirriyyah itu adaah sangat dekat dengan keikhlasan. Dan syarat agar suatu amal itu diterima oleh Allah, selain harus benar sesuai dengan ajaaran Rasulullah Saw., harus ikhlas. Makanya kalau ingin menjadi orang yang populer, tidak bisa melewati pintu puasa. Kalau terkenal sebagai seorang mubaligh, bisa. Terkenal menjadi
qori‟ 
 dan
qori‟ah 
, bisa. Terkenal menjadi politikus, bisa. Dan itu semuanya sangat rawan dengan riya‟, dan riya‟ itu
menjadikan amal tidak diterima oleh Allah Swt. Itulah sebabnya mengapa dalam kaitannya dengan puasa ini Allahmenegaskan bahwa Dia sendiri yang akan membalasnya. Inilah yang dikatakan bahwa puasa akan melatih kita untuk mempunyai tingkat kontrol yang tinggi, baik ketika kita menjadi seorang pemimpin, atau karyawan, u
lama‟ atau yang 
lainnya. Kita tidak merasa dikontrol oleh yang lainnya, akan tetapi yang terpentinga dalah bahwa kita sadar bahwakita dikontrol oleh Allah Swt. Yang 
kedua 
, lembaga
shiyam 
ini mendorong kita agar kita agar obsesi kita tentang kehidupan akherat itu lebihdominan daripada obsesi dunia. Jadi obsesi ukhrowi kita, agar kita menjadi hamba Allah yang akan mendapatkankenikmatan abadi, itu harus lebih dominan daripada kesenangan yang sifatnya sementara. Karena seluruhkenikmatan yang ada di dunia ini, nikmat apa pun namanya, harta, pangkat, dan sebagainya itu semuanya bersifatsementara. Makanya dalam bahasa Al-
Qur‟an kenikmatan dunia itu tidak disebut nikmat, akan tetapi disebut
mata‟ 
.
 M 
ata‟ 
itu arti adalah
maa yatamatta‟u bihil insan tsumma yazulu qoliilan 
-qoliilan 
mata 
‟ adalah sesuatu yang disukai olehmanusia, akan tetapi sedikit demi sedikit akan hilang)”. Kalau kita ditakdirkan Allah mempunyai istri yang sangat
cantik, ketika sudah berusai 60 tahun, maka kecantikannya pasti akan luntur, sehingga mungkin kita berpikir mencariyang masih muda lagi. Kenapa? karena kenikmatan dunia itu pasti ada batasnya. Ini adalah halyang manusiawi.Puasa itu melatih kita agar obsesi yang ada dalam diri kita itu obsesi yang tentang kehidupan yang abadi di akhirat.Makanya makanan, minuman, istri, dan semua yang halal itu kita gapai dalam rangka untuk mendapatkankenikmatan yang abadi.Di negara kita yang sedang terkena krisis multi dimensional ini dan dipenuhi dengan kerusuhan, disebabkankarena banyak manusia di negara ini ytang obsesinya bukan obsesi ukhrowi. Ada orang yang ingin menjatuhkan
 
 2
orang lain, ada orang yang khawatir kalau-kalau dijatuhkan. Kalau obsesi duniawi ini dominan, bisa-bisa kita akankehilangan kehidupan ukhrowi kita. Ketika kita memasuki bilan Ramadhan, maka kita akan ditarbiyah oleh Allahagar obsesi kit aadalah obsesi ukhrowi. Namun ini bukan berarti kehidupan duniawi dilarang. Akan tetapi duniawiitu bukan yang dominan dalam kehi
dupan kita. Makanya kita diajarkan untuk berdo‟a
“Walaa taj‟al mushiibatana fii diinina, walaa taj‟aliddun 
-yaa akbaro hammina 
(jangan jadikan dunia sebagai obsesi terbesar dalam kehidupan kami),
walaa mablagho „ilmina, walaa ilannaari mashiirona 
. Do‟a ini
sering dibaca, akan tetapi dalam perbuatannya warnanyalain. Yang 
 
