Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Aul Dan Radd

Makalah Aul Dan Radd

Ratings: (0)|Views: 210 |Likes:

More info:

Published by: Tsalats Wahyul Husna on Jun 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2012

pdf

text

original

 
‘AUL DAN RADD
(SISTEM PEMBAGIAN HARTA WARISAN YANG RANCU DAN KELIRU)
Oleh : Drs.Herman Supriyadi
(Hakim Pengadilan Agama Pangkalpinang) (Hakim Pengadilan Agama Pangkalpinang) (Hakim Pengadilan Agama Pangkalpinang) (Hakim Pengadilan Agama Pangkalpinang) 
Pendahuluan
‘Aul 
dan
radd 
adalah sistem pembagian harta warisan yang lahir pada zaman khalifahUmar bin Khattab dan berkembang serta tetap dipertahankan sampai saat ini. Sistem ini sangatterkenal karena dengan sistem ini salah satu persoalan hukum waris yang sebelumnya sulituntuk diselesaikan dapat dengan mudah diselesaikan. Akan tetapi belakangan ini diketahui bahwa sistem ini banyak mengandung kelemahan terutama bila diselaraskan dengan rumus-rumus matematika.Selanjutnya kelemahan-kelemahan tersebut dijadikan titik serangan oleh mereka yangtidak senang dengan Islam, dijadikan alat untuk melemahkan keyakinan ummat Islam terhadapkesucian Al-Quran dan Kerasulan Muhammad SAW. antara lain sebagaimana yang Penulis baca dalam face book dengan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya lebih kurang sebagai berikut :1. Apakah pantas Al-Quran dijadikan kitab suci yang perhitungan matematika warisan AllahSWT didalamnya kadang kurang kadang lebih sehingga harus dilengkapi hukum buatanmanusia yaitu ‘
aul 
dan
radd 
?2. Dengan membawa kitab suci yang didalamnya mengandung hukum waris yang tidak jelas,apakah benar Muhammad. SAW itu Rasulullah?3. Apakah
adil 
bila dalam pembagian harta warisan anak laki-laki mendapat bagian dua kalilipat dari bagian anak perempuan?Untuk pertanyaan
 pertama
Penulis akan mencoba menjawabnya melalui uraian lebihlanjut dalam artikel ini, Untuk pertanyaan
kedua
barangkali dapat dijawab bahwa timbulnyasistem penghitungan dengan cara ‘
aul 
dan
radd 
setelah Rasulullah wafat sehingga kalauseandainya keliru maka kekeliruan tersebut tidak selayaknya dilimpahkan kepada Beliau dansekaligus tidak ada alasan untuk meragukan Kerasulan Beliau, selanjutnya untuk pertanyaan
ketiga
yaitu
 
masalah
keadilan
akan Penulis bahas dalam artikel tersendiri karena sifatnyasangat relatif dan subjektif.Dalam artikel yang sederhana ini Penulis akan mencoba menganalisa beberapa hal yangmenyangkut
‘aul 
dan
radd 
yang menyebabkan timbulnya beberapa permasalahan dalamhukum waris Islam.
Permasalahan
Pengkajian tentang hukum waris Islam sudah sangat sering dilakukan baik oleh parakiyai yang pendidikannya berbasiskan pondok pesantren , oleh para sarjana yang basis pendidikannya perguruan tinggi Islam maupun oleh kalangan akademisi seperti dosen danmahasiswa, akan tetapi persoalan yang timbul terutama mengenai teknis penghitungan bagian
 
