Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sumatera

Sumatera

Ratings: (0)|Views: 216|Likes:
Published by kigunungmenyan

More info:

Published by: kigunungmenyan on Jun 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2012

pdf

text

original

 
SejarahSingkat Sumatera
 
Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di dunia. Tetapi Sumatera menjadi pulaukurang dari 7000 tahun yang lalu ketika permukaan air laut naik mencapai tingkat sepertisekarang ini sebagai akibat mencairnya tudung es kutub pada periode gletser yang terakhir.Sebelum ini, ketika permukaan air laut lebih rendah, Sumatera membentuk pinggiran disebelah barat dari apa yang dinamakan Sundaland (seluruh Indonesia bagian barat danMalaysia) dan oleh karenanya menjadi satu dengan benua Asia.Selain spesies endemiknya, sebagian flora dan fauna Sumatera sama dengan yang di Asia.Yang paling menonjol dalam hal ini adalah beberapa mamalia besar seperti gajah danharimau yang sekarang sangat terancam, dan Sumatera merupakan salah satu tempatkehidupan mereka yang terakhir. Keberadaan mereka terancam oleh keberadaan manusia.Sebagaimana adanya bukti di Jawa, orang primitif (
 Homo erectus
) sudah ada di Sundalandlebih dari 1 juta tahun yang lalu meskipun belum diketemukan peninggalannya di Sumatera.Peninggalan orang moderen (
 Homo sapiens
) pada jaman dahulu, seperti terdapat di Gua Niahdi Borneo dimana peninggalan-peninggalan telah berumur 60 ribu tahunan, juga belumditemukan di Sumatera. Tempat tinggal manusia yang telah ditemukan baru sejak 10 ributahun yang lalu. Diantaranya yang terpenting adalah Gua Tiangko Panjang di Jambi.Masyarakat pemburu dan pengumpul hasil alam yang pada waktu itu tinggal di Sumateramungkin juga ada kaitannya dengan orang Negrito yang sekarang masih ditemukan diSemenanjung Melayu, Filipina dan pulau-pulau Andaman di sebelah utara Sumatera.Orang Sumatera yang ada sekarang ini merupakan pendatang yang relatif baru. Nenek moyang mereka telah tiba di sini kira-kira 4000 tahun lalu, dan mengasimilasikan ataumenghapuskan penduduk sebelumnya. Seperti kebanyakan orang Indonesia (kecuali orangPapua, Timor, dan beberapa bagian kepulauan Maluku), mereka termasuk dalam keluargaberbahasa Austronesian. Menurut bukti linguistik dan arkeologi mutakhir, orang Austronesiaberasal dari Cina selatan kira-kira 6000 tahun lalu dan secara bertahap bergerak ke selatanmasuk ke Indonesia via Taiwan dan Filipina. Diantara mereka yang menduduki Indonesiabagian barat berhasil mencapai Madagaskar. Yang lainnya menuju ke timur dan denganperahu berhasil mendiami pulau-pulau di hampir seluruh Lautan Pasifik.Orang Austronesia datang dengan membawa pertanian dan dengan demikian berpotensi besaruntuk meningkatkan populasi mereka. Tentu saja ini menjadi faktor yang mempengaruhimigrasi secara besar-besaran dan watak mereka yang suka berperang. Tidak banyak diketahuitentang bagaimana terjadinya banyak perbedaan budaya di Sumatera. Sejauh mana perbedaanbudaya itu menggambarkan perbedaan kelompok kelompok migran yang datang dalam prasejarah, atau muncul sebagai akibat dari adanya faktor sejarah lokal dan adaptasi lingkungan.Namun demikian, sama menariknya dengan perbedaan itu adalah keseragaman budaya yangbanyak mencirikan Sumatera, terutama pada kawasan pesisir dan sekitarnya.Letak Sumatera yang berdekatan dengan Selat Malaka, yang kira-kira 1500 tahun lalumenjadi jalur perdagangan penting antara Timur dan Barat, jelas mempunyai pengaruh besarterhadap perkembangan di Sumatera. Suku-suku kecil di sekitar pesisir yang menguasai aksesmasuk ke pulau lewat sungai terlibat dalam perdagangan yang menggunakan sarana laut
 