ketiga 
, dari lembaga shiyam ini akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benanr mempunyai
al- hasasiyyah al- 
ijtima‟iyyah 
(mempunyai kepekaan sosial yang tinggi). Dari mana bisa kita ketahui? Ketika kita berpuasasunnah, baik Senin-Kamis atau puasa
ayyamul bidh 
, kita merasakan berpuasa sendirian. Dibandingkan dengan puasadi bulan Ramadhan, puasa sunnah ini perasaan kita lebih berat, karena dilaksanakan sendirian. Ini yang harus kitaperhatikan, sekarang ini bangsa kita (sebagian besar) sudah kehilangan kepekaan sosial. Kalau ada tindak kejahatandi tempat keramaian, sangat langka kita temukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu?Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi? Bahkan perbuatan seperti ini kadangkaladiberikan pembenaran dengan dalih
„mubadzir‟ 
kalau tidak dilihat. Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan
hasasiyah imaniyah 
 ). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga danorang diam saja ketika melihatnya. Padahal di masa Rasulullah SAW, orang tidak akan tinggal diam ketika melihtasuatu kemungkaran. Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di jaman
tabi‟in 
maupun
tabi‟it tabi‟in 
,tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi. Misalnya, di jamandahulu kalau kita shalat
jama‟ah di masjid, kemudian kita melihat ada tetangga atau saudara kita tidak datang, makasetelah selesai shalat, semua jama‟ah langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama‟ah tadi untuk 
menziarahinya, seolah-
olah orang yang tidak shalat jama‟ah it
u adalh orang yang mati sehingga perlu di
ta‟ziyahi 
.
Kalau seandainya kita tidak shalat jama‟ah dan kemudia kita di
ta‟ziyahi 
, maka kita akan termotivasi untuk selalu
shalat jama‟ah. Dan shalat jama‟ah adalah ibadah yang sangat terkait dengan sensitifitas so
sial. Ironisnya di negara iniketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja, dan bisikan yang ada dalam dirinya adalah
„yang penting saya selamat‟ 
. Orang seperti ini adalah orang yang mati dalam kehidupannya, karena bahasa
masing-masing 
 itu bahasa akhirat, bahasa ketika kiamat tiba, sehingga orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dariistri dan anaknya, anak lari dari orang tuanya. Allah berfirman:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang ke 
dua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya 
” (QS „Abasa
: 33-37). Jadi kehidupan masing-masing itu adalah kehidupan akherat. Akan tetapi sekarang ini sudah ada di dunia.,Berarti seolah-olah sebagian masyarakat sudah merindukan kematian, padahal masih hidup. Makanya banyak kebajikan yang tidak jalan, keadilan tidak tegak. Dalam kondisi demikian, puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat.Pada masa Rasulullah Saw., ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena merekabukan malaikat. Sekalipunsebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Saw., akan tetapi ada saja yang berbuatmaksiat. Ada yang pernah mencuri, ada yang pernah berbuat zina dan yang lainnya. Akan tetapi kriminalitas itumasih sangat kecil sekali, sehingga jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ironisnya, sekarang maksiat itu dilakukan ramai-ramai dan secara terang-terangan tanpa malu-malu.Sehingga yang benar itu tertutup, keamanan tidak nampak. Yang nampak adalah sesuatu yang menakutkan. Bahkankadang-kadang sampai di tempat yang suci seperti masjid, kadang-
kadang orang tidak bisa khusyu‟ shalatnya karenatakut sepatu atau sandalnya hilang. Kalau di masjid saja orang masih tidak khusyu‟ beribadah karena khawatir
menjadi korban kejahatan, bagaimana di tempat yang lain? Ini semua karena bayak orang yang telah kehilangankepedulian sosialnya. Inilah bedanya antara jaman kita dengan jaman Rasulullah Saw. Bahkan di masa RasulullahSaw., ketika ada seorang berbuat zina dan kemudian dia hamil, dia sendiri kemudian bertaubat dan malah diasendirilah yang melakukan perbuatannya itu kepada Rasulullah Saw., karena ketika dia berzina, itu terjadi karenakelemahamn iamnnya. Dalam hadits dijelaskan
“Laa yadri azzani ila yazni wahuwa mu‟min 
(tidaklah seseorang berani
berbuat zina ketika zina, sementara dia dalam keadaan beriman)”. Ketika seorang perempuan tadi berzina, dan
setelah itu ia sadar bahwa ia telah berbuat dosa, langsung dia datang kepada Rasulullah Saw. minta agar dia dihukumsesuai dengan ajaran Islam. mari kita merenung. Memang benar bahwa pada masa Raulullah pun ada orang yang berbuat salah. Akan tetapi ketika ada diantara mereka yang berbuat salah, dia langsung mengaku dan mintadihukum, padahal oranmg lain tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisinya? Jadi kalau kita bersalah, hendaklah kitadatang untuk minta dihukum. Kenapa? Karena seorang mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar yakin
 