masing-masing ahli waris dalam hukum Islam tetap tidak akurat. Semakin banyak buku yangmembahas tentang masalah hukum waris tersebut bahkan ada yang sudah hampir setebal
al-Quran
namun permasalahan tetap tidak tuntas bahkan semakin rumit dan semakinmenimbulkan ketidak pastian, padahal porsi untuk masing-masing ahli waris sudah diatur secara jelas dan tegas dalam Al-Quran.Menurut Penulis semua itu terjadi akibat masih kuatnya pengaruh kitab-kitab kelasik yang dijadikan landasan dan kerangka berpikir oleh para pengkaji sehingga hasil kajiannyatidak jauh berbeda dengan kitab-kitab tersebut. Istilah-istilah yang membingungkan dalamilmu
 faraidh
seperti tamatsul, tadakhul, tawafuq, tabayun dan lain-lain masih tetap digunakan, padahal semua istilah itu merupakan rumusan yang sangat sulit dipahami dan harus dihafal,sedangkan hasilnya tetap masih meragukan. Sementara
 Al-Quran
dan
 Al-Hadits
sendiri tidak  banyak menggunakan istilah-istilah yang membingungkan.Persoalan lain sebagaimana yang dikritik oleh banyak pihak adalah terjadinya perubahanKelipatan Persekutuan Terkecil (yang dalam ilmu
faraidh
disebut asal masalah) dalam sistem pembagian
‘aul 
dan
radd 
tanpa ada dasar yang jelas dan hanya asal ‘
comot’ 
saja dengantujuan agar harta waris dapat dibagi habis. Akibatnya porsi bagian masing-masing ahli warisyang diatur dalam Al-Quran menjadi terabaikan. Hal ini sangat bertentangan dengan rumus-rumus matematika dan
 sudah melenceng 
dari apa yang termaktub dalam
 Al-Quran itu sendiri.
 Salah satu contohnya pada masalah
‘aul,
 bagian ayah sebesar 1/6 yang seharusnya samadengan 4/24 dibuat menjadi 4/27.Kondisi seperti ini telah sekian lama terjadi, apakah mungkin dapat dibuat suaturumusan baru yang setidak-tidaknya mendekati apa yang telah digariskan dalam Al-Quran danAl-Hadits serta sejalan dengan rumus-rumus matematika.Penulis akan mencoba membahas persoalan tersebut dalam artikel singkat ini,selanjutnya agar pembahasannya terarah penulis merasa perlu membuat rumusan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :1. Siapa ahli waris dalam dalam Al-Quran khususnya yang terkait masalah
aul 
dan
radd 
iniyang harus diberikan terlebih dahulu bagiannya dan siapa pula yang terakhir?2. Apakah porsi masing-masing ahli waris yang telah ditetapkan dengan jelas dalam
 Al-Quran
 tersebut seluruhnya harus diambil dari harta Pewaris secara keseluruhan atau ada yangharus diambil dari sisa harta yang telah diberikan kepada ahli waris sebelumnya?3. Apakah asal masalah atau Kelipatan Persekutuan Terkecil perlu ditetapka dan bagaimanacara menetapkannya agar dalam penghitungannya sesuai dengan apa yang telah digariskandalam
 Al-Quran
dan tidak bertentangan dengan rumus-rumus matematika?
Pembahasan
a. Dalam kitab-kitab
 faraidh
ulama selalu menetapkan urutan para ahli waris itu adalah suamiatau isteri, ayah, ibu, anak (baik laki-laki maupun perempuan) baru kemudian ahli waris
 
yang lainnya. Terhadap hal ini ada kritikan yang pada intinya menyatakan bahwa dalam Al-Quran tidak terdapat ayat ataupun surah yang menetapkan siapa-siapa ahli waris yang haruslebih dahulu diberikan bagiannya dan siapa-siapa yang harus diberikan terakhir, dengankata lain menurut kritikan ini boleh saja anak, ibu, ataupun ayah yang didahulukan.Penulis sangat tidak sependapat dengan kritikan ini karena untuk mengetahui maknayang terkandung dalam Al-Quran selain ada yang dapat langsung diartikan secara
tersurat 
ada pula yang harus dipahami secara
tersirat.
Untuk itu mari kita lihat secara satu persatu potongan ayat Al-Quran yang berkenaan dengan hukum waris ini :
1. Allah telah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anak 
mu
  yaitu bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuandst……... (Q.S Annisa : 11)2. (Lanjutan ayat tersebut)……. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masing 
nya
  seperenam dari harta yang ditinggalkan dst…3. Dan Bagi
mu
(suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu jika mereka tidak mempunyai anak dst….(Q.S Annisa :12)
Kalau ditelaah secara mendalam ada tiga unsur yang terkandung dalam kedua ayatAl-Quran tersebut yaitu ada
 pembawa
berita, ada
 pendengar 
berita dan ada
materi
beritayang disampaikan. Pembawa beritanya adalah Nabi Muhammad SAW, Pendengar  beritanya adalah Ummat Islam yang berstatus suami, sedangkan materi beritanya adalah
 Kalamullah
mengenai ketentuan bagian masing-masing dari harta warisan baik untuk anak,orang tua, , isteri dan suami itu sendiri.Jadi jelas yang mendapat berita dan sekaligus perintah secara langsung adalah
suami 
oleh karenanya wajar kalau para ulama menempatkan posisi suami pada
urutan pertama.
 sedangkan bila suami yang meninggal dunia posisi tersebut ditempati oleh isteri karenakedudukan isteri dan suami adalah sederajat.Selanjutnya mana yang harus ditempatkan pada urutan kedua, apakah anak atau orangtua? Dilihat dari nash di atas porsi anak bila terdiri dari laki-laki dan perempuan atau laki-laki saja tidak ditentukan, artinya berapa saja boleh asalkan porsi orang tua (ayah
dan atau
 ibu) yang telah ditentukan bagiannya sebagaimana halnya suami atau isteri telah dipenuhi.Kalimat
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan
 bukan merupakan porsi melainkan perbandingan. Oleh karenanya Penulis berpendapatadalah tepat jika para ulama menempatkan orang tua pada urutan kedua sedangkan anak  pada urutan ketiga.Selanjutnya timbul pertanyaan bagaimana kalau anak tersebut perempuan dimana porsinya telah ditetapkan dalam Al-Quran yaitu ½ bagian jika hanya seorang dan 2/3 bagian jika lebih dari dua orang? Menurut Penulis karena anak laki-laki dan anak  perempuan tersebut sama derajatnya, maka tetap harus ditempatkan pada urutan ketiga,setelah itu baru ahli waris lainnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->