dengan memanfaatkan produk yang dihasilkan dari daerah di hulu. Model kerajaan sertaagama menambah kebesaran rohani dan martabat keduniawian terutama diimpor dari Indiasebagai budaya yang membungkus sistem politik dan agama asli. Bahasa yang digunakan disekitar Selat Malaka menjadi bahasa pergaulan atau bahasa perdagangan bagi seluruh daerahdan juga bahasa kerajaan-kerajaan di pesisir. Bahasa ini terkenal dengan sebutan bahasaMelayu.Datangnya pedagang dan penakluk dari Eropah di kawasan itu, yang pertama kali bangsaPotugis pada awal abad ke16, kemudian Belanda dan akhirnya Inggris, menambah volumeperdagangan terutama tanaman rempah-rempah dan hasil hutan. Lada ditanam secara luas diSumatera sejak abad ke 17. Baru pada abad ke 19 pendudukan dan kekuasaan kolonialmenjadi luas. Dan baru pada permulaan abad ke 20 Belanda dapat menguasai seluruhSumatera. Kekuasaan kolonial yang dikonsolidasikan ini berlangsung kurang dari 40 tahunsebelum Belanda diusir keluar oleh Jepang yang kemudian juga dipaksa mundur tiga tahunkemudian. Usaha Belanda untuk menduduki kembali daerah jajahan selanjutnya dikalahkanoleh bangsa Indonesia sendiri.Meskipun waktunya singkat, kekuasaan kolonial benar-benar telah meletakkan suatu dasarpenting bagi pembangunan khususnya melalui pembangunan infrastruktur perhubungan,terutama jalan, dan sistem pemerintahan kesatuan yang menggantikan kerajaan-kerajaan kecildan struktur adat yang terpisah-pisah. Untuk sebagaian besar, bentuk kerajaan dan organisasiadat yang bermacam-macam itu memang dipertahankan untuk memudahkan pelaksanaanpemerintahan tingkat lokal. Meskipun ekonomi perkebunan dikembangkan di beberapakawasan, terutama di Sumatera Utara, pola dominan sebagai penghasil tanaman komersialterus dilakukan oleh petani kecil. Karet merupakan hasil terpenting dari semua ini dandipadukan secara lihai ke dalam pola lama ladang berpindah dan pengumpulan hasil hutan.Pola ini terus berlangsung lama setelah kemerdekaan. Pada kenyataannya, hanya pada jamanOrde Baru di bawah pemerintahan Soeharto benar-benar telah berlangsung suatu revolusidalam hal pemanfaatan dan pendistribusian sumber daya juga penguasaan politis terhadapsumber daya ini. Hutan-hutan sekarang ditebang secara besar-besaran untuk tujuan komersial,kawasan-kawasan hutan sangat luas dibuka untuk perkebunan dan pemukiman transmigrasiyang disponsori oleh pemerintah. Hutan-hutan ulayat diambil alih dari masyarakat lokalkepada pemerintah dan kemudian dibagi-bagikan kembali kepada para elit yang mempunyaihubungan dekat. Pemerintahan masyarakat lokal yang didasarkan pada hukum tradisional danstruktur politik digantikan dengan suatu pemerintahan desa yang bentuknya seragam secaranasional. Bentuk pemerintahan desa ini tidak mengakui hak-hak adat atas tanah dan sumberdaya dan lebih bersifat mengatur dari atas. Kesemuanya ini dicapai dengan suatu tatanankekuatan perpaduan antara sipil dan militer yang dapat menekan rasa ketidak puasan danperlawanan.Sebagai satu konsekwensi dari pengambilalihan dari hak-hak atas tanah dan sumber dayaadalah terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan berskala luar biasa. Penduduk lokaltelah dipaksa untuk menanggung biaya-biaya eksternal yang diakibatkannya meskipunkeuntungan yang mereka dapatkan relatif sedikit. Proses kerusakan lingkungan terusberlangsung dan bahkan berlangsung cepat ketika masyarakat lokal dengan tanpa rasa takutikut serta dalam penjarahan terhadap apa saja yang tersisa dari hutan untuk mendapatkansesuatu yang dulunya menjadi hak mereka sebelum semuanya habis. Peralatan yang merusak,terutama chainsaw, harganya sangat murah dibandingkan kapasitas peralatan itu. Dan daripada tidak mendapat bagian, banyak perusahaan kayu bersedia mengusahakan peralatan berat
 