 3
bahwa siksa akhirat itu lebih pedih. Dengan demikian, benar-benar akan efisien tenaga itu. Kalau seandainya semuaorang sama dengan wanita yang bertaubat ini, maka aparat hukum tidak perlu capai-capai.
 Ash-shiyam 
secara bahasa artinya adalah
al-habsu 
(menahan diri), menahan diri dari seluruh bentuk kemaksiatan.Kalau setiap kita menahan diri, jangankan terhadap yang haram, yang mubah saja akan kita tinggalkan. Makanan,minuman, istri itu kan boleh. Akan tetapi di bulan Ramadhan pada siang harinya semua bisa kita tahan. Kalau yang halal saja bisa kita tahan, apalagi yang haram? Oleh karena itu jangan dalam berpuasa malah terbalik, yaitu yang mubah ditinggalkan tetapi yang haram dilakukan. Makanan, minuman ditinggalkan, ghibah dilakukan, korupsi jalanterus, dengan alasan untuk persiapan lebaran.Inilah kepekaan-kepekaan ruhani yang benar-beanr mengalir dalam setiap diri kita ketika kita berpuasasebagaimana yang dikehendaki Allah Swt. Dan jangan sampai ada di antara kita yang menganggap bahwa puasa itu
berat. Bahkan Rasulullah Saw. dan para shahabat serta para tabi‟in, banyak yang menggunakan Ramadhan untuk 
berjihad di jalan Allah Swt. Perang Badar, Perang Fathu Makkah, Perang 
„Iinu Jaalut 
yang terjadi pada abad ke-7Hijriyah, dimana tentara-tentara Islam di bawah pimpinan
mamaalik
 jama‟ 
dari
mamluk
 ) bisa mengalahkan tentara-tentara salib, terjadi di bulan Ramadhan. Saking hebatnya kemenangan yang dicapai umat Islam pada bulanRamadhan, Allah Swt. mengabadikannya dalam Al-
Qur‟an, sebagaimana yang terdapat pada QS Al
-Anfal, dimanaperang Badar dikatakan sebagai
 yaumal furqoon 
, sebagaimana yang terdapat pada firmanNya:
“K 
etahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah 
 Maha Penguasa segala sesuatu” 
(QS Al-Anfal: 41).Pasukan kebenaran yang jumlahnya sedikit, tetapi dimenangkan oleh Allah Swt. dalam melawan kekuatanbathil yang mempunyai kekuatan besar dan jumlah tentara yang sangat banyak. Oleh karena itu Ramadhan yang akan kita lalui ini semoga mengantarkan kita pada kemenenagan, kemenangan melawan hawa nafsu, kemenanganbangsa ini dalam melawan krisis, kemenangan umat Islam dalam melawan perselisihan, percekcokan antara sesamaumat Islam, kemenangan bangsa ini dalam menghadapi konspirasi dunia internasional yang dimotori oleh Yahudi,yang mereka tidak senang melihat Indonesia maju karena negara ini adalah negara Islam. oleh karena itu marilah kitajadikan Ramadhan ini kita jadikan momentum Islam untuk kembali kepada Allah sehingga mencapai kemenanganyang hakiki.
Wallahu a‟lam bishshawab.
 
Materi 2:MARHABAN YA RAMADHAN
Oleh Drs. Ahmad Yani
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (QS 2:183)
 
Beberapa minggu lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan 1425 H. Sebagai muslim, sudah seharusnya kalau kedatanganRamadhan tahun ini kembali kita sambut dengan penuh kegembiraan karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembalikita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada ayat adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira itulah, Ramadhan tahun ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas yang dapatmeningkatkan ketaqwaan diri, keluarga dan masyarakat kita kepada Allah Swt. Maka, persiapan-persiapan kearah itu sudah harus kitalakukan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.Ramadhan yang penuh berkah harus kita jadikan sebagai momentum untuk menyelamatkan masyarakat dengan melakukan
 taqarrub ilallah 
(mendekatkan diri kepada Allah), baik dengan taubat, munajat dan menjalankan sejumlah peribadatan maupun dengankhidmat yakni memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat agar kehidupan kita betul-betul dapat dirasakan manfaatnya bagiorang lain dan perbaikan masyarakat dapat kita wujudkan dari waktu ke waktu, baik perbaikan diri, keluarga, masyarakat maupun bangsadan negara.
 KLASIFIKASI PROGRAM
Sekurang-kurangnya, ada tiga klasifikasi program yang harus kita persiapkan.
Pertama,
 
tarhib 
atau menyambut Ramadhan denganmengkondisikan diri, keluarga dan masyarakat untuk menyambut dan mengisi Ramadhan yang mubarok dengan berbagai aktivitas yang dapat memantapkan ketaqwaan. Secara pribadi ada beberapa hal yang harus dilakukan,
Pertama 
, menjaga kondisi fisik agar tetap sehatsehingga ibadah Ramadhan seperti puasa, tarawih, tilawah dll dapat kita laksanakan dengan baik, karena bila sakit amat sulit bagi kita untuk melaksanakan berbagai aktivitas Ramadhan yang memang amat menuntut kesiapan fisik.
Kedua,
mengingat atau mengkaji kembali fiqih yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan sehingga pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik karena didasari pada pemahaman yang baik.
Ketiga,
 segera membayar atau mengqadha puasa yang dengan sebab-sebab tertentu tidak bisa kita laksanakan pada Ramadhan tahun lalu.
Keempat,
 mengkondisikan diri dengan menunaikan ibadah-
ibadah yang sunat seperti puasa bulan Sya‟ban, tadarus Al
-
Qur‟an dan sebagainya.
Kelima,
 saling maaf memaafkan dengan sesama kaum muslimin sehingga dalam memasuki Ramadhan, dosa kita dengan sesama manusia sudah kita
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more