seperti buldoser dan truk kepada masyarakat lokal. Usaha ini sering diatur dalam koperasi-koperasi semu dalam bentuk usaha bersama yang nampaknya mempunyai kekebalan terhadaphukum.Situasi diperburuk berkat adanya beberapa perusahaan kertas terbesar dunia yang tidak cukupmempunyai pasokan kayu. Teknologi yang digunakannya dapat memanfaatkan hampir semua jenis kayu. Dengan demikian Sumatera ditakdirkan pada waktu sangat dekat ini kehilangansemua sisa hutan-hutannya yang dapat diakses. Yang masih dipertanyalam adalah apakahbeberapa taman nasional dan kawasan konservasi lainnya akan terhindar dari ancaman itu.Jika tidak, akan seperti apa Sumatera pada millenium baru ini? Dengan pasti akan tidak adamamalia besar kecuali manusia itu sendiri karena habitat tidak lagi mendukung kehidupanmereka. Pada kenyataannya, sebagian besar tumbuhan dan binatang pada akhirnya akanhilang jika kecenderungan seperti sekarang ini terus berlangsung. Tumbuhan dan binatangdan ekosistemnya dulunya merupakan bagian dari salah satu pusat terpenting keragamanhayati di dunia. Perubahan ini begitu fundamental sehingga tidak hanya merupakan bagianakhir dari suatu jaman, tetapi juga akhir dari dunia yang diketahui orang Sumatera selama ini.
(Oyvind Sandbukt)
Refleksi Terhadap Sumatera(1983 - 2000)
Buku
The Ecology of Sumatra
dan
 Ekologi EkosistemSumatera
terbit pertama kali tahun 1984. Penulisbuku tersebut, selain saya (ketika bekerja di Pusat Studi Lingkungan USU) juga JazanulAnwar, Sengli Damanik serta Nazaruddin Hisyam (kesemuanya dari Universitas SumateraUtara _ USU). Edisi baru dalam bahasa Inggris
 Ekologi Ekosistem Sumatera
segera beredar.Oleh banyak pihak, termasuk saya, terbitan ulang buku ini diharapkan akan memungkinkanrevisi dan pembaharuan yang lengkap mengenai bahan dan pelajarannya. Sayangnya, tidak bisa mendapatkan dana untuk melakukan hal ini. Penerbit akhirnya memutuskan, untuk memenuhi komitmen pada mitranya dalam melengkapi seri
 Ecology of Indonesia
, buku inisebaiknya diterbitkan hanya dengan beberapa koreksi dan suatu introduksi baru dengan 133referensi baru. Alasan dana juga menjadi kendala untuk terbitan ulang bahasa Indonesia yangsudah habis sejak beberapa tahun lalu. Oleh karenanya diharapkan sumber dana segeratersedia. Versi Indonesia dari seri
 Ecology of Indonesia
selalu menjadi alasan utama untuk kesanggupan melakukan pekerjaan sebanyak ini. Artikel ini juga didasarkan pada introduksibuku tersebut.
Kabar baik 
Yang pertama, kabar baik. Kesadaran dan perhatian serta komitmen terhadap sumber hayatisecara bijaksana di Sumatera telah tumbuh dengan hebat. Penerbitan
 Alam Sumatera danPembangunan
serta sejumlah pembacanya merupakan bukti akan hal itu. Kelompok-kelompok non pemerintah sudah efektif dan menjadi partner yang semakin dipercaya bagilembaga pembangunan pemerintah maupun internasional. Kapasitas manusia dan kesadaranlingkungan pada pemerintah juga telah mengalami banyak peningkatan, meskipun jelasbelum pada taraf yang diharapkan. Semakin banyak ilmuwan Indonesia melakukan penelitianlapangan di Taman Nasional utama atau dimana saja dan juga mempublikasikan hasilnyadalam majalah ilmiah Indonesia terkenal, seperti
Tropical Biodiversity
. Ini penting, karena

